Yogya…never ending Asia…

Wahyu Wibowo


Sambungan Serendipity dan Run Baby…Run Away…


“Lampu Senthir Teteg Spoor, sumebaring cahyo ing jagading angkoro , mantebing ati soho tindak tanduk ingkang olo…”

Hari masih pagi ketika kicau burung merdu menyapaku. aku sedang menikmati semangkuk besar bubur sop ayam yang lezat di taman simpang dekat Malioboro mall. Di tengah cuaca yang redup-redup saja karena mendung begitu pekatnya, yang menyisakan semilir angin dingin membelai tubuhku. Rasanya semangkuk kehangatan bubur sop ayam cukup sempurna melindungiku dari sengatan cold dan flu.

Cobalah rasakan potongan potongan tipis cak wey nya yang menyentuh lembut bibir bibir yang lapar gelisah. Ketika potongan potongan ayamnya yang tebal, kacang kedelai yang gurih, kerupuk yang beraroma udang menyatu bersama kuah sayur kuning dan lembutnya bubur nasi membelai sayang sekujur lidahku. Ditambah sentuhan kopi susu yang mampu mencerahkan pandangan mataku yang hari itu sedikit berkabut. Hey… seorang Brad Pitt lewat pun rasanya tak akan mampu memalingkan perhatianku dari bubur sop ayamku yang lezat ini. Bukan cuman aku seorang yang khusuk dengan intimacy pagi hari itu. Banyak wajah wajah pribumi yang telah siap menatap mentari yang singgah sekedar untuk memberi sentuhan rasa pada perut mereka. Tidak cuma dengan bubur sop ayam, banyak juga jajanan lain yang ditawarkan para pedjoeang pedjoeang boemi poetra.

Malioboro…. Mungkin telah banyak dari kita yang tahu seluk beluk daerah ini. Siapapun yang pernah datang ke Yogya wajib rasanya menyapa denyut kehidupan yang ada di sana. Malioboro begitu identik dengan Jogja, tak terpisahkan seperti lalapan dan sambel terasi, mendoan dengan cabe, ataupun  sego pecel dan peyek kacang. Tidak siang ataupun malam selalu ada warna yang terpancar di sepanjang jalan ini.

Ada jantung kota Yogya yang bisa kita nikmati iramanya setiap hari di sini. Letaknya yang tak jauh dari stasiun Tugu kota juga membuatnya ramai disinggahi wajah wajah dari beragam kota di jawa. Tuan tanah tuan tanah diJakarta pun banyak yang menghabiskan liburannya di kota nan teduh Yogyakarta. Mereka mencari suasana yang tak mereka temukan di tempat lainnya di dunia…sebuah suasana keakraban yang meneduhkan jiwa jiwa yang lelah setelah sekian lama tak bisa lepas dari himpitan dan deraan hidup juga kerja.

Ada 4 sejarah penting tentang asal muasal kata Malioboro. Yang pertama, Konon katanya, tempat yang letaknya 800 meter dari Keraton Jogjakarta ini dulunya selalu dipenuhi karangan bunga setiap kali keraton mengadakan sebuah perayaan dan ritual tertentu. Pemandangan ini yang menjadi dasar penamaan Malioboro. Malioboro, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Karangan Bunga”. Cukup logis juga penamaan ini dalam sudut pandang sejarah.

Selain itu, Ada juga sejarah yang menyebutkan nama Malioboro diambil dari nama seorang Duke Inggris yaitu Marlborough yang pada menduduki kota Jogjakarta dari tahun 1811M hingga 1816M. Sejak zaman dulu, Malioboro telah menjadi pusat kota dan pemerintahan. Berbagai gedung sejarah menjadi saksi perjalanan Malioboro dari sebuah jalanan biasa hingga menjadi salah satu titik terpenting dalam sejarah Jogjakarta.

Di antaranya adalah Gedung agung yang didirikan pada tahun 1823M dan merupakan rumah Residen Belanda pada saat itu, Benteng Vredeburg yang merupakan benteng peninggalan Belanda yang didirkan pada tahun 1765M yang kini menjadi museum, Pasar Beringharjo yang merupakan salah satu pasar terbesar di Jogjakarta hingga kini, dan Hotel Garuda yang menjadi tempat para pembesar dan Jendral-Jendral Belanda pada masa itu menginap dan berkumpul selama berada di Jogjakarta. Hingga kini, bentuk bangunannya masih menyisakan berbagai potert kenangan dari kejayaannya pada masa dahulu. Dan masih banyak gedung bersejarah lainnya bertebaran di tiap sisi kota Yogya.

Ada juga yang mempercayai kata Malioboro berasal dari kata “Maliya saka bara” artinya adalah mulia dari pengembaraan. Makanya sampai sekarang Malioboro menjadi simbol kemuliaan atau kemakmuran orang yang berwisata di Yogya. Banyak pedagang yang menawarkan cahaya hidupnya di sana.

Selain itu ada juga asal usul yang agak sedikit nyeleneh tentang kata Malioboro konon katanya dahulu ada saudagar cina nan kaya raya yang tinggal di sana pada jaman hindia belanda. Seseorang yang suka menebar cahaya kasih pada sesama. Dia berdagang barang kebutuhan sehari hari masyarakat sekitar sana.

Tokonya selalu saja ramai dikunjungi pembeli karena dia begitu suka memberi potongan harga khusus bahkan sering juga orang tak mampu di kasih barang gratis oleh saudagar itu. Disela sela ramainya orang, dia sering sekali berucap “ mali o borong…. “ ( maksudnya … ayo mari sini…. Borong saja…dengan logat cinanya yang masih kental ) awalnya hanya sebagai kata bergurau semata hingga lama lama kata itu diingat orang orang yang datang di tokonya. Lama kelamaan kata mali o borong berubah menjadi kata slengean Malioboro. Nah terserah anda mau mempercayai sejarah yang mana tentang asal usul kata Malioboro.

Hingga saat ini, Malioboro tetap memiliki kharisma yang begitu kuat sebagai sebuah tempat yang selalu menjadi centra setiap wisatawan yang datang mengunjungi Jogja. Malioboro tidak hanya menjadi surga bagi tangan tangan bercahaya ( shopping holic ) yang dapat berburu cindera mata unik dan menarik dengan harga yang cukup murah, disepanjang jalanan Malioboropun juga menyuguhkan cerita kehidupan yang menarik dari setiap sudut gangnya yang memiliki kekhas-an tersendiri. Ssstttt jangan sampai tersasar ke daerah sarkem atau pasar kembang yach karena di sana banyak lubang yang hobi berjalan jalan. Bisa panjang urusannya nanti.

Tidak hanya itu, ketika malam hari tiba Malioboro juga berubah menjadi kemilau surga bagi para seniman jalanan dan pemilik warung warung kaki lima yang berburu kepingan rupiah di sepanjang jalanan Malioboro. Ketika malam tiba dengan seketika jalan itu di penuhi oleh warung-warung lesehan dan angkringan yang menjadi tongkrongan wisatawan ataupun pribumi.

Selain untuk makan bermacam hidangan yang tersaji, ada juga yang acap kali datang hanya untuk sekedar memesan segelas kopi panas atau teh hangat sebagai suguhan di kala menikmati suasana malam Malioboro sembari mengobrol ke sana kemari yang sesekali diselingi tawa canda bersama sahabat ataupun teman yang baru di jumpainya. Para pengamen pun membawa peralatan yang komplit. Tak hanya sekedar gitar kopong. Bahkan ada juga beberapa mahasiswa seni yang nyambi di sana.

Yeah… para pengamen Yogya begitu berbeda dengan pengamen di tempat lainnya. Mereka begitu total berkarya tak hanya sibuk mencari uang semata. Mereka ramah menyapa kehidupan di kaki lima. Kita bisa memesan lagu apa saja yang kita mau, sepanjang mereka mampu mereka akan dengan senang hati meluluskan permintaan kita. Kita bisa bilang mereka adalah pengamen yang berjiwa budaya tinggi.

Yeah… ini hari keduaku berada di kota ini, aku harus sebisa mungkin menyamarkan diri dari orang orang papaku. Orang orang yang mungkin saja saat ini tengah menyamar sebagai penyapu jalan, sebagai gelandangan, sebagai pedagang kaki lima, sebagai wisatawan atau bisa juga dengan dandanan asli mereka berjas dan celana hitam, sepatu pantovel hitam dan tak ketinggalan kaca mata hitam. MAN IN BLACK

“ Oh Juned Reeves…. Andai ada dirimu menemani disisiku…. Mungkin aku tak akan secemas ini menghadapi MAN IN BLACK……..tapi memang salahku juga tak berkata sejujurnya saat awal kita berjumpa…… rasa malu membuatku menutup rapat rapat usaha pelarianku ini….. “

Pernah kah kamu membayangkan terpaksa menjadi orang lain?

Itu saja kalimat sederhana yang kini terngiang ngiang terus di kepalaku. Tak mungkin selamanya aku kemana mana bertopi yang dibenamkan dalam dalam di wajahku. Bisa bisa nanti ada orang yang curiga aku ini anggota teroris. Membayangkan sampai sejauh itu membuat hatiku kecut juga. Siapa juga yang mau berujung pada dentuman peluru densus 88 yang terkenal itu.

Belum lagi para anggota MAN IN BLACK telah dilengkapi gadget yang super duper canggih…. Mereka bisa mengenali seseorang meskipun sedang menyamar dengan baju badut sekalipun. Akhirnya kumasuki sebuah salon yang lokasinya tak jauh dari hotel tempatku menginap. Yups… sekarang waktunya untuk memulai make over. Sayang sebenarnya… aku sangat suka dengan gaya rambutku yang sekarang… yang sederhana dan bersahaja. Tapi apa boleh buat, aku belum mau pulang hari ini…. Aku masih ingin menikmati pelarianku saat ini.

Mula mula sekali rambut….. rambutku yang panjang hitam alami dan tergerai begitu mudah dikenali. Dari list yang yang ada pada counter potong rambut kupilih model emo hair style yang menyibak kesamping, itupun setelah cukup lama berpikir dan mendengar lelaki gemulai itu bercerita tentang model rambut apa saja yang ada di salonnya. Setelah di bleaching, rebonding dan colouring…. Rambutku kini berwarna hijau. Yeah mudah mudahan saja tidak ada anak anak kecil yang iseng meneriakiku “ ada klepon…  ada klepon… jalan jalan “

Model bajuku pun kuganti, kini aku tampil penuh aksi seperti gadis gadis gothic yang eksotik. Seperti yang ada pada tokoh film X-MAN. Tak kalah cantik dengan bassist KOTAK yang aku kagumi.

“ oh Juned sayang…. Mudah mudahan engkau tak jatuh pingsan jantungan melihat penampilanku saat ini……ini hanya sebuah kamuflase semata … untuk sementara saja… sejujurnya akupun tak begitu suka perubahan ini “

Akhirnya selesai sudah make overku….. aku merasa seperti menjadi orang yang baru. Orang yang jauh berbeda dengan sosok pribadiku sebelumnya. Yeah meskipun aku masih belum bisa menghentikan kebiasaan burukku. Tak bisa menahan bila ada semur jengkol terhidang di depan hidungku. Apalagi setelah seharian duduk termangu di salon itu dan belum tersentuh irama makan siangku. Segera saja aku pergi mencari warung nasi dan memesan sebakul nasi hangat di warung yang tertata apik di dekat pasar. Duduk bersila bersama abang abang tukang becak dan mencoba berbaur bersama mereka. Wow sebuah pemandangan yang begitu kontras dengan gaya dandananku dan juga warna rambutku.

“ ealah….. sopo iki…. Bule nyasar tah…. Lah tapi koq doyan jengkol yo…wah nasinya pun sebakul wungkul…Tampang luar priyayi londo tapi isi hati pribumi aseli “ sebuah suara menyentilku.

Dalam hati aku hanya senyam senyum sendiri sembari meneruskan menyuapkan nasi sambil membalas sapaannya.

“ bule juga manusia… pak de…. Punya lidah yang bisa membedakan mana makanan surga dan mana makanan bumi….monggo toh bancakan mawon……wuenak iki… wuenak tenan…… “

Seketika semua abang becak pun tertawa lepas…. Malah ada yang mendadak tersedak jengkol sebesar ibu jari kingkong hingga buru buru minta air dari kendi ….. yeah sebuah awal untuk memulai suatu keakraban…. Eratnya sebuah persaudaraan dalam sebuah peradaban.…yups sebuah… “ JENGKOL’S BROTHERHOOD”

Kulanjutkan perjalananku berjalan kaki. Saat itu masih cukup sore, waktu yang sungguh tepat menikmati Yogya. Aku sampai di ujung jalan Ahmad Yani yang bersinggungan dengan jalan Senopati. Kulayangkan pandanganku kesekeliling dengan cepat, lalu aku duduk di bangku panjang berwarna hijau yang disediakan bagi para pejalan kaki untuk melepas lelah. Dibelakangku ada seorang gelandangan yang tertidur pulas di tepi sebuah pot bunga yang besar. Sebuah Koran lusuh menutupi wajahnya.

Terjuntai sebuah kabel earphone dari telinganya. Agak jauh lagi dibelakangku segerombolan anak-anak muda berpakaian serba hitam, lusuh, kotor, dengan rambut bergaya “punk jalanan” dan gitar ukulele butut yang dimainkan secara serampangan, menyanyikan lagu-lagu yang sedang “nge-trend” dengan suara yang lumayan sumbang. Ada juga seorang penyapu jalan yang sedang bekerja. Tapi herannya hanya disitu situ juga daerah yang disapunya. Memang banyak hal aneh di dunia ini….

Termasuk juga di Yogya. Di pojok perempatan jalan ke arah selatan yang menuju ke alun-alun, dengan gagah berdiri tiga buah bangunan peninggalan Belanda yang masih berdiri dengan kokoh. Berwarna putih, dengan lengkungan-lengkungan gaya gothic yang masih utuh. Gedung-gedung bersejarah itu kini telah berganti fungsi, yang disebelah timur digunakan sebagai Bank Indonesia, di tengah digunakan sebagai Kantor Pos, dan yang disebelah barat diseberang jalan, digunakan oleh BNI. Aku berdiri untuk mengambil gambar dari ketiga bangunan tersebut dengan HP.

Tunggu dulu… seketika aku tersadar, jiwa pelarianku mencium adanya bahaya yang sedang mengintai. Tak sadar detak jantungku pun menjadi kian memburu. Seperti dikejar kejar kereta api hantu. Tak mungkin ada seorang gelandangan punya earphone, dan tingkah penyapu jalan itu seperti baru hari itu saja menyapu jalanan…lebih banyak canggungnya. Kulirik tangannya pun halus terawat tanpa ada urat urat kasar yang biasa menyembul keluar seperti kebanyakan penyapu jalan. Ough… cepat sekali MAN IN BLACK bekerja, pantas saja mereka dibayar mahal oleh papahku, aku harus bisa keluar dari situasi ini, aku belum mau pulang hari ini.

Hey untunglah ada penunggang motor mio yang sedang berjalan perlahan melintas di depanku. Sekarang atau kembali pulang… itu saja yang ada dibenakku lalu langsung saja dengan nekad aku meloncat ke belakang motor dia sembari gugup berbisik padanya.

“ cepat pergi bang…tolong aku….  kemana saja terserah…… aku mau di culik…tolong aku bang…. Please helb…helb me…. !!! “

Dan seketika motor mio itupun memacu kecepatannya di atas rata rata, meninggalkan gelandangan dan penyapu jalan yang segera berlari memburu berusaha menangkapku dan ketika motor mio itu sudah jauh melaju segera mereka masuk kedalam sebuah mobil hitam yang telah menunggu di kejauhan.

Dengan kecepatan dia atas 170 km/ jam ( maklum saja motor mio ini sudah di ulik….. jadi bisa lari kuenceng temen ), motor telah meninggalkan jauh para pengejarnya. Ber zig zag ria melintasi tumpahan manusia yang berjubel di jalanan. Menimbulkan begitu banyak kepanikan. Hemm… si abang ternyata lihay juga mengendalikan laju si mio… tak beda jauh dengan velentino rossi yang sedang berpacu untuk menjuarai motoGP… Kejar kejaran itu kini telah Melewati rute Jl. Jend A Yani – Jl. Malioboro – Stasiun Tugu Yogya – Jl. Pasar Kembang – Jl. Jagran Lor – Kantor Samsat – Jl. Tentara Pelajar – Jl. Pangeran Diponegoro – Tugu Yogya – Jl. AM Sangaji – Jl. Monumen Yogya Kembali – Ringroad Utara – Jl. Magelang – Jl. Tentara Pelajar –  Kantor Samsat – Jl. Letjend S Prapto …. Hingga akhirnya kita sadar mobil telah jauh tertinggal dan menghilang di belakang. Huft akhirnya aku bisa juga sedikit bernafas lega tapi itu tak berlangsung lama. Tiba tiba saja…..

“ GUBRAGH…GUJGLEG…GUJLEG….… CIETTTTT… CIETTTT…. BRAK… BOOOMMM…. “

Sebuah mobil hitam itu lagi…..mendadak muncul lagi dari sebuah kelokan jalan sempit dengan suara rem yang diinjak kuat kuat meninggalkan bunyi memekakan telinga dan jejak hitam di aspal. Mobil itu tak bisa menguasai keseimbangan hingga untuk sesaat menabrak pos polisi yang untung saja tak berpenghuni. Rupanya mereka mencari jalan pintas setelah sebelumnya searching di google maps peta area Yogya. Seketika kita pun kembali kejar kejaran, hampir saja kita menabrak gerobak bakso yang muncul tiba tiba. Untung saja seperti seorang rossi, motor mio itu pun bisa dipacu meliuk liuk pada jalan jalan gang yang sempit. Entahlah sudah berapa banyak kegaduhan yang timbul dalam aksi kejar kejaran ini. Sungguh ini lebih seru dari pada melihat action fred dryer dalam film HUNTER di TVRI dulu.

Hingga akhirnya kita melanjutkan rute pelarian kita melalui di Jl. RE. Martadinata – Jl. Ikip Pgri – Jl. Patang Puluhan – Jl. Letjend S Parman – Jl. KH Wahid Hasyim – Pojok Beteng Kulon – Jl. Bantul – Ringroad Selatan – Jl. Parangtritis – Jl. Menukan – Pasar Karang Kajen – Jl. Tri Tunggal – Rsu Kodya – Jl. Sorogenen – Jl. Tegalturi – PMI Kodya Yogya .

Yeah sebuah rute pelarian yang panjang sebelum akhirnya kita masuk ke sebuah areal perkampungan. Sudah aman sekarang karena kini mobil hitam itu jauh ketinggalan. Lagipun mobil itu kini dicari karena telah menabrak pos polisi di simpang jalan tadi.

“ terima kasih banyak bang…….  Abang sudah menyelamatkanku dari sebuah usaha penculikan…. Sebuah usaha untuk mengembalikan aku pada papaku “ ucapku tak henti henti berterima kasih pada penunggang motor.

Perlahan dengan gerak slow motion dia melepaskan helm arai nya yang selama kejar kejaran menutupi seluruh wajah dan kepalanya, seketika nampak sebentuk paras wanita jelita yang mengibas rambutnya hingga jatuh luruh berderai, yeah kurang lebih mirip mirip iklan shampoo ketombe gitchu… sigap dia turun dari motor mionya dan meletakkan helm pada jok motornya. Dan dia mulai berjalan menghampiriku dengan langkah yang elegan. yups seorang wanita yang dari perawakannya seperti seorang mahasiswi yang sedang kuliah di Yogya.

“ tak apa apa… sudah selayaknya sebagai manusia kita saling bantu membantu dalam hal kebaikan…. Mungkin saat ini aku punya kesempatan untuk membantu dirimu…tapi mungkin di lain hari aku yang akan membutuhkan pertolongan dari orang lain……oh iya….namaku Shelby….. Sophia Shelby “ ujarnya tersenyum ramah memperkenalkan diri.

“ aku Elmira….senang bisa berkenalan dengan dirimu. “ ucapku seraya mengulurkan tanganku kepadanya dan kemudian memeluknya erat erat. Senang rasanya bisa menemukan teman yang mengerti semua penderitaan dan mau di ajak berbagi kesusahan. Sesuatu yang sangat jarang ditemui di Jakarta apalagi untuk seseorang yang baru dikenal. Kalau diJakarta mungkin aku sudah dikerjain habis habisan.

Akhirnya kita mencari sebuah warung untuk sekedar membeli es jahe segar yang bisa menghilangkan semua kepenatan dan kepanikan akibat dari aksi kejar kejaran seru di pusat kota Yogya barusan. Yeah seperti baru lolos dari sebuah lubang jarum saja.

“ hey Elmi… mengapa sampai terlibat dengan orang orang berkacamata hitam itu….seperti dalam film film cerita mafia saja “ Tanya Shelby penuh rasa ingin tahu.

Lalu mengalirlah cerita dari bibirku, sebuah cerita panjang tentang satu sisi kehidupan yang harus kulewati. Sebuah fase untuk membuatku lebih arif lagi berjalan di muka bumi.

“ hmmm untuk sementara… Elmi boleh koq tinggal di kost kostanku… karena mungkin sudah tak aman lagi untuk dirimu kembali ke hotel tempat dirimu menginap selama ini di Yogya. Dan untuk sementara lebih baik jangan pergunakan kartu kreditmu dulu yach…. Karena dari sana akan mudah terlacak jejakmu oleh orang orang MAN IN BLACK….. seperti yang barusan terjadi….. biarlah sementara ini aku menanggung biaya hidupmu dulu… tapi yach…. Hanya sebuah kehidupan yang jauh dari keseharianmu yang biasa terbungkus kata istimewa di lingkungan sebuah istana..kuharap engkau bisa bercahaya di sana “ ujarnya kembali.

“ Shelby… entah dengan apa aku akan membalas semua budi baikmu… barusan saja dirimu menolongku dari kepungan anggota MAN IN BLACK …. Kini engkau pula yang menjadi juru selamatku… menawarkan sebuah kehidupan untukku…diantara kepanikan dan kebingunganku… hmmmm jangan khawatir aku juga suka kehidupan yang sederhana…sekali lagi terima kasih Shelby…. Aku harus membalas dengan apa nih semua budi baikmu….saat ini aku hanya bisa menjadikanmu saudaraku……. “ ucapku penuh haru.

“ tenang saja… itu tak seberapa koq….. lagipula aku juga begitu ingin menikmati sensasi seperti cerita yang kini sedang engkau alami ini…… sebuah cerita petualangan seru…selama aku mengembara di sini… belum pernah kulihat kejar kejaran seru di jalanan Yogya…apalagi ini…aku bisa merasakannya sendiri..dengan motorku.. seperti cerita cerita petualangan yang biasa aku baca pada karya karya enid blyton saat aku masih kecil dahulu…. Cerita cerita tentang indahnya petualangan LIMA SEKAWAN…. SAPTA SIAGA… PASUKAN MAU TAHU…. Dan juga cerita cerita Alfred Hitchcock dan TRIO DETEKTIF……” ujarnya sambil tersenyum manis….

“ Hey betulkah engkau mau melakukan apa saja untuk membalas pertolonganku padamu tadi? “ Tanyanya dengan mata berbinar binary menyimpan misteri.

“ Apapun itu…. Pasti akan aku lakukan…ini janjiku…. Janji seorang PRAMUKA…..” ujarku mantap tanpa berpikir kembali.

“ Kalau begitu…. Malam ini temani aku menyantap hidangan para raja raja zaman dahulu…Hidangan yang penuh Kharisma…..lihat saja…katanya banyak juga pesepakbola dari afrika yang bermain di Indonesia sungguh suka hidangan ini… SEMUR JENGKOL !!!! “ ujarnya sambil tertawa.

“ HAHH ?  JENGKOL Again ?  OMG !!!!….. OKELAH KALAU BEG..BEG..BEG…BEGHITU…!!!!….” dan aku pun langsung lemas pingsan dengan suksesnya.


( bersambung )


Ilustrasi: matanews

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *