F. Rahardi
Slogan salah satu calon gubernur (cagub) DKI Jakarta adalah, Benahi Jakarta! Ini sebuah frasa, sebab hanya terdiri dari predikat dan obyek. Dalam kampanye ini, frasa Benahi Jakarta! didahului dengan berbagai frasa lain. Misalnya, bosan macet, ingin tidak banjir, dan mau aman. Slogan yang baik, seperti halnya judul tulisan, memang selalu berupa frasa, bukan kalimat lengkap. Sebagai slogan, frasa Benahi Jakarta! juga sangat menarik. Artinya, hal-hal negatif yang selama ini melekat pada ibukota kota ini, akan berubah menjadi positif apabila Jakarta dibenahi.
Slogan seperti ini sangat lazim digunakan dalam berbagai promosi bisnis, maupun kampanye program sosial. Misalnya, Mau bonus gede? Kunjungi stan kami! Ingin sehat? Hindari rokok! Bosan miskin? Jauhi judi! dan lain-lain. Pesan sosial demikian, selalu berasal dari individu atau lembaga yang representatif, serta berkompeten untuk hal-hal tersebut. Slogan Ingin hidup sehat, hindari rokok; akan representatif dan tepat sasaran, apabila disampaikan oleh dokter, atau tokoh kesehatan. Paling tidak oleh selebritis dan tokoh masyarakat, yang secara fisik tampak sangat sehat.
Akhiran i dalam benahi Jakarta!, bermakna perintah. Nada perintah ini lebih dipertegas lagi dengan adanya tanda seru. Apabila akhiran i ditambah partikel lah, maknanya akan menjadi persuasif berupa saran. Makna benahilah Jakarta, hindarilah rokok, jauhilah judi, menjadi lunak. Tetapi frasa ini tidak digunakan oleh para konseptor kampanye cagub, justru karena lunak. Mereka ingin yang tegas, hingga partikel lah tidak dipakai. Namun sebagai slogan kampenye, perintah yang tegas ini bisa menjadi sebuah blunder. Siapa yang memerintah, dan siapa yang diperintah untuk membenahi Jakarta?
Gubernur DKI Jakarta, wajar memberi perintah kepada warganya, dengan slogan Ingin lancar? Patuhi rambu lalu lintas! Sebab warga Jakarta memang wajib mamatuhi rambu lalu lintas. Tetapi gubernur tentu tidak mungkin memerintah warganya dengan slogan Lalulintas semrawut? Benahi Jakarta! Sebab yang harus membenahi kesemrawutan Jakarta, ya si gubernur itu sendiri beserta aparat pemprov DKI. Kalau gubernur DKI pun tidak bisa memerintah warganya untuk membenahi Jakarta, mungkinkah seorang cagub memerintah calon pemilihnya dengan slogan Benahi Jakarta?
Seorang calon apapun, baik gubernur, bupati, presiden, biasanya akan menjanjikan sesuatu kepada calon pemilihnya. Misalnya angka pengangguran dan kriminalitas akan turun, pendidikan bagi warga miskin akan digratiskan, kualitas dan kuantitas angkutan umum akan ditingkatkan, dan lain-lain. Sang calon itulah yang berjanji kepada calon pemilihnya, bahwa dia akan membenahi semua yang sekarang dirasakan masyarakat sebagai sesuatu yang mengganggu. Ini semua berupa janji, yang baru akan bisa dipenuhi, atau diingkari, apabila sang calon memenangkan pemilihan.
Karena cagub berpasangan dengan cawagub, maka slogannya harus menggunakan kata ganti kami. Hingga lebih tepat kalau slogan Benahi Jakarta! menjadi “Akan kami benahi Jakarta.” Sebab ini semua baru merupakan janji. Slogan ini memang menjadi lebih panjang dan tidak efisien, tetapi efektivitasnya lebih tinggi, sebab lebih masuk akal. Benahi Jakarta!, meskipun efisien dalam penggunaan kata, tetapi menjadi tidak efektif, bahkan kontra produktif. Warga Jakarta tentu tidak mau diperintah oleh gubernur, terlebih calon gubernur, untuk membenahi kotanya. Sebab itu bukan tugas mereka.
Tim kampanye calon walikota, gubernur, terlebih presiden di negara maju, selalu melibatkan banyak pihak. Ada sosiolog, psikolog, ahli komunikasi, ahli bahasa, ahli disain grafis, dan lain-lain. Hingga pilihan kata, frasa serta kalimat yang akan dijadikan slogan, sudah melewati serangkaian pertimbangan dari berbagai aspek. Slogan yang dirancang cermat, bisa komunikatif, tepat sasaran, dan mampu mendorong masyarakat memilih sang calon. Iklan mi yang baik tentu berbunyi Ingin mi lezat? Akan kami penuhi selera tinggi Anda. Bukan Ingin mi lezat? Benahi selera Anda!
F. Rahardi, Penyair, Wartawan
June 29th, 2010 at 23:54
Pam-Pam: komentar yg No.20… kedengarannya sadis tapi masuk akal. Ayo usulkan…. supaya Jakarta jadi lega dan daerah lain jadi maju juga, merata.. ceritanya.
Nev: toss yuk!!!
June 29th, 2010 at 11:31
boleh diusulkan tuh hamp… wkwkwkwkk…
yang penting jangan di pulau jawa deh.. udah keberatan, sumatra… kelamaan,sulawesi? udah terlalu maju, irian jaya? ntar repot….
June 29th, 2010 at 09:42
Kalo gitu kenapa gak di Palangkaraya aja? Saya belum pernah ke Ponti sih, cuma Palangkaraya kan emang awal dibangunnya dengan niatan dijadikan sebuah kota pusat pemerintahan. Masih banyak lahan kosong.
Tan DA : semoga saja gak ya, kalimantanku kalo sampai rusak kaya Jakarta juga menyedihkan sekali
June 29th, 2010 at 09:29
mawar dan awesome : toss dulu….
paspampers : nah..ini kegarangan seorang arsitek…. lanjutkan..bakar..bakarr…. (loh??)