Thursday, 17 June 2010
Abhisam DM
Kami tidak hendak menggugat. Sama sekali. Sungguh.
Di suatu malam, di sebuah kafe, ah tidak, tepatnya kedai, di Jogja, saya berkesempatan kumpul dengan beberapa teman. Ada wartawan musik salah satu harian nasional. Ada penggiat teater. Ada penggiat pecinta alam. Ada juga pengamen yang sudah bertahun-tahun mencumbu banyak sudut jalanan kota Jogja dan kini menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas acoustic music di kedai tempat kami berkumpul ini (live, seminggu tiga kali, melibatkan banyak band dari berbagai Universitas di Jogja, serta tak ketinggalan jaringan radio).
Di kedai itu beragam topik yang kami bicarakan sampai pada penobatan lagu “Bongkar” sebagai 150 lagu Indonesia terbaik (sepanjang masa) versi majalah Rolling Stone Indonesia. Semua dari kami sudah mendengar informasi itu, tapi tak seorang pun tahu dasar argumentasinya. Kemudian seorang teman yang paling bertanggung jawab atas acoustic music tadi masuk ke kosnya di samping kedai. Tak lama. Tak ada dua menit ia sudah kembali dengan majalah Rolling Stone yang dimaksud. Meskipun sudah punya majalah itu, rupanya ia baru membaca sepintas lalu.
Kami sama-sama membaca…
Dinyatakan di cover story, “Semua panelis, kontributor, voter, dan barisan editor Rolling Stone Indonesia telah sepakat, bahwa Swami dan lagunya ‘Bongkar’ yang disuarakan oleh sang maestro Iwan Fals merupakan Rolling Stone 150 Lagu Indonesia Terbaik sepanjang masa.”
Kami sampai di halaman 35, “Jika sebuah lagu dianggap mampu mewakili kenyataan sosial, jika kesenian dianggap mampu mengungkap sejarah hingga ke titik paling autentik, maka ‘Bongkar’ adalah fakta tak terbantahkan bahwa kultur feodalisme begitu berurat akar di ranah tercinta ini.”
Lebih lanjut, masih di halaman 35, “Ketika seluruh katup harapan telah tersumbat, dan ketika para wakil rakyat hanya sibuk memperkaya diri, “Bongkar” menawarkan solusi: turun ke jalan!”
Lanjut lagi, masih tentang “Bongkar” hasil kolaborasi Iwan Fals dan Sawung Jabo, masih di halaman 35, “Hasilnya nyaris setara dengan karya yang pernah dihasilkan oleh duet legendaris semisal Elton John-Taupin, Lennon-McCartney, atau pun Jagger-Richard. ‘Bongkar’ teramat dahsyat untuk dikatakan sebagai kolaborasi biasa saja. Lagu ini tak lagi sekadar bertanya ihwal hakikat hidup seperti ‘Blowing In The Wind’-nya Bob Dylan, figur idola Iwan Fals, melainkan sudah merupakan jawaban tentang hakikat hidup itu sendiri. Bahwa keadilan harus direbut melalui keringat dan darah. Kalimat demi kalimat terasa provokatif, jika tak mungkin ditulis mengancam. ‘Ternyata kami harus turun ke jalan/Robohkan setan yang berdiri mengangkang’.”
Sampai di muara halaman 35, “Direkam dan diedarkan ketika rezim Orde Baru tengah berkacak pinggang, tak pelak lagi ‘Bongkar’, seperti halnya lagu-lagu lain di album perdana Swami, adalah sebuah nyanyian murung yang berbahaya. Dengan sebagian besar tema berisi protes keras yang menyambar ke sana ke mari, personel Swami sepertinya telah siap untuk dihabisi pada saat mengayunkan langkah pertama. ‘Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta…’”
Setelah merampungkan halaman 35, teman-teman merasa puas dan bisa menerima. Maksudnya puas dan bisa menerima bukan seperti tim penilai, juri, atau semacamnya, hingga terkesan teman-teman berada di atas tim penilai Rolling Stone. Menerima bagi pribadi masing-masing, begitu. Kalau saya tak usah ditanya. Sebagai pengagum berat Iwan Fals sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tingkat kepuasan dan penerimaan saya pasti di atas teman-teman.
Kemudian kami menjelajah dunia maya. Ternyata penobatan lagu “Bongkar” sebagai lagu Indonesia terbaik sepanjang masa juga diterima dengan cukup baik oleh khalayak ramai. Setidaknya terlihat di banyak blog, forum, milis, situs jaringan pertemanan, yang merebak di dunia maya.
Selain karena musik dan lirik yang berkarakter kuat, lagu “Bongkar” jelas tidak bisa dilepaskan dari –tanpa mengecilkan personel Swami lainnya yang juga akrab dengan persoalan grassroot: Sawung Jabo, Innisisri (alm), Nanoe (alm), dan Naniel- figur Iwan Fals. Hampir semua musisi Indonesia respek padanya. Bimbim Slank menulis dalam The Immortals, Rolling Stone 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa, “Inspirasi dan sifat kritis Slank berasal dari Iwan Fals.” Ahmad Dhani, yang sering dianggap angkuh, pun ketika diminta berkomentar tentang Iwan Fals di salah satu televisi swasta tiba-tiba lenyap keangkuhannya. “Iwan Fals adalah legenda,” kata Dhani.
Memang sulit menemukan keraguan atas kebesaran Iwan Fals, sebab kebesarannya tidak hanya dalam soal musik saja tapi menyangkut persoalan sosial kemasyarakatan juga. Pantaslah kalau TIMEasia mengakuinya sebagai salah satu dari 50 tokoh paling berpengaruh di Asia, “Iwan Fals sings a timeless message of justice for all. Here’s why Iwan Fals matters: because boy bands don’t take on dictactorships. They don’t stand up when everyone else is hunkering down. They don’t put to song what others are afraid to put in print. Pop stars should give a damn –when they do, remarkable transformations are possible…”
Selanjutnya kami iseng…
Urutan 10 besar Rolling Stone 150 Lagu Indonesia Terbaik sepanjang masa dihuni oleh lagu-lagu di era sebelum tahun ’90: “Bongkar” (Swami, 1989), “Kebyar-kebyar” (Gombloh, 1979), “Badai Pasti Berlalu” (Berlian Hutauruk, 1977), “Bis Sekolah” (Koes Bersaudara, 1964), “Guru Oemar Bakrie” (Iwan Fals, 1981), “Kembali Ke Jakarta” (Koes Plus, 1969), “Berita Kepada Kawan” (Ebiet G Ade, 1979), “Kehidupan” (God Bless, 1988), “Sakura” (Fariz RM, 1980), “Bento” (Swami, 1989).
Lagu dari era setelah tahun ’90 baru ada di urutan ke-14, yaitu “Memang” (Slank, 1991). Sementara lagu dari era tahun ’98 dan setelahnya baru ada di urutan ke-29, yaitu “Dan…” (Sheila On 7, 1999). Untuk lagu-lagu dari era tahun ’90 sampai ’97 kami lewatkan, keisengan kami kali ini mengambil fokus untuk lagu-lagu dari era tahun ’98 dan setelahnya.
Era tahun ’98 dan setelahnya dikenal juga dengan era Reformasi. Sang Diktaktor jatuh, saluran yang sudah lama tersumbat menemukan titik balik. Air mengalir, pipa-pipa basah, dan kran-kran terbuka mengucurkan kebebasan yang segar.
Jatuhnya sang Diktator juga menjadi seperti musim hujan bagi jamur-jamur industri hiburan. Tak terkecuali industri musik. Ia tumbuh subur bersama maraknya perkembangan radio, televisi, koran, tabloid, majalah, dan segala macam yang mendukung industri musik.
Tapi jika Rolling Stone benar, pertumbuhan industri musik era Reformasi lebih pada kuantitasnya saja, tidak secara kualitas. Rolling Stone 150 Lagu Indonesia Terbaik sepanjang masa hanya memberi tempat pada 22 lagu dari era Reformasi. Setelah lagu “Dan…” di urutan ke-29, menyusul “Bendera” (Cokelat, 2003) di urutan ke-37, “Mobil Balap” (Naif, 1998) urutan ke-55, “Distorsi” (Ahmad Band, 1998) urutan ke-86, “Mahadewi” (Padi, 1999) urutan ke-87, “Posesif” (Naif, 2000) urutan ke-96, “Sobat” (Padi, 1998) urutan ke-109, “Senandung Maaf” (White Shoes & The Couples Company, 2005) urutan ke-129, “Matraman” (The Upstairs, 2004) urutan ke-130, “Di Udara” (Efek Rumah Kaca, 2007) urutan ke-131, “Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)” (Seringai, 2007) urutan ke-132, “Mengejar Matahari” (Ari Lasso, 2004) urutan ke-133, “Laskar Pelangi” (Nidji, 2008) urutan ke-134, “Konservatif” (The Adams, 2005) urutan ke-136, “Mendekati Surga” (Koil, 2001) urutan ke-137, “No Fruits for Today” (Sore, 2005) urutan ke-138, “Di Sayidan” (Shaggydog, 2002) urutan ke-139, “Ku Katakan Dengan Indah” (Peter Pan, 2007) urutan ke-140, “Cinta Melulu” (Efek Rumah Kaca, 2007) urutan ke-143, “Welcome to My Paradise” (Steven & Coconuttreez, 2005) urutan ke-144, “Melompat Lebih Tinggi” (Sheila On 7, 2003) urutan ke-147, dan terakhir “Me & My Boyfriend” (Mocca, 2002) urutan ke-150.
Rolling Stone 150 Lagu Indonesia Terbaik sepanjang masa dihitung sejak industri musik Indonesia era munculnya Irama dan Lokananta Records di tahun 1951 sampai era Reformasi sekarang. Berarti sekitar 59 tahun. Era Reformasi sudah berjalan selama hampir 12 tahun. Jika dikelompokkan per 12 tahun, maka kira-kira akan ada 5 kelompok era. Jika dibagi rata, maka mestinya setiap kelompok era menempatkan 30 lagu (150 lagu dibagi 5 kelompok era), atau sama dengan 20%. Angka 20% itulah standar.
Era Reformasi menempatkan hanya 22 lagu saja, atau tidak sampai 15%. Artinya, di bawah standar. Itu pun kebanyakan berada di urutan 100 ke atas. Jika hanya diambil 100 lagu terbaik saja, maka hanya ada 6 lagu dari Era Reformasi, atau hanya 6%. Lebih menyedihkan lagi jika hanya diambil 50 lagu terbaik saja, hanya ada 2 dari era itu, hanya 4%. Apalagi jika hanya diambil 25 lagu terbaik saja, hilang sudah “perwakilan” dari era Reformasi.
Entah apa yang salah. Mestinya kebebasan berbanding lurus dengan kualitas. Bukankah begitu? “Ah, itu masih asumsi,” kata teman yang penggiat pecinta alam.
Lantas apakah sang Diktator yang benar? Buktinya era itu, katakanlah ‘66 sampai ‘97 -‘98 terhitung sudah masuk era Reformasi- menjadi penyumbang terbanyak 150 lagu terbaik, yaitu 117 lagu, atau 78%. Memang era itu cukup panjang, 32 tahun, tapi dibanding 12 tahun hanya 22 lagu, jelas masih lebih baik. “Sungguh keterlaluan,” kata teman yang wartawan.
Atau kita, meminjam Gus Mus, ibarat burung; lama dikurung tiba-tiba dilepas. Nabrak-nabrak.
Oya, barangkali sepakbola bisa jadi analogi yang pas. Jose Mourinho mengeluhkan perilaku pemain sepakbola muda jaman sekarang. “Anak muda jaman sekarang lebih mengejar gaya hidup daripada profesionalisme dan prestasi,” The Special One lalu mencontohkan Mario Balotelli, “Balotelli dan generasinya hanya memikirkan Ferrari dan clubbing.” Pendapat itu diperkuat oleh Leonardo, pelatih AC Milan, “Segalanya yang telah terjadi di sepak bola adalah refleksi dari masyarakat. Maka, perilaku para pemain muda juga terpengaruh. Generasi sekarang sedikit mengalami penurunan. Saat ini, pemain bintang punya masa keemasannya rata-rata hanya tiga tahun. Dulu, pemain bintang seperti Michel Platini punya masa keemasan selama 15 tahun.”
Ups… Jadi melebar kemana-mana. Intinya memang banyak faktor mesti dihitung. Tapi jangan repot dan pusing dulu. Itu kan kalau Rolling Stone benar. Bagaimana jika salah? Atau mungkin saja Rolling Stone benar tapi “otak-atik”, keisengan kami, yang salah dan mengada-ada. Bagaimana?
Bagaimana jika yang benar adalah Duto Sulistiadi, General Manajer SCTV. “Sebagai orang SCTV dan bekerja di media massa maka yang saya pikirkan adalah massa-nya saja. I don’t care about the quality. Saya tidak peduli dengan kualitas. Semakin banyak pelaku, pebisnis, label rekaman maka semakin bagus,” katanya.
“Semua itu kan ukurannya industri, bagaimana jika kita tak usah terlalu ambil pusing dengan industri?” Kata seorang teman yang penggiat teater mencoba menutup topik ini.
Bagaimana menurut Anda?
Salam.
Jogja, 30 Desember 2009
June 18th, 2010 at 12:15
Mea, kalau Indonesia kayak AS kekuatan media dan industrinya, pasti pada ngetop se dunia. Kalau soal kreatifitas jangan diragukan bagi Indonesia. Ini pun nggak digali dan tidak diperhatikan pemerintah. Gimana jadinya kalau digali dan diperhatikan pemerintah, bisa melesat jauuuuh…
Dulu tahun 1970an, grup band barat terkenal hanya mau mampir di Jepang, Indonesia dan Australia. Negara lain nggak dilirik… Kalau Singapura dan Malaysia cuma terkenal fasilitasnya aja. Pemirsanya bego semua. Toh, yang nonton kebanyakan orang Indonesia.
June 18th, 2010 at 12:10
ISK: yang ini aku setuju… pa lagi band, wah Indonesia boleh2, ga ada tuh band2 Asia lain yg kek kita. Malah lucunya di kala Indonesia berlomba2 dengan band, di Jepang dan Korea baru mau gila2an Boyband, padahal era boyband udah musnah beberapa waktu lalu… musik anak negeri masih paling mantaplah!
June 18th, 2010 at 11:53
Industri kreatif Indonesia adalah satu dari banyak di Asia yang terbaik. Kita mungkin kalah dalam kedisiplinan, kediktatroan, kebersihan, keteladanan dan sifat-sifat positif yang lain. Tapi dalam soal kreatifitas musik, di Indonesia yang paling baik dan anggun se Asia. Betapa semua budaya ada di Indonesia dan terwakilkan dalam genre musik. Inilah yang membuat majalah Rolling Stone di AS, hanya mengijinkan Indonesia menerbitkan majalah sejienis dengan isi yang benar-benar Indonesia. Bukan Jepang, Korea, Cina, apalagi Malaysia dan Singapura.
June 17th, 2010 at 17:25
Industri hiburan, memang seperti itu. Seperti yang dikatakan direktur SCTV tsb bahwa mereka lebih mementingkan jumlah daripada mutu. Sayang! Sering kita lihat justru film-film bertema “berat” atau “serius” sepi dari penonton. Hal yang sama juga pada lagu. Lagu yang berat dan serius jarang sekali peminatnya..
June 17th, 2010 at 13:07
Saya dulu aktif di milis milis music yang isinya para pelaku music langsung, kolektor, komentator, dll. Bahasannya ttg sebuah album atau lagu sampai perilaku artisnya deatil banget, sampai bau ababnya Roger Water /David Gilmour( ada di photo pertama tuh) dibahas juga.
Dari sana diambil kesimpulan bahwa puncak kreasi dalam bermusic adalah era 1970-an tsb,dengan intruments yang belum modern bisa menghasilkan karya2 megah spt `dark side of the moon`, close to the edge, selling england by the pound.