Wednesday, 30 June 2010
Handoko Widagdo – Solo
Menanggapi kegalauan Anastasia Yuliantari di Ruteng, Flores, tentang kacang yang diserang tikus, (http://baltyra.com/2010/06/23/kebun-kacang-dan-romantika-petani/), berikut saya tuliskan pengalaman saya bergelut dengan tikus di wilayah-wilayah pertanian dekat hutan.
Wajahnya menakutkan. Keluarnya malam hari. Suaranya membuat bulu kuduk berdiri. Namun jangan salah. Burung hantu bukanlah makhluk jahat. Burung hantu adalah sahabat petani. Burung hantu adalah predator alami hama tikus. Jadi mari kita pelihara burung hantu untuk mengusir hantu kelaparan.
Tikus adalah salah satu hama tanaman pertanian yang sering merugikan. Hama tikus tidak memilih-pilih jenis tanaman. Hampir semua jenis tanaman pertanian diganyangnya. Tikus bisa menimbulkan kerugian yang dahsyat karena perkembangan populasinya yang sangat cepat. Sudah sering tikus menimbulkan kelaparan karena serangannya yang sangat ganas terhadap tanaman pangan.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas tikus. Berdasarkan pengalaman, tikus hanya bisa ditekan populasinya jika masyarakat, utamanya petani, melakukan gerakan pengendalian secara serentak dan terorganisir. Namun demikian, kadangkala, gerakan pengendalian serentak dan terorganisir terkendala oleh kondisi geografi atau kondisi demografi. Pada wilayah-wilayah di mana jumlah petaninya sedikit, atau lahannya terlalu luas, pengendalian serentak dan terorganisir sering tidak bisa berjalan dengan efektif. Apalagi jika lahan pertanian tersebut di wilayah geografi yang menyulitkan untuk aksi pengendalian; misalnya di daerah dekat hutan atau dekat padang. Pengendalian dengan cara gropyokan, yang biasanya efektif digunakan di persawahan, tidak akan berhasil karena tikus mempunyai banyak tempat untuk melarikan diri dan bersembunyi.
Cara yang efektif untuk mengendalikan tikus di wilayah dekat hutan dan padang baru bisa berhasil jika kita bisa merekayasa ekologi di wilayah di mana lahan pertanian tersebut berada. Rekayasa ekologi dilakukan dengan mengintroduksi musuh alaminya, yakni ular sawah dan burung hantu. Sayang sekali introduksi ular sawah belumlah banyak hasilnya dibanding dengan introduksi burung hantu. Ada beberapa jenis burung hantu yang menjadi pemangsa tikus secara efektif. Jika bisa didapatkan jenis lokal, maka akan lebih berhasil. Sedangkan Tyto alba adalah jenis yang sekarang sudah dibudidayakan untuk mengendalikan tikus.
Introduksi burung hantu bisa dilakukan dengan menempatkan sepasang atau beberapa pasang burung hantu dalam sarang buatan. Sarang buatan diperlukan karena burung hantu bukan tipe burung pembuat sarang. Biasanya burung hantu menempati sarang bekas burung lain. Setelah burung hantu tersebut tinggal di wilayah tersebut, maka biasanya mereka akan berkembang biak dan menjadi predator bagi tikus. Cara ini telah berhasil secara efektif di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dan di Ngawi, Jawa Timur (http://humasngawi.blogspot.com/2010/06/melawan-hama-tikus-dengan-burung-hantu.html). Selain di lahan sawah, pengembangan burung hantu juga telah digunakan untuk mengatasi tikus di kebun sawit Marihat, Pematang Siantar, Sumatra Utara.
Selain secara teknis, rekayasa sosial juga perlu dilakukan, yaitu dengan mendidik masyarakat sekitar wilayah lahan pertanian tersebut untuk tidak membunuh burung hantu. Sebab BURUNG HANTU ADALAH SAHABAT PETANI, BUKAN HANTU YANG MENAKUTKAN SEHINGGA HARUS DIBUNUH.
Foto 2 (poster) diambil dari World Education Indonesia
Foto 1 (burung hantu lokal) dibuat oleh Handoko Widagdo di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Foto 3 (sarang burung hantu buatan) diambil dari dokumentasi World Education
July 19th, 2010 at 08:55
Mbak Yuli, sebenarnya kalau disuatu wilayah masih ada burung hatu lokal, hanya pendidikan kepada masyarakat untuk tidak memburunya, dan menyediakan sarang buatan di sekitar ladang yang diperlukan. Sebab burung hantu adalah jenis yang tidak membuat sarang sendiri. Biasanya burung hantu menempati sarang bekas burung lain, atau lubang-lubang pohon yang bisa dipakai untuk menempatkan telornya. Semoga berhasil.
July 18th, 2010 at 21:46
Thanks artikelnya. Kami mau sosialisasikan pada para petani yang menjadi kelompok tani dampingan suami. Tapi, di mana, ya bisa dapet burung hantunya? karena masyarakat di sini menganggap burung hantu itu liar dan ga bisa dipelihara.
July 1st, 2010 at 13:48
kukuk, bunyi burung hantu
July 1st, 2010 at 10:54
Elnino, kalau yang pakai cuping jelas bukan Tyto alba. Kalau yang pakai kuping itu Alba yang diposting Kang Iwan. Nah untuk pendidikan pakai simbol BH pakai kacamata, itu karena BH dianggap wise.
July 1st, 2010 at 10:49
Pak Hand yang saya tanyain : BH lokal cuping telinganya keliahatan smtr tyto alba gundul, gitu…
Btw lambang SMP saya dulu BH juga tuh, maksudnya apa ya
July 1st, 2010 at 10:33
Pak Sumonggo, betul betul betul. Tapi kalau suaranya merdu tidak menakuti koruptor ya?
July 1st, 2010 at 10:32
Pak Handoko masing ingat lagu anak ini:
Matahari terbenam hari mulai malam
Terdengar burung hantu suaranya merdu
Uhuuu uhuuu uhuuu uhuuu uhu…….
Jadi anak pun diajari kalau burung hantu itu merdu, bukan menakutkan