Burung Hantu Sahabat Petani

Handoko Widagdo – Solo


Menanggapi kegalauan Anastasia Yuliantari di Ruteng, Flores, tentang kacang yang diserang tikus, (http://baltyra.com/2010/06/23/kebun-kacang-dan-romantika-petani/), berikut saya tuliskan pengalaman saya bergelut dengan tikus di wilayah-wilayah pertanian dekat hutan.

Wajahnya menakutkan. Keluarnya malam hari. Suaranya membuat bulu kuduk berdiri. Namun jangan salah. Burung hantu bukanlah makhluk jahat. Burung hantu adalah sahabat petani. Burung hantu adalah predator alami hama tikus. Jadi mari kita pelihara burung hantu untuk mengusir hantu kelaparan.

Tikus adalah salah satu hama tanaman pertanian yang sering merugikan. Hama tikus tidak memilih-pilih jenis tanaman. Hampir semua jenis tanaman pertanian diganyangnya. Tikus bisa menimbulkan kerugian yang dahsyat karena perkembangan populasinya yang sangat cepat. Sudah sering tikus menimbulkan kelaparan karena serangannya yang sangat ganas terhadap tanaman pangan.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memberantas tikus. Berdasarkan pengalaman, tikus hanya bisa ditekan populasinya jika masyarakat, utamanya petani, melakukan gerakan pengendalian secara serentak dan terorganisir. Namun demikian, kadangkala, gerakan pengendalian serentak dan terorganisir terkendala oleh kondisi geografi atau kondisi demografi. Pada wilayah-wilayah di mana jumlah petaninya sedikit, atau lahannya terlalu luas, pengendalian serentak dan terorganisir sering tidak bisa berjalan dengan efektif. Apalagi jika lahan pertanian tersebut di wilayah geografi yang menyulitkan untuk aksi pengendalian; misalnya di daerah dekat hutan atau dekat padang. Pengendalian dengan cara gropyokan, yang biasanya efektif digunakan di persawahan, tidak akan berhasil karena tikus mempunyai banyak tempat untuk melarikan diri dan bersembunyi.

Cara yang efektif untuk mengendalikan tikus di wilayah dekat hutan dan padang baru bisa berhasil jika kita bisa merekayasa ekologi di wilayah di mana lahan pertanian tersebut berada. Rekayasa ekologi dilakukan dengan mengintroduksi musuh alaminya, yakni ular sawah dan burung hantu. Sayang sekali introduksi ular sawah belumlah banyak hasilnya dibanding dengan introduksi burung hantu. Ada beberapa jenis burung hantu yang menjadi pemangsa tikus secara efektif. Jika bisa didapatkan jenis lokal, maka akan lebih berhasil. Sedangkan Tyto alba adalah jenis yang sekarang sudah dibudidayakan untuk mengendalikan tikus.

Introduksi burung hantu bisa dilakukan dengan menempatkan sepasang atau beberapa pasang burung hantu dalam sarang buatan. Sarang buatan diperlukan karena burung hantu bukan tipe burung pembuat sarang. Biasanya burung hantu menempati sarang bekas burung lain. Setelah burung hantu tersebut tinggal di wilayah tersebut, maka biasanya mereka akan berkembang biak dan menjadi predator bagi tikus. Cara ini telah berhasil secara efektif di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah dan di Ngawi, Jawa Timur (http://humasngawi.blogspot.com/2010/06/melawan-hama-tikus-dengan-burung-hantu.html). Selain di lahan sawah, pengembangan burung hantu juga telah digunakan untuk mengatasi tikus di kebun sawit Marihat, Pematang Siantar, Sumatra Utara.

Selain secara teknis, rekayasa sosial juga perlu dilakukan, yaitu dengan mendidik masyarakat sekitar wilayah lahan pertanian tersebut untuk tidak membunuh burung hantu. Sebab BURUNG HANTU ADALAH SAHABAT PETANI, BUKAN HANTU YANG MENAKUTKAN SEHINGGA HARUS DIBUNUH.


Foto 2 (poster) diambil dari World Education Indonesia

Foto 1 (burung hantu lokal) dibuat oleh Handoko Widagdo di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Foto 3 (sarang burung hantu buatan) diambil dari dokumentasi World Education

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

51 Comments to "Burung Hantu Sahabat Petani"

  1. penta kurnia putra  30 April, 2013 at 19:58

    Tyto alba benar-benar membantu para petani di derah kami di ponorogo jawa timur.

  2. Handoko Widagdo  1 February, 2013 at 13:17

    Bulbul si burung hantu, memang demikianlah adanya.

  3. bullbul  1 February, 2013 at 08:55

    burung hantu hanya korban dari kejelekan nama yg diberikan manusia knapa tidak burung malam atau tyto sumarso gt mengesankan hantu yg jahat kacian deh burung padahal manusianya yg malah jadi hantu koruptor dan ekploitasi alam !guk guk guuuuuuuuuuk

  4. bullbul  1 February, 2013 at 08:48

    sbenarnya alam telah mengajarkan ekosistem padahal pernah diajarkan di smp sampe jadi insinyur oertanian cuma orangnya aja yg ga mau pinter2 !

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.