Kebun Kacang dan Romantika Petani

Anastasia Yuliantari – Ruteng, Ambor


Be careful with your wish! Itu kata-kata yang dulu sering kudengar setiap menginginkan sesuatu. Bagus, toh kalau keinginan kita benar-benar terwujud? Memang itu yang diharapkan siang dan malam.

Sebenarnya cita-citanya hanya sederhana, yaitu bercocok tanam dan punya sepetak tanah, katakan saja berukuran tipe RSS(Rumah Sangat Sederhana), yang biasanya berkisar antara 90 sampai 100 meter persegi. Tujuannya bukan untuk membangun rumah, melainkan untuk menanam pohon pepaya.

Keinginan itu cukup beralasan secara ekonomis. Pepaya banyak disukai sehingga daya jualnya tinggi walau harganya tak seberapa istimewa. Kedua, berbuah sepanjang musim, sehingga dapat dipanen sepanjang tahun. Ketiga, kelihatannya, karena sebenarnya tak pernah benar-benar menanamnya, gampang tumbuh sehingga kemungkinan gagal kecil. Jadi cukup beralasanlah kalau tanaman yang daunnya juga bisa dijadikan sayur itu menjadi pilihan yang aman dan menguntungkan.

Setelah beberapa tahun, mimpi itu benar-benar jadi kenyataan dengan segala implikasinya. Sepetak tanah yang diinginkan, ternyata sebuah kebun yang didapat. Senang? Tentu saja!

Kebun itu masih berbentuk lahan tidur, tak pernah digarap sejak puluhan tahun silam, dan penuh ilalang setinggi dua meter. Tanahnya miring, sehingga perlu dibuat terasering, tak mengherankan bila dibutuhkan waktu sebulan penuh sebelum menjadi kebun yang siap ditanami. Tentu saja pengerahan tenaga kerja ini harus diimbangi dengan keluarnya sumber daya yang sepadan. Singkat cerita, padang ilalang yang oleh penduduk setempat biasa disebut pumpuk berubah menjadi lahan garapan pertama di bukit itu.

Setelah lahan dibuka lalu apa? Tanam saja langsung! “Wah, tak bisa begitu.” Kata para tetangga dan saudara. Musim sekarang tak menentu, tak jelas kapan hujan dan kapan akan kering kerontang. Awal tahun tadinya memang tepat kalau hendak menanam kacang, tapi berhubung hujan datang dan pergi tak menentu, jadinya harap ditunggu saja, daripada tanaman itu tak tumbuh optimal.

Nasehat itu sangat masuk akal dan bisa dipercaya karena berasal dari para petani tulen dengan pengalaman seumur hidup mereka. Makanya, penanaman terpaksa ditunda dua minggu dengan harapan alam akan menunjukkan tanda datangnya musim kelang (awal tahun) yang pas untuk mulai menanam sesuatu.

Demikianlah. Tertanam juga kacang itu di pertengahan bulan Januari. Tumbuh subur dengan daunnya yang hijau menarik dan hanya dipupuk dengan menggunakan pupuk organik. Bukan supaya harganya lebih mahal seperti tren orang kota yang back to nature dan memperhatikan faktor kesehatan, melainkan karena beberapa hari sebelumnya sudah terdengar selentingan bila pupuk akan naik sampai beberapa puluh persen. Kalau naik saja, sih tak mengapa, tapi bila ditambah menghilang dari pasaran, jadinya seperti menggantang asap. Lebih  baik mengumpulkan bahan-bahan alam yang bisa dihancurkan dengan mikroba pabrikan.

Hati senang bukan kepalang. Ternyata jadi petani tak sulit juga. Lagu Ebit G. Ade tentang hidup di kampung dan jadi Kepala Desa kelihatannya sangat romantis dan menyemangati. Bila dilihat kesuburan tanahnya, sudah terbayang berkarung-karung kacang siap jual yang akan dinikmati para saudara di kota dengan bentuknya yang lebih menarik dalam kantong-kantong plastik aneka rupa.

Lalu saat pulang ke kampung akhir minggu berikutnya, datanglah kabar dari si penjaga kebun yang masih terhitung saudara, “Ibu, koja dite oncor le ela!” (Ibu, kacangnya dirusak babi!) Hah! Mana bisa? Menurut kesepakatan yang telah tertuang dalam PERDES alias Peraturan Desa, setiap binatang peliharaan, kan harus dikandang. Tak mungkin ada babi keluyuran sampai ke kebun-kebun begitu. Perempuan itu hanya menggelengkan kepala sambil berkata prihatin. “Kalau siang memang binatang itu dikandangkan, tapi kalau malam beberapa pemilik yang tak mau bersusah payah mencari pakan sengaja melepasnya.”

Itu tak bisa dibiarkan! Paling tidak menurut pendapatku, walau suamiku memberikan berbagai teori antropososiologis, yang entah dicomot dari mana, tentang kebiasaan masyarakat di wilayah ini yang tak mengenal system mengandangkan ternak. “Pokoknya harus diambil tindakan!” Tegasku.

Dibutuhkan waktu dua minggu untuk woro-woro ke segenap warga kampung agar mengingat kembali isi PERDES. Kepala Desa sendiri yang turun tangan karena konsekwensi dari kematian seekor babi bisa menyebabkan parang terhunus dari sarungnya. Babi di daerah ini tak hanya bernilai secara ekonomis tetapi juga cultural, karena diperlukan untuk mas kawin atau sumbangan bagi keluarga yang punya hajat tertentu.

Rupanya pengumuman untuk mengandangkan ternak tak mempan juga. Beberapa petak kebun telah berantakan dengan tapak-tapak kaki panjang runcing  yang tercetak jelas. Pengumuman kembali dikumandangkan, kali ini akan dilakukan tindakan represif. Racun ditebarkan di sekitar kebun. Bila ada babi yang mati karena racun itu, pemilik tak dapat menuntut apa pun. Tak ada reaksi berlebihan, semua sudah tahu aturannya. Hasilnya satu babi mati di areal kebun dan tiga lainnya di tengah padang ilalang.

Sudah aman? Tunggu dulu. Akhir minggu berikutnya, si penjaga kebun menyongsong dengan wajah sekeruh sebelumnya. Apalagi sekarang? “Ibu, do koja dite hang le lawo.” (Ibu, banyak kacang yang dimakan tikus) Rupanya tanaman yang mulai berbuah itu menarik tikus yang bersarang di sekitar kebun. Di luar pengetahuanku, padang ilalang itu ternyata merupakan habitat tikus yang ideal. Tak mengherankan bila tak ada seorang pun bersedia membuka ladang di tempat itu.

Sambil menahan perasaan dan menghitung hari, kebun yang porak-poranda itu tetap dirawat dan diupayakan memberikan hasil. Semangatnya bukan pantang menyerah, namun sudah terlanjur basah….yahhh….apa boleh buat.

Setelah genap tiga bulan, akhirnya masa panen tiba. Melalui jejaring sosial banyak yang mengucapkan selamat atas keberhasilan panen pertama kebunku. Sementara aku sendiri tersenyum kecut, sepenuhnya paham mengapa The First Settlers di Amerika Serikat bisa hilang ditelan rimba, atau bagaimana mereka menciptakan Thanksgiving Day setiap Oktober setelah keberhasilan panen mereka. Merambah rimba belantara pasti tak mudah untuk orang dengan cita-cita semata tanpa pengetahuan yang memadai.

Saat panen berakhir dan tetanggaku di kampung membantu menyensor kacang yang layak jual dan menjemurnya, aku kembali mengelus dada. Retang toe manga wae lu’u (Menangis tanpa air mata) menurut istilah mereka. Hasil yang didapat hanya impas dengan biaya yang dikeluarkan. Bisa dibayangkan bila aku bergantung sepenuhnya pada hasil pertanian ini, mataku pasti nyalang setiap malam memikirkan bagaimana menyisihkan hasil untuk mencukupi kebutuhan harian dan melanjutkan mengolah tanah untuk musim tanam selanjutnya. Para tetua menatap wajahku yang berawan dengan sinar bijaksana sambil berkata lirih, “Bila kau berani memulai hal baru berarti harus siap menghadapi tantangan baru. Menjadi petani itu banyak rintangannya, tapi kau sudah memilih untuk menjadi salah satu dari kami, jadi hadapilah!”

Masih ingin jadi petani? Tentu saja! Kan, sudah terlanjur basah……..!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.