Pucuk-pucuk Pohon Tembakau

Anastasia Yuliantari-Ambor Ruteng


Fajar tengah menjelang. Suara kokok ayam bersahutan menerobos dinding bambu yang telah melengkung bergelombang didera waktu. Ia membuka mata sesaat, kelopaknya masih berat digayuti kantuk. Namun telinganya sudah bersiaga menangkap segala suara dan gerakan yang terjadi di sekitarnya.

Ia tahu ibunya telah mulai memasak di dapur. Terdengar keretek kayu setengah basah bercampur suara benturan timba kaleng di bibir sumur. Tak berapa lama kemudian harum seduhan kopi menguar menembus lembabnya udara pagi, memberikan kesegaran ke dalam kamarnya yang pengap.

Matanya kini mulai terbuka, bau khas ikan asin yang tengah digoreng begitu merangsang bagi perutnya yang hanya diisi sepotong kue basah murahan yang dibelinya di terminal semalam. Ia tahu nasi jagung yang dicampur sedikit nasi putih tengah mengepul di wadah bambu kecoklatan. Kemarin malam ia melihat tumpukan daun singkong di atas kotak karton bekas tempat mie instant, berarti pagi ini sayur daun singkonglah yang akan terhidang. Mungkin bersama terung goreng dan sambal terasi. Bisa jadi ditambah seiris dua tempe goreng. Ini hari cukup istimewa, kunjungannya yang pertama setelah setahun merantau ke kota.

Derit dipan beralas bambu mengiringi dentingan lumpang besi. Kelihatannya dibutuhkan lebih banyak bubuk kopi untuk beberapa hari kedepan. Kopi buatan pabrik tak begitu diminati di sini. Ibunya seperti juga sebagian besar penduduk di kampung ini lebih suka membeli biji kopi lalu mencampurnya dengan sisa nasi yang sudah dikeringkan. Dua bahan itu disangrai menggunakan kuali khusus agar tidak mempengaruhi aroma. Setelah kopi menghitam, dituangkan ke dalam lumpang besi dan ditumbuk sampai halus. Ayakan dan tampah bambu telah menunggu untuk menyaring bubuk halus itu. Setelah selesai bubuk kopi itu akan disimpan ibunya dalam toples bekas tempat permen yang dibelinya di pasar.

Semakin siang suara di luar semakin beragam. Burung-burung mulai berkicau bersahutan. Lenguh kerbau membaur dengan embikan kambing yang berderap keluar kandang. Tak berapa lama terdengar percakapan ditimpal deburan berirama orang sedang mandi. Rengekan anak-anak yang kedinginan bersahutan dengan kejengkelan orang tua mereka menyuruh mandi.

Disibakkannya kain batik hitam putih yang menjadi selimutnya. Sejenak ia menguap sebelum duduk melamun di bibir dipan. Dalam kaca yang buram terpantul bayangan dirinya. Neon lima watt di atas kepalanya tak cukup terang untuk menunjukkan secara jelas roman mukanya.

Setelah menuntaskan lamunan di awal harinya ia beranjak turun dari dipan dan berjalan menuju jendela kayu bekas peti kemas. Dibukanya gerendel besi yang telah berkarat. Walaupun telah pergi setahun lamanya ia masih ingat untuk mengangkat sedikit palang kayu yang membentang di tengah jajaran papan itu sebelum mendorong sekuat tenaga. Ibunya bilang Lik Mul kurang senter, lurus maksudnya, mengukur tinggi jendela itu, sehingga sisi bawah dan atas berbeda, walhasil diperlukan gerakan ekstra untuk membukanya. Ia tak ambil pusing perkara ini, ia tak tahu seluk beluk tukang kayu. Sudah sangat lumayan Lik Mul mau meluangkan jadwalnya yang padat, sebagai satu-satunya tukang kayu di desanya, dengan upah dibawah minimal.

Bau tanah basah menyerbu hidungnya. Dihirupnya kesegaran itu dalam-dalam. Telah setahun ini setiap bangun pagi ia hanya mencium bau got busuk, asap rokok bercampur wangi kosmetik murahan, dan keringat yang juga berbau parfum murahan. Kadang ia berpikir bisa jadi paru-parunya telah dimasuki kuman TBC seperti Lik Poniti, namun pikiran itu dibuangnya. Kalau berpikir tentang penyakit yang mungkin masuk ke tubuhnya, pasti tak hanya TBC. Sekujur badannya mungkin telah menjadi sarang berbagai penyakit.

Suara percakapan di dapur menghentikan usahanya yang rakus untuk memasukkan lebih banyak lagi udara segar ke dalam paru-parunya. Ia berjalan kembali ke dekat ranjang dan membuka tiga kantong plastik besar yang dibawanya dari kota. Diambilnya beberapa barang yang sering dilihatnya melalui iklan TV di saat senggangnya. Shampoo yang bisa membuat rambut hitam legam lurus panjang, sabun cair harum dalam botol indah, sabun cuci piring berbau jeruk, parfum ruangan yang tinggal disemprotkan. Sebenarnya ia ingin juga membeli obat pel lantai untuk membuktikan lantainya bisa berkilat-kilat seperti kaca, sayang sekali rumahnya berlantai tanah. Hanya ruang tamu saja yang disemen kasar, itupun telah dikotori oleh tanah dan lumut di sudut-sudutnya.

Dibawanya barang itu ke dapur bersama sekaleng biscuit, gula, teh, susu kaleng, dan sebuah sandal plastik model terbaru. Suara langkahnya terdengar riuh karena klompen kayu buatan Jawa Barat yang dikenakannya.

Kedatangannya membuat suara percakapan yang tadi cukup keras berubah menjadi bisik-bisik, lalu begitu tubuhnya mencapai pintu dapur percakapan itu telah terhenti. Dua orang yang duduk di atas dipan beralas bambu itu menoleh ke arahnya. Rupanya Ibunya dan Lik Siti sedang mengobrol sambil mengayak tepung.
Mereka menatapnya lekat-lekat. Ibunya tentu terkesan dengan rambut lurus panjang berponi milik anaknya. Belum lagi celana pendek berwarna merah muda dan kaos tanpa lengan bergambar bintang film barat berwarna hijau pupus. Ia sudah tinggal di kota, seperti inilah pakaian tidurnya setiap hari.

Ia tahu pandangan Lik Siti terarah pada kalung tipis berbandul hati yang melilit lehernya. Tidak ada kalung model seperti ini di desa. Penjualnya bilang ini model baru, rantainya model Taiwan. Karena suka, ia beli juga seuntai gelang pasangannya. Kini kedua perhiasan itu bersinar memantulkan nyala api dari tungku.

“Anakmu sudah jadi juragan, Yu” kata Lik Siti begitu ia menyerahkan oleh-oleh pada Ibunya.

Perempuan itu tak berkata apa-apa, hanya bibirnya menampakkan sebuah senyum bangga.

Ia beranjak pergi. Lik Siti yang masih terkagum-kagum pada sandal baru Ibunya menghentikan langkahnya.

“Mau ke mana kamu Yah?” Tanyanya.

“Mandi.”

“Lho, kenapa terburu-buru. Ini masih pagi.”

“Mau pergi ke rumah Lik Senawi.”

“Wah, pasti mengantar oleh-oleh ya?”

Ia tak menjawab. Langkahnya menuju ke belakang rumah tempat kamar mandi sederhana terletak. Ia mengangkat pintu dari bambu lalu menyandarkannya untuk menutupi dinding yang terbuka. Disampirkannya pakaian dan pakaian dalamnya di dinding anyaman itu lalu mulai mengguyur tubuhnya dengan air. Ia harus mandi cepat-cepat karena kamar mandi ini untuk empat keluarga, sekarang sudah ada yang berdiri mengantri di balik pintu dengan gayung plastik berisi perlengkapan mandi dan handuk melilit leher.


Jam pinjaman dari Rosniah yang melingkari pergelangan tangannya telah menunjuk angka delapan ketika ia pamit pergi pada Ibunya. Disusurinya jalan setapak menuju desa tetangga. Kiri dan kanan jalan penuh tanaman tembakau yang subur. Tak berapa lama lagi masa petik akan tiba. Seluruh penduduk desa akan terlibat dalam pemrosesan tembakau itu sampai diangkut oleh para tengkulak dari kota.

Ia mengintip gudang berdinding anyaman daun kelapa. Sekarang masih kosong, hanya ada beberapa bal jerami teronggok di lantainya. Namun tak lama lagi gudang ini akan penuh dengan para wanita dan anak-anak yang ikut serta menguntai daun tembakau pada bilah-bilah bambu yang telah diruncingkan. Tangan mereka terampil mencoblos daun tembakau menggunakan kaleng yang dibentuk kerucut. Mereka berlomba mengumpulkan hasil sebanyak-banyaknya agar memperoleh upah yang lumayan untuk dibawa pulang. Lalu para lelaki akan terlibat dalam pengopenan daun-daun itu sampai kecoklatan dan siap diambil para tengkulak.

Sungguh aneh, pikirnya geli, dulu ia sering ikut menjadi buruh penguntai daun tembakau, namun tak sekalipun tahu bagaimana rasa tembakau itu. Sekarang hidupnya telah jauh dari gudang-gudang daun tembakau, tapi justru setiap hari ia menghabiskan berbatang-batang rokok. Kadang saat merokok ia bertanya-tanya apakah tembakau yang tengah dihisapnya ini hasil kerja tangannya?.

Ditatapnya kuku jari-jari tangannya yang telah dicat merah menyala. Dulu tangan ini kotor dan kulit jari telunjuknya berbarut-barut hitam karena terlalu sering menggunakan pisau dapur. Kini kulit itu halus karena pekerjaannya tak berhubungan lagi dengan mengiris bumbu-bumbu dan menguntai daun tembakau. Dahulu uang yang diterimanya hanya lembaran-lembaran biru kumal tertulis angka satu dan nol tiga. Paling kalau Pak Mandor Jakin tertangkap basah melirik pahanya yang sedikit tersingkap dia akan menambahi selembar kertas hijau kecoklatan tertulis angka lima dengan nol tiga di belakangnya.

Bibirnya mencibir. Mandor Jakin dan pemuda-pemuda yang dulu mengejarnya hanya akan memberinya lembaran-lembaran biru itu. Mungkin bahkan menghabiskan lembar-lembar itu sebelum sampai ke tangannya. Mereka hanya akan membuatnya menjadi buruh yang harus membereskan rumah dan budak pemuas nafsu mereka setiap malam tanpa imbalan. Mereka bahkan masih akan menuntut uang rokok setiap harinya seakan merekalah yang dimanfaatkan olehnya hingga menuntut imbalan atas jasanya. Asap rokok mereka sama pengapnya seperti yang selama ini dihirupnya. Bau keringat mereka juga sama kecut dan memuakkan seperti yang selama ini masuk ke lubang hidungnya.

Lihatlah dirinya sekarang. Telah ada seuntai kalung dengan rantai model Taiwan tergantung di lehernya. Gelang melilit pergelangan tangannya. Pakaian yang dulu hanya dikenalnya melalui TV di kelurahan kini membungkus tubuhnya. Lebih membanggakan lagi tiga kantong plastik berisi oleh-oleh dari kota.

Ia tidak menyesal meninggalkan desa. Kemelaratan dan pelecehan yang selama ini diderita Ibunya akan berakhir. Di benaknya telah muncul gambaran oleh-oleh yang harus dibawa pulang tahun depan. Paling tidak sebuah radio atau tape recorder. Mungkin juga sebuah TV dengan salon-salon yang besar seperti milik Pak Dukuh. Bagaimana kalau satu set sofa baru?.

Langkahnya telah mendekati pagar rumah Lik Senawi. Sambil tersenyum simpul angannya sampai pada pelaut asing yang kini sering mengunjunginya. Lembar-lembar kertas kuning kehijauan dengan plastik merah kecil itu tergambar jelas di matanya.


Ilustrasi: tobaphotographerclub

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.