Negeri Kaum Budak Alejo Carpentier

Handoko Widagdo – Solo


Alejo Carpentier teronggok lesu bersama dengan para ahli sorga yang menawarkan ketenteraman hidup dan para chef yang menjajakan resep-resep masakan. Pakaiannya telah kusam berlapis debu dan mbradul ujung-ujungnya. Kulitnya tergores sana-sini disebabkan karena seringnya dia diangkut dari satu pameran ke pameran yang lain.

Matanya yang kuyu memelas memandangiku. Bola matanya yang sudah tiada bersinar bertemu dengan binarya mataku. “Ambillah aku, selamatkan aku dari mesin-mesin daur ulang.” Maka aku tebus dia dengan Rp 5000. Seketika itu kulihat matanya berkilat. Denyut jantungnya yang berpacu kurasakan menembus tas platik hitam yang membungkusnya. Tak sabar rasanya ia ingin segera membalas budiku. Budi yang berharga Rp 5000.

Kuajak dia berbaring di tilam, di samping istriku yang sedang asyik menikmati acara masak-memasak di stasiun TV swasta. Alejo dengan penuh semangat, sejak halaman pertama, bercerita tentang Negeri Kaum Budak. Diawalinya cerita tentang Plaine du Nord dan Kota Cap Francais. Untaian kata yang dipilihnya bagai pisau dapur para negro yang menyiapkan sajian makan malam bagi tuannya. Tajam, halus, menggores dan memunculkan detail-detail urat daging dan serat-serat sayuran yang halus. Untaian kata yang dipilihnya keras bagai batu penggiling tebu dan kuat sekuat tenaga kuda-kuda penariknya.

Alejo bercerita tentang Ti Noel, seorang budak bersahaja. Tuannya bernama Lenormand de Mezy, seorang petani gula. Perjumpaannya dengan budak lain bernama Macadal membawanya kepada cerita tentang raja para orang hitam yang lebih maskulin. Raja para orang hitam yang berani berperang, bukan seperti raja-raja orang kulit putih yang minta dilindungi para tentara. Namun sayang Macadal yang mengawali pemberontakan para budak harus berubah bentuk menjadi serangga ketika tertangkap dan dibakar. Macadal, budak penggiling gula yang tangannya hancur tergilas batu penggiling, secara tidak sengaja menemukan racun jamur.

Melalui ramuan racun inilah dia memulai pemberontakannya. Dia sebarkan racun jamur melalui pakan ternak, sehingga banyak ternak begelimpangan. Dia masukkan racun ini melalui dapur-dapur yang dijaga para budak perempuan negro yang berbokong indah. Maka tuan-tuan dan nyonya-nyonya pada meregang nyawa. Tak cukup waktu untuk menguburkan segera mayat-mayat yang malam sebelumnya masih berdansa. Para ahli tumbuhan didatangkan dari kota untuk menyelidiki asal racun yang menebar bencana. Setelahnya para tentara dibariskan untuk mengejar dewa penebar racun yang bernama Macadal.

Sejak kematian Macadal, Ti Noel kembali bekerja sebagai budak, menyaksikan segala dinamika kehidupan tuannya. Namun ternyata benih-benih pemberontakan yang ditanam oleh Macadal tidak mati. Bagai bara dalam sekam, setelah dua puluh tahun, budak-budak makin terorganisir. Sementara di Perancis, gerakan penyamaan hak dan pemerdekaan budak tengah mengguncang-guncang negeri.

Adalah Bouckman, seorang budak keturunan Jamaika yang menjadi pemimpin mereka. Jika pemberontakan Macadal berjalan seperti ular beludak yang menggerayang di gelap malam, Bouckman meniup terompet keong raksasa. Serentak para budak menyerbu rumah tuannya. Menjarah, membunuh, memperkosa gadis-gadis kulit putih. Tak boleh dibilang ini adalah tindakan biadab, sebab para budak menyaksikan setiap hari bagaimana tuannya yang berkulit putih membunuh, memperkosa, melecehkan perempuan-perempuan mereka. Ini hanyalah ledakan kemarahan yang tertahan dalam benak mereka. Pemberotakan frontal ini tentu saja mudah dipadamkan. Sebab serdadu negeri lengkap dipersenjatai. Sementara para budak hanya mengandalkan nyali. Dan Bouckman, Sang Pemimpin harus menjadi makanan cacing.

Akibat dari pemerontakan Bouckman, Lenormand de Mezy berlayar ke Santiago de Cuba dengan membawa serta Ti Noel. Beginilah memang para tuan tanah pendatang. Ketika terjadi huru-hara, dengan mudah mereka melarikan diri dengan membawa serta seluruh kekayaannya. Sebab mereka tidak terikat dengan tanah. Dengan mengandalkan kekayaannya, para tuan tanah yang selamat dari tebasan pedang para budak, mulai hidup baru dengan cara berfoya-foya atau menjadi sangat religius. Cara hidup baru ini adalah untuk menghilangkan kesedihan akibat kehilangan anggota keluarga yang terpenggal atau diperkosa. Celakanya, Ti Noel si budak harus berpindah majikan karena Lenormand de Mezy kalah judi. Sejak itu Ti Noel menjadi budak orang Kuba.

Sementara, sejak pemberontakan Bouckman, Plaine du Nord tidak pernah kembali ke keadaan semula. Bahkan wabah penyakit menyerang tak memilih warna kulit. Termasuk Gubernur Ledrec yang tewas karena penyakit tropis.

Di masa tuanya, Ti Noel berkesempatan kembali ke Plaine du Nord. Ia terkejut karena Cap Francais telah diperintah oleh para Negro. Theater digantikan dengan tarian-tarian perempuan negro. Kini Cap Francais diperintah oleh Raja Henri Christoper si mantan tukang masak. Sayangnya, perubahan pucuk pemerintahan ini tidak mengubah nasip para budak. Mereka tetap ditindas. Jika dulu ditindas oleh para penguasa kulit putih untuk memproduksi gula, kini mereka harus membangun istana Raja Henri diatas bukit. Penindasan tersebut mendorong Ti Noel bersama budak-budak yang lain melakukan kerusuhan di istana dan membuat Raja Henri terbunuh.

Bukan ketenteraman yang muncul setelah raja Henri terbunuh. Penguasa baru, orang mulato berlaku sama. Ti Noel bersembunyi dengan berubah menjadi angsa. Namun bangsa angsa tak mau menerimanya. Sampai akhirnya Ti Noel mencoba kembali mengobarkan pemberontakan kepada penguasa mulato. “Betapa mudahnya manusia menjadi binatang saat memiliki kekuatan yang diperlukannya.”

Ketika Alejo selesai bercerita, istriku sudah tiada. Suara riuh di dapur lantai bawah terdengar bersama harumnya bawang goreng. Sebentar lagi waktu makan malam tiba. Terima kasih Alejo, kisahmu tentang Negeri Kaum Budak telah mengajariku betapa pemimpin selalu culas dan menindas. Tak penting apa warna kulitnya. Tak penting apakah dia menganut agama modern atau agama asli rakyat jelata.

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia.

Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *