Shoe’s Diary

Wahyu Wibowo


Awalnya aku hanyalah selembar kulit biasa
Yang tergulung rapi di salah satu rak kedai mamak india
Tak ada yang singgah untuk sekedar menjamah kesepianku
Termenung diriku menunggu taqdir menghampiriku

Akhirnya tiba jua batas penantianku pada sebuah hari
Ketika seorang pemuda ramah sederhana datang mendekati
Setelah cukup lama terjadi tawar menawar soal harga
Aku dapat sejenak tersenyum ketika jadi juga dipeluk dipundaknya

Perjalanan yang begitu jauh telah menantiku
Berpindah dari metromini menuju angkot berwarna merah jambu
Sempat juga tukang ojek duduk menindihku
Hingga akhirnya sebuah becak mengantarku ke depan sebuah pintu

Aku terbaring sendirian dalam ruangan tanpa cahaya
Hingga akhirnya cahaya pagi datang tuk menyapa
Di atas meja diriku lembut dihamparkan
Sebuah pola sederhana pun mulai digambarkan

Aku merasa nyaman tersentuh tangan tangan bercahaya
Bersama gunting, palu, lem dan bahan lainnya aku bisa bermetamorfosa dengan sempurna
Meski hanya sebuah model yang begitu sederhana saja
Begitu berbeda dengan teman temanku yang lahir pada sebuah pabrik dengan peralatan serba ada

Aku terdampar pada sudut etalase sebuah toko di pusat belanja sebuah kota
Malu-malu aku bersanding dengan teman-teman baruku yang jauh lebih sempurna
Aku tak secantik mereka dengan warna dan gaya yang kini tengah trendy
Kakikupun rata rata saja tak langsing dengan kaki halus dan indah tujuh senti

Oh… mengapa aku harus merasa sendirian di tengah keramaian
Tak jarang teman temanku tertawa akan bentukku yang penuh kesederhanaan
Setiap pasang mata hanya melirikku sekejap saja tanpa menjamah
Sesekali pelayan toko datang membersihkanku dari sisa debu dan remah remah

Semua teman temanku datang dan pergi silih berganti
Tinggalah diriku yang berdebu disudut etalase menyepi sendiri
Biarlah…. Mungkin ini sudah suratan jalan taqdirku
Tak pernah akan mengenal siapa wajah tuanku

Hingga akhirnya ada juga seorang tuan putri yang datang membeliku
Hanya karena sebuah discount besar tersemat ditubuhku
Sebuah harapan untuk memulai hari hariku yang baru
Bersama sebuah kisah yang berjalan seiring sang waktu

Hari pertamaku sudah disapa dengan cuaca tak ramah
Ketika sisa sisa hujan tinggalkan nyata bercak coklat tanah
Biarlah tak apa…. Ini sudah bagian dari tugasku
Melindungi kaki tuan putriku dari kotornya debu

Ketika panas mentari begitu terasa di kerasnya jalanan bumi
Tubuhku terseret terengah engah terinjak menapaki
Pun ketika hujan tak jua reda menerpa
Menggigil tubuhku bersama bekunya udara

Kadang aku harus terbanting keras di sudut teras rumah
Ketika emosi sang tuan putri hadirkan sosok pribadi yang tak ramah
Tak jarang aku harus bertahan menutup hidungku sepanjang hari
Ketika jempol sang tuan putri membawa jejak jejak bau kaki

Hari berlalu begitu cepatnya
Memudar cahayaku yang semakin menua
Telah koyak sebagian tubuhku dimakan cuaca
Tinggalkan begitu banyak lubang di mana mana

Tak ada yang abadi di dunia ini
Bahkan untuk sebuah sepatu terindah di muka bumi
Ketika akhirnya hidupku harus berakhir dalam sebuah tong sampah
Adakah ini sebuah pilihan untuk hatiku merasa bersalah

Andaikan ini kisah hidupmu………. Mampukah engkau sabar menanti hadirnya indahmu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.