Isapan, sentuhan puisi

Jumari HS.


Hampir setiap pagi, saat berangkat kerja aku melihat dan menyapa sosok tua yang kulitnya sudah keriput di kebunnya. Ia begitu getol mencangkul tanah miliknya sepenuh tenaga, sepertinya petani tua itu, orangnya sangat idialis dan penuh percaya diri dalam menjalani hidupnya. aku sangat kagum padanya. Tapi dari kelebihan dan kekurangannya yang paling aku benci pada sosok tersebut yaitu pada saat ia mengisap rokok dengan kepulan asapnya yang begitu tebal dan memuakkan dari mulut dan hidungnya yang sudah kempot.

Mungkin kebencianku itu dipengaruhi oleh perasaanku sendiri yang tidak suka merokok. Aku benar-benar iba dan benci padanya. Keibaan itu muncul setiap aku melihatnya bekerja keras dan dilakukan orang yang seumur dan setua itu. Sedangkan kebencianku pada orang tua itu, seperti orang itu tak merasa kasihan pada dirinya sendiri dengan mengkonsumsi rokok yang begitu berat. Aku sangat prihatin dan merasa iba padanya, Apalagi kalau melihat keringatnya yang berlelehan di tubuhnya dan ia mencangkul dan terus mencangkul, terasa paculan itu memacul dadaku. Yang membuat aku penasaran dan kagum padanya.

Ia setiap mencangkul tanah tak lepas di bibirnya sebatang rokok tergapit di bibirnya sambil diisapnya sepenuh perasaan, asap rokok pun mengepul dari mulut dan hidungnya berkali-kali dan sepertinya asap rokok itu tak mau berhenti membumbung ke udara membangun cakrawala dalam singgasananya..Sepertinya sosok tua itu merasakan bahwa merokok bagian dari hidupnya yang tak bisa dipisahkan dan siapapun tak bisa memisahkan.

Sosok tua itu bernama Suryo, Ia petani kecil yang mandiri, mengolah tanah pekarangannya sendiri dengan menanami kacang-kacangan untuk menghidupi keluarganya. Meski ekonominya yang pas-pasan dengan penghasilan yang hanya menggantungkan panen kebun, seharinya Ia tak lepas menghabiskan batang demi batang rokok sampai dua pack bahkan bisa lebih. Aneh bagi yang melihat dan merasakan sosok itu, kondisinya yang sudah sedemikian tua renta, ternyata membuat hidupnya tentram dan sehat. Aku yang hampir setiap pagi melihat sosok itu merasa kagum dan heran padanya.

Tiada hari tanpa asap rokok, itulah pola hidup sosok tua itu. Seperti siang pasti ada matahari, dari keberadaannya aku merasakan bahwa ia menemukan kepuasaan hidup yang sebenarnya dari merokok. “ orang tua itu sepertinya tak menghiraukan kesehatan dan bahkan tak takut mati “ bisik hatiku penuh tanda tanya. Aku yang sengaja sejak tadi memperhatikan sepenuhnya, dibuatnya terheran-heran melulu.olehnya. Hidup ini memang misteri dan .semua seperti ada yang mengaturnya. Manusia hanya sebagai pelaku atau menjalankannya sesuai takdirnya. Aku sangat terpana begitu setiap memperhatikan sosok setua renta itu masih bertahan hidup dan bekerja keras dalam kondisi perokok berat.

“ kelihatan bapak sehat benar. Kerja dengan keringat yang begitu berlelehan di tubuh? “, tanyaku ingin lebih dekat padanya

“ hidup adalah kerja, yang terpenting kita jalani apa adanya dan jangan kemrunsung“ jawabnya dengan santai

“ apa tak rasa lelah? “

“ ah sudah biasa, karena sudah menjadi pekerjaan rutin “

“ maaf, kerja sekeras ini bapak mengimbanginya dengan merokok, apa tak mengganggu kesehatan? “

“ justru aku merokok menjadi sehat “

“ aneh, apa nggak terbalik jawabannya “

“ terbalik gimana, orang sehat itu dari pikiran dan perasaan manusia yang bersangkutan, kenapa dikaitkan dengan rokok dan apa maksud pertanyaanmu itu? “.

“ merokok itu bisa mengganggu kesehatan dan mengakibatkan kematian “..

Mendengar pertanyaan itu, Mbah Suryo malah tertawa terbahak-bahak dan seakan menganggapku orang yang bodoh dan tak tahu tentang hakekat hidup yang sebenarnya. Dan dalam tatap matanya mengisyaratkan bahwa merokok baginya sebuah tindakan yang benar dan hak pribadi seseorang dalam mencari kepuasaan diri, yang membuat aneh tertawanya itu membuat perasaanku kebingungan dan aku rasakan hatiku malah sakit. “ orang tua ini, seperti sudah sinting dan tidak takut mati “ bisikku penuh keheranan, dan sosok itu seperti memahami isi hatiku, bahwa aku merasa kasihan dan ingin mencegahnya untuk merokok.

Tiba-tiba aku dikejutkan perubahan pada diri sosok tua itu yang spontan wajahnya memerah dengan mata memelototi apa yang ada depannya. “ kematian adalah takdir, kesehatan adalah tubuh yang bergerak dan merokok adalah kenikmatan hidup tersendiri! “ ucapnya dengan nada yang sangat keras, dan seakan apa yang ia ucapkan sudah menjadi hak dan prinsip hidupnya yang tak bisa dipengaruhi atau dicegah oleh siapapun. Bahkan dengan merokok segala kepenatan hidup bisa memudar oleh isapan dan kepulan asap rokok yang mengepul dan kepulan itu  memberi warna yang lebih nikmat dan menentramkan hidup.

***


Asap rokok yang terus mengepul ke udara dari mulut dan hidung yang sudah berkerut itu seperti tak mau lepas dan mengerat begitu kuat dan kepulan-kepulan itu terasa mendenyutkan keyakinan akan keperkasaan lelaki yang sangat luar biasa. Desahan demi desahannya pun seperti nyanyian cinta yang terdengar syahdu di telinga setiap yang mendengarkannya, “ Kenapa mereka mencegah dan menyuruhku berhenti merokok, mereka sepertinya yang tak paham kebutuhan dan kepentingan orang lain yang memiliki sikap yang berbeda  “ gerutu Mbah Suryo sambil terduduk di bawah pohon pekarangan kebunnya. Matanya yang sudah mulai kabur masih melihat dan merasakan bahwa  apa yang selama ini dilakukan dan diyakininya banyak kalangan yang berusaha mengusik atau mencegahnya. “ pemikirannya mereka begitu subyektif dan tanpa memahmi bahwa mencegah orang merokok bisa mentelantarkan semua pihak dan yang sangat bodoh, mereka mencegah tapi tidak bisa mencari jalan solusinya “ tegas Mbah Suryo sambil mengisap sebatang rokok sekuat-kuatnya.

Di rumah, aku membayangkan kepulan-kepulan asap rokok Mbah Suryo yang senantiasa ditebar dan membumbung ke udara, dan bayangan kematian itu seperti lintasan petir yang mengiris angin di pelupuk mataku. “ Suryo seperti tak memikirkan dirinya sendiri, dan orang itu ibaratnya membakar jantungnya “. Keluhku yang merasa heran dan iba bahkan takjub dengan sikapnya itu.

“ mikiran apa pak, kelihatannya kok serius banget “ celetuk istri

“ masalah mbah suryo, setua itu merokoknya nggak dikurangi, malah kelihatan tambah menjadi-jadi “

“ kenapa dipikirin, apa kamu yang beliin rokoknya “

“ bukan begitu, maksudku kalau mengurangi atau menghentikan merokok bagi kesehatannya juga sangat baik “

“ merokok itu hobi seseorang, dan pajaknya juga triliyunan apalagi pekerjanya yang juga ratusan ribu, apa nggak mentelantarkan mereka dan kenapa harus dicegah? “ tandas istriku.

Mendengar ucapan istriku, perasaanku menjadi kacau tak karuan dan pelan-pelan tersadar, bahwa ternyata apa yang dilakukan Mbah Suryo selama ini, selain ia merokok di sisi lain ada nilai positifnya yaitu membantu pajak dan memperluas lapangan kerja di masyarakat. “ ternyata selama ini, apa yang aku sampaikan padanya adalah pemikiran egoisku dan salah kaprah “ sesalku.

***

Pagi, seperti biasa aku melihat lagi sosok tua renta itu mengisap rokok dengan mantap dan kepulan-kepulan asapnya pun mengudara begitu indah terasa menciptakan cakrawala penuh pesona dan angin yang pagi itu begitu sejuk menambah kegairahan hidup, sebagaimana beribu langkah kaki giling dan batil rokok berbaris menuju  baraknya masing-masih. Lalu keringatnya pun membasah di tubuhnya dibarengin suara gemerincing alat giling yang ditabuh tangan-tangan lembut dan mencuatkan alunan lagu heroik yang senantiasa bertalu-talu tanpa henti melenturkan setiap tubuh dalam tarian penuh estetika!

“ ada apa datang lagi? “ celetuk Mbah Suryo.

“ aku ingin mencium bau kepulan asap rokokmu “

“ mencium sama saja mengisapnya, lebih baik aku kasih satu batang dan belajarlah menghisap lalu nikmati sepenuhnya “

“ tidak!  aku tak terbiasa. “ tolakku

“ ini bukan barang haram, mengapa ditolak “

“ ada yang mengatakan haram, Mbah “

“ kalau berani mengatakan haram berarti ia, Tuhan. Itu berarti sudah perbuatan musrik “

Aku merasa terpojok dengan apa yang dikatakan Mbah Suryo, sepertinya ia sudah sangat mencintai rokok,dan rokok sudah menjadi bagian kepuasan hidup yang tak bisa dipisahkan dan sudah mendarah daging dalam dirinya. Aku begitu tersentuh dan di mataku seperti melihat daun-daun tembakau yang mekar begitu lebar, selebar luasnya pemahaman terhadap kehidupan merokok yang setiap hari menciptakan perubahan, perubahan yang penuh misteri. Kepulan asap rokok itu pun bukan lagi beribu mulut atau hidung seseorang saja, melainkan sudah bermilyar dan asapnya pun yang berwarna  putih itu  menghiasi langit-langit dan membentuk mega-mega di dada. Sebatang rokok kucoba pertama kalinya kuisap sepenuh perasaan yang paling dalam. Nikmatnya benar-benar mengusir beban, beban yang selama ini sulit aku terjemahkan. Mbah Suryo menatapku dalam-dalam dengan senyum kecilnya menebar tanda tanya.

“ bagaimana dengan kepulan asap rokok itu “

“ seperti ada puisi di dadakku “ jawabku jujur

“ nikmatnya “ cercanya

“ begitu sangat, Mbah, tapi aku terbatuk “

“ nanti kalau sudah terbiasa batuk itu hilang sendiri “

“ mosok “

Mbah Suryo, menerima jawabanku spontan tertawa terpingkal-pingkal, dan kulit wajahnya yang sudah berkerut itu serasa memekatkan hatiku, dan di sela-selanya mengepulkan asap rokok, asap yang selama ini mengusik dan mengaburkan pandangan pemikiranku. “ kamu harus lebih mengerti hidup “ bisik Mbah Suryo lalu ia tiba-tiba menghilang entah di mana, dan di mataku melihat bermilyaran mulut dan hidung  dikepung asap rokok, yang menari-nari negitu indahnya di mataku!.


Kudus,2010

13 Comments to "Isapan, sentuhan puisi"

  1. nindrianto  16 March, 2011 at 11:56

    Bagus banget. menyentuh …. untuk orang2 seperti mbah Suryo ini, hidup sangat indah….kenapa kita harus merusak keindahan hidupnya…

    Maaf, saya mengambil gambar mbah suryo untuk artikel di blog saya. Tetapi saya cantumkan link Anda…terimakasih ya. silakan berkunjung :

    http://web.nindrianto.com/2011/03/hidup-sengsara-panjang-umur.html

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.