Not That Easy to Kiss My Lips

Alexa – Jakarta


Sekedar sambungan dari : Should a Woman Be a Milanist

Komunikasi kami makin intense, selain bertemu, bertelponan, yang paling intense adalah via online… kebetulan kami sependapat bahwa yang via online akan tersimpan abadi (jhiah). Akhirnya juga jadi paham bahwa kami nih mempunyai irama hidup yang beda banget – jika mataku mulai jadi 5 watt saat jam 11 malam tiba maka matanya akan menjadi 100 watt saat jam 12 malam ke atas. Biasanya aku pamitan kalau gitu sebab tak ingin kesiangan bangun tidur dan paling senang dengan dialog kami ini:

Alexa, “tidur duluan ya,” Dia, “Ya udah, ntar gw nyusul,”…whaaat (biarpun gak ketemuan tapi jawabannya itu bisa bikin interpretasi ganda)…”di kamar masing-masing kan maksud lo?”, tanyaku….dia cuman ngakak.

Kadang-kadang dia feelin so good kalau aku sedang gundah (dengan masalah yang gak jelas masalahnya-mungkin sekedar PMS?), pasti pengantar tidurnya akan lain,”Sini, bolehkan gue cium,” gubraak langsung ngeri ingat cerita teman-teman soal cyber sex tapi di lain pihak juga penasaran ama cara dia so coba-coba pasrah deh, dan dia akan melanjutkan, “Ok, let me hold your face and light kisses all over your face”…..jhiah.

Akhirnya seringnya pengantar tidur itu jadi “light kisses all over your faces.” Hingga suatu hari dia bilang,”kapan kamu bangunin aku dengan your kisses?”…Teteup sebagai cewek bermartabat aku enggak mau jejakku terekam di dunia virtual itu, tapi pagi-pagi sebelum ngantor aku tinggalin pesen di Inboxnya…”banguuun.” Gitu juga dia senengnya bukan main.

Hingga suatu hari Minggu, aku putuskan untuk melalui paviliun tempat tinggalnya saat jalan pagi yang terletak di kawasan Pejaten….Sampe di sana bingung juga gimana masuknya, untung ada tukang kebun rumah induk yang nunjukin pintu belakang yang ternyata enggak dikunci.  Saat aku masuk ke kamar tidurnya, kulihat sosoknya masih tidur nyenyak…perlahan kusentuh tubuhnya untuk membangunkan, tidak bereaksi. Kugoyang sedikit …kelihatannya dia mulai tersadar tapi tidak membuka matanya.

Akhirnya kududuk di pinggir tempat tidurnya, kulekatkan ibu jari dan jari tengah ke bibirku kemudian kusentuhkan jari-jariku itu ke bibirnya, kubungkukkan tubuh  agar aku bisa berbisik di telinganya, “You know, we’ve just kissing – officially.” Dia tersenyum tetap tidak membuka matanya, “Oke…oke I think somebody should lick to wake you up.” Dan mulailah lidah itu menyusuri mukanya, dia langsung terbangun kaget, “Alexaaaa….!”, jeritnya. Aku yang sudah sembunyi di balik pintu cuman bisa ngakak sembari terjongkok karena yang menjilatinya adalah Wimbo-anjing golden retriever yang kubawa.

“Haduh kamu nih gimana sih, air liur anjing kan najis,” kata dia sembari menghampiriku. Buru-buru kusodorkan seplastik pasir bersih yang baru saja kubeli untuk alas Pup kucing Anggoraku. “Apaan lagi sih ntar taunya ini bekas Pup kucing yang dah disterilkan,” dia bergegas ke teras untuk mensucikan mukanya dengan tanah yang ada di pot.

Akhirnya kami menikmati sarapan bubur ayam yang kubeli di jalan sembari masih ketawa-ketawa ingat kejadian tadi.

Dia termasuk orang yang produktif menulis, minimal sehari satu tulisan dan akhir-akhir ini tulisannya makin beragam coraknya. Dari  yang tadinya cuman membahas musik dan film sekarang dia juga menulis mengenai kebiasaan-kebiasaan di suatu daerah (dia  tumbuh di beberapa daerah eksotis macam Bali, Jogja, Makassar dan Papua belum lagi acara travellingnya yang cukup padat), fenomena alam hingga tinjauan kesehatan. Dia juga membuat tinjauan buku Pramudya yang berat (menurutku) masih dikaitkan dengan tips  dalam menyusun rentetan sejarah suatu peristiwa dengan mengakses google timelines. Dia ngakak dan enggak percaya waktu aku bilang bacaanku cuman chicklit, novel-novel konyol (anything dengan judul Dodol – boss dodol, anak kost dodol, isteri dodol) dan komik ngocolnya Beny n Mice.

Gaya penulisannya lugas dan kocak (psst yang ini enggak akan aku undang ke baltyra deh) dan for sure dia banyak penggemar…Waktu aku terus terang memuji tulisannya, dia balik memuji tulisanku seraya bilang kalau dia enggak mungkin menulis masalah ekonomi dan politik. Aku tambah terkejut waktu menemukan link pada suatu komunitas yang aktif bergerak di bidang “go green”, dia jadi penggeraknya disitu…dan tambah kagum sewaktu hal ini kutanyakan padanya, dia minta aku enggak bahas itu. Another good point of him mengingat biasanya lelaki seumuran dia cuman sibuk ngurusin masalah asmara, kerjaan dan gaol ajah dalam kata lain Me, Me and Me – dia dah membuat kontribusi nyata pada lingkungan dan rendah hati pula (prikitw dipuji sendiri deh).

Suatu saat aku minta dia menulis kisah cinta atau “perempuan-perempuan” yang pernah singgah di hidupnya. Spontan dia menolak dengan alasan dia tidak bisa menulis yang men”dayu-dayu”, dia malah bilang ingin menulis tentang aku. Waktu kujawab bahwa enggak ada yang menarik dariku sebab aku ini cuman perempuan yang biasaaa banget dengan serangkaian kebiasaan buruk.

Dia bilang bahwa untuk seorang perempuan  yang tiba-tiba come from nowhere dan berkomentar dengan centil…jelas kamu ini seorang yang special. Aku tanyakan juga kriteria ceweknya…”yang enggak neko-neko dan pinter masak” (langsung inget Peony..wah-wah mesti rajin buka resep Baltyra nih)…begitu jawabnya, aku terdiam. Dia malah bilang, “Kok diem, kamu kan juga enggak suka sama brondong….biar brondongnya dah terkanthil-kanthil gini. Lagipula kamu  bukan enggak pinter masak tapi males masuk dapur…gitu khan.” Akhirnya kami bertukar senyum…sembari mikirin omongannya – kalo enggak suka brondong ini mestinya enggak penting juga sampe larut dalam kriteria ceweknya itu….dasar wanita bodoh.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *