Wayang, dilupakan sayang

Bagong Julianto – Sekayu, SumSel


Catatan Mudik, Sept-Okt’ 2009

Ini tentang kenangan yang kabur. Tentang wayang orang. Juga wayang kulit. Tentang tontonan yang konon dibebani pesan moral dengan istilah tuntunan. Benarkah? Sulit bagi saya untuk melacak kenangan tentang pasangan Rusman-Darsi, sejoli di panggung dan pasangan berbahagia di alam nyata. Kisah nyaris setengah abad lampau! Jejak mereka sudah hilang ketika saya berkesempatan hadir dalam acara Reunian kemaren dulu. Bertajuk “Mirsani Wayang Orang Sriwedari Sesarengan Alumni SMAN 1, 2 dan 3 Margoyudan Solo” dengan lakon GATOTKACA GANDRUNG, ternyata tak saya dapatkan rayuan lagu asmaradahana semaut ‘…mbalung pakel….’ yang biasa dilantunkan Rusman Gatotkaca jadul. Ah, siapalah saya ini?

Saya ini si gembala sapi! Atau : Aku seorang Kapiten, mempunyai pedang panjang…….. Haaa, itu lelaguan! Saya memang alumnus SMAN 3, bukan Margoyudan tapi Warung Miri dan Kerkop. Yang punya gawe adalah benar-benar angkatan jadul, angkatan sepuh, lebih lima belas tahun di atas saya.

Saya gak banyak harapan untuk jumpa kawan lama yang memang sudah lama gak saling bertegur sapa. Dan itulah yang terjadi. Justru karena posisi duduk saya di tengah dan pada  barisan tengah juga maka saya bisa leluasa “menyapa” dan mengganggu seorang sahabat yang kemudian datang bersama rombongannya duduk di deretan depan samping saya.

Dia alumnus SMAN 1 dan sama sefakultas di Sebelas Maret. SMS saya yang bertubi-tubi berhasil sukses memberdirikan badannya dan memutarkan kepalanya 180 derajat. Dhangak thingak-thinguk, julurkan kepala tengok sana-sini-situ,  jelalatan dan penasarannya diujudkan dalam makian di SMSnya. Tak sekali kacamata dilepaskannya guna membebaskan matanya mencari posisi saya. Gak pernah berhasil didapatnya lokasi saya duduk! Pelajaran ini telah lama saya dapatkan: bahwa kacamata dalam satu kondisi justru menjadi beban penambah kepenasaranan dan kegundahgulanaan pemakainya!

Sebagai pertemuan kangen-kangenan dan bersilahturahim, acara nonton bareng ini tentu saja sukses. Termasuk juga pemberian bingkisan tali asih kepada yang dikasihi. Bagaimana dengan wayangnya sendiri?

Sebagai tontonan, wayang memang telah sendirian tersesok-seok menghadapi gempuran kemajuan zaman. Benarkah zaman maju? Zaman yang dikerubuti arus hedonis dan digayuti keserakahan dan ketamakan segenap lapisan?

Hari lain, kembali saya menengok gambar dan kenangan lama. Sebelum masuk gedung, saya sempatkan minum jahe dan melahap setorong kacang rebus yang saya beli dari gerobag sepeda. Saat tambah minum teh botol, saya terperangah demi menjumpai Pak W, pemeran sang Raja sang Buto sang Kresno yang melayani. Dalam masa pensiunnya, ikatan dengan W.O Sriwedari diwujudkannya dengan menjaga menunggui gerobag rokok. “Payah, anak-anak sekarang lebih banyak sok tahunya. Bertingkahnya saja melebihi kemampuan panggungnya”.

Tak ada kebanggaan masa lalu yang diagung-agungkannya pun kerisauan masa kini yang nyata di hadapannya: bahwa wayang orang memang tak banyak berubah, dan jaman yang berubah menggerus pesona wayang sebagai tontonan dan tuntunan. Dengan harga tanda masuk yang sebesar Rp.3.000,-, sungguh ini harga tanda (tak) masuk akal, pun pertunjukan wayang tak jua berhasil menarik animo masyarakat untuk menikmatinya. Gak sampai tiga puluh orang saya hitung penikmat wayang orang malam itu…..

Wayang Orang Sriwedari memang harus berubah, diubah dan merubah diri. Atau sebagai tontonan, ia hanya akan menjadi klangenan segelintir orangtua, kakek-nenek, PakDe-BuDe yang lagi reunian sekali setahun…….

Lain waktu, ada pameran Wayang Kulit Kuno di sebuah Mall. Bahkan untuk suatu seni, yang  disebutkan adi luhung, dipamerkan dan dipersilahkan menikmati sambil lalu, sambil belanja. Kehidupan ini adalah belanja.

Membeli dan dibeli. Padahal pertunjukan wayang kulit adalah tampilan beragam seni: tari, suara, musik/gamelan, drama, ukir, panggung dsb. Sebagiannya diapresiasi di Mall. Akankah wayang orang juga segera berakhir sebagai diorama.dan dipajang di rak toko berdampingan dengan kura-kura ninja? Atau Buto Shrek, nhah lhoh?!


Sampunnnnnnnn. Suwunnnnnnnn.

BgJ 030610.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.