Mojok di Madiun

SAW – Bandung


Hallo sahabat semua, …

Mengenang Madiun, bagi saya ibarat mengais tumpukan kerinduan terhadap sebagian masa lalu yang terpatri manis dalam jiwa. Memang tidak terlalu lama saya di Madiun, hanya tiga tahun ketika saya menghabiskan masa SMA. Namun, berhubung setiap sowan ke orangtua di Ponorogo Madiun selalu terlewati, maka meski selintas saya selalu memaksakan diri untuk mampir, bisa jadi ke teman SMA saya, teman SMA suami (kebetulan suami juga menghabiskan masa akhir SD,  SMP dan SMA-nya di Madiun juga) dan yang pasti mampir di Warung Pecel Madiun ‘POJOK’, di jalan HOS. Cokroaminoto. Begitu juga ketika beberapa waktu yang lalu saya sowan ke orangtua, rasanya tak lengkap jika tidak mampir di sini.

Warung ini sudah lama sekali berdiri, hanya saja mendapatkan ijin resmi dari Walikota Madiun sejak tahun 1967. Duuh,.. bahkan lima tahun sebelum saya lahir.

Maka, wajar jika pelanggan yang datang hingga lintas generasi. Rupanya urusan citarasa lidah tak bisa di geser ke lain bumbu. Sehingga untuk memenuhi permintaan pelanggan yang bisa jadi sudah hengkang jauh dari Madiun, di sediakan juga bumbu pecel  dan pernak-perniknya.

Menyantap menu Pecel di sini, ibarat menuntaskan kerinduan tentang Madiun. Bagi kami,.. citarasa pecelnya ‘madiun banget’. Dengan penyajian pincuk daun, kekhasan menu ini semakin kentara.

Sebenarnya, teman makan nasi pecel ini beragam (aneka lauk pauk, dari telor, tempe, aneka olahan daging, tahu dll). Namun, saya dan suami lebih menyukai  rasa pecelnya yang original, tanpa ‘terkontaminasi’ oleh berbagai rasa lauk pauknya.

Sementara untuk anak-anak, mereka lebih memilih menu ayam penyet dan nasi rawon. Sayang, Nasi Rawon tidak sempat ke jepret, keburu tersantap ludes sama anak nomer 3.

Oya,warung ini tidak buka 24 jam. Ada 2 shiff, pagi dan malam. Jadi, saya sering mengatur jadwal perjalanan sampai di Madiun tidak terlalu siang.  Rasanya sangat tidak lengkap jika tidak mampir ke sini.

Berbicara tentang harga, pesta pecel di sini ditanggung tidak akan menjadikan kantong kita kebobolan. Bayangkan saja, 1.5 porsi nasi ayam  penyet (ini porsi si sulung), 1.5 porsi nasi rawon (1 porsi untuk anak nomer 3 dan ½ porsi untuk si ragil), 3 porsi nasi pecel (buat saya, suami dan anak ke 2), plus 6 gelas teh anget manis cuma habis Rp. 40.000,- pas. Murah, kan?

Sebenarnya ada banyak tempat kuliner di Madiun, ada dawet suronatan, ada rujak cingur di alun-alun Madiun, ada warung-warung lesehan di sekitar stadion Wilis, dan lain-lain. Namun sayang, waktu sudah beranjak malam. Dan yang jelas kapasitas perut juga tak bisa sekaligus terisi berbagai macam makanan tersebut. Maka, kamipun beranjak untuk pulang, setelah sebelumnya minta ijin sama sang empunya warung : Mbak, .. nyuwun sewu. Kulo pendhet gambaripun, nggih …, badhe kulo lebetaken wonten Baltyra.”

“Oh,.. monggo… monggo …,” sembari tidak mudheng, Baltyra tuh Koran terbitan mana? Hehehe …

Monggo, .. sahabat Baltyra. Silahkan mampir jika melintasi Madiun.

5 Comments to "Mojok di Madiun"

  1. Jatu Maynar  14 April, 2011 at 14:42

    Saya jd ingat masa kecil saya dlu,, suka ikut Alm.bude berjualan d warung ini,,, itu yg d foto mbak Angki namanya merupakan generasi ke 4 yg berjualan d warung tsb,, terima kasih sdh menjadi pelanggan setia warung nasi pecel pojok

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.