Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Musim Bukan-bukan (Awal Hancurnya Pertanian Dunia)

Tuesday, 29 June 2010

Viewed 1601 times, 2 times today | 15 Comments |

Cinde Laras


“Musim panas di Indonesia berawal di bulan April hingga bulan Oktober, musim hujan berawal di bulan Oktober hingga bulan April”….. Preeeet…..!!

Lihat iklim yang ada sekarang di negara ini…. Bulan Juni sudah menjelang usai, dan cuaca masih saja tak menentu. Latah mengekor kebijakan pemerintah yang tak pernah tuntas memutus segala macam perkara. Selalu tanggung memutuskan apakah seseorang bersalah atau tidak. Ketika sebuah artikel di koran Sindo hari ini, Sabtu, 19 Juni 2010 di halaman 16 memasang judul “Indonesia Alami Kemarau Basah”, kedua alis jadi bertemu di tengah. Ini istilah yang tidak main-main, “…Kemarau Basah” ? Jadi terpikirkan istilah lain seperti “Kering Tempe Basah”, “Kue Basah”, “Batuk Basah”, dan bahkan “Mimpi Basah”. Dua yang disebut terakhir itu tentu saja bukan nama makanan :D

Masih ingat lengkingan khas Alm. Delly Rollies yang menyanyikan lagu “Kemarau” ? Kalau tidak ingat, saya tuliskan kembali sebagian syairnya….

…panas nian kemarau ini
rumput-rumputpun merintih sedih
mereka tak berdaya di terik sang surya
yang panas bagai dalam neraka….

Betapa dahsyat !, meski agak heran bagaimana sang pencipta lagu bisa tahu seperti apa rasanya Neraka hingga bisa memperbandingkan dengan cuaca saat itu. Sebegitu panaskah ? Sekilas ingatan kembali ke tahun 2009 yang lalu, saat wilayah bumi pertiwi ini mengalami kemunduran musim penghujan. Masih terbayang dengan jelas bagaimana panasnya bulan Nopember yang seharusnya sudah mendingin dengan datangnya butiran hujan. Bahkan peranti AC di rumah kami pun sampai termehek-mehek mengatasi panasnya ruang tidur di siang hari. Puanas pol !

Yang terjadi kemudian adalah juga mundurnya jadual kedatangan musim kemarau, sudah ditunggu-tunggu banyak orang kok ya masih juga tidak menampakkan diri. Ini sifat khas manusia, kalau musim hujan yang diharapkan ya musim kemarau, kalau musim kemarau ya yang diharapkan datangnya si musim hujan. Betul-betul tidak mau bersyukur (kata para ustadz). Meski setelah dipikir-pikir, kekhawatiran banyak orang akan kacaunya kedatangan musim ini cukup bisa diterima nalar. Mulai dari kacaunya musim tanam bibit, kacaunya musim panen tanaman pangan, kacaunya pengadaan “SAPRODI” (SArana PRODuksI) usaha tani, berantakannya musim hajatan, amburadulnya penjualan produk minuman, juga termasuk kacaunya acara liburan kita dengan anak-anak yang mau tak mau harus dijalani dalam cuaca tak bersahabat, inilah masa wolak-walik ing jaman.

Ketika mendengar celetukan yang dilontarkan si anak sulung yang lumayan terganggu dengan ngawurnya musim sekarang dengan komentar “Di Indonesia sekarang ini gak ada musim !”. Saya cuma bisa manggut-manggut. Kenyataannya memang saat ini, dalam penilaian saya, yang ada cuma “Musim Bukan-Bukan”. Disebut termasuk musim hujan juga bukan (karena sudah melewati April), tapi dikatakan musim kemarau juga bukan (karena masih hampir setiap hari ada hujan). Kalau sudah begini, tak ada satu ilmu pun, yang bersinggungan dengan masalah iklim di dunia yang sudah dipelajari masyarakat selama ini, bisa dijadikan pedoman untuk merencanakan program. Kalau programnya saja tidak bisa disusun, apa jadinya pemenuhan kebutuhan pokok dalam negeri dan produk ekspor pertanian kita ? Gambaran bayang-bayang awal kehancuran pertanian di seluruh dunia ini pun bisa saja terjadi….

Kekacauan iklim memang sesungguhnya tak cuma terjadi di sini. Nun di London telah terjadi banjir bandang yang telah merenggut nyawa belasan orang. Begitupun di Perancis, Amerika, Australia, China, bahkan kabar terakhir di Orchard Road, Singapura juga sudah terjadi banjir yang menenggelamkan setidaknya 50 cm permukaan perbelanjaan di pusat kota. Tragedi ? Ulah siapa ? Rame-rame negara-negara di dunia menyalahkan global warming karena ulah para penebang hutan liar yang sudah menggunduli hutan di daerah tropis yang sudah ditunjuk sebagai wilayah paru-paru dunia. Tak peduli bila kebijakan penunjukan itu amat pro-barat karena tidak berlaku setara dengan mempertahankan hutan di kawasan mereka sendiri, yang seharusnya sama pentingnya dengan hutan yang ada di daerah tropis kita ini.

Ya sudahlah, barangkali memang harus dilalui dengan cara begini. Mungkin sudah saatnya kita berusaha dengan memakai pakem yang baru, bukan lagi memakai perhitungan tanggal. Sialnya, hampir semua tanaman hanya bisa dibudidaya dengan mengacu pada penanggalan yang ada.

Kalau sudah begini, sebaiknya kita tanam apa ? (Terdengar celetuk seorang aktris pengiklan usaha real-estate ternama di TV : “Harga apartemennya cuma 1,4 M ! Benar-benar usaha yang menjanjikan ! Tanamkan investasi anda di sini !”). Hmm…. Ada yang minat makan buah apartemen ?


Ilustrasi: chapmannews wordpress

Share This Post

Posted by Tuesday, 29 June 2010 on 01:16.

Categories: Agriculture. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

15 Responses to “Musim Bukan-bukan (Awal Hancurnya Pertanian Dunia)”

Pages: [2] 1 »

  1. 15
    HN Says:

    Tante, agak njilmet memang masalahnya. Kalau mau diurai persoalannya, memang bukan tanggung jawab satu orang saja, atau pemerintah saja, atau perusahaan -perusahaan besar saja yang telah diwajibkan untuk mengalokasikan keuntungannya buat CSR.

    Saya agak respek terhadap yang dilakukan oleh Raja Bhutan yang lama (karena raja sekarang muda). Sang Raja melaunching perpektif yangmenurut saya untuk resist terhadap globalisasi yang dikenal Growth of National Happiness. Satu diantara indikator atau upaya yang dilakukan adalah lingkungan (temrasuk penanaman hutan). keitka banyak negara di dunia kehilangan luasan lahan hutannya, sebaliknya, Bhutan ;luasan hutannya meluas.

  2. 14
    Cindelaras Says:

    @Sumonggo : Aku sudah ikutan kuwalik kok masih gak keduman yo, Pak ?

    @Handoko W : Setuju sama Pak Han, biarkan yang muda yang memimpin ! Tapi jangan ikutan jadi lupa…

    @P@sP4mPr3s : BUAH opo kuwi ? Kayaknya ini khusus konsumsi pria yo ?

  3. 13
    Cindelaras Says:

    @nevergiveupyo : On the contrary, I agreed with you. Global warming bukan melulu karena hutan ditebangi penduduk sekitarnya, tapi lebih karena iming-iming rupiah yang ditawarkan para cukong pada mereka yang notabene punya latar belakang ekonomi tingkat bawah. Tak mungkin mereka tak tahu akibat penggundulan hutan, bukankah musibah alam seperti tanah longsor dan banjir itu adalah mereka-mereka juga yang akan mengalaminya ? Aku kira keputusan menebang hutan itu cukup jadi dilema buat mereka, tapi mereka lebih memilih isi perut anak-istri yang terus bernyanyi tiap hari. Wahai Pengusaha !, berikan lahan rejeki yang baik dan bermanfaat bagi mereka ini !, jangan jadikan penduduk miskin ini benalu bagi tanahnya sendiri….

  4. 12
    Dj. Says:

    Mbak C.L….
    Di Jerman juga demikian…
    Banyak yang mengeluh, tapi merubah cuaca juga tidak ada yang bisa, ya jadi dinikmati saja….
    Hari ini di Mainz, sudah mencapai 32°C dan hari Jumat nanti diperkirakan, akan mencapai 36°C….
    Kalau sudah begini, di sawahpun banyak yang males kerja, alasannya tidak bisa mikir…hahahahaha….!!
    Dan anak-anak sekolah, kadang diliburkan dan merak diminta untuk ke Swimmbad…..
    Dan juga banyak orang tua yang tekanan jantungnya lemah, merasa sangat sulut untuk bernapas….
    Biasanya kalau sudah begini juga banyak orang tua yang kolaps….
    Dj. minggu ini juga tidak berani fitness, karena tidak bergerak saja sudah keringaten…hahahahaha….!!!
    Salam manis dari Mainz….

  5. 11
    ira,kanada Says:

    Cinde Laras ,
    hehehe… musim -bukan-bukan ada di-mana-mana koq.
    Bulan lalu kami masih mengalami empat musim dalam sehari. Mboten-mboten saja ya.
    The weather man nya sampai tersipu-sipu di- pisuhi orang. Nikmati saja yuk…

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)