Dieng

Hariatni Novitasari


Karena terlalu malam dan berkabut untuk naik ke Dieng, kami memutuskan untuk menginap di Wonosobo saja. Jujur, kami tidak berani untuk meneruskan perjalanan ke pegunungan itu. Pertama, jarak dari Wonosobo ke Dieng masih 26 kilometer lagi dan wilayahnya terjal. Kedua, kami berempat semuanya perempuan. Ketiga, kami tidak yakin kalau di sepanjang jalan Wonosobo Dieng ada lampu jalannya. Jadi, lebih aman kami memutuskan untuk bermalam saja di kota ini. Dan menurut Nadia, ada jembatan yang sedang diperbaiki dan letaknya di pinggir jurang.

Sepertinya, memutuskan menginap di kota ini bukan ide yang terlalu jelek. Kami berkesempatan untuk makan mie ongklok. Makanan khas Wonosobo yang berupa mie rebus yang disiram dengan kuah yang berasal dari rebusan kanji dan  ayam. Mirip kuah teriyaki-lah lah. Baru dikasih taburan ebi di atasnya. Dimakan panas-panas, lumayan enak. Sayangnya, karena kami kemalaman, sate sapi sudah keburu habis dan kuahnya tidak basah. Akhirnya, makan mie ditemani dengan kerupuk. Tidak cocok sama sekali! Tetapi, daripada makan mie dengan hambar. Jam 21.00, Wonosobo sudah seperti tidak ada kehidupan lagi.

Setelah googling untuk mencari alernatif hotel, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di hotel Surya Asia. Hotel ini terletak di Jl. Ahmad Yani, satu ruas dengan jalan yang menuju ke alun-alun. Hotel ini sebenarnya cukup nyaman, tapi kami pikir hotel ini terlalu overpriced. Untuk kamar triple ukuran standar harganya Rp. 475 ribu. Apalagi setelah tahu sarapannya. Hanya nasi goreng, telur ceplok dan tempe medoan. Itupun telor dan tempenya tidak cukup untuk semua tamu. Beruntung karena kami sarapan lebih awal, masih kebagian. Tetapi orang-orang yang datang beberapa menit setelah kami tidak kebagian apa-apa. Hanya tinggal nasinya saja…. Padahal, kami sudah membayangkan makan menu buffet lengkap!

Jam 7.30 kami cabut dari hotel. Ini rekor terbaik kami setelah beberapa kali liburan bersama. Biasanya, jam 10 pagi baru cabut dari hotel. Perjalanan ke daratan tinggi Dieng dipenuhi dengan pemandangan indah menakjubkan.

Ketinggian rata-rata pegunungan ini adalah 2000 meter di atas permukaan laut (DPL). Dataran Tinggi Dieng terdiri dari beberapa gunung (puncak) akibat eksplosi dari gunung induk pada saatn berakhirnya jaman es. Ada beberapa puncak pegunungan Dieng ini, antara lain Prahu (2.565 meter), Pakuwaja (2.345 meter) dan Sikunir (2.263 meter). Sangking luasnya wilayah daratan tinggi Dieng, lima kabupaten dilingkupi oleh pegunungan ini. Antara lain Wonosobo, Batang, Temanggung, Banjarnegara dan Magelang. Tapi, hanya ada dua desa induk di wilayah pegunungan ini. Yaitu, desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur yang masuk Kab. Banjarnegara dan desa Dieng Wetan, Kec. Kejajar yang merupakan wilayah dari Kabupaten Wonosobo. Dataran tinggi Dieng, selain bisa ditempuh dengan kendaraan pribadi, juga bisa ditempuh dengan kendaraan umum dari Semarang. Banyak sekali bis-bis kecil rutenya sampai mencapai ke lokasi-lokasi wisata.

Dieng berasal dari kata Di yang berarti tempat atau gunung, dan Hyang yang berarti Dewa. Pendek kata, Dieng merupakan tempat bersemanyamnya para dewa. Selain banyaknya puncak pegunungan, Dieng terkenal juga dengan kawah-kawahnya. Umumnya, kawah di Dieng merupakan kawah vulkanik aktif, dan beberapa mengeluarkan gas karbondioksida (CO2). Kawah yang terkenal antara lain Sinila dan Sikidang. Sinila menjadi terkenal karena pada 1979, kawah ini pernah meletus pada pagi buta dan mengeluarkan gas CO2. Penduduk desa yang panik segera berhamburan keluar rumah, dan justru menghirup gas CO2. Jumlah korban tidak kurang dari 149 jiwa. Sedangkan kawah yang “paling aman” dikunjungi adalah Sikidang.

Kebetulan langit juga sedang cerah. Warnanya biru membias di langit. Di pegunungan, nampak tanaman agrobisnis seperti kentang, kubis, cabe dan sebagainya. Tetapi, sayuran yang paling banyak dihasilkan oleh dataran tinggi ini adalah kentang. Dataran ini, memang sebagai salah satu daerah penghasil kentang terbesar di Indonesia.

Dieng juga terkenal dengan legenda bocah berambut gimbal. Kejadian seorang anak tiba-tiba berambut gimbal belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Hanya saja si anak awalnya terserang panas tubuh yang sangat tinggi. Lalu, kemudian rambutnya menjadi gimbal dengan pelan-pelan. Anak-anak berambut gimbal bisa mendatangkan keberuntungan atau kesialan dalam keluarga. Untuk memotong rambut gimbal si anak dibutuhkan prosesi atau upacara. Seperti, menuruti keinginan si anak, kemudian di rumah diadakan acara pengajian, baru dilakukan prosesi pemotongan rambut anak. Setelah itu, rambut si anak dilarung ke sungai, untuk membuang kesialan dalam keluarga.

Kami ditarik karcis selama dua kali. Pertama ketika keluar dari Kabupaten Wonosobo, kami membayar Rp. 2000,00 per orang. Di lokasi ini, sudah mulai bermunculan guide-guide yang menawarkan jasanya. Jarak dari pos ini sampai dengan “Dieng” nya masih lumayan jauh. Sekitar 20 km. Jalan mulai menanjak setelah pos ini. Bahkan ada sebuah jembatan di pinggir jurang. Ternyata, jembatan inilah yang dimaksudkan oleh Nadia. Di kiri dan kanan jembatan yang hanya cukup satu kendaraan ini, dijaga beberapa lelaki yang siap mengantur lalu lintas. Jalan-jalan di Dieng tidak begitu luas. Tak jarang, di sebelah kami langsung jurang. Tapi, pengalaman ini tidak semenakutkan ketika kami berempat tersesat di Gunung Batur, Bali (wilayah pura Mentrik/danau Kintamani). Di mana jalannya lebih berliku, naik-turunya lebih tajam, dan jurangnya berupa bebatuan cadas, serta tidak ada kendaraan yang lewat kecuali truk pengangkut pasir. Sebuah trip yang membuat perut kami semua menjadi sangat mulas dan terserang maag mendadak.

Tak berapa lama, kami sampai di menara pandang. Kami berempat turun. Any dan aku sekalian ngopi. Karena mulut rasanya sudah pahit karena belum mencicipi kopi. Rasanya, nyaman sekali berada di pegunungan sambil menikmati secangkir kopi. Kemudian perjalanan kami teruskan ke atas. Sampai di desa Dieng, kami sudah disambut dengan banyaknya para guide yang menawarkan jasanya. Seraya memanggil-manggil, “Guide Tante, Guide Tante…” Kami berempat antara kepingin ngakak dan melirik wajah ke kaca spion. What? Tante-Tante?

Tidak jauh dari tempat kami disapa “Tante”, ada tempat pembelian tiket masuk. Tiketnya, Rp. 12 ribu per orang. Itu merupakan tiket terusan untuk 4 tujuan, yaitu telaga warna dan pengilon, kawah Sikidang, Dieng Theater dan kompleks candi Arjuna. Di tiap tempat, tiket kami akan dilubangi. Karena tempat yang paling dekat dengan pembelian karcis adalah telaga warna, kami memutuskan untuk ke objek ini terlebih dahulu. Untuk bisa melihat telaga warna yang bagus, kami harus naik ke atas bukit. Setelah kami berjalan naik kurang lebih 15 menit, kami ternyata ada di atas puncak bukit, dan memang benar, dari tempat ini telaga warna tampak menakjubkan. Ditambah dengan pemandangan di kiri dan kanan, berupa pegunungan, rumah-rumah penduduk dan kebun sayuran. Baru setelah itu, kami turun ke bawah, ke telaganya. Kalau dilihat dari bawah, telaganya tidak tampak warnanya. Hanya tampat keruh saja.

Dari telaga warna, kami menuju ke Dieng Theater. Di tempat inilah, disajikan film tentang sejarah Dieng sekitar 30 menit. Cukup informatif sebenarnya film-nya, meskipun dibuat klasik seperti film Indonesia tahun 1980-an. Yaitu, sukanya meng-close-up bunga-bunga-an, dan menggunakan backsound lagunya Ebit G. Ade. Any yang kebosanan dengan film itu, memutuskan untuk tidur sepanjang film diputar. Begitu kami keluar dari teater, di luar banyak para pedangang siomay dan jagung rebus berjajar. Dan, wow, jagung rebus Dieng ternyata nikmat sekali. Jagungnya, benar-benar manis dan segar. Selanjutnya, kami ke tujuan ketiga, yaitu Kawah Sikidang.

Di lokasi kawah ini, bukannya kami tertarik untuk naik ke kawah yang ada banyak sekali warning-nya, kami justru tertarik untuk ke pasar yang ada di lokasi parkir. Di pasar ini, banyak sekali warung-warung yang menjual berbagai macam jenis gorengan, seperti tahu goreng, tempe mendoan, dan kentang goreng. Tidak ketinggalan akar Purwaceng. Akar yang berfungsi sebagai viagra alami. Selain untuk lelaki, ada juga Purwaceng yang khusus untuk perempuan. di sana, kamipun akhirnya mencoba makan di salah satu warung di sana. Tempe mendoannya enak, juga tahunya. Dalam pejalanan tiga hari kami, sepertinya kami sudah merasakan beberapa jenis tahu, seperti Ungaran, Bandungan dan Dieng. Semuanya enak. Kami berkesimpulan, enaknya tahu karena air untuk mencuci tahunya itu masih bersih, dan alami. Kentang Dieng juga tidak kalah rasanya. Rasanya, manis.

Kenyang makan gorengan di sana, kami segera menuju ke kompleks Candi Arjuna. Dataran Tinggi Dieng diyakini sebagai pusat kebudayaan Hindu di Jawa sebelum Prambanan. Di tempat inilah banyak dibangun candi-candi Hindu yang namanya sama dengan para tokoh-tokoh Mahabarata, seperti Arjuna, Gatutkaca, Nakula, Sadewa dan sebagainya. Candi-candi ini diperkirakan dibangun pada abad 7 dan 8. Kami hanya ke kompleks candi Arjuna, karena beberapa candi lainnya sedang dipugar.

Candi Arjuna terdiri dari beberapa kompleks candi. Kompleks ini sangat bersih dan terawat. Rerumputan juga hijau, bersih dan segar. Tampak beberapa puncak gunung dari tempat ini. Di komplek ini juga muncul banyak pedagang makanan dan bunga edelweis. Tapi tidak ada sampah yang bertebaran. Sekali lagi, sekelompok pedagang makanan menggoda kami. Kami mencoba rangin. Dan wah, rasanya mak nyus sekali. Berbeda dengan rangin-rangin di Surabaya. Rasa santannya sangat terasa, dan mungkin juga dingin. Jadi enak sekali makan rangin di sana.

Puas berkeliling candi, kami memutuskan untuk segera kembali ke Semarang karena kami akan kembali ke Surabaya pada malam harinya dengan kereta. Tidak lupa beli Carica, dan keripik jamur. Trip kali ini diakhiri dengan nyasar sampai ke wilayah Bandungan Semarang (yang awalnya kami skip dari jadwal), terjebak macet lumayan lama di Ungaran, kenaikan berat badan, dan kebanyakan makan tahu. Tentu saja, hati riang gembira.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.