Jalan-jalan Murah ke Ho Chi Minh City dan Phnom Penh

Nia – Singapore


Seminggu sebelum libur Waisak saya mulai cari tiket ke Ho Chi Minh City (HCMC)- Vietnam. Setelah membanding-bandingkan harga dan jadwal penerbangan saya memutuskan beli tiket Lion Air Singapore – HCMC – Singapore. Saya berencana ke Phnom Penh (PP) juga lewat jalur darat dari HCMC dan sempat kepikiran untuk balik ke Singapore langsung dari PP tapi ternyata beli tiket budget airline kalo tidak online jatuhnya jauh lebih mahal. Belum lagi mesti bayar airport tax untuk international flight di bandara PP 25USD. Karena duit mepet jadi saya pilih yang paling murah ^_^ harus rela membuang waktu 12 jam naek bus bolak balik HCMC – PP.


Hari pertama

Pesawat mendarat di bandara Tan Son Nhat HCMC jam 1 siang. Saya sempat kaget ternyata bandara terbesar di Vietnam tidak sebesar yang saya bayangkan. Jauh lebih besar Bandara Soekarno – Hatta tapi Tan Son Nhat menang dalam hal kebersihannya. Petugas imigrasinya juga cekatan banget, kalo antrian agak panjang langsung dibuka lagi counter-counter lain.

Keluar dari arrival hall saya langsung menuju counter money changer untuk membeli Dong (mata uang Vietnam). Beli Dong di bandara Tan Son Nhat lebih murah dari pada beli di Changi. Di Tan Son Nhat 1SGD = 13000VND sedangkan di Changi cuma 11000NVD. Setelah beli dong saya cari bis no 152 yang mangkal di depan pintu keluar paling kanan. Bis no 152 melayani rute bandara – terminal bis dekat Ben Than Market. Bisnya nyaman, aman dan yang jelas murah sekali ongkos sekali jalan Cuma 3000 dong. Bandingkan dengan biaya taksi yang bisa mencapai 140000 dong.

20 menit kemudian bis sudah sampai terminal bis deket Ben Than Market. Turun dari bis saya dideketin tukang ojek dan cyclo. Saya menolak tawaran mereka karena saya sudah tau jalan ke penginapan saya di daerah Bui Vien Street. Sebenernya dari terminal tinggal nyebrang ke taman trus nyebrang lagi ke Pham Ngu Lao Street melewati jalan kecil dan saya sudah bisa sampai di Bui Vien Street. Tapi saya tidak punya nyali menyebrang jalan-jalan besar dengan lalu lintas yang ampuuunnnn semrawutnya setengah mati. Akhirnya saya putar-putar cari jalan-jalan kecil menuju Bui Vien Street.

Agak lega sudah sampai di Bui Vien Street tapi ternyata cari alamat di sana susah banget. Penginapan yang sudah saya pesan adalah Room for Rent 96 di Bui Vien Street no 96. Saya susuri Bui Vien Street dari ujung ke ujung berkali-kali tetap tidak ketemu. Penomoran bangunan di sana sepertinya suka-suka pegawai agrarianya. masa nomor 5 dan nomor 40 itu hadap-hadapan??!!

Setelah sekian kali bolak balik Bui Vien Street akhirnya ada ibu-ibu yang tanya ‘Hello Miss… Can i help?’ kemudian ibu itu menyuruh seorang cowok untuk mengantar saya ke no 96. ternyata mereka itu adalah calo-calo penginapan. Mereka tidak minta bayaran ke tamu tapi kalo dikasih juga tidak menolak.

Sebenernya selama menusuri Bui Vien Street saya beberapa kali ditawari kamar dengan harga 12USD. Tapi karena saya sudah booking jadi saya usaha cari penginapan saya. Agak menyesal sebenernya karena setelah ketemu no 96 ternyata mereka tidak mencatat booking-an saya. Tapi ya sudahlah cuma semalam doang dan harganya juga murah. Cuma 10USD kamar bersih banget, ada kamar mandi, TV dan kipas angin. Sayangnya tidak ada jendela. Padahal saya pengen melihat kehidupan malam di daerah turis itu.

Setelah istirahat sebentar saya lalu jalan-jalan di sekitar Bui Vien dan Pham Ngu Lao Street. Sebenernya pengen ke Ben Than Market tapi gagal karena saya tidak berani nyebrang hehehe… akhirnya sore sampai malam itu saya cuma nongkrong di taman di sepanjang Pham Ngu Lao Street sambil lihat penjual-penjual makanan tapi tidak beli. Saya memang tidak hobi mencoba makanan-makanan baru.

Sebelum balik ke penginapan saya beli tiket bis untuk ke PP. Pertama ke agent Sapaco yang lokasinya di perempatan jalan dan tokonya agak besar. Keliatan bonafid tapi pegawainya menyebalkan. Saya beli tiket yang jam 7 pagi. Ongkos bis 12USD dan Visa on Arrival Cambodia 24USD. Pas mau bayar tau-tau pegawainya bilang yang jam 7 sudah habis. Batal. Saya pergi cari agent lain. Di sepanjang Pham Ngu Lao Street itu banyak sekali agent-agent bis dan tour ke PP atau kota-kota lain di Vietnam. Jadi jangan takut tidak dapat tiket walaupun carinya mepet. Akhirnya saya beli tiket di agent kecil yang namanya apa saya lupa ^_^. Cuma 10USD untuk ongkos bis tapi 25USD untuk Visa on Arrival Cambodia.


Hari kedua

Perjalanan 7 jam dari HCMC ke PP biasa saja. Pemandangannya kayak jalanan Jogja-Solo. Selama perjalanan saya asik memperhatikan bapak-bapak orang Vietnam yang tak berhenti ngobrol, telpon dan mengunyah. Beda sekali dengan saya yang tidak punya teman ngobrol, tidak bisa pakai telpon karena roaming dan tidak punya makanan sama sekali. hiksss….

Tak terasa sekitar 4 jam perjalanan bis sudah sampai perbatasan Moc Bai – Vietnam. Tau-tau kernet, sopir dan penumpang lain turun dari bis. Saya dan 1 penumpang asing lain ditinggal gitu aja. Sambil celingukan saya turun dari bis dan masuk ke gedung imigrasi. Ampun deh suasananya… saya bingung membedakan antara yang antri dan yang tidak antri karena orang yang sedang glosoran di pojok belakang tau-tau dipanggil maju ke counter imigrasi. Sedangkan orang-orang yang berdiri tepat di depan counter di situ terus tidak dipanggil-panggil.

Saya kawatir banget kalo sampai pasport hilang karena sistem pemeriksaan pasport yang acak adul kayak gitu. Selain itu petugas agent bis yang saya tumpangi tidak bisa membaca nama saya. Untunglah semua berjalan lancar dan penumpang kembali naik ke bis yang sama dan perlahan kami menuju gedung imigrasi Bavet – Cambodia.

Di gedung imigrasi Cambodia suasanya lebih sepi dan antrian juga lebih tertib. Cuma counter imigrasinya lebih tinggi dari saya jadi saya merasa kayak lagi dihukum berdiri menghadap tembok. Oya Visa on Arrival diurus sama petugasnya agent bis jadi saya cuma antri doang dan menerima pasport yang sudah ada cap keluar Vietnam dan masuk Cambodia.

Setelah urusan imigrasi selesai kami melanjutkan perjalanan ke PP. Sempat mampir sebentar di warung makan dekat perbatasan Cambodia. Saya kira dapat jatah makan gratis dari agent bis ternyata tidak dan harga makanan di sana mahal. Nasi sedikit sama sayur ca brokoli harganya 2USD. Jadi lebih baik bawa bekal sendiri dan makan di bis.

Sekitar jam 2 siang bis sampai di kantor agent di PP. Saya tidak tau itu di mana tapi saya yakin lokasinya jauh dari Royal Palace jadi waktu ada sopir tuk-tuk minta 2USD untuk mengantar ke penginapan saya langsung setuju. Mungkin ongkosnya bisa kurang dari 2USD tapi siang itu panas banget jadi saya malas sekali untuk tawar-tawaran.

Tadinya saya mau menginap di Rory’s Guesthouse di deket Royal Palace tapi penuh jadi saya minta sopir tuk-tuk untuk antar ke guesthouse lain. Akhirnya saya dapat kamar di Diamond Guesthouse yang lokasinya 4 blok sebelah utara Royal Palace. Kamarnya jelek dan kasurnya keras tapi ada kamar mandi dan tivi dan harganya cuma 9USD. Saya bayar untuk semalam di Diamond Guesthouse.

Rencana semula mau 2 malam di PP tapi saya tidak tahan panasnya dan tempat wisata yang saya suka habis dikunjungi dalam 1 hari. Saya cuma ke Royal Palace, Russian Market dan jalan-jalan puter-puter kota PP. Tidak ke Killing Field karena saya tidak suka wisata horor macam itu.

Sopir tuk-tuk yang tadi mengantar saya ke penginapan menawarkan paket wisata dalam dan luar kota. Tarifnya untuk 1 lokasi di luar kota PP sekitar 25USD dan untuk 4-5 lokasi di dalam kota sekitar 15USD. Saya tidak tertarik dengan tawaran paket wisata itu karena tujuan utama saya ke PP hanya ingin melihat Royal Palace, Central Market dan Russian Market saja. Sopir tuk-tuk bilang kalo saya cuma mau ke tiga tempat itu dia hanya minta ongkos 10USD. Setelah tawar menawar akhirnya kami sepakat dengan ongkos 7USD dan ada tambahan 1 tempat yaitu gedung World Vision.

Sekitar jam setengah tiga saya keluar penginapan menuju Royal Palace. Tiket masuk Royal Palace 6.25USD atau 25000 riel. Tidak ada charge tambahan untuk kamera. Karena sore itu saya mau ikut misa di gedung World Vision jadi saya tidak jadi masuk Royal Palace. Saya lalu diantar ke Russian Market yang katanya tempat favorit turis berbelanja. Saya kira pasarnya unik atau gimana gitu. Ternyata sama saja dengan pasar-pasar tradisional di Indonesia ^_^ tapi mungkin kalau buat turis bule tempat seperti itulah yang menarik.

Barang-barang di Russian Market mahal untuk ukuran kantong saya. Saya tadinya mau beli hiasan dari kayu tapi batal karena penjual buka harga 18USD. Bisa sih ditawar tapi misal menawar setengah hargapun saya masih anggap kemahalan ^_^ Saya cuma sebentar putar-putar Russian Market. Belum apa-apa saya sudah merasa bosan dan pengen balik ke HCMC. Saya tidak tahan dengan udara yang super panas dan lalu lintas yang super duper semrawutnya. Selain itu yang paling bikin sebel adalah penjual-penjual yang kasih harga lebih mahal ke orang asing.

Pulang dari misa di World Vision saya balik ke penginapan dan malamnya cuma jalan-jalan di sekitar penginapan saja. Sopir tuk-tuk tadi bilang kalau malam kurang aman jadi jangan jalan-jalan apalagi sendirian.


Hari ketiga

Jam 7 pagi saya keluar penginapan lalu jalan ke Central Market dan Royal Palace lewat Sisovath Quay. Di sepanjang Sisovath Quay banyak hotel, hostel dan cafe-cafe yang katanya kalau malam jadi tempat ngumpul turis-turis mancanegara. Saya sih tidak tau karena belum pernah ke sana malam hari. Setau saya kalau pagi dan sore banyak penduduk lokal yang nongkrong dan berolah raga di sana.

Dari Sisovath Quay saya menuju Royal Palace. Masih jam 9 pagi tapi panasnya benar-benar menyengat. Bule-bule aja pada payungan dan sebentar-sebentar berteduh. Saya yang anti matahari pilih jalan yang terlindung dari sinar matahari ^_^  Royal Palace sebenernya luas sekali tapi cuma 1/3 yang terbuka untuk umum. Cuma satu setengah jam saya di sana. Selain panas saya juga agak bete karena tidak boleh memotret interiornya Silver Pagoda.

Dari Royal Palace saya balik ke penginapan naik tuk-tuk bayar 1USD. Sopir tuk-tuk itu juga menawarkan tour tapi saya tolak. Saya sudah pengen balik ke HCMC dan saya lihat ada bis ke HCMC jam setengah 12. Saya langsung pesan tiket bis ke receptionist lalu beres-beres dan siap di depan penginapan jam 11 lebih. Tepat jam setengah 12 saya dijemput dengan minibus dan diantar ke agent tempat bis-bis besar mangkal. Ternyata penginapan saya join dengan Sapaco tour jadi siang itu saya ke HCMC naek bis Sapaco. Ongkosnya 12USD, lebih mahal dari bis yang saya naiki dari HCMC tapi kondisi bisnya lebih jelek dan kursinya juga kurang nyaman.

Jam 12 kurang bis perlahan meninggalkan PP menuju perbatasan Bavet – Moc Bai. Proses di imigrasi hampir sama dengan ketika saya masuk Cambodia hanya agak lama di imigrasi Vietnam karena setelah pasport dicap masuk Vietnam ada pemeriksaan lagi sebelum keluar gedung imigrasi. Untungnya semua lancar begitu pula perjalanan dari perbatasan sampai ke HCMC.

Bis sampai di Pham Ngu Lao Street sekitar jam 6 sore. Saya lalu mencari penginapan di jalan-jalan kecil yang menghubungkan Pham Ngu Lao Street dan Bui Vien Street. Baru sampai di ujung jalan ada ibu-ibu yang menawarkan kamar seharga 12USD semalam. Saya bilang mau liat kamarnya dulu lalu dia mengantar saya ke Nhan Thi Hotel. Walaupun namanya pakai hotel tapi bukan hotel. Bangunan di daerah itu dibangun bertingkat 5-7 lantai. Lantai 1 untuk salon, toko atau resto dan lantai-lantai atas ada kamar-kamar yang disewakan.

Begitu liat kamar di Nhan Thi Hotel saya langsung bayar untuk 2 malam. Kamarnya bersih banget, ada tivi, kamar mandi, kipas angin dan BALKON. Malam itu saya habiskan untuk nongkrong di balkon sambil melihat aktivitas penduduk lokal dan turis-turis yang lalu lalang.


Hari Keempat

Pagi-pagi saya keluar hotel lalu jalan ke Ben Than Market, City Hall, Kathedral dan Reunification Palace. Saya jalan kaki ketempat-tempat itu karena jaraknya tidak terlalu jauh. Kalau mau nyebrang jalan saya tunggu ada orang yang mau nyebrang juga jadi ada ‘teman’. Pernah saya nekat nyebrang sendiri dan hasilnya adalah kesrempet motor :(

Saya cuma sebentar di Ben Than Market karena saya tidak suka belanja jadi cuma motret-motret. City Hall tertutup untuk umum jadi hanya bisa motret exteriornya. Kalau di Notre Dame Kathedral waktu itu buka karena bukan weekend. Reunification Palace terletak di sebelah barat Kathedral. Tiket masuk 15000 dong. Di sini bisa liat mesin-mesin dan alat-alat komunikasi yang dulu dipakai untuk mengatur strategi perang. Reunification Palace ini tadinya merupakan Istana Kepresidenan Vietnam Selatan jadi di dalamnya ada ruang-ruang untuk menerima tamu kenegaraan bahkan ada juga mini theaternya.

Sebelum balik ke penginapan saya mampir ke PHO 24, resto yang menjual beef noodle makanan khas Vietnam. Rasanya menurut saya aneh hehe…

Jam 3 sore saya sudah sampai penginapan lalu istirahat. Malamnya saya jalan-jalan lagi ketempat yang tadi siang saya datangi. Tujuannya hanya untuk motret gedung-gedung itu pada malam hari. Saya agak terkejut ketika melihat kerumunan orang di depan patung Bunda Maria di depan Notre Dame Cathedral. Saya langsung ingat kalau malam itu adalah tgl 31 Mei, malam terakhir di bulan Maria. Bodohnya saya selama bulan Mei saya sama sekali tidak ingat untuk doa Rosario…


Hari kelima

Pagi itu saya cuma jalan-jalan di taman disepanjang Pham Ngu Lao Street. Tadinya mau cari sarapan ternyata kalau pagi tidak ada penjual makanan di taman. Saya lalu makan di cafe deket penginapan.

Menunya kebanyakan makana ala barat dan harganya cukup mahal. Saya pesan scramble egg with bread seharga 53000 dong. Setelah makan saya balik ke penginapan, beres-beres lalu tidur sebentar. Jam 10 check out. Saya jalan kaki ke terminal bis untuk cari bis ke bandara. Sekali lagi saya harus jalan lebih jauh cari yang gampang disebrangi. Sampai di terminal saya tanya ke petugas di mana bisa dapat bis ke bandara.

Mungkin karena tidak ada yang bisa bahasa Inggris jadi mereka hanya menunjuk arah keluar terminal. Semrawut banget suasana di terminal bis itu. Saya tadinya sudah menyerah dan mau naek taksi tapi kemudian saya liat ada bis no 152. Saya tanya ke sopir ‘Airport?’ dan dia menjawab ‘Yes’. Lega banget akhirnya bisa dapat bis ke bandara. 20 menit kemudian saya sampai bandara. Sempat puter-puter dulu karena counter check in belum buka.

Jam 2 siang pesawat take off dan landing di Changi jam 4 sore. Leganyaaaa…. lebih lega lagi karena setelah itung-itung biaya jalan-jalan ke HCMC dan PP (5 hari 4 malam) total kurang dari 200SGD (Rp. 1.300.000) tentunya tidak termasuk tiket pesawat ^_^

About Nia

Don't judge the book by its cover benar-benar berlaku untuk Nia ini. Posturnya sama sekali tidak menggambarkan nyalinya. Blusukan sendirian ke seluruh dunia dilakoninya tanpa gentar. Mungkin hanya North Pole dan South Pole yang belum dirambahnya. Catatan perjalanannya memerkaya wawasan bahwa dunia ini benar-benar luas dan indah!

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

54 Comments to "Jalan-jalan Murah ke Ho Chi Minh City dan Phnom Penh"

  1. tjiptadinata effendi  30 January, 2014 at 04:05

    wah ,,sebuah reportase perjalanan yang lengkap…terima kasih ya

  2. Jusni  22 August, 2012 at 08:17

    Asyik, bs jd panduan buat jalan ke Vietnam, murah meriah

  3. glenno  7 January, 2012 at 01:38

    Sist, saya dan istri ada rencana mau jalan2 ala backpacker ke vietnam mungkin ada advice utk kami yg sebelumnya blm pernah kesana ? krn dari ulasan sist yg sdh sy baca sepertinya sist sebelumnya sudah pernah kesana sehingga jg jalan2 ke PP, menurut sist apakah sebaiknya selama di Vietnam kami explore daerah2 wisata disana dan apakah sistem transportasi disana bisa memungkinkan kami mudah bolak-balik dari satu tempat ke tempat lain (rencana perjalanan kami adalah 4 hari 3 malam).

    terima kasih sist.
    glen

  4. nia  3 December, 2011 at 21:19

    halo Yahya dan Anonymous… di PP sy gak nyoba makanan khasnya… cm makan nasi goreng yg ktnya ala sana tp rasanya sama aja ma nasgor Indonesia hahaha… klo di HCMC sy cm nyoba Pho dan hhhmmm… roti apa itu ya yg diisi macem2… rotinya keras tp enak

  5. anonymous  1 December, 2011 at 22:13

    hi nia..

    mantep nih liputan perjalanannya.. kebetulan lagi mau ke cambodia n jarang yang posting detail perjalanannya sama foto” keadaan di sana.. biasa cuma ketemu tempat wisatanya doank.. hehe.. ngomong”, waktu di PP nyobain makanan khas khmer ga? ada tempat makan yang recommended?

  6. yahya sakri  1 November, 2011 at 21:10

    banyak cerita nya di phonm penh dan ho chi min. ana baru pulang ahad yang lalu.bagus sekali.

  7. yahya sakri  1 November, 2011 at 21:07

    saya baru pulang dari phonm penh dan ho chi min , banyak tempat ana melawat bersama 32 orang .duduk di hotel new york. di hotel tersebut ada restaurent halal D wau namanya . yg ampunya orang malaysia makan nya bagus sekali. e mail nya. [email protected] . ada restaurant saya pergi lupa namanya. di ho chi min juga bagus banyak restorent halal.

  8. nia  20 October, 2011 at 08:46

    terima kasih kembali pak Yahya… salam

  9. pak yahya  18 October, 2011 at 16:50

    insaallah saya dari kelang selangor malaysia akan ke Ho Chi Min dan Phonm Penh 25.Okt . ini terima kerana informasinya. bagus. wasallam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *