Cuju: Cikal Bakal Sepak Bola Dunia

Meazza-China


“Jepang kalah 5-3 dari Paraguay. Sedih! Lebih sedih lagi karena China sama sekali tak masuk Piala Dunia!” Begitu sms dari dosenku seusai pertandingan Jepang-Paraguay semalam.

Piala Dunia yang sedang menjadi pusat perhatian manusia seluruh dunia kadang membuat hatiku sedikit kecut. Bagaimana tidak, gelanggang bergengsi itu didominasi oleh bangsa Eropa. Seluruh dunia menyaksikan bagaimana kehebatan mereka bermain bola kaki. Sementara tim dari Asia belum mampu unjuk gigi, bahkan tim Korea Utara harus menahan malu saat Portugal dengan gagahnya mengganyang mereka dengan skor 7-0. Padahal kalau dipikir-pikir jauh sebelum olah raga ini populer di Eropa, nenek moyang bangsa China, Jepang dan Korea sudah pandai main bola, bahkan olah raga ini dijadikan sebagai salah satu cabang latihan untuk prajurit.

Cuju (蹴鞠), itulah nama olah raga klasik bangsa China yang kalau diterjemahkan artinya adalah sepak bola (cu=sepak, ju=bola). Sastra klasik berjudul Zhan Guo Ce dan catatan sejarawan Sima Qian berjudul Shiji menyebutkan bahwa di masa peperangan 7 negara (319-301 SM), di negara Qi (sekarang provinsi Shandong) olah raga Cuju sudah membumi. Tidak kalah dengan bangsa Yunani yang di jaman itu juga sudah mulai bermain bola. Maka tak salah kalau pada tahun 2004 FIFA mengakui bahwa Cuju merupakan cikal bakal sepak bola.

Ketika Kaisar Qin memerintah, Cuju sempat terhenti. Lalu ketika Liu Bang memberontak dan kemudian mendirikan Dinasti Han (221 SM-206 M), Cuju kembali populer. Cuju yang seharusnya menjadi sarana prajurit untuk melatih keterampilan kaki, kini bukan hanya dimainkan oleh prajurit. Orang-orang istana pun turun lapangan untuk main bola. Kaisar Liu Bang yang memang suka hiburan pernah memindahkan masyarakat yang tinggal di kota Chang’an ke tempat lain, kemudian keluarga istana pindah ke Chang’an. Dia membuat lapangan untuk bermain Cuju dan membangun arena sabung ayam sebagai hiburan.

Bola Cuju berasal dari dua lembar kulit yang dijahit jadi satu berbentuk agak lonjong. Sedangkan cara memperoleh skor adalah dengan memasukkan bola ke gawang masing-masing yang sudah tersedia. Ada dua gawang yang letaknya berdampingan atau sejajar, terlebih dahulu ditentukan tim mana punya gawang yang mana. Nah tugas pemain adalah menengdang bola ke gawang yang diperuntukkan bagi timnya. Jangan memasukkan bola ke gawang milik lawan karena akan menambah skor lawan. Gawangnya tidak seluas gawang sekarang, jadi tak perlu penjaga gawang.

Kebiasaan ini berlanjut terus, bahkan petinggi-petinggi kerajaan menganggap Cuju-lah hiburan yang paling menyenangkan. Sebut saja Kaisar ke-7 Dinasti Han bergelar Han Wudi yang gila menonton Cuju. Atau kalau mau melihat gambaran bagaimana latihan Cuju di masa Tiga Negara, maka silakan tonton kembali Red Cliff 2 karya John Woo. Di sana ada bagian di mana Cao Cao dan para panglima menonton prajurit bertanding Cuju. Namun di kala itu permainan Cuju tidaklah seperti permainan bola kini. Pemain-pemainnya beradu kemahiran bela diri untuk mempertahankan bola. Saling seruduk, senggol, asal tak pakai tangan, sah saja. Kalau mau bayangan hiperbolanya, tonton saja Shaolin Soccer arahan Stephen Chow. Mungkin begitulah sepak bola pakai ilmu bela diri, hahaha…

Cuju mulai terkenal sampai ke Jepang dan Korea pada masa Dinasti Sui (581-618 M). Di Jepang yang kala itu Periode Asuka (Feiniao Shidai-飛鳥時代), Cuju dilafalkan sebagai Kemari, sedang di Korea disebut Chukguk.

Di Jepang, para pemain Kemari yang dinamai Mariashi akan berusaha untuk membuat Mari (bola) tetap berada di udara. Para Mariashi sudah punya seragam buat main bola, namanya Kariginu. Mantap benar orang Jepang, bahkan jagoan di masa Heian (Ping’an Shidai-平安時代,), Inu Yasha (yang suka manga pasti kenallah sama dia) dalam InuYasha the Movie: Swords of World Conquest menyebutkan bahwa dia juga bermain Kemari saat dia masih kecil. Dan di tahun 1992 Presiden Bush juga ikut main Kemari di sela kunjungan kepresidenannya ke Jepang.

Pada masa Dinasti Tang (618-907 M), peraturan Cuju dari jaman Tiga Negara berkembang, yaitu pemain dibagi dalam dua tim, lalu di tengah lapangan ada satu gawang, jadi kedua tim boleh memasukkan bola ke gawang yang sama. Nah tim yang paling banyak memasukkan bola, itulah pemenangnya. Saat itu, bola Cuju sudah berubah, terbuat dari 8 lembar kulit yang dijahit jadi satu berbentuk bulat, dan massanya yang lebih ringan membuatnya bisa melayang lebih tinggi saat ditendang.

Dinasti Tang tak salah jika disebut sebagai masa keemasan kekaisaran China. Bidang olahraga juga salah satunya yang maju pesat. Di masa ini, perempuan juga sudah ikut bermain Cuju, namun di tengahnya tidak ada gawang. Yang menjadi ukuran bukan banyaknya gol, tapi bagaimana keahlian pemain untuk menendang bola Cuju ke udara. Semakin indah pola yg di hasilkan saat bola melayang di udara, maka semakin besar kemungkinan untuk menang. Cara bermain Cuju untuk perempuan ini disebut “Baida”.

Saking hebatnya Cuju di Dinasti Tang, di pusat pemerintahan Dinasti Tang di kota Chang’an banyak dibangun lapangan Cuju. Dan Dinasti Tang meninggalkan tak sedikit “bintang bola” yang jadi sangat terkenal karena kemahirannya bermain Cuju, contohnya Tang Wenzong.

Pada masa Dinasti Song (960-1279 M), Cuju dengan cara main Baida menjadi lebih terkenal dan tidak lagi dimainkan oleh perempuan semata. Kala itu Baida yang awalnya pertim berubah menjadi perorangan. Kira-kira 10 orang bersiap, kemudian satu persatu masuk ke lapangan untuk memperlihatkan kemampuannya menggiring bola, memainkan bola dengan kaki, dada, paha, kepala (kecuali tangan tentunya). Yang sering menjatuhkan bola, yang tendangannya tak tentu arah tentu skornya rendah. Yang paling indah dan paling mahir akan menjadi pemenangnya. Dan hebatnya di masa ini sudah ada klub bola yang dinamai Qi Yun She (齐云社) atau dikenal dengan Yuan She (圆社). Inilah klub bola pertama di dunia, meski bukan termasuk klub yang profesional seperti sekarang.

Pernah dengar kalau olah raga sepak bola dijadikan bahan untuk menghibur bandot tua yang gila perempuan? Itulah kegilaan orang di masa Dinasti Yuan (1279-1368 M) yang kala itu dikuasai oleh orang Mongol. Perempuan-perempuan muda diiringi dengan musik mempertontonkan kehebatan bermain Cuju di depan para lelaki. Para pelacur berlatih Cuju untuk menghibur para tamu yang menghadiri pesta. Cuju menjadi alat bagi para wanita penghibur untuk menaklukkan tamunya.

Masuk pada Dinasti Ming (1368-1644 M), Cuju menjadi anak emas bagi para bangsawan, dan oleh sebab itu tak semua orang boleh memainkannya. Cuju jadi naik pamor, tapi bersamaan menjadi mundur karena tak banyak lagi orang yang bisa memainkan Cuju. Hanya di lingkungan istana saja Cuju bisa ditonton.

Pada Dinasti Qing (1644-1911 M) sebagai dinasti terakhir kekaisaran China dengan bangsa Manchuria sebagai penguasa, meski ada modifikasi permainan Cuju di lapangan es, namun Cuju tak sepopuler dulu. Ditambah masuknya bangsa asing ke China yang menyebabkan situasi kurang aman menyebabkan olah raga Cuju makin dilupakan. Orang sibuk mengurus nyawa masing-masing, tak memikirkan hiburan dan semacamnya. Olah raga yang sudah beribu tahun sejarahnya, perlahan memudar dan lenyap, menjadi penghuni museum saja.

Sekarang, melihat bangsa Eropa bertanding dengan hebatnya, aku jadi sadar bahwa kesedihan dosenku beralasan. China yang menjadi salah satu bangsa pelopor sepak bola (selain Yunani), malah tenggelam tak ikut dalam Piala Dunia. Sedang Korea dan Jepang, meski unjuk gigi juga tak ada taring panjangnya. Aku berharap negara-negara Asia bisa tampil cemerlang di Piala Dunia yang akan datang. Akankah sepak bola, olah raga yang dahulu kala menjadi kebanggaan bangsa Asia (terutama Asia Timur), bisa mengantarkan negara-negara Asia untuk menjadi bintang di panggung Piala Dunia? Kita lihat saja nanti. Bagaimana dengan Indonesia?

Di Batas Lazuardi, Jinan, Juni 2010

Meazza

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.