Dana Aspirin dan Trasi

Sumonggo – Sleman


Hari ini dongeng dari negeri antah berantah yang disebut sebagai Republik TKW, kepanjangannya Tempat Koruptor Wuenak. Bagaimana tidak wuenak, biar sudah dipenjara juga tetap terasa wuenak, asal dengan penegak hukum sama-sama wuenak … Penegak hukum yang “cinta damai” juga makin moncer pangkatnya menempati posisi wuenak … Pokoknya wuenak tenan ….

Kabarnya perburuan “harta karun” simpanan makelar kasus menembus ratusan milyar. Emas batangan bertumpuk di safe deposit box. Entah berapa lagi “harta karun jayus” yang kasusnya makin jayus saja, terdampar di “bawah bantal”, atau “tersangkut” di kerongkongan para penegak hukum. Setelah Mr X, lalu Mr Y, Mr Z dan siapa lagi?

Belum lama, kesepakatan antar partai-partai yang mengaku dalam satu sekretariat, ada yang menyebutnya sekber, entah bersama untuk apa, untuk ngapusi dan nggembluki, atau minimal bisa seia sekata saat ndobosi. Begitulah kisah sehari-hari di sekretariat dipenuhi rutinitas untuk saling mengingatkan. Bukan saling mengingatkan dalam kebaikan seperti nasihat dari ceramah rohani pagi di televisi, tetapi saling mengingatkan agar distribusi “jatah” tak terlupakan.

“Lima belas milyar …”, begitu usulan dari Partai Otak Lempung yang begitu menggelegar.

Oh cuma lima belas milyar kok …

“Itu buat satu anggota, total buat seluruhnya ya delapan koma empat trilyun ….”, gertaknya dari mulut yang dipenuhi kuah lumpur.

Opo tumon, delapan trilyun, opo duwite mbahmu … Wah, tentu para konstituen di daerah yang bersangkutan, akan merasa sangat terharu, mengetahui para wakilnya begitu antusias memikirkan rakyat.

“Betul, ini semata-mata demi kepentingan rakyat yang telah memilih kami. Dana tersebut selanjutnya akan disebut sebagai Dana Aspirin dan Trasi”, sambil mengecek miscall di ponsel, dari sejumlah cukong yang gencar menagih proyek untuk “balas jasa”, “Boleh juga sih disebut Dana Dapil alias Dana Pil Aspirin.”

Tanya wartawan, “Wah, mungkin Bapak juga memerlukan aspirin, untuk mengobati pusing kepala, selama ini sudah begitu banyak memutar otak, memikirkan kepentingan rakyat yang diwakili …”

“Ehm…, sebenarnya sih, kami lebih banyak memutar lidah daripada memutar otak. Perlu diketahui Dana Aspirin itu sangat dibutuhkan rakyat. Karena aspirin bukan hanya untuk sakit kepala, tapi adalah penghilang nyeri. Dengan demikian, rakyat tidak akan merasa nyeri meski  selama ini sudah sering dibohongi. Harapan kami pada Pemilu mendatang, sudah siap untuk menerima lebih banyak kebohongan lagi ….”, sambil membetulkan dasi yang ternoda bercak lipstik, lalu melanjutkan, ” … seperti di iklan obat sakit kepala, sudah lupa tuh ….”

Tanya wartawan, “Lalu bagaimana dengan Dana Trasi, mengapa masih diperlukan?”

“Seperti saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air sudah ketahui bersama …”, terpotong sebentar oleh masuknya sebuah SMS dari bininya yang merengek minta ganti mobil mewah seri terbaru, lanjutnya, “Trasi memiliki aroma yang sangat menyengat. Dengan demikian bisa mengimbangi banyaknya kebusukan yang kami lakukan selama ini, yang baunya telah sangat mencolok bukan hanya hidung tapi juga nurani …”, berhenti sesaat karena mengucap kata nurani, malah yang terbayang adalah cantiknya wajah Rani, mengingatkannya minggu depan untuk bermain golf lagi, “Jadi kita perlu menyebarkan trasi ini ke pelosok negeri, untuk mengalihkan perhatian rakyat dari pusat-pusat kebusukan, supaya kami lebih leluasa melakukan kebusukan secara sistemik dan berkelanjutan, tanpa khawatir diendus lagi ..”

Tanya wartawan, “Oh, jadi bagi-bagi trasi ini dalam rangka membuat impas aroma tidak sedap?”

“Yaa … semacam itu kosong-kosong lagi lah …..”, jawabnya sambil teringat saat tersangkut kasus, menjadi rajin ke tanah suci seolah Tuhan bisa dibeli dengan duit hasil kolusi.

Tanya wartawan, “Tapi apakah pembagian aspirin dan trasi ini tidak rawan penyelewengan?”

“Mengapa mesti dipertanyakan lagi? Penyelewengan adalah nama tengah kami, baik itu terhadap keluarga, maupun bangsa dan negara”, sambil tangannya mengorek kuping yang tersumbat kotoran sehingga sulit mendengar suara rakyat.

Tanya wartawan, “Bagaimana nanti akan mempertanggung jawabkan Dana Aspirin dan Trasi ini?”

“Lho, yang menanggung kan rakyat, kami hanya ikut menunggang saja”, sambil mencungirkan hidungnya yang begitu tajam mengendus bau uang di setiap rancangan peraturan. Tak heran sementara rakyat dengan segenap kristalisasi keringat masih hidup kembangkempis, dengan kristalisasi kebusukan sudah berwujud rumah megah dengan mobil mewah yang seolah beranak-pinak.

Tanya wartawan, “Apakah ini bukan bermotif bagi-bagi duit?”

“Harap dicermati lagi, kami tidak membagi duit, tetapi aspirin dan trasi”, sergahnya sambil melototkan matanya segede gentong babi.

Wartawan hendak bertanya lagi, tetapi keburu diakhiri, “Maaf, saya harus buru-buru karena ada urusan negara yang sangat mendesak”, seraya masuk ke dalam mobil sambil memerintahkan sopir untuk mampir menukarkan travel cek “ucapan terima kasih” yang barusan diperolehnya sebagai hasil “saling pengertian”.

Tentu saja tidak semua partai menyepakati Dana Aspirin dan Trasi. Diantaranya Partai Masuk Angin dan Partai Setengah-setengah yang gemar berendam dalam satu kuali dengan Partai Otak Lempung. Apalagi kubu penentang yang dimotori oleh Partai Sakit Perut. Ternyata semuanya sekedar rebutan tempat untuk berendam di kuali.

Begitulah liputan aktivitas mereka-mereka yang begitu terhormat para pengemban amanat rakyat dari Republik TKW. Adakah yang ingin kebagian aspirin dan trasi? Nuwun.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.