Yun Tai Shan Itu Surga: Day 2

Meazza-China


Yun Tai Shan yang tadinya kupikir hanya gunung palsu, telah membuktikan keindahannya padaku. Tur hari pertama membuatku puas. Karena Yun Tai Shan tak cukup untuk dijelajahi selama sehari saja, maka kami pun melanjutkan perjalanan ke sisi lain Yun Tai Shan di hari kedua. Berbeda dengan perjalanan kemarin yang waktunya di sore hari, kali ini perjalanan ke Yun Tai Shan pada pagi hari. Aku tak pernah takut pada mentari, namun membayangkan suhu udara musim panas di China, aku ngeri sendiri.

Kami masih masuk dari gerbang yang sama dengan hari pertama, namun bus membawa kami ke sisi lain Yun Tai Shan. Diperkirakan suhu siang ini bisa mencapai 36 derajat. Namun aku tahu Yun Tai Shan pasti akan membuat perjalanan “mematikan” ini menjadi tak sia-sia. Maka aku tetap riang meski terik mentari serasa membakar di atas kepala, setibanya kami di Yun Tai Shan Museum pagi itu.

Setibanya di sana, kami disuguhi dengan atraksi Taiqi yang panggungnya di atas air. Aku tak tertarik menontonnya, jadi aku bersama beberapa teman yang sama-sama gila fotografi langsung kabur mendaki Yun Tai Shan. Jika hari pertama aku disambut dengan pemandangan bukit berlapis dan beberapa celah sempit untuk dituruni, pagi ini aku kembali diberi kejutan berupa pepohonan hijau serta dinding bebatuan yang sangat bervariasi di sisi jalan menanjak.

Hari ini aku sengaja ingin mempraktekkan ilmu Gandalf untuk memotret air terjun. Dan ternyata berhasil (bagiku)! Dengan setting shutter-speed lambat, aku meletakkan kamera di bebatuan, kemudian sedikit menahan nafas selama beberapa detik, dan klik! Hasilnya berupa air terjun yang seperti sutra! Hanya saja, di beberapa tempat yang terang benderang aku tak bisa memotret dengan setting seperti di atas karena over exposure, jadi balik lagi ke settingan Program.

Kalau kamu pikir Yun Tai Shan yang kulihat di hari pertama akan tak jauh berbeda dengan Yun Tai Shan di hari kedua, kamu salah besar! Sisi barat Yun Tai Shan ternyata lebih hijau dan sangat mempesona karena tetesan air di dinding batu serta aliran air yang merembes di atas lumut-lumut di dinding tanah membuat keasrian tempat ini tak diragukan lagi.

Aku pun tak sabar membasuh muka dengan air yang sangat menyegarkan itu. Beberapa pengunjung malah menadahkan botol di mata air di dinding batu untuk meminum airnya, karena kabarnya mata air yang dinamai Bulao Quan alias Long Life Spring itu membuat orang jadi panjang umur. Aku juga ikut meniru mereka. Bukan untuk panjang umur, tapi karena memang haus dan aku tak bawa air minum. Malas rasanya menenteng air minum sementara tujuan ke sini adalah buat memotret.

Setelah perjalanan menanjak yang cukup membuatku pegal, akhirnya kami tiba di sungai (seperti kolam) yang dinding tingginya dialiri air. Entah bagaimana caraku melukiskan apa yang aku lihat karena sepertinya aku begitu kehabisan kata-kata saat menulis artikel ini. Aku dan teman-teman langsung membuka sepatu, ingin memotret “dinding berair” itu dari dekat. Tapi saat kaki kami berada di dalam air belum sampai 1 menit, aku sudah merasa kram, karena airnya dingin sekali, jadi seperti menjejakkan kaki ke balok es.

Namun aku tak rela meninggalkan tempat itu, aku ingin memotret dari jarak dekat. Masalahnya dari tepian ke dinding air berjarak sekitar 20 meter, dan baru berjalan di dalam air sejauh 5 meter saja aku sudah tak sanggup. Teman-teman merasakan hal yang sama. Kami yang tadinya bersemangat berjalan di atas bebatuan kecil di dasar air, kemudian saling pandang. Karena jarak 20 meter sungguh bukan hal yang mudah, mengingat kaki yang sudah tak bisa bergerak, serasa mati sebelah di dalam air.

Maka kami pun memutuskan untuk memotret seadanya (aku lampirkan foto teman-temanku yang cuma mampu berdiri di air setengah lutut, foto diambil oleh Yory Zou). Dan beberapa detik kemudian langsung berebut untuk naik ke daratan, sebelum mati beku di sana. Benar saja, kakiku pucat sekali dan mesti dipijat 1-2 menit baru bisa mengenakan sepatu lagi. Apalagi kalau kami memaksa buat maju ke dinding air, mungkin kami tak bisa kembali ke tepian.

Kesamaan Yun Tai Shan kemarin dan hari ini cuma satu: yaitu bersih. Meski pengunjung juga ramai, namun kebersihan benar-benar terjaga. Orang yang berkunjung tampaknya sangat peduli lingkungan. Di beberapa air terjun yang diberi pembatas dan diberi tulisan bahwa air di sana boleh diambil untuk minum, maka tak ada seorang pun yang mencuci tangan apalagi menginjakkan sepatu di sana. Mereka hanya menadahkan mulut botol untuk menampung air. Dan kemudian mencuci muka dan tangan di sisi yang lain (di bagian bawah). Dan petugas kebersihan juga berseliweran tak henti memeriksa apakah ada sampah di sana.

Tiga jam berlalu, matahari sudah terik menembus kerudungku. Aku pun kembali ke gerbang museum untuk menunggu teman-teman lain yang sedang asyik bermain di zona pemeliharaan monyet. Aku tak tertarik dan memang tak suka hewan. Jadi lebih baik duduk di tepi kolam sambil makan es krim blueberry kesukaanku.

Tak lama teman-teman pun bermunculan dan kami bersiap untuk kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan ke tempat wisata lainnya. Aku sengaja memilih tempat duduk paling belakang biar bisa tidur beberapa saat. Perjalanan ini sangat melelahkan. Kakiku sakit dan rasanya tak sanggup melangkah lagi. Mungkin aku dan teman-teman mesti ke rumah pijat sesampainya di hotel nanti. Namun, masih terasa di kakiku sejuknya air di puncak Yun Tai Shan. Membuatku mampu tersenyum meski dalam kelelahan.

Kupinjam kata-kata penyair klasik Tao Yuanming untuk mengakhiri catatan perjalananku hari ini:

Ingin kuartikan kemesraanku dan alam

Ingin kujelaskan segalanya

Namun aku menjadi lupa akan semua perumpaan


Jinan, Menguak Tabir Senja, Juni 2010

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.