Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Naik Kereta Api Tut tut…

Tuesday, 22 June 2010

Viewed 2754 times, 4 times today | 89 Comments |

Hariatni Novitasari


Masih ingatkah kita akan lagu aku? Lagu yang sering kita nyanyikan jaman ketika duduk di TK atau SD. Sampai saat inipun, kereta api atau spoor atau sepur, adalah kendaraan yang paling digemari oleh anak-anak. Entah mengapa. Anak-anak kecil paling suka naik kereta api. Mungkin karena di kiri kanan banyak pemandangan indah seperti sawah? Atau mungkin karena di kereta api banyak pedagang yang berjualan jajan? Atau anak-anak juga bisa bermain di dalam kereta api? Lari kesana-kemari dan bermain dengan teman-temannya?

Berbicara tentang kereta api, dalam satu kesempatan, bersama dengan tiga orang teman kuliah, saya mengunjungi Museum Kereta di Ambawara, Semarang, Jawa Tengah. Setelah lelah berkeliling di kota Buto mulai dari tempat-tempat wisata seperti kuil Sam Poo Khong, wisata malam di Lawangsewu, dan kuliner di Semawis, perjalanan kami lanjutkan ke Ambarawa, baru kemudian Dieng.

Jarak Semarang dari Ambarawa sebenarnya tidak terlalu jauh, tetapi waktu tempuh menjadi sangat lama. Sebab, kami kebanyakan mampir di mana-mana. Salah satunya di Kampung Kopi Banaran di Raya Bawean. Warung kopi ini, kami temui secara kebetulan. Kampung kopi ini ternyata dikelola oleh PTPN. Setelah habis ngopi-ngopi, ternyata kampung kopi ini juga menawarkan berbagai macam wisata.

Seperti flying fox, tur ke kebun kopi (bisa menggunakan kereta wisata dan ATP), dan juga naik kuda untuk melihat kebun buah. Awalnya kami memutuskan untuk naik kereta wisata, sayangnya sudah penuh. Kamipun sepakat untuk naik ATV saja, murah, hanya Rp. 15 ribu. Setelah tahu antriannya panjang dan yang naik hanya anak kecil-kecil, kami memutuskan untuk tidak jadi naik, dan meneruskan perjalanan ke Ambarawa. Takutnya juga keburu sore, karena kami juga akan meneruskan perjalanan ke Dieng malam itu juga.

Kami tiba di Ambarawa sekitar jam 13.30 siang. Kami mendapatkan informasi dari petugas kalau tur dengan menggunakan kereta api yang dibuka untuk umum sekitar jam 15.00. Tur-tur pada jam-jam sebelumnya, sudah dipesan oleh rombongan. Caranya ikut tur ini gampang. Kami cukup mengantri di pinggir rel ketika kereta api datang. Kami langsung naik saja, naik siapa cepat siapa dapat. Pembayaran tiketnya dilakukan di atas kereta. Selain biaya tiket naik kereta, kami juga bayar biaya masuk ke stasiun ini sebesar Rp. 3.000,00.

Karena waktu untuk pemberangkatan tur masih lama, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di dalam stasiun. Stasiun Ambarawa ini juga digunakan sebagai museum kereta api. Bangunan stasiun ini sangat khas gedung jaman Belanda. Yaitu, ruangan-ruangan dengan langit-langit dan jendela-jendela yang tinggi. Pemandangan di sekitar stasiun adalah gunung tinggi menjulang. Entah gunung mana. Di halaman samping stasiun, banyak sekali gerbong-gerbong kereta tua yang digerakkan dengan tenaga batubara ada di sana. Mayoritas adalah buatan Jerman. Gerbong-gerbong pembangkit ini kebanyakan dibuat pada abad 19 atau awal abad 20. Belasan gerbong pembangkit kuno menjadi koleksi museum ini.

Museum ini juga dilengkapi dengan satu ruang pamer. Di dalam ruang pamer itu, terdapat peralatan-peralatan kuno, terutama yang berkaitan dengan teknologi yang digunakan untuk kebutuhan perkereta apian. Antara lain, telegram kuno, telepon kuno, alat untuk melubangi karcis, mesin ketik kuno, dan sebagainya. Alat-alat ini masih terjaga dan terawat dengan baik. Di dalam ruang pamer in, terdapat dua buah ruangan toilet yang masih menggunakan tulisan dari jaman Belanda; dames (perempuan) dan Heeren (pria).  Sayangnya, dua buah toilet ini tidak bisa dibuka alias dikunci. Sebenarnya, penasaran juga lihat dalamnya toilet dari jaman Belanda. Apakah model toilet di dalamnya masih asli seperti yang ada di Hotel Mandarin (Majapahit), Surabaya.

Hari itu, banyak sekali penumpang umum yang akan ikut tur dengan kereta api ini. Mungkin karena hari Sabtu dan banyak orang sedang menghabiskan akhir pekan panjang. Untuk menunggu waktu yang lumayan lama, mereka banyak menghabiskan waktu dengan jajan ronde atau sekedar leyeh-leyeh di bangku. Jam 15.00 kurang, petugas mengumumkan kalau kereta segera datang. Orang-orang kemudian berduyun-duyun berdiri di sisi kanan dan kiri rel. Jadi, begitu para penumpang dari tour sebelumnya turun, kami bisa langsung naik ke kereta.

Kereta ini hanya terdiri dari lima gerbong. Setiap gerbong, berisi tidak lebih dari 16 orang. Kereta ini mulai berjalan menuju stasiun Toentang di ujung sana. Perjalanan ke Toentang pergi-pulang bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Jaraknya mungkin 20 km (PP). Naik kereta ini rasanya seperti naik kereta kelinci saja. Bedanya, kereta ini menggunakan jalur rel. Sepanjang jalur yang dilewati kereta, ada berbagai jenis pemandangan yang bisa dilihat di sana.

Ada pemandangan rumah penduduk, bahkan ada satu rumah penduduk yang dapurnya dijadikan istal kuda. Ada juga pemandangan sawah dengan padi yang menguning, ada gunung di kejauhan sana, ada rumah-rumah penduduk desa, ada lokasi pemancingan ikan, ada rawa-rawa, ada tempat penitipan sepeda, bahkan juga lokasi penambangan pasir. Karena banyak dan luasnya rawa-rawa di sana, wilayah ini cocok sekali dinamakan Ambarawa (amba=luas, dan rawa=rawa).

Ketika kereta melaju ini, kondektur menarik ongkos kami. Rp.10 ribu per orang. Dan, tur pada sore hari itu, kereta penuh dengan penumpang. Di Toentang kami hanya berhenti sekitar satu menit, kemudian perjalanan kembali ke stasiun Ambarawa. Ketika kereta kami tiba di sana, rombongan untuk jam selanjutnya sudah menanti kereta yang kami tumpangi.

Waktu sudah menunjukkan jam 16.00 WIB. Kami harus segera beranjak dari Ambarawa untuk meneruskan perjalanan ke Dieng. Perjalanan kami masih jauh.

Share This Post

Posted by Tuesday, 22 June 2010 on 02:45.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

89 Responses to “Naik Kereta Api Tut tut…”

Pages: [9] 8 7 6 5 4 3 2 1 »

  1. 89
    HN Says:

    Mea: iya, Ilham maunya bikin six packs dulu….. Aku siap jadi manager, Ham…

    Ilham: hahahahaha.. Iya bener, Ham… HP yang itu, bunyi KRIK nya kenceng banget. Belum lagi FLASH nya yang macam membutakan mata.

    Oom OBD: iya Oom, semoga bisa mengunjungi tempat-tempat itu waktu mudik nanti ya Oom… salam dari Surabaya

  2. 88
    Onder de Boom USA. Says:

    Mbak HN artikel anda mengingatkan akan nenekku yang lahir diAmbarawa(Tan Ien Nio) dan kakekku yang lahir diTuban (Liem King Goan)dan menetap diSalatiga(toko P&D saat itu disebut waroenglah) yang pusaranya di Semarang,dimana bapakku lahir th 1920 mempunyai 2kakak laki2 dan 1 adik perempuan,kesemuanya telah tiada yang tinggal hanyalah kenangannya dan ceritanya dimana sebagai cucunya tertua yang lahir 1942 ,aku rindu akan kota2 kenang2an tsb dan berhasrat untuk berkunjung pada suatu saat,jika berlibur pulkam

  3. 87
    ilhampst Says:

    Za : pengalaman pribadi yah? Suka kentut. Dasar parah queen! Kalo aku bikin artikel ttg cewek berjilbab malah jd inget waktu kopdar kita bareng nyai kupu2. Masak badan kerempeng makannya ngalahin aku yg segede gini. Ama buto aja kalah buto keknya hahaha….
    Emon : Ntar aku bayangin dulu deh, dia tu cocok jd bintang iklan pembersih dan pemutih wajah, pipinya mulus, merona kemerahan. Nglirik tangan n bagian kakinya yg tdk tertutup sandal jg gak kalah mulus. Di jarinya gak ada satu cincinpun terpasang. Dia bukan turun di Pocin, aku yg turun disana karena mau jemput adekku di Margonda. Mau kupotret, tp hapeku pasti berbunyi dan flashnya ga bisa dimatiin. Tp wajahnya masih tergambar jelas di wajahku. Mirip2 artis chintami atmanegara tapi versi jauuuuuuuh lebih muda…

    Btw, koq ngomongin indihe n main pilem segala.
    Za : gemukkin dulu tu badan baru kamu berhak ngeledek aku

  4. 86
    Mea Says:

    HN: sementara dia pembentukan body dulu keknya, lumayan kalau dah kayak Salman Khan, bisa joget2 di Taman Mini, hehe,,,

    kalau anak bayi nangis sepanjang malam gampang aja, kamu sering2 kentut aja, biar emaknya pindah, bayinya pindah…

  5. 85
    HN Says:

    Mea: hahaha… Bayi sama ibunya, Me… Pakai acara nangis sepanjang malam. Kalau orang tua2 itu, bau balsem dan rheumason… Haha…

    Ilham kayaknya pantes jadi bintang film yakk… Hayo @Ham, ditunggu artikel “satu pagi bersama cewek berjilbab..”

  6. 84
    HN Says:

    hahaha…. Ilham itu jangan2 bakat jadi pemain film ya Me…

    Ayo, Ham.. Tulis perjalanan dengan kereta itu… Seru Ham..

  7. 83
    Mea Says:

    HN: Selalu saja orang tua2, kadang2 ada anak bayi, hehe…

    ———————–

    Maksudmu anak bayi naik kereta n duduk di sebelahmu?? hebat yah bayi Indonesia??? hahaha…. sumpah aku ngakak bayanginnya…

  8. 82
    Mea Says:

    ilham: kek pelem India… halah… tulis artikel gih, hahaha

  9. 81
    HN Says:

    Ilham: kalau turun di pondok china, bisa jadi anak UI, Ham… Ingat film Before Sunrise ga, Ham? Gara2 lihat film itu, jadi lebih suka lagi naik kereta.. Sayangnya, yang duduk di sebelahku, selalu saja orang tua2, kadang2 ada anak bayi, hehe…

Pages: [9] 8 7 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)