Yun Tai Shan Itu Surga: Day 1

Meazza – China


Aku datang untuk menjamahmu

Lewat jejak kakiku

Bila pigura itu bisa membingkaimu

Maka pasti kuabadikan kesempurnaan itu

Kucoba untuk menceritakan semua indahmu

Tapi aku tak mampu

Karena kau begitu megahnya bagiku

Hingga tak sanggup memoriku merekam detilmu


Malas. Itulah sikapku saat pihak sekolah menelepon untuk memberi tahu kalau di akhir pekan sekolah akan mengadakan tur ke Yun Tai Shan, sebuah gunung yang terletak di kota Jiaozuo, provinsi Henan. Kota yang terkenal dengan tambang batu baranya ini kabarnya termasuk kota yang sangat bersih. Dan kabarnya lagi gunung yang akan kami kunjungi itu bagai surga indahnya. Benarkah?

Jujur saja aku sedikit bosan pada wisata gunung di China yang hampir tak ada kenaturalannya. Semuanya sudah dipoles sana-sini, menimbulkan kesan kaku di mataku. Namun karena perjalanan ini wajib dan mahasiswa hanya perlu membayar 8% dari biaya tur, maka berangkat juga aku pada akhirnya.

Sembilan jam perjalanan menggunakan bus dari kota Jinan ke Jiaozuo yang membuat perutku spontan berubah jadi mixer makin membuat semangatku kendor dan berakhir dengan tersandar lemas di deretan bangku paling belakang. Semakin yakin saja aku bahwa perjalanan kali ini pasti menjengkelkan. Tapi begitu memasuki kota Jiaozuo aku menyempatkan diri untuk melongok ke luar jendela. Benar kata mereka, kota ini bersih adanya.

Setibanya di gerbang yang bertuliskan Yun Tai Shan dengan dua layar monitor di kedua sisinya, aku jadi malas melangkahkan kakiku. Suhu yang mencapai 32 derajat membuat telingaku selalu mendengungkan kata-kata sumpah serapah yang keluar dari otakku yang mulai menyadari betapa bodohnya aku yang tidak mencoba mencari alasan agar tak ikut tur neraka ini. Kulihat tiket elektronik dengan harga 120 RMB tertulis di atasnya. Petugas mengambil sidik jari setiap pengunjung yang mau memasuki lokasi wisata. Hal itu karena tiket ini bisa dipakai untuk dua hari namun hanya diperuntukkan buat sang pemegang tiket saja. Aku tertawa dalam hati, membayangkan apa ada orang yang mau dua hari berturut-turut naik “gunung palsu” ini.

Dari gerbang kami naik bus lagi ke lokasi gunung kurang lebih 15 menit. Jalan melingkar dan sungai yang mengalir di sisi jalan cukup meredam tubuhku yang kepanasan. Beberapa saat berlalu, sampai juga akhirnya. Sedikit di luar perkiraan, karena seturunnya dari bus aku langsung disuguhi pemandangan bukit berlapis-lapis yang menghampar di depanku. Udara sejuk langsung menyapu wajahku yang memerah karena panas. Sejenak aku terhipnotis oleh menu pembuka ini. Hampir saja lupa kalau kamera perlu dimainkan untuk mengabadikan semuanya.

Aku dan rombongan terus bergerak menuruni sisi gunung, masuk ke celah bebatuan yang sempit. Tak dapat aku lukiskan dengan kata-kata betapa pemandangan di sekelilingku membuatku terperangah. Mungkin karena aku tak siap, karena sebelumnya aku sudah berburuk sangka pada Yun Tai Shan. Dan ketika dia membuktikan kecantikannya lewat bebatuan dan ratusan air terjun besar kecil yang mengalir di antara celah sempit. Hingga aku kebingungan untuk mengambil gambar. Tak tahu memotret dari sudut yang mana agar apa yang terlihat dengan mata sama indahnya dengan yang terekam di kamera.

Lihat saja bagaimana ia membuatku takjub dengan airnya yang beriak menghempas bebatuan sambil sesekali bergoyang bermain bersama ikan-ikan kecil itu. Rumput dan bunga liar bergelantungan di celah bebatuan. Burung nakal berkicau tak mau ketinggalan.

Melihat banyaknya pengunjung hari itu, aku cukup merasa kagum juga menyaksikan tempat wisata ini licin dari sampah. Di sisi-sisi pagar pembatas terlihat tempat sampah yang bisa ditemukan setiap 3-5 meter. Tak ada sampah di tanah dan di air. Toilet rapi dan jumlahnya juga tak sedikit. Tempat jajanan dan souvenir juga ditata dengan seksama. Petugas kebersihan mondar-mandir mengamankan salah satu tempat wisata kebanggaan China ini. Kusadari betapa seriusnya negara besar ini di bidang pariwisata. Khayalku melayang jauh ke tanah airku yang kaya akan aset wisata namun tak ditemukan tangan-tangan berjasa yang mau mengubahnya menjadi mesin pencari uang untuk negara. Ah, sudahlah!

Aku mungkin sedikit hiperbola saat menyamakan Yun Tai Shan dengan surga. Namun aku tak mau malu-malu mengakui bahwa apa yang ada di sana sudah cukup untukku merasa seperti di surga. Nyaman terasa karena fasilitas yang tersedia di sana. Kuberi tahu kau kawan, Kalimantan tempat kelahiranku juga tak kalah mempesona. Namun entah mengapa aku tak pernah merasa para petinggi di sana mau bekerja sama dengan alam demi kesejahteraan rakyatnya. Yang ada hanya keterlantaran, dan alam yang bersahaja pun menjadi malas untuk memberikan yang terindah dari yang dia punya. Salah siapa kalau ternyata potensi wisata nan indah itu tak pernah terekspos ke mana-mana? Tak usah jauh-jauh, tahukah kalian kalau kami punya Pulau Randaian yang karangnya sangat menggoda? Hah…


Sayangnya, dua jam terlalu cepat untuk membawa khayalanku berkelana menyeberangi benua. Jujur aku tak ingin meninggalkan tempat yang sangat indah dan kuduga sebagai surga kecil ini. Tak cukup untukku menikmati pesona alam yang menenangkan jiwaku. Tapi pemandu wisata kami sudah melambai dari kejauhan, pertanda perjalanan hari ini harus berakhir sampai di sini. Aku dan teman-teman pun merangkak naik sambil terus sibuk memotret di sana-sini. Sempat kujumpai bendungan yang tetap memperlihatkan ciri khas arsitektur China pada bangunannya. Benar kata Saudara-saudara, bangsa yang besar itu adalah bangsa yang menghargai budayanya.

Kunjunganku ke Yun Tai Shan hari ini tak panjang waktunya, namun menyisakan kepuasan tak terkira di hatiku. Besok aku akan kembali melihat sisi lain wajah cantiknya. Ada rasa malu karena menduga bahwa wisata ke “surga” ini adalah perjalanan yang menjengkelkan. Mungkin aku perlu berlatih lagi untuk lebih positif dalam merespon sesuatu.

Jinan, Meraung di Jiwa, Juni 2010

32 Comments to "Yun Tai Shan Itu Surga: Day 1"

  1. Gatot Soetono  28 April, 2014 at 10:36

    Mbak Mea,
    Saya tertarik dengan foto-foto Yun Tai Shan. Panorama yang indah dan natural.
    Pertanyaan saya, apakah Yun Tai Shan sama dengan Mount Tai Shan di provinsi Shandong, yang akesnya dari kota Tai’an?
    Saya sedang merencanakan kunjungan ke China bulan Oktober 2014 dengan tujuan menikmati pemandangan alam China antara lain Zhiang jiajie, Mount Huangshan dan Mount Taishan. Melihat foto-foto Mbak Mea, saya ingin memasukkan Yun Tai Shan ke itenerary saya.
    Salam
    Gatot Soetono

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.