56 Etnis Suku di China : The Tajik

Sophie Mou


Beberapa hari lalu, saya menerima email yang menanyakan masih ada berapa artikel mengenai suku2 Etnis di china. Setelah dihitung, masih ada cerita mengenai 35 Etnis. Masih banyak ya…Terkadang yang menulis juga mengalami kejenuhan…. semangat semangat ayo dilanjut, mudah-mudahan yang membaca belum bosan, jika membosankan silahkan dilewatkan. Inilah daftar 56 Etnis Suku di China :

Manchu, ChaoXian, Hezhe, Mongolian, Daur, Ewenki, Oroqen, Hui, Dongxiang, Tu, Salar, Bonan, Yugur, Uygur, Kazak, Kirgiz, Xibe, Tajik, Ozbek, Russian, Tartar, Tibetan, Moinba, Lhoba, Qiang, Yi, Bai, Hani, Dai, Lisu, Va, Lahu, Naxi, Jingpo, Blang, Achang, Pumi, Nu, De’ang, Drung, Jino, Miao, Bouyei, Dong, Shui, Gelo, Zhuang, Yao, Mulam, Maonan, Jing, Tujia, Li, She, Gaoshan, Han.

Mulai artikel ini, akan menceritakan mengenai beberapa Etnis Suku yang menganut agama Islam, yang kebanyakan berdomisili di XinJiang. Daeah XinJiang ini adalah salah satu tempat yang menarik di China. Jauh dari Ibu kota Beijing, berbatasan langsung dengan negara-negara di Asia Tengah, didiami oleh suku-suku yang berasal dari Asia Tengah, seperti Tajik, Kazakh, Mongols and Kyrgyz. Dikelilingi oleh gunung berselimut salju abadi, padang pasir dan kehidupan yang lain dari kota-kota besar di China.

The Tajik ethnic minority

Di bagian timur Kota Pamir, Xinjiang yang menjadi pintu gerbang masuk ke China dari wilayah barat berdiri  Taxkorgan Tajik Autonomous County sebuah kota dibangun sejak tahun 1950-an. Inilah tempat di mana etnis Tajik telah hidup dari generasi ke generasi. Kebanyakan 41.028 Suku Tajik hidup dalam masyarakat yang kompak di Taxkorgan, dan sisanya tersebar di wilayah di Xinjiang selatan, termasuk Shache, Zepu, Yecheng dan Pishan. Selain suku Tajik di Taxkorgan , hidup berdampingan dengan mereka adalah Suku Uygurs, Kirgizs, Xibes dan Hans.

Taxkorgan berdiri di bagian tertinggi dari Pamir. Di selatan, terdapat puncak gunung kedua tertinggi, Gunung Qogir, dan di sebelah utara terdapat gunung Muztagata. Selain kedua gunung tersebut, masih ada beberapa lusin gunung yang diselimuti salju abadi terus-menerus, dengan ketinggian 5.000 hingga 6.000 meter di atas permukaan laut, mengelilingi wilayah seluas 25.000 km persegi.

Selama berabad-abad, orang Tajik hidup di padang rumput dengan mengembala, dan bercocok tanam. Pada musim semi, mereka menanam jelai gandum, kacang2an, dan tanaman yang tahan dengan musim dingin. Mereka mengembala ternak pada musim panas, mencari rumput, panen dimusim gugur, dan kemudian menghabiskan musim dingin dirumah, menjalani kehidupan semua nomaden.

Budaya

Selama berabad-abad, Suku Tajik mempunyai kebiasaan hidup yang disesuaikan dengan kondisi dataran tinggi, kebiasaan makan, dan cara berpakaian. Kaum lelaki memakai jaket panjang berkerah dengan sabuk, menambahkan mantel bulu domba dalam cuaca dingin. Mereka memakai topi tinggi dilapisi kulit domba dengan beludru hitam dan dihiasi dengan garis-garis bordir. Kulit domba dapat ditarik turun untuk melindungi telinga dan pipi dari angin dan salju. Wanita mengenakan gaun. Kaum wanita yang telah menikah mengenakan apron, dan gaun dari katun juga topi yang penuh dengan bordiran, dinamakan Kolta.

Kaum lelaki dan perempuan mengenakan kaus kaki panjang, sepatu bot kulit domba yang lembut dan panjang dengan sol kulit yak, yang ringan dan tahan lama, cocok untuk berjalan jalan di gunung. Para gembala Tajik menyukai mentega, susu asam, dan produk susu lainnya. Mereka tidak memakan daging babi.

Sebagian besar rumah-rumah Suku Tajik berbentuk persegi dan beratap datar dengan struktur dari kayu dan batu dengan dinding tebal dan padat. Langit-langit yang terbuka di tengah untuk cahaya dan ventilasi, dibangun dengan ranting tanah liat dicampur dengan jerami. Pintu masuk biasanya menghadap timur. Karena dataran tinggi sering diserang oleh badai salju, kamar-kamar dibangun dengan atap yang rendah tetapi luas. Para gembala menggembalakan ternak mereka di pegunungan, biasanya tinggal di tenda-tenda.

Kebanyakan Suku Tajik hidup bersama selama tiga generasi di bawah satu atap. Kepala rumah tangga adalah Orang tertua dari pihak lelaki. Kaum Perempuan tidak berhak mendapat warisan rumah dan berada di bawah pengawasan ketat ayah atau suami. Di masa lalu, suku Tajik jarang menikah dengan etnis lain, jika adapun terbatas dengan suku Uygurs dan Kirgizs. Pernikahan ditentukan oleh orang tua.

Perkawinan antara sepupu sangat umum. Setelah pasangan muda itu dijodohkan, kedua anak dan keluarga hadir pada saat bertunangan, dan hadiah pertunangan untuk keluarga gadis biasanya terdiri dari emas, perak, pakaian, dan hewan peliharaan seperti yak dan sapi.

Pada hari pernikahan, semua kerabat dan teman diundang. Ditemani oleh temannya, pengantin lelaki pergi ke rumah pengantin perempuan, di mana seorang pendeta agama memimpin upacara perkawinan. Pertama kali akan ditebarkan beberapa tepung pada pengantin laki-laki dan pengantin perempuan, kemudian meminta mereka untuk melakukan pertukaran cincin yang diikat dengan sobekan kain putih dan merah. Mereka akan makan daging dan kue dari mangkuk yang sama dan minum air dari cawan yang sama, menandakan bahwa mereka akan mulai saat itu hidup bersama sepanjang hidup mereka. Hari berikutnya, diiringin dengan nyanyian, pengantin baru menunggang kuda menuju kerumah pengantin lelaki, di mana perayaan dilanjutkan selama 3 hari berturut turut.

Kelahiran anak adalah peristiwa besar bagi Suku Tajik. Jika anak lelaki lahir, akan diiringin tiga tembakan atau tiga sorakan keras berteriak berharap anak akan mendapat kesehatan yang baik dan masa depan yang menjanjikan, sapu akan ditempatkan di bawah bantal jika bayi berjenis kelamin perempyan dengan harapan bahwa ia akan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kerabat dan teman akan datang untuk mengucapkan selamat dan menaburkan tepung pada bayi untuk keberuntungan.

Sopan santun sangat diutamankan oleh SukuTajik. Kaum muda diharuskan menyapa yang lebih tua dan ketika kerabat dan teman-teman bertemu, mereka akan berjabat tangan dan orang-orang akan saling tepuk janggut. Bahkan ketika bertemu orang asing di jalan, mereka akan menyapa dengan menempatkan jempol bersama. Suku Tajik jika menghormat akan tunduk dengan tangan kanan di dada dan perempuan akan membungkuk dengan kedua tangan di dada.

Perayaan Festival musim semi suku Tajik, diadakan pada bulan Maret, yang menandai awal tahun baru, merupakan perayaan paling penting bagi orang-orang Tajik. Setiap keluarga akan membersihkan rumah mereka dan menghiasi rumah dengan ornamen yang indah di dinding sebagai simbol keberuntungan dan pengharapan. Pada pagi hari awal dari perayaan festival, anggota keluarga akan memimpin yak ke ruang utama rumah, membuatnya berjalan di lingkaran, menaburkan tepung di atasnya, memberikannya kue kue dan kemudian memimpin yak keluar rumah.

Setelah itu, kepala desa akan mengunjungi penduduk dan membawa salam kepada setiap rumah tangga. Setiap keluarga saling mengunjungi, kaum perempuan memakai pakaian terbaik, berdiri di depan pintu dan menyambut setiap tamu yang datang, dengan menaburkan tepung di bahu kiri dan kanan, sambil mengucapakan salam kebahagiaan.

Awal Bulan Puasa menandai akhir tahun. Pada hari ini, setiap keluarga akan membuat obor yang dilapisi dengan mentega. Saat senja, anggota keluarga akan berkumpul bersama, duduk di sekitar obor dan menikmati makan malam setelah mengucapkan doa-doa mereka. Pada malam hari, setiap rumah tangga akan menyalakan obor besar yang diikatkan ke tongkat panjang dan ditanam di atas atap.  Pria dan wanita, tua dan muda, akan menari dan bernyanyi sepanjang malam di bawah cahaya terang dari obor. Hari raya Qurban umat Islam juga merupakan hari penting bagi orang-orang Tajik.

Sejarah

Asal-usul dari kelompok etnis Tajik jika ditelusuri  terkait dengan Suku Iran di bagian timur Pamir lebih dari dua puluh abad yang lalu. Pada abad ke-11, suku nomaden di Turki menamakan  “Tajik” bagi orang2 yang ditinggal di Asia tengah, berbicara dalam bahasa Iran dan percaya agama Islam. Dan itulah asal usul “Tajikistan” menjadi nama dari kelompok etnis yang mendiami daerah tsb.

Makam kuno Bao Bao Xiang, ditemukan melalui penggalian arkeologis beberapa tahun terakhir di Taxkorgan, adalah peninggalan budaya yang pernah ditemukan di bagian barat daerah itu. Banyak objek penguburan ditemukan di makam 3.000 tahun lalu dan upacara kematian mereka mengungkapkan bahwa kelompok etnis Tajik telah menjadi anggota keluarga besar kelompok etnis di Cina sejak zaman kuno.

Pada abad ke-18, Tsar Rusia mengambil keuntungan dari kekacauan di Xinjiang selatan untuk menempati ILI dan mengambil mengontrol Pamir Cina dengan berulang kali mengirimkan “ekspedisi” untuk membuka jalan bagi ekspansi bersenjata di sana. Pada 1895, Britania dan Rusia membuat kesepakatan untuk memotong-motong daerah Pamir. Bersama dengan pasukan garnisun, orang-orang Tajik membela dan berjuang untuk wilayah mereka. Pada saat yang sama, para gembala Tajik dengan sukarela pindah ke daerah selatan Puli, di mana mereka menetap untuk mebuka lahan dan tanah juga untuk menjaga perbatasan.

Sistem Sosial Sebelum 1949

Mata pencaharian Suku Tajik yang terutama adalah di bidang pertanian dan peternakan, tetapi produktivitas mereka sangat rendah, tidak mampu menyediakan hewan yang cukup untuk dijadikan pertukaran dengan gandum, teh, kain dan kebutuhan lainnya. Polarisasi ekonomi yang dihasilkan dari penindasan feodal barat dapat digambarkan oleh minimnya alat-alat produksi.

Sebagian besar para petani Tajik tidak memiliki alat2 pertanian yang memadai, sehingga bercocok tanam menjadi suatu masalah. Kekayaan alam yang subur, padang rumput yang luas tidak menjadikan Suku Tajik sebagai gembala yang kaya, mereka tidak memiliki hewan peliharaan.

Yang akhirnya menjadikan para petani dan gembala yang miskin menjadi budak dan bekerja untuk pemilik lahan dan ternak yang kaya. Para buruh akan menerima seekor domba dan domba sebagai salah satu alat bayar untuk merawat 100 ekor domba selama enam bulan. Bayaran yang didapat dengan menggembalakan 200 domba bagi pemilik ternak selama satu tahun hanya wol dan susu dari 20 ekor kambing milik tuan tanah.

Suku Tajik yang menjadi petani di Shache, Zepu, Yecheng dan areal pertanian lainnya dieksploitasi dengan kejam oleh tuan tanah. Selain membayar uang sewa dalam bentuk pembagian hasil dari dua pertiga hasil panen mereka, penyewa juga harus bekerja tanpa bayaran pada beberapa bidang lahan yang dikelola oleh tuan tanah sendiri setiap tahun, bahkan istri dan anak-anak perempuan harus bekerja untuk tuan tanah. Praktis tak ada perbedaan antara penyewa dan budak kecuali bahwa yang pertama memiliki sedikit kebebasan pribadi.

Selama periode 1947-1949, para gembala Tajik di Taxkorgan dipaksa untuk membayar upeti kurang lebih dari 3.000 domba dan 500 ton pakan dan kayu bakar setahun kepada pemerintah setempat. Kemiskinan menjadikan orang-orang Tajik tidak dapat hidup dengan layak, ketika Xinjiang dibebaskan pada bulan Desember 1949, populasi suku Tajik hanya 7000 orang.

Pengembangan sesudah tahun 1950

Pada 1954, Kabupaten Otonom Taxkorgan Tajik didirikan oleh Tentara pembebasan China dan Pemerintah Pusat.

Pada saat pembebasan oleh pasukan nasional China pada tahun 1949, hanya terdapat 27.000 hewan di Taxkorgan, dua per kapita dari total penduduk, pemasukan gandum 850 ton, 55 kg per kapita. Sejak 1959, Taxkorgan telah berswasembada gandum dan pakan ternak dan mampu memberikan sejumlah besar hewan dan memprodukasi sejumlah bulu dan wol untuk negara setiap tahunnya. Beberapa ratus hektar padang rumput baru telah ditambahkan dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelum tahun 1949 tidak terdapat pabrik atau toko di Taxkorgan bahkan sepatu kuda harus didatangkan dari tempat lain. Sekarang, lebih dari 100 pabrik kecil telah dibangun, dan juga pertanian dan peternakan hewan, pembangkit listrik tenaga air dan pengolahan pabrik bulu.  Mekanisasi pertanian dan peternakan telah diperluas. Rumah pemotongan Hewan telah dibangun di banyak komunitas. Salah satu jenis domba yang dikembangkan oleh para gembala Tajik adalah antara yang terbaik di Xinjiang.

Taxkorgan adalah kota yang terisolasi, sebelum tahun 1949, dibutuhkan waktu dua minggu dengan naik unta atau seminggu menunggang kuda untuk mencapai Kashi, kota terbesar di Xinjiang selatan. Pada tahun 1958, Jalan Raya Kashi-Taxkorgan selesai, memperpendek perjalanan antara dua tempat untuk satu hari.

Di kota Taxkorgan, telah dibangun jalan jalan raya yang lebar, rumah sakit, sekolah, kantor pos, bank, toko buku, stasiun meteorologi dan bangunan baru lainnya dalam gaya arsitektur tradisional dan pabrik.Perubahan besar juga terjadi di dusun di gunung, di mana toko-toko dan klinik telah dibangun.  Para gembala dan petani mendapat pelayanan kesehatan yang baik dengan perbaikan kondisi hidup dan perawatan medis.  Sejak 1959, sekolah telah dibentuk di semua desa, dan sekolah tenda telah dijalankan untuk anak-anak gembala. Banyak kaum muda Tajik telah dilatih sebagai pekerja, teknisi, dokter dan guru.


Referensi :

Photo by Chen Hai Wen , abm, life

Travelguidechina.com

china.org.shaosuminchu

sumber2 lain etnis Han dan marga Han

65 Comments to "56 Etnis Suku di China : The Tajik"

  1. sigit  16 May, 2013 at 09:53

    referensi yang bagus…saya pernah melihat video tentang panorama dan kebudayaan china.dan disitu ada suku yang pintar memasak kambing,mungkin bisa ditambahin kuliner tiap suku buat referensi kuliner kita,terima kasih sista……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.