Piala Dunia “Punya” Indonesia: Piala Dunia, ‘Piala Derita’ Orang Indonesia

PIALA DUNIA ‘PUNYA’ INDONESIA (2)

Piala Dunia, ‘Piala Derita’ Orang Indonesia

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


ENTAH mengapa orang Indonesia begitu antusias dan merasa senang bila tiba saatnya penyelenggaraan Piala Dunia di mulai. Memang masyarakat kita gila sepakbola, olahraga paling merakyat tanpa melihat kelas, golongan, penghasilan, kasta, umur, suku, bangsa, pendidikan, orientasi kelamin, jabatan dan intektual.

Lihat saja waktu Piala Dunia 2006 di Jerman, mulai dari tukang ojek, tukang becak, pengangguran beramai-ramai melongo di depan TV menonton pertandingan Piala Dunia sambil taruhan kelas teri. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono nonton bareng bersama stafnya melalui siaran TV di Istana Merdeka. Semua gembira, senang dan saling cerita menonton siaran Piala Dunia. Seolah semua melupakan beban hidup sehari-hari yang rumit dengan ketegangan yang terus menghimpit. Kok bisa begitu ya orang Indonesia memandang Piala Dunia?

Mungkin karena rindu kehadiran Indonesia di ajang ciptaan manusia yang paling bergengsi dan paling besar sealam semesta itu. Juga mungkin untuk menutupi luka derita yang dialami kita semua setiap ada Piala Dunia. Ada Piala Dunia ada ‘Piala Derita’…


PIALA DUNIA DATANG, BENCANA MENGHADANG

Sejak kaki pemain Prancis Lucien Laurent mencetak gol pertama Piala Dunia dalam pertandingan melawan Meksiko di menit ke 19 pada tanggal 13 Juli 1930 dalam Piala Dunia 1930 di Uruguay, semua orang menyaksikan pertandingan menarik hingga detik ini dengan mengharapkan adanya sebuah gol. Tentu saja termasuk kita di Indonesia. Kerumunan orang di pemukiman kumuh sampai jalan keramaian lalu lintas ikut lenggang ketika ada pertandingan penting di Piala Dunia. Pokoknya gol, gol, gol, gol, gol, dan gooool… Coba saja pesan taksi pada saat malam hari bersamaan pertandingan penting sepakbola Piala Dunia, pasti menunggu agak lama untuk mendapatkannya.

Sejak dimulai pertama kali Piala Dunia di Uruguay tahun 1930, kita sebagai kumpulan orang di Hindia Belanda menghadapi penderitaan yang represif. Semua bentuk pergerakan, perlawanan serta simbol-simbol yang mengarah kepada nasionalisme, akan dihajar, dibasmi dan dibuat minta ampun oleh penguasa kolonial.

Tokoh-tokoh nasionalis banyak dibuang ke sarang nyamuk malaria nan jauh di ujung timur di Boven Digul, pedalaman Papua. Kalau tidak sakit, ya mati kena malaria. Jadi wajar, selama Piala Dunia 1930 di Uruguay, Piala Dunia 1934 di Italia dan Piala Dunia 1938 di Parncis, merupakan ajang penderitaan orang pribumi Hindia Belanda di bawah kekejaman kolonial Belanda.

Apalagi pentolannya pemberontak yang menjengkelkan pihak kolonial, seperti Soekarno, dilempar bagai tikus basah ke dalam sel. Tahun 1930 dia ditangkap dan dibekap di penjara Banceuy. Penangkapannya menjadi buah bibir masyarakat dan para nasionalis di seluruh wilayah Hindia Belanda. Seperti sebuah pesan dari penguasa untuk kaum nasionalis agar jangan coba-coba melawan pemerintahan kerajaan Belanda. Sekali beragitasi, akan datang polisi kolonial sambil berkata, ”atas nama Sri Ratu, Anda kami tangkap”.

Ketika orang Eropa lagi enak-enaknya nonton Piala Dunia 1934, kita di Hindia Belanda menyaksikan ketegangan dan rasa ketakutan, ketika Gubernur Jenderal saat itu, Bonifacius Cornelis de Jonge berlaku represif terhadap siapa saja yang mencoba melawan kolonial. Tahun 1934, Soekarno dan keluarga di buang ke Endeh dan saat tim sepak bola Hindia Belanda ikut Piala Dunia 1938 di Prancis, Soekarno di buang lagi ke Bengkulu oleh Gubernur Jenderal yang baru, Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer.

Kenapa penderitaan rakyat Hindia Belanda disamakan dengan penderitaan Soekarno? Saat itu, manusia yang bernama Soekarno adalah simbol perlawanan. Bila perlawanan kaum nasionalis itu bagaikan seekor ular, Soekarno adalah kepalanya. Kalau mau menangkap ular, ya pegang dulu kepalanya.

Untung tidak ada Piala Dunia 1942 dan Piala Dunia 1946. Kalau diadakan, tetap saja menjadi ajang penderitaan rakyat yang mendiami kepulauan nusantara iji. Jepang datang membawa janji dan juga kematian tahun 1942. Pada tahun 1946, ketika Indonesia sudah berdiri, terjadi banyak kekejaman dan kekerasan di Indonesia oleh kekuatan kolonial asing. Sampai Soekarno memindahkan pusat pemerntahan ke Jogjakarta, karena Jakarta tidak aman lagi. Tiada hari tanpa kematian selama tahun 1946.

Nah, barulah pada Piala Dunia 1950 di Brasil, Indonesia mencoba debutnya, tapi gagal, karena menarik diri dari babak penyisihan untuk mewakili satu negara dari benua Asia, yang saat itu cuma ada  dari 4 negara Asia yang harus beradu.

Selama tahun 1950 itu, bangsa Indonesia mengalami perubahan sosial yang sangat berarti. Dari sebuah negara ”yang tak diakui dunia internasional” selama kurun 1945-49, tiba-tiba menjadi negara baru yang kebanjiran pengakuan dari negara-negara barat sahabat baru dan keanggotaan di badan-badan dunia. Namun ada masalah nasional yang mengganjal bagai kerikil dalam sepatu, yaitu wilayah Irian Barat.

Ketika itu tahun 1950 Indonesia berdiri sebagai negara baru yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain, berbarengan dengan ajang Piala Dunia 1950 di Brasil. Tetapi ada yang tertinggal, yaitu Irian Barat yang masih diduduki Belanda selama lebih 13 tahun, hingga Indonesia merebutnya dengan kelihaian diplomasi dan otot militer. Banyak orang sadar, kok negara yang katanya dari Sabang sampai Mereuke, cuma sampai Ambon saja?

Nah, Soekarno membakar semangat kesadaran itu di setiap kesempatan hari demi hari dengan pidato yang menyambuk. Belum lagi banyak perusahaan negara yang masih dipegang oleh orang Belanda, sehingga gelombang nasionalisasi menggema ke mana-mana. ”Ya, belum ada ”journey’s end” bagi kita, perjoangan kita jauh belum selesai”, teriaknya pada pidato HUT RI 1950. Wajar saja banyak masalah yang membebani Indonesia, tidak menganggap penting untuk ikut Piala Dunia 1950 itu.

Ketika Jerman Barat menjuarai Piala Dunia 1954 di Swiss, Indonesia punya masalah kronis yang sedang dihadapi. Masalah ini bisa disebut masalah idealisme yang mengganggu, yaitu masih banyak negeri-negeri seumuran dan seangkatan Indonesia, hidup dalam kolonialisme. Indonesia mencoba membakar semangat anti kolonialisme kepada sahabat-sahabatnya, terutama di benua hitam Afrika, sebagian Asia dan banyak negara di Karibia dan Pasifik.

”Anno 1954 tidak pantas masih ada kolonialisme di muka bumi ini”, ejek Soekarno saat pidato 17 Agustus 1954. Hari gini masih ada yang dijajah? Masalah ini bagi Indonesia sangat penting dan tidak boleh dibiarkan. Mulailah kasak kusuk untuk menggalang semangat persatuan diantara bangsa terjajah. Upaya ini menyita waktu dan tenaga untuk meyakinkan bahwa memang negeri-negeri terjajah perlu diyakinkan untuk bangkit. Dan memang, setelah diadakannya Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, persentase negera-negara Afrika yang merdeka dan menjadi anggota PBB, melesat tajam seperti roket.

Tahun 1950 saja, cuma ada 1 negara Afrika dan 13 negara Asia yang menjadi anggota FIFA. Pada tahun 1975, melesat menjadi 35 negara Afrika dan 33 negara Asia terdaftar menjadi anggota FIFA. Kini FIFA punya 208 negara anggota, yang lebih banyak dari jumlah anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Indonesia yang punya badan bernama Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia (sebelum diganti menjadi sepakbola), baru menjadi anggota FIFA pada 1952 saat Kongres FIFA tahun 1952 di Helsinki, Finlandia.

Nah, empat tahun kemudian, Indonesia punya masalah domestik yang hampir membubarkan negara yang lahir 1945 ini. Pemberontakan bermotif separatisme membakar amarah banyak orang dan pemerintah. Ketika Pele dan kawan-kawan membuat Brasil menjadi juara sepakbola dunia pertama kali di Piala Dunia 1958 di Swedia, Indonesia juga sibuk menjuarai kemenangan untuk menaklukkan separatisme sepanjang tahun itu. Derita pemberontakan itu dianggap Soekarno sebagai ”stadium puncak” dari penyelewengan dan pengkhianatan terhadap proklamasi 17 Agustus 1945 yang suci dan keramat.

Seolah derita tiada henti, ketika berlangsung Piala Dunia 1962 di Chili dan Piala Dunia 1966 di Inggris, menyeret Indonesia ke dalam sebuah masalah besar dan tak peduli mau ikut apa tidak dalam kejuaraan itu. Masalah merebut Irian Barat  dengan mobilisasi umum seluruh negeri tahun 1962 dan pergantian rezim yang berdarah-darah tahun 1966, memaksa Indonesia tidak memperhatikan kejuaraan itu. Bahkan ketika Piala Dunia 1970 di Meksiko, Indonesia tidak tampil ikut penyisihan karena banyak masalah belum selesai ketika rejim berganti. Banyak pranata sosial sedang ditata ulang dengan sistem dan cara baru.


PIALA DUNIA, DERITA INDONESIA

Barulah setelah semua kondisi normal tertata rapi, Indonesia mulai serius ingin tampil di arena dunia sepakbola  yang kerap kali berbarengan dengan masalah nasional itu. Untuk pertama kali sejak Orde Baru terjadi demonstrasi serius beraroma anti pemerintah. Kasus ”Peristiwa 15 Januari 1974” yang dikenal dengan sebutan Malari, menggema sepanjang tahun 1974 dan demontrasi anti pemerintah oleh aktivis mahasiswa menjalar senegeri sepanjang tahun 1978, disusul banyak pembredelan media cetak oleh pemerintah. Ditambah lagi peristiwa Lapangan Banteng tahun 1982 saat kampanye Golkar yang rusuh untuk Pemilu 1982, membuat pemerintah memperlihatkan sikapnya bahwa jangan main-main sama pemerintah.

Kejadian tersebut bersamaan dengan Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, 1978 di Argentina dan 1982 di Spanyol, semuanya diterima dan dirasakan oleh rakyat Indonesia sebagai sebuah pesan untuk jaga ucapan, jaga tindakan dan jaga diri kalau ingin mengkritik pemerintah. Banyak tokoh-tokoh yang kritis dibuat seperti bonsai oleh pemerintah.

Rakyat lebih merasakan penderitaan batin sepanjang tahun 1986, saat berlangsung Piala Dunia 1986 di Meksiko. Pemerintah begitu sensitif dengan kritik. Sampai-sampai hanya karena sebuah artikel di harian Sydney Herald Morning, pemerintah marah kepada Australia. Dalam artikel itu terbaca jelas cerita gurita bisnis anak-anak Presiden Soeharto. Sang presidenpun murka, sampai sempat melarang wisatawan Australia datang ke Indonesia, meski larangan itu dicambut kembali karena dinilai berlebihan. Lihat tuh, orang asing aja bisa dikemplang ngutak-ngatik Presiden Soeharto, apalagi rakyat Indonesia?

Derita kembali datang ketika Piala Dunia 1990 berlangsung di Italia. Inilah ajang Piala Dunia paling membosankan dan miskin gol. Saat rakyat Jerman berpesta menjuarai Piala Dunia 1990 sekaligus hadiah atas unifikasi antara Jerman Barat dan Jerman Timur, saat bersamaan ribuan jemaah haji Indonesia tewas mengenaskan terinjak-injak saat melakukan ibadah ritual tahunan di Tanah Suci berbarengan laga pertandingan sepak bola dunia itu. Pemerintah sempat memberlakukan hari berkabung nasional.

Rakyat Indonesia dikagetkan kembali oleh keperkasaan pemerintah dalam membungkam aspirasi dan opini masyarakat. Tiga media cetak penting, Detik, Tempo dan Editor ditutup selamanya saat berlangsung Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, karena dianggap nakal mencoba mengolah informasi secara salah. Rakyat semakin bungkam dan takut kalau macam-macam menyampaikan kritik kepada pemerintah.

Kesombongan pemerintahan Orde Baru menutup mulut dan melarang ide rakyatnya yang kritis, dibarengi ketika Zineddine Zidane membawa Prancis menjuarai Piala Dunia di negara sendiri pada Piala Dunia 1998. Orde Baru jatuh dan rakyat banyak yang tewas dan membekas selama beberapa generasi akibat reformasi tahun 1998.

Ternyata reformasi 1998 membawa banyak hal perubahan dan dinilai sudah terlalu jauh melesat dari tujuan semula. Banyak perusahaan kebanggaan nasional diperjualbelikan kepada pihak asing dengan alasan tidak efisien selama tahun 2002, ketika Brazil menjadi juara dunia lima kali dalam Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang. Gimana jadinya, kalau Indonesia lagi perang lalu perusahaan-perusahaan strategis itu tak mau membantu karena dimiliki bangsa asing?

Waktu kepala Zineddin Zidane menyeruduk lawannya saat final Piala Dunia 2006 di Jerman, hati rakyat Indonesia juga diseruduk oleh pemerintah yang membiarkan penderitaan rakyat karena terendam luapan lumpur Lapindo bulan Mei 2006. Bahkan sampai berlangsungnya Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, kasus ini belum selesai tuntas. Apakah sampai Piala Dunia 2014 di Brasil, lumpur yang menggenangi lahan seluas 440 hektar itu makin meluas masalahnya?

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan turun pada Pemilu 2014, karena tidak boleh dipilih lagi. Apakah akan ada masalah derita baru lagi pada Piala Dunia 2014? Seperti bentuk bola yang bunder, setiap masalah kita selalu tidak ada ujung penyelesaiannya. Lalu kapan terjadinya gol? (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *