Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Spider Web of Manggarai

Monday, 28 June 2010

Viewed 5626 times, 1 times today | 22 Comments |

Anastasia Yuliantari – Ruteng, Ambor


Salah satu keunikan budaya Manggarai adalah system pembagian tanah komunal (Lingko) dengan bentuk moso (jaring laba-laba). Tiap moso mempunyai batas nyata yang disebut langeng. Batas-batas itu merupakan jari-jari dari lodok (pusat kebun) sampai cicing (batas terluar kebun). Lurus tidaknya langeng tergantung pada kemampuan ata torong (orang yang menancapkan kayu batas saat pembuatan moso).

Pembagian tanah ini dilakukan oleh tua teno dengan menancapkan haju teno di pusat kebun, kemudian ditarik garis dengan menggunakan tali yang terbuat dari ijuk atau kulit haju teno itu sendiri. Haju teno adalah kayu yang ketika masih basah lunak batangnya, namun bila telah kering menjadi keras dan sulit dibelah.

Pembukaan kebun komunal ini menurut Drs. Dorotheus Hemo dalam buku Sejarah Daerah Manggarai NTT, dilakukan oleh warga kampung yang dipimpin oleh tua adat setempat. Luas lingko tergantung dari kemampuan warga untuk membuka hutan di sekitar tempat tinggal mereka.  Semakin mampu warga kampung, semakin luas lingko yang dimiliki.

Tanah garapan ini bukan tanpa batas-batas yang pasti. Setiap anggota kampung atau suku mempunyai daerah territorial sendiri yang ditandai dengan pohon atau bentang alam yang memang sudah ada sejak semula, seperti sungai dan ngarai (ngalor). Setiap anggota kampung atau klan (wa’u) mengetahui batas-batas yang sudah ada dan pelanggaran batas dapat menimbulkan disharmoni di antara kelompok tersebut.

Bentuk jaring laba-laba bukan tanpa makna. Dalam kosmologi masyarakat Manggarai, laba-laba merupakan lambang kerja keras, ketelitian, dan ketekunan. Ranggong atau laba-laba juga tidak pernah mencuri seperti tikus, sehingga orang yang tak mau dikejar-kejar seperti tikus hendaknya bersikap jujur. (Anton Bagul, Kebudayaan Manggarai, Ubaya Press)

Sawah berbentuk jaring laba-laba ini dapat ditemui di seluruh Manggarai, tapi yang paling dapat diakses oleh para wisatawan adalah daerah persawahan di sekitar Cancar, Kecamatan Ruteng, kira-kira berjarak 12 KM dari Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai. Jarak itu harus ditempuh lebih lama dari rata-rata jarak tempuh di Pulau Jawa, karena kondisi topografi Manggarai yang berbukit-bukit sehingga jalan-jalan di wilayah ini berlekuk-liku mengikuti bentang alamnya.

Tak ada penunjuk arah menuju tempat itu. Para wisatawan dari seluruh penjuru dunia yang hendak menyaksikan keunikan ini harus bertanya pada sopir yang membawanya dari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Setelah sampai di wilayah Golo Cara, kendaraan dapat diparkir di kaki bukit, di bawah rumpun bambu yang sejuk. Setelah itu, para wisatawan yang kebanyakan tak didampingi pemandu, dipersilahkan menaiki bukit melalui jalan setapak. Bagi yang tak suka hiking, napas akan sedikit ngos-ngosan karena bukit itu cukup tinggi walau tak bisa dibandingkan dengan beberapa tebing terjal yang ada di wilayah Manggarai lainnya.

Setelah mencapai Rumah Gendang Cara (Rumah Adat kampung Cara), para pengunjung harus melipir di bawah emperan Rumah Gendang ke arah bagian tertinggi bukit itu. Jarak puncak bukit dari Rumah Gendang kira-kira tiga menit perjalanan. Anak-anak kecil penghuni kampung siap mengantar para wisatawan ke tempat itu tanpa upah. Tanya saja di mana tempat terbaik untuk menonton sawah berbentuk jaring laba-laba, langsung saja mereka akan membawa kita menerobos ilalang dengan riang gembira.

Di puncak bukit itulah kita akan melihat keindahan jaring laba-laba dengan berbagai ukuran. Lembah yang oleh masyarakat Manggarai biasa disebut bea tampak rata sejauh mata memandang. Barisan perbukitan akan tampak di kejauhan sebagai latar belakang. Bila musim mengetam (ako) telah dekat, seluruh hamparan akan tampak kuning keemasan, sementara bila musim tanam (rede) baru saja berakhir, kehijauan akan menyergap pandangan, memberi kesejukan.

Karena tempat itu belum menjadi tempat wisata resmi yang dikelola dengan baik, tak ada fasilitas seperti tempat wisata pada umumnya. Penunjuk arah, tempat beristirahat dan menikmati pemandangan, dan toilet tak terdapat di sana. Beberapa warung di kaki bukit menyediakan air mineral produksi Ruteng dan biscuit produk luar daerah. Selain barang-barang itu, pengunjung harus pergi ke Ruteng untuk membelinya.

Bila ingin menikmati pemandangan jaring laba-laba bersama air terjun terindah di Manggarai, pengunjung harus melangkah lebih jauh ke pedalaman dengan menggunakan truk atau bus kayu ke daerah Tengku Lese Kecamatan Rahong Utara. Hanya saja, semakin jauh kita masuk ke jantung Manggarai semakin minim fasilitas yang tersedia. Namun justru di daerah yang masih perawan ini, yang menurut sebagian orang mungkin hanya ada dalam khayalan para penulis, terletak keindahan Manggarai yang sesungguhnya.

Share This Post

Posted by Monday, 28 June 2010 on 03:00.

Categories: Agriculture. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

22 Responses to “Spider Web of Manggarai”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 22
    timoteus marten Says:

    Saya bangga jd ata Manggarai, sampai dunia kiamat pun saya tetap orang manggarai. Manggarai manise, tana congkasae, ledong dise empo agu mbate dise ame. Mai riang cama tana agu adat dite, Manggarai.

  2. 21
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Saya kirain cuma di gurun Libya saja ada plantattion berbentuk lingkaran… Ternyata di sini ada toh. Hebat bisa menemukan fakta ini. Ini artnya, masyarakat lokal sana tahu apa yang namanya phi, konstanta untuk menghitung luas lingkaran, sebebsar 3,149079584424960 atau 22/7.

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)