Mitoni

Anoew & Josh Chen


“Say, aku hamil…” desah suara di ujung telpon itu lirih.

Saya tertegun. Entah harus berteriak kencang atau malah bersujud memuji kebesaranNya. Betapa tidak, doa kami selama berpacaran  hingga menikah agar segera diberi momongan telah terwujud.

Teringat dulu waktu malam pertama kami  sempat bikin taruhan tentang tokcer/nggaknya hasil dari proses produksi malam pertama dan malam-malam selanjutnya. Saya menebak bahwa dia akan langsung hamil. Sedangkan istri saya malah meragukan!

Bentuk taruhannya adalah, jika istri saya menang maka dia nggak akan menyiapkan sarapan dan kopi selama seminggu buat saya. Sebaliknya kalau saya yang menang, tiap malam dia musti ngasih servis lebih selama tujuh hari berturut-turut. Dan sekarang ternyata istri saya hamil! Berarti tembakan-tembakan, smash-smash tajam dan drop shoot yang saya hujamkan ke daerah lawan sungguh tepat sasaran dan tak terelakkan!

“Say….” desah itu kembali menggaung dan segera membawa saya kembali ke alam sadar.

“Ya, sayank…”, saya menyahut mesra.

“Kamu menang..” suaranya terdengar antara gembira bercampur getir.

“Hahaha… apaan, sih?”

“Masa kamu tega kalau tiap malam harus kerja keras?! Selama seminggu, lagi!”

Ups! Ternyata dia masih mengingatnya!

Akhirnya saya sibuk menenangkan dia dan meyakinkan dirinya bahwa semua itu nggak perlu dipikirkan…

“Nah… gitu dooong…”, sahutnya lega.

“…tapi dilakukan aja…” sambung saya selanjutnya.

Terbayang, istri saya sibuk protes kalau pinggangnya bisa patahlah, atau takutnya bangun kesianganlah…. atau takut kecapekanlah…Belum lagi kalau kondisi badan lagi nggak fit pastinya nggak enak kalau harus bercinta tiap malam lah…

Dear Baltyrans,

Itu semua adalah masa lalu dulu (13 tahun yang lalu) ketika kami begitu bersemangatnya menyambut kedatangan si kecil yang meskipun baru di awang-awang dan belum terlihat bentuknya, tapi sanggup merubah segalanya.

Dari hal-hal kecil yang biasanya luput dari perhatian, mulai sekarang mulai mengusik saya apabila melihat dia bekerja terlalu capek atau bahkan berkeringat sedikit saja, pasti sudah saya ingatkan supaya istirahat saja.

“Bawel”, protesnya singkat.

Menginjak usia kehamilan di bulan keempat, orang tua saya mengadakan slametan  dengan mengundang tetangga sekedar untuk bersyukur bahwa selama ini keadaan sang ibu dan calon bayinya berada dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun.

Di bulan keempat ini kayaknya nggak ada yang menarik untuk diceritakan, karena memang berlangsung begitu saja dan kurang greget. Kecuali jika memang server Baltyra dijamin nggak jebol, tentu akan saya ceritakan secara detail tentang kunjungan rutin saya ke tempatnya sang calon anak berada hehe..

Menjelang kehamilan dia genap tujuh bulan, barulah kami sibuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan mengundang orang yang biasa melakukan acara semacam ini, karena kami nggak mau repot-repot dengan segala persiapan yang konon sangat ribet.

Terus terang saja memang kami juga nggak terlalu paham, apalagi tata cara upacara dan doa-doa dalam bahasa Jawa yang nggak boleh salah ucap..

Wah…! Akhirnya upacara nujuh bulan atau dalam adat jawa disebut mitoni ini kami serahkan kepada ahlinya yang memang telah berpengalaman melakukan upacara-upacara semacam ini. Bisa dikatakan mereka ini adalah Event Organizer (EO) khusus mitoni. Mulai dari siraman, ganti baju sebanyak tujuh kali,  brojolan (memasukkan kelapa gading muda dan telur ayam kampung ke dalam kain istri saya sebagai calon ibu), memutus  janur dan sebagainya sesuai dengan arahan dari pihak EO.

Khusus siraman ini ada pengalaman lucu dan sempat dilakukan upacara ulang gara-gara istri saya nggak kuat disiram dengan air dingin dan minta diganti dengan air hangat. Waaah…, lha wong acara adat kok pakai ditawar? Tapi untungnya pihak EO memperbolehkan dengan tidak mengurangi arti dari kesakralan tersebut.

Maka, jika dalam dunia acting ada istilah re-take atau pengambilan ulang adegan, hal ini terjadi pula di acara siraman yang sempat re-take sebanyak tiga kali. Pertama, dia nggak kuat disiram pakai air dingin. Kedua, pas minta dimasakin air hangat ternyata gas habis dan ketiga adalah gayung yang dipakai untuk menyiram nggak sesuai warnanya dengan selera istri. Wah! Saya nggak tahu apakah waktu itu memang dalam keadaan sudah ngidam atau memang ada alasan lain. Entahlah.

Acara diakhiri dengan upacara potong tumpeng sebagai sesaji dan dimaksudkan sebagai pemujaan kepada arwah leluhur. Nasi tumpeng yang disajikan seingat saya berbentuk satu tumpeng besar di tengah dan dikelilingi enam tumpeng-tumpeng kecil, sehingga totalnya ada tujuh tumpeng. Setelah melakukan pembacaan doa menurut tradisi Jawa yang terus terang saya lupa karena memakai bahasa jawa halus dan kami cuma sekedar mengikuti sang MC, maka acara potong tumpeng siap dilakukan.

Ini yang paling seru. Ketika MC mempersilahkan memotong tumpeng, kami saling berebut dan bersikeras siapa yang berhak memotong dan mempersembahkan potongan tumpeng itu ke pasangannya. Untung ada MC yang selalu membimbing, makanya kami jadi tahu bahwa pemotongan tumpeng harus dilakukan oleh saya sebagai calon ayah si anak dan istri saya yang berhak menerima. Hal ini ternyata dimaksudkan sebagai simbol bahwa si ayahlah yang berkewajiban memberi makan dan si ibu yang berkewajiban melindungi si anak, kelak.

“Makanya jangan bandel.., ikutin tuh kata si MC”, saya tersenyum penuh kemenangan sambil menyuapkan potongan tumpeng dengan mesra.

“Iya deeeeeh…”, dia tersipu sambil membuka mulutnya malu-malu.


Mitoni berasal dari bahasa Jawa, dengan kata dasar PITU atau 7 (tujuh), yang dapat diartikan secara harafiah sebagai “menujuhbulani”. Menurut Wikipedia berbahasa Jawa:

Jabang bayi umur 7 sasi iku wis nduwé raga sing sampurna. Dadi miturut pengertian wong Jawa, wêtêngan umur 7 sasi iki proses penciptaan menungsa iku wis nyata lan sempurna neng sasi kaping 7 iki utawa Sapta Kawasa Jati.

Terjemahan:

Janin yang berumur 7 bulan itu sudah memiliki raga yang sempurna. Menurut pengertian orang Jawa, kehamilan 7 bulan itu merupakan pencapaian kesempurnaan yang disebut dengan Sapta Kawasa Jati yang berarti “tujuh kekuasaan yang menjadi nyata”

Dalam artian jika memang Sang Pencipta menghendaki, bisa saja janin 7 bulan itu lahir, dan memang banyak sekali yang lahir 7 bulan. Kelahiran 7 bulan tidak dianggap prematur bahkan dari kacamata kedokteran modern sekalipun.

Angka 7 sendiri yang dalam bahasa Jawa pitu, diartikan sebagai angka yang baik karena bermakna pitulungan, yaitu pertolongan, yang dimaknai dengan permohonan berkat dari Sang Pencipta Hidup.

Rangkaian upacara untuk acara Mitoni adalah:

  1. Siraman
  2. Brojolan
  3. Pemakaian busana
  4. Memutus lilitan janur/lawe

Empat upacara utama tsb di atas masih ditambah “optional” memecahkan periuk atau gayung, minum jamu sorongan, nyolong endhog. Kenapa disebut “optional”, dikarenakan untuk jaman sekarang, di perkotaan terutama, ada yang masih melaksanakan ada yang sudah tidak melaksanakan. Bagian terpenting dari keseluruhan rangkaian Mitoni adalah 4 ritual utama di atas.

Siraman

Tanda pembersihan diri dan jiwa. Tujuannya adalah melepaskan calon ibu dari dosa-dosa sehingga jika tiba saatnya melahirkan, sang ibu merasa lebih ringan dan diharapkan proses persalinan berjalan lancar.

Brojolan

Sesuai dengan namanya, asal kata brojolan adalah brojol, yang berarti lahir. Ada 2 jenis brojolan, telur ayam kampung dan 2 kelapa cengkir. Suami yang akan memasukkan telur ayam kampung dan 2 kelapa cengkir ini berturut-turut ke dalam kain (sarung) istri dari atas perut kemudian diteruskan sampai keluar di kaki. Secara simbolis jelas dan nyata harapan supaya proses kelahiran lancar.

Sementara 2 kelapa cengkir yang digambari Kamajaya dan Dewi Ratih atau Arjuna dan Sembadra memiliki maksud yang sama dengan brojolan telur ayam kampung tadi, namun ditambah makna pengharapan bahwa jika bayi yang lahir laki-laki akan gagah dan memiliki sifat-sifat luhur tokoh pewayangan yang digambarkan, demikian juga jika bayi perempuan, akan menjadi seperti Sembadra atau Dewi Ratih.

Pemakaian Busana

Ini yang paling ribet karena terdiri dari 7 jenis motif kain dengan arti perlambang masing-masing sbb:

–         Sidomukti: melambangkan kebahagiaan

–         Sidoluhur: melambangkan kemuliaan

–         Truntum: agar nilai-nilai kebaikan selalu dipegang teguh

–         Parangkusuma: perjuangan untuk tetap hidup

–         Semen rama: cinta suami istri yang segera menjadi orang tua akan bertahan selamanya, till death do us part

–         Udan riris: kehadiran sang anak akan menjadi kegembiraan dalam masyarakat sekitarnya

–         Cakar ayam: supaya di masa depan si anak dapat hidup mandiri

Untuk sekarang ini ada yang masih memegang teguh dan mengharuskan lengkapnya keseluruhan upacara ini. Entahlah untuk Kang Anoew apakah masih melaksanakan keseluruhan rangkaian dengan lengkap atau tidak.

Memutus lilitan janur/lawe

Tali janur atau lawe yang diikatkan di perut calon ibu kemudian diputus oleh calon ayah dengan maksud yang sama yaitu proses kelahiran yang lancar.

Kalau saya dan istri, ketika itu di Medan, di rantau hanya kami berdua. Untungnya ada staff saya yang sama-sama dari Semarang ikut merantau ke Medan. Bisa dikatakan bapak dan ibu angkat kami di rantau. Pak US dan Ibu lah yang mengatur keseluruhan rangkaian upacara mitoni istri ketika itu.

Boleh dibilang upacara mitoni yang kami laksanakan adalah simplified mitoni. Mengingat di rantau, dan Pak US dan Ibu juga tidak begitu paham di mana mencari bahan-bahan keseluruhan rangkaian itu, sehingga disepakati upacaranya disederhanakan yang penting-penting dan memiliki makna terpenting.

Jika dilihat dari keseluruhan rangkaian upacara, intinya adalah untuk sang calon ibu dan bayi yang lahir, diharapkan keseluruhan proses melahirkan sampai pasca melahirkan semuanya lancar. Akhirnya dipilihkan upacara mitoni yang disederhanakan sbb: siraman, modified-brojolan (karena tidak punya dan tidak mengenakan kain sarung), tumpeng.

Setelah siraman, saya yang melaksanakan menginjak telur ayam kampung, dan juga membelah kelapa cengkir. Konon katanya, jika sang calon ayah membelah kelapa langsung terbelah, anak yang lahir nantinya adalah perempuan, jika kelapa tidak langsung terbelah, anak yang lahir nantinya laki-laki. Entah seberapa benar, tapi yang pasti, ketika itu saya membelah memang tidak langsung terbelah, dan memang kedua anak yang lahir cowok semua. Kebetulan kah atau bagaimana? Walahualam…

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

One Response to "Mitoni"

  1. clara  12 January, 2017 at 11:33

    nama eo nya apa ya pak?? klo bisa dishare sekalian dg kontaknya. karna saya juga kebetulan baru pindah ke medan dan pingin mengadakan acara mitoni di medan. mohon bantuannya trims

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *