Pameran Seni Frame to Frame di Museum Barli (Part 2)

Linda Cheang – Bandung


Salam kepada semua sobat Baltyra,

Sebelumnya saya sudah menurunkan laporan Part 1 tentang Pameran Seni oleh 4 Fiesta di Museum Barli.

Kali ini petualangan saya menuju Museum Barli diisi dengan “mendebarkannya” cara saya untuk tiba di sana. Bersyukur bahwa lalu lintas tidak ramai apalagi sampai macet. Namun saya membawa mobil pinjaman, sebuah minibus sepuh, milik adik saya yang kondisinya benar-benar bikin jantungan. Bagaimana jantung saya tidak berdebar, kalau rem mobil akan lebih pakem dengan pengereman dikocok. Belum lagi gagang setir yang ikutan terangkat ke atas karena satu baut pengikatnya mendadak bermasalah.

Ketika mendaki tanjakan dan ketika mobil melewati jalanan yang tidak rata, daripada tangan saya mengangkat setir, lebih baik selama beberapa detik tangan saya yang kiri memegang tongkat persneling dan yang kanan pegang gagang pintu saja! Begitulah, cara saya mengatasinya daripada saya jadi kaget terus-terusan karena gagang setir yang terangkat, hehehehe. Memerlukan waktu sekitar 20 menit buat saya menguasai mobil tsb, sambil saya terus diingatkan bahwa untuk hal-hal “ajaib” seperti inilah saya lulus ujian mendapatkan SIM B1. Benar-benar jauh lebih mendebarkan dibandingkan ketika menyetir mikrobus. Wheewwww. Ketika tiba dengan selamat di depan pagar Museum Barli, tidak ada yang lain keluar dari mulut saya selain Puji Tuhan, saya sudah tiba dengan selamat!

Baiklah, karena saya sudah tiba dengan selamat dan utuh, kali ini sambungan laporannya adalah pameran seni pertunjukan, khususnya seni pertunjukan kolaborasi antara seni tari, seni musik, seni rupa. Eh, tapi saya jadi bertanya-tanya, kenapa tidak ada seni kuliner dan seni fotografi juga, yah? Halah! Iya, soale kalau ada hajatan seni kayak gini, mestinya urusan kuliner tidak dilupakan juga plus fotonya. Hehehe, dasar! Maklum, saya ini aslinya lebih suka jadi pelaku Food Photography.

Seni kuliner pada pertunjukkan seni ini diwakili oleh suguhan makanan khas Sunda, seperti aneka gorengan, aneka kukusan, Bajigur, dan Bandrek. Tapi, ya, hanya sebatas jadi suguhan, padahal kalau mau diniatkan lagi, sekalian seni kuliner, kan, bisa dikolaborasikan pula, toh?  Sebelum menikmati pertunjukkan seninya, maka saya nikmati dulu seni kuliner yang disuguhkan. Dari semua yang tersaji, yang rasanya maknyusss buat saya cuma Tempe Goreng tepung disusul Pisang Aroma. Sayang saja Gehu yang tersaji malah kurang mantap rasanya. Tidak sempat menyeruput Bandrek dan Bajigur karena perut sudah keburu kenyang gara-gara Tempe dan saya minum kopi.

Sesuai yang disampaikan oleh Kang Sanga selaku pemimpin Museum Barli, bahwa seni pertunjukkan ini untuk menghapus pengkotak-kotakan seni, maka di ruangan museum tsb sudah ditata beberapa kanvas kosong untuk para perupa melukis, area tengah yang dikosongkan untuk pertunjukkan tari dan nyanyi, serta di satu sudut tempat Grup Musik Karinding Militan dan Karinding Sasaka, mengolah alat-alat musiknya.

Karinding sendiri adalah salah satu alat musik tradisional Sunda, terbuat dari kayu enau atau bambu dan akan mengeluarkan suara berdasarkan kemampuan pemainnya mengeskplorasi rongga mulut. Bagian yang menarik dari permainan musik yang mengiringi ini adalah digantinya Kendang Sunda dengan Jimbe a la Afrika. Kebetulan di Bandung sini juga ada perajin Jimbe. Tapi ketukan irama yang dihasilan sama mengasyikkannya dengan irama Kendang Sunda. Musik Karinding Sunda disandingkan dengan petikan perkusi yang dimainkan pemusik Rod Cooper.

Teman kita,  Nyai Kebak Kupu, masuk ke ruangan setelah tarian dimulai lebih dulu oleh seniman tari lain.  Kemudian setelah ada irama khusus, Nyai Kebak Kupu bersama rekan perupanya segera menuju kanvas-kanvas yang sudah tersedia, untuk mulai melukis, sementara teman-teman seniman tari tetap menarikan tarian kontemporer dan Kang Sanga melukis pada lantai sambil menari. Karena Nyi Kebak Kupu diketahui kidal, maka mestinya “gelar” ditambah jadi Nyi Kidhal Kebak Kupu.

Seniman tari bergantian mendekati perupa, dan saya lampirkan beberapa foto ketika Nyi Kidhal Kebak Kupu kertika didekati Mbak Dwi dan Teteh, Nyai juga ikutan menari di sela-sela pertunjukan seni rupanya. Coba kalo Sobat Baltyra bisa melihat langsung, pertunjukkannya ciamik punya!

Salah satu bagian yang asyik ketika Teteh Mira Tejaningrum, seniman Jaipongan kondang nasional mulai keluar mempertunjukkan kreasi tarian Jaipong dipadu gerakan tari kontemporer. Indahnya Jaipongan dari gabungan gerakan silat, gitek (goyang bahu) dan geol (goyang pinggul) yang bertenaga, ditambah lagi postur Teteh Mira yang tinggi langsing, membuat tarian terlihat indah. IringanMusik Karinding ternyata tidak kalah mengasyikannya dengan house music yang  bunyinya jib, ajib, ajib, ajib gitu.

Sobat Baltyrans semua, sebetulnya dari sekitar sejam durasi pertunjukannya, jauh lebih asyik menikmati pertunjukannya secara langsung di tempat, daripada melihat suasana yang terekam dalam foto-foto saya ini. Meski saya membawa “senjata bidik” yang lebih canggih, berupa kamera saku Kodak Easy Share C713 (ini kamera pinjaman, hihihi), toh tetap saja karena ketika pertunjukan diselenggarakan di bawah intensitas cahaya yang sedikit, plus jarak bidik yang jauh, menyebabkan gambar-gambar yang tampil kali ini kurang begitu kelihatan. Sekalipun sudah diolah dengan sentuhan ulang menggunakan beberapa perangkat lunak fotografi. Saya sendiri secara jujur mengakui, kurang puas dengan sebagian besar hasil karya foto saya kali ini.  Menyebabkan saya mesti seleksi lagi foto-foto yang rencananya mau saya kirim buat Baltyra.

Namun khusus untuk foto-foto hasil karya seni rupa, ya, pasti saya usahakan untuk “keluar” keindahannya, selain keindahan seni kulinernya (kalau ada yang ngiler lihat tempe goreng, saya tidak bertanggung jawab, yah). Silakan dinikmati hasil karya seni rupa lukisan yang tercipta selama pagelaran tari dan Musik Karinding berlangsung. Perupa Nyai Kidhal Kebak Kupu dan Mahendra Pampam melukis menggunakan cat air.

Karena Nyai yang satu ini memang suka memajang kupu-kupu, maka lukisan buatannya pun mesti ada kupu-kupunya. Sementara perupa lainnya asyik membubuhkan cat minyak langsung dari tabungnya secara pathing plethot, tapi toh, walaupun pathing pletot begitu dan cat minyak berbagai warna diaduk-aduk, muncul juga gambar- gambar indah yang hanya bisa dirasakan dengan rasa, bukan untuk dipikirkan dengan benak.  Jadilah gambar seorang perempuan penari, lalu seorang perempuan bugil  menari yang dilukis secara abstrak di atas kanvas berdasar cat emas, dan gambar-gambar abstrak lainnya. Silakan dilihat hasil karya mereka oleh semua Sobat Baltyrans, kali-kali saja ada yang berniat mengkoleksinya?

Oh, ya. Rasanya perlu juga untuk meninggalkan jejak buat teman-teman seniman. Sebelum pulang, saya sempatkan oret-oret dulu di kain putih yang tersedia khusus untuk berkomentar.  Mewakili Baltyra, silakan dilihat hasil kliknya yang sederhana saja.

Buat Nyi Kidhal Kebak Kupu, jangan lupa tolong videonya untuk youtube diinformasikan kepada kita semua, yah.

Sampai jumpa lagi di pameran seni yang lain.


Salam

Linda Cheang

Juni 2010

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *