Cesterboard atau apapun itu namanya…

Octavero


Chang’an town, Dongguan city, China, kota kecil yang mirip dengan kota-kota kecil di Indonesia pada umumnya, tetapi tidak ramai. Semilir anginnya masih terasa,.. meski sejuk tapi musuh bagi tubuh saya. Siang yang tak terlalu padat dengan sinar surya yang tak begitu menyengat, malamnya padat dengan beragam aktifitas manusia banting tulang demi sesuap nasi, maupun yang hanya sekedar duduk duduk menikmati sajian mie panas di pinggir jalan, jalan jalan santai, berolah raga, dan bermesum ria di hotel hotel kelas menengah keatas. Mungkin dikarenakan pada waktu itu masih akhir musim dingin, masih sempat merasakan rasanya kehujanan dilanjutkan dengan masuk angin karena kurang bisa beradaptasi dengan cuaca setempat, sehingga menjadikan suhu normal tidak bersahabat dengan tubuh saya.

Tahun 2008 yang lalu ketika saya menyempatkan berjalan jalan di taman kota, untuk sekedar melihat lihat dan menikmati kehidupan malam di sana dalam sela sela rangkaian kegiatan dinas dari perusahaan tempat saya bekerja, ditemani oleh beberapa rekan dari perusahaan pihak yang mengundang, plus seorang driver, yang mana keduanya tidak bisa menggunakan English sebagai alat komunikasi, dan memaksa kami untuk sedikit sedikit mempelajari bahasa mandarin agar dapat saling mengerti dan komunikasi satu sama lain… yah….

Meskipun masih didominasi oleh bahasa tarsan sih sebenarnya, tapi tetap saling mengerti meski membutuhkan waktu. Kami mengelilingi area area yang sering jadi tempat nongkrong kawula muda di chang’an, area perbelanjaan, food court, pasar, hingga akhirnya kami berhenti di taman kota tempat banyak penduduk chang’an menyempatkan waktu untuk sekedar berolah raga (berhubung malam hari dalam hal ini mereka melakukan senam yoga bersama sama), ada juga yang sekedar berkumpul untuk melakukan eksperimen tari tarian modern, judi, juga tempat untuk bermain skateboard, bahkan ada pula pasar malam, mirip seperti keadaan sekaten pada malam hari.

Ada satu hal yang menarik yang saya lihat, skateboard.

Mungkin adalah hal yang biasa bila saya mengatakan itu sebuah skateboard, tapi menjadi tidak biasa bila itu sebuah cesterboard. Yah. Cesterboard… begitu mereka menyebutnya dalam label box pack nya. Ada yang menyebutnya sebagai deskboard maupun vigorboard, karena memang belum ada nama standar untuk papan seluncur ini.

Secara fisik… mirip banget dengan skateboard yang notabene 4 wheel,  tapi bila ditilik lebih detail, ternyata skateboard ini hanya punya dua roda, depan dan belakang. Bentuk lebih modis, hanya perlu satu awalan langkah untuk menaikinya dan anda bisa melaju kemanapun yang anda tuju tanpa harus mengayuh langkah lagi untuk meluncur. Cukup dengan menggerak gerakkan pinggang saja dan kaki kanan kiri menyesuaikan iramanya  untuk membuat cesterboard ini melaju.

Beda antara cesterboard dengan skateboard pada umumnya ini, selain pada rodanya, terletak pada variasi permainannya. Skateboard selama ini masuk dalam extreme games, dan beda halnya dengan cesterboard, dibandingkan dengan skateboard, cesterboard lebih save, lebih banyak berfungsi sebagai fasilitas untuk jalan jalan maupun sekedar berolah raga tapi juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana extreme games. Kecepatan lajunya bisa menyamai skateboard tetapi handling harus berhati hati, sedikit gerakan pinggul berimbas pada haluan yang dilewati, responsif dan sensitif terhadap arah dalam hal ini mampu berbelok pada sudut yang tajam sebesar apapun itu, tidak seperti skate board yang mengenal satu arah kedepan dengan sudut belokan yang kecil sekali tetapi sangat stabil pada kecepatan tinggi. Maklum lah… beda antara two wheel dengan four wheel.…

Keberadaan dua roda pada cesterboard yang mampu menikung 120 derajat ini adalah salah satu keunggulan yang luar biasa dibanding empat roda yang paten lurus kedepan saja. Poros belokan cesterboard ada pada roda, tapi poros belokan skateboard ada pada trucks nya. Dan dua roda inilah yang menjadikan cesterboard memiliki self acceleration, start on zero velocity serta dari segi kecepatan, secara teori dan teknis, mampu mengimbangi kecepatan dari skateboard.

Dari segi harga, beda jauh dengan skateboard, belum banyak variasi harga dan kualitas seperti layaknya skateboard. Jadi teringat dulu ketika sebelum memiliki cesterboard ini, saya pernah punya skateboard 4 wheel juga, yang pada waktu itu harganya sekitar Rp.75000,00 (sekarang mungkin ada yang mencapai jutaan rupiah tergantung kelas dan kualitasnya), pemberian om saya dan itu masih awet sampai sekarang, bila dihitung umurnya sudah 13 tahunan kira kira…

Terbuat dari papan mdf dan masih menggunakan roda bukan dari rubber melainkan plastik, so… bisa anda bayangkan seberapa berisiknya suara gelinding roda yang ber gesekan dengan aspal. Tidak seperti sekarang yang sudah menggunakan material non mdf dan sudah menggunakan roda dari bahan hard rubber yang tentu saja lebih ringan, lebih awet dan lebih ramah polusi suara.

Sedangkan  cesterboard saya baru berumur sekitar dua tahunan, memang sampai saat ini masih belum diketahui seberapa awetnya, sebab, hampir sebagian besar bahan pembentuknya sudah terbuat dari plastik, yang mana bila  berada pada kondisi dinamis panas dan dingin yang ekstrim, yang menurut teorinya nii… menyebabkan pengurangan kualitas plastik itu sendiri, mungkin dalam jangka waktu lima tahunan akan rapuh dan sudah tidak bisa dipergunakan lagi dan musti memodifikasinya dengan bahan yang lain.

Lha… cesterboard ini termasuk nanggung, di bilang mainan kok harganya lumayan mahal, mau dibilang series kok harganya terlalu murah. hahaha… cesterboard ini saya beli seharga 400rmb sekitar Rp.500000,00 pada tahun 2008 akhir, mungkin sekarang harganya lebih murah… kemaren sempat saya lihat di supermarket ada yang membanderol dengan harga 180rmb sudah separo dari harga tahun 2008, dan penguasaan alat dibutuhkan 4 hari latihan secara kontinyu, karena beda konsep dengan skateboard yang mungkin hanya butuh sehari saja.

Skateboard butuh kecepatan awal dalam hal ini dibutuhkan kayuhan kaki untuk melaju dan memang kecepatan awalnya kencang sebesar gaya tolak kaki setelah itu muncul perlambatan, tetapi cesterboard bisa membuat kecepatan awal sendiri tanpa kayuhan, cukup dengan naikkan kedua kaki diatasnya dan gerakkan pinggang bolak balik serta merta cesterboard melaju dengan sendirinya dan ini tidak mudah dan kecepatan awalnya lambat tetapi memiliki akselerasi, perlu beberapa kali jatuh bangun. bagi yang masih pemula harap jangan berlatih sendiri karena baik skateboard maupun cesterboard butuh pendampingan dan pengawasan serta savety equipment, terutama pelindung lutut, siku serta kepala, tapi bagi yang sudah merasa mahir ya terserah anda.

Overall, ini adalah salah satu perangkat untuk olah raga yang cukup digemari di negeri china. Tua, muda, anak anak, baik pria maupun wanita banyak yang menguasai. Banyak produsen menjual dengan berbagai macam variasi dan warna. Kelemahan cesterboard ini yang paling menonjol adalah pada beratnya. berat nya bisa sampai tiga kali berat skateboard.

Biang keroknya adalah adanya material spring steel yang menjadi poros kemudi papan ini melaju, serta material plastik yang solid. Sehingga bila ingin beraksi seperti melaju diatas skateboard atau bergaya jumpalitan ala sirkus jadi tidak bisa, karena variasi gerak terbatasi pada tempat cesterboard berpijak (roda baik depan maupun belakang jarang berpisah dengan permukaan tanah), maksimal satu roda terangkat. Skateboard bisa dilempar lempar bahkan meluncur melayang serta spinning sesuai mau kaki kita saking ringannya, tapi  cesterboard ini tidak bisa. Para pengguna cesterboard adalah mereka yang menginginkan olahraga yang praktis, santai, save, mudah dikuasai para wanita, keren, serta multifungsi.

Banyak pelajar di china mempergunakan cesterboard ini untuk sarana transportasi sampai di kampus maupun sekolah, sekaligus untuk mencari keringat.

Tapi biar bagaimanapun juga, saya tidak menyesal sudah membelinya, disamping karena mungkin saya merasa bahwa barang ini belum banyak yang punya, merupakan kenang kenangan dari negeri china juga karena memang cesterboard ini lebih preferable bagi saya. wkwkwk. cesterboard ini unik. Keunikannya terletak pada tingkat kesulitan penguasaan alatnya yang membutuhkan 4 hari latihan rutin, paling cepat bisa setengah hari bila barangnya dipeluk sambil tidur wakakakakak…soalnya semakin susah dikuasai… malah semakin menantang. Pada awal awal latihannya akan terasa nyeri di pinggang. Sebenarnya mirip juga sih dengan skateboard yang juga pada awal awal latihan mengakibatkan nyeri pada kaki dan terasa berat untuk melangkah. Oleh karenanya, saya enggan untuk melepasnya bila suatu saat ada yang tertarik untuk membelinya. hahaha….:))  kecuali mereka yang tertarik mau membeli dengan harga tinggi, kalo bisa dua atau tiga kalinya, dan bukan harga second.

Seperti inilah cesterboard punya octav…. Cari yang merah udah abis je…hehe


Smile…

Octavero 05062010; 21:49

Chengyang-Qingdao-China

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.