Piala Dunia “Punya” Indonesia: Orang (bukan negara) Indonesia ikut Piala Dunia

PIALA DUNIA ‘PUNYA’ INDONESIA (1)

Orang (bukan negara) Indonesia ikut Piala Dunia

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


SEBULAN lamanya orang akan dibuat bosan dan muak dengan berita-berita Piala Dunia. Acara empat tahunan ini mirip seperti ibadah puasa sebulan penuh bagi pemeluk agama Islam. Kalau orang itu gemar sepak bola, hajatan Piala Dunia tidak jadi masalah.

Lalu bagaimana kalau Anda benci dan alergi dengan sepak bola? Sama saja derita yang akan dirasakan. Kalau Anda tak suka, mungkin istri, suami, adik, kakak, anak atau cucu, ipar atau tetangga Anda yang menjadi maniak Piala Dunia. Dibela-belain mata melek semalam suntuk demi melihat 22 orang berlari-lari selama 90 menit merebut sebuah bola dan memasukkan ke jaring lawannya.

Coba lihat di pelosok negeri ini, misalnya pos ronda atau tempat mangkal di resto atau café. Tak akan ada jadual sholat atau kebaktian dipasang, justru jadual pertandingan lengkap ditempel di dinding pos ronda dan ponsel penggila bola disetting di alarm untuk mengingatkan waktu pertandingan.

Tenaga, waktu, uang dan juga sumber daya banyak terkuras hanya untuk melihat, mendukung, memuji atau sekedar mengagumi pemain-pemain yang berparas ganteng, terutama untuk cewek-cewek. Bukankah pemain Italia Paulo Maldini sering dipakai perancang Giorgio Armani buat berjalan di atas catwalk-3nya?

Sebenarnya demam Piala Dunia sepakbola di Indonesia, tidak setua demam bulutangkis yang menjangkit masyarakat kita. Orang Indonesia mulai melihat, memberitakan, membaca, mengetahui, mendengar, membahas, menonton serta membicarakan Piala Dunia, baru-baru saja. Ya mulai Piala Dunia 1978 di Argentina, kita mulai menggeliat menyukai atraksi cantik bermain sepak bola oleh orang-orang pilihan itu.


DEMAMNYA SEPAKBOLA, PRESTASINYA SAKIT

Sebelum 1978, demam Piala Dunia kurang menggema sampai ke pelosok daerah. Ini mungkin karena perkembangan teknologi telekomunikasi yang belum secanggih sekarang. Ditambah lagi, Indonesia baru aktif ikut penyisihan Piala Dunia baru tahun 1974, untuk berlaga di Piala Dunia 1974 di Jerman Barat (sebelum bersatu). Jadi masyarakat kita belum semuanya melek Piala Dunia sebelum 1978.

Sebelum itu Indonesia tidak ikut penyisihan secara bersungguh-sungguh. Situasi domestik yang carut marut selama 1950-1970 tidak memungkin Indonesia bisa berlaga di ajang Piala Dunia, karena itu tidak ikut penyisihan dengan berbagai alasan bermotif politis, keuangan dan lain sebagainya. Hasilnya, tidak pernah ada kehadiran Indonesia di Piala Dunia.

Ini bukan berarti Indonesia tertinggal dan dianggap ‘orang baru’ dalam kepialaduniaan. Oh..tidak segampang itu menuduhnya. Memang kita susah sekali untuk bisa ikut berlaga di Piala Dunia. Jika saja bisa membayar dengan uang kepada FIFA, organisasi sepakbola dunia yang punya hajatan Piala Dunia, mungkin kita bisa ikut setiap laga sepakbola sejagat itu. Masak sih buat korupsi trilyunan rupiah tersedia dananya, sedangkan mau ikut Piala Dunia dengan membayar milyaran saja tidak bisa?

Namun sayang, untuk ikut bermain di ajang Piala Dunia, perlu ketrampilan dan persyaratan yang njelimet untuk bisa kita lakukan. Sering juara di berbagai turnamen dunia, belum tentu menjamin bisa ikut Piala Dunia. Harus bertarung dari kampung ke kampung dulu untuk Indonesia bisa turut serta. Apalagi kita di benua Asia, yang jatahnya tidak sebanyak benua Eropa. Di benua kiblat sepakbola itu, juara dan runner up grup dalam penyisihan, bisa langsung ikut Piala Dunia.


HINDIA BELANDA ATAU INDONESIA?

Bagaimana dengan pengalaman Indonesia? Waah…sedih ceritanya. Kalaupun kita sudah juara di satu grup, nanti akan di adu lagi dengan juara grup lainnya dan  kalau menang, suka diadu lagi dengan juara grup wilayah Oceania. Bahkan bisa diadu dengan juara atau runner up dari wilayah Karibia. Peraturannya bisa berganti-ganti sesuka FIFA setiap penyisihan dilakukan.

Lalu apakah Indonesia pernah sukses ikut Piala Dunia? Jawabnya gampang sekali. TIDAK! Kenapa? Karena prestasi sepakbola kita bukannya bertahan baik, tetapi makin menurun..run..run..run dan menukik bagai meteor jatuh. Beda jaman Pak Harto dulu, sepakbola Indonesia masih ditakuti di kawasan Asia. Sekarang juga makin ditakuti lawan, bukan karena kita hebat main strategi sepakbola, tetapi takut dengan penonton dan kebrutalanb emosi masyarakat kita yang tidak pernah dewasa seperti pohon bonsai. Jujur saja, kalau ada pertandingan sepakbola, pasti kita malas keluar pakai mobil sendiri. Bisa-bisa cuma dapat bencana, entah mobil dibakar atau terjebak kemacetan luar biasa. Biaya sosialnya tinggi sekali untuk dekat-dekat pertandingan sepakbola, apalagi menontonnya.

Jadi Indonesia tidak pernah ikut Piala Dunia? Ooh…pertanyaan itu bisa jadi pertanyaan bodoh dan juga pertanyaan pintar. Dianggap bodoh kalau kita tak tahu dan malas dengan sejarah masa silam kita.  Dibilang pintar, kalau pertanyaan itu dianggap sebagai pemicu buat sepakbola, agar malu karena tidak bisa ikut Piala Dunia berkali-kali seperti negara lain.

Mungkin banyak orang belum tahu, bahwa orang Asia pertama yang bermain di lapangan rumput Piala Dunia, bukan orang Jepang, bukan orang Cina, bukan orang India, bukan Arab, bukan orang Korea yang meroket prestasi sepakbolanya. Orang Asia pertama ikut Piala Dunia, ya orang dari Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda pada Piala Dunia 1938 di Prancis. Hanya sekali ikut dan sekali bertanding dan kalah.

Kok orang Indonesia, bukan negara Indonesia? Ya, karena negara Indonesia memang belum ada tahun 1938, yang ada negeri koloni bangsa Belanda yang bernama Hindia Belanda. Bukan negara Indonesia. Jadi Indonesia BELUM PERNAH ikut Piala Dunia sekali pun. Yang ikut adalah orang dari Hindia Belanda, sebagai bangsa Asia pertama berlaga di kejuaraan sepakbola dunia itu.

Kok bisa ikut Piala Dunia? Bukannya mau ikut kejuaraan itu susahnya minta ampun? Nah, ini mujurnya. Waktu mau diadakan perhelatan Piala Dunia ketiga kalinya tahun 1938, FIFA mengundang 2 wakil Asia yaitu Jepang dan Hindia Belanda. Namun Jepang yang sedang sibuk perang membunuhi rakyat Cina, menarik diri.

Namun tak semudah itu bisa ikut Piala Dunia. FIFA meminta Hindia Belanda untuk bertarung dulu dengan Amerika Serikat (saat itu masih diperhitungkan), tetapi negeri itu menolak karena berbagai alasan. Jadilah Hindia Belanda, juga Kuba dan Brasil, bisa ikut Piala Dunia 1938 tanpa bertanding lewat penyisihan sama sekali. Ya, seperti dapat free pass.  Nah, orang-orang Hindia Belanda itu, akhirnya menjadi warga negara Indonesia ketika negara ini merdeka tahun 1945.

Sayangnya, setelah merdeka Indonesia tidak berhasil ikut Piala Dunia 1950, karena mengundurkan diri dari babak kualifikasi untuk wilayah Asia. Piala Dunia 1942 dan 1946 tidak pernah diadakan, karena sibuk dengan perang dunia. Padahal FIFA pada Piala Dunia 1950 cuma memberi kesempatan hanya 4 negara saja wakil Asia untuk saling bertarung untuk memilih sebuah negara saja.

Dari 4 negara Asia itu adalah India, Burma, Filipna dan Indonesia. Negara-negara lain belum dianggap dan belum banyak yang merdeka. Coba kalau kita ikut, pasti bisa. Akhirnya wakil Asia tidak ada dalam Piala Dunia 1950 di Brasil, karena Indonesia, Filipna dan Burma mengundurkan diri dari babak penyisihan dan India ditolak ikut karena menolak disuruh pakai sepatu untuk bertanding.

Kesempatan ikut kembali datang untuk berlaga di Piala Dunia 1958 di Swedia. Sayang karena alasan politis, Indonesia menolak bertanding dengan Israel di babak penyisihan untuk bisa ikut. Sebelumnya Turki menolak melawan negeri Yahudi itu. Lalu hak itu diberikan kepada Indonesia, yang juga menolak. Pada Piala Dunia 1962 di Chili, Indonesia  juga menarik diri dari babak penyisihan. Padahal untuk mewakili Asia cuma ada 3 negara (Indonesia, Jepang dan Korea Selatan) dan akan dipilih satu saja, tapi sekali lagi Indonesia urung ikut. Mungkin sedang sibuk perhatian merebut Irian Barat, jadi urusan bola bundar nomor sekian.

Situasi politik yang sedang berubah diakhir 1960an dan awal 1970an, membuat Indonesia tidak ikut penyisihan untuk bisa tampil di Piala Dunia 1966 di Inggris dan Piala Dunia 1970 di Meksiko.  Barulah mulai Piala Dunia 1974 di Jerman Barat sampai Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Indonesia selalu rajin ikut penyisihan dan selalu gagal.


SERATUS TAHUN LAGI…

Masyarakat Indonesia mulai sadar, betapa pentingnya dan juga bangganya, bila Indonesia bisa tampil berlaga di Piala Dunia. Nggak apa-apa kalah memalukan, yang penting bisa lihat muka-muka melayu disaksikan milyaran pasang mata sejagat. Hitung-hitung numpang promosi negara secara gratis dan ampuh.

Tahun 2010, Indonesia melalui PSSI mencoba akal-akalan bisa tampil di Piala Dunia secara “gratis” tanpa melakukan pertandingan yang susah dimenangkan. Caranya mengajukan tuan rumah Piala Dunia 2022 di Indonesia. Banyak yang mengkritik pengajuan ini sebagai pengalihan atas buruknya penampilan pengurus PSSI.

“Sama saja bikin pesta di rumah yang belum jadi”, kata seorang penggemar sepakbola. Tuan rumah (host) dan juara bertahan (holder) dibebaskan ikut penyisihan dan langsung ikut Piala Dunia.

Sebenarnya, semua senang Indonesia menjadi tuan rumah, tapi semua pihak harus bercermin diri, apakah hal itu mungkin. Kalau cuma menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Bulutangkis perorangan, Piala Thomas dan Piala Uber, Indonesia bisa mengadakannya setiap bulan kalau diijinkan.

Piala Dunia memang ajang olahraga bergengsi. Berbeda dengan pesta olah raga sedunia seperti olimpiade. Kalau Piala Dunia, semua negara mengemis kalau perlu menangis-nangis darah agar bisa diajak ikut. Tetapi kalau olimpiade, justru panitia dan tuan rumahnya memohon habis-habisan agar semua negara bisa ikut, kalau perlu dibiayai ongkos pesawat dan penginapan, asal mau ikut. Tak penting tidak mendapat medali.

Kita semua punya keyakinan, agar suatu hari Indonesia bisa tampil dan berlaga di Piala Dunia 2014, 2018, 2022, 2026, 2030 atau Piala Dunia 2046 saat setelah Indonesia merayakan satu abad kemerdekaannya. (*)

95 Comments to "Piala Dunia “Punya” Indonesia: Orang (bukan negara) Indonesia ikut Piala Dunia"

  1. Car Images  18 November, 2011 at 16:27

    Tahun 1962, Indonesia menarik diri dari Piala Dunia karena sekutunya China mengundurkan diri dr ajang tsb akibat konfrontasi blok barat dan timur …

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.