Quit

Alexa – Jakarta


Baru saja lihat acara Opini di TVOne yang dipandu oleh Indy Barend dan Farhan yang topiknya mengenai Profesionalisme Pekerja. Dikatakan saat ini 60% dari pekerja ingin memiliki kesibukan pekerjaan yang lain di luar statusnya sebagai karyawan kantor bersangkutan, dan sosok Andrea Hirata yang juga hadir di situ dianggap sebagai role model karena Andrea lebih dikenal sebagai penulis Laskar Pelangi dibandingkan statusnya sebagai karyawan PT. Telkom. Saat ini sudah terjadi alih pendapat bahwa kualitas dari kontribusi terhadap pekerjaan lebih penting dari 100% kehadiran di kantor.

Kenapa begitu tinggi  harapan seseorang untuk memiliki aktivitas di luar pekerjaan rutinnya…apakah karena tempat kerjanya tidak bisa memenuhi NEED dari karyawan itu?

Well aku jadi ingat tulisanku yang dah pernah dimuat di Chic No.27/ 2009 mengenai alasan perpindahan kerja seorang karyawan dari perusahaannya. Fakta yang kutemukan  cukup mengejutkan adalah  imbalan yang lebih tinggi baik secara posisi maupun fulus ternyata bukan alasan seseorang pindah dari tempat kerjanya.

Ini kutipan dari Chic:

Manakala seorang pekerja sudah bekerja cukup lama pada suatu perusahaan, besar kemungkinan dia sudah merasa nyaman dan mungkin berfikir akan bekerja di tempat itu sampai pensiun. Begitulah yang terjadi pada diriku, tetapi selama manusia hidup ia harus siap dengan perubahan, dan perubahan secara ekonomis di Indonesia terjadi saat adanya perubahan kepemilikan dari bank tempatku bekerja yang juga membawa dampak  pada perubahan organisasi perusahaan.

Yang paling terasa berat  adalah saat aku selaku branch manager suatu bank mendapat pimpinan regional seorang wanita. Dia seorang wanita dan bedanya dengan stereotip bahwa boss wanita biasanya emosional tidaklah begitu dengan bossku. Dia seorang dingin, pekerja keras dan perfeksionis. Duapuluh empat jam sehari rasanya belum cukup baginya  dan karena dia seorang high achiever tentunya prestasinya jauh di atas rata-rata. Pastinya hal itu tentunya dituntut juga dari para bawahannya, sebenarnya itupun tidak menjadi beban bagi kami malah menjadi pemicu untuk berprestasi tinggi. Tapi di lain pihak sifat perfeksionisnya cukup memberikan beban yang tidak perlu bagi kami.

Beratnya tugas kami membuat aku mulai melirik-lirik peluang untuk melakukan mobilitas horizontal alias berusaha mencari posisi sejenis pada departemen lain, apalagi mengingat aku bekerja pada suatu bank yang besar. Inipun sesuai dengan beberapa artikel yang sering kubaca mengenai Cara Bertahan Di Tempat Kerja. Seharusnya hal itu tidak susah untuk dilakukan, tapi  dalam prakteknya tidak mudah karena kepala departemen lain agak ragu untuk mengambil orang-orang yang jadi ujung tombak suatu bisnis perbankan yakni kami para branch manager ini.

Puncak kejenuhanku adalah saat akhir tahun yakni pada saat penilaian. Waktu itu prestasiku yang mencapai puncak tidak diimbangi dengan kenaikan jabatan atau gaji sesuai peraturan perusahaan. Boss-ku beralasan karena perusahaan sedang dalam masa transisi maka tidak ada kenaikan jabatan sesuai dengan prestasi. Saat aku cek dengan teman-teman di region lain ternyata mereka mendapat kenaikan yang signifikan.

Hal itu tentunya sangat memukulku. Aku tertekan dan untungnya aku membaca suatu artikel berdasarkan penelitan Gallup Organization (ditulis oleh Marcus Buckhingham dan Cort Hoffman) atas lebih dari sejuta  karyawan dan 80.000 manajer di Amerika Serikat  dimana keputusan mereka untuk berhenti bekerja di suatu perusahaan mayoritas disebabkan sikap atasan langsung mereka. Orang meninggalkan manajer atau direkturnya bukan perusahaannya. Dan jika bawahan sudah sakit hati maka mereka akan resign dan pergi ke perusahaan competitor.

Saat aku membaca dengan teliti Kesepakatan Kerja Bersama antara perusahaan dengan karyawan, aku melihat ada peluang untuk mengundurkan diri dari perusahaan dengan mendapatkan pesangon yang cukup bagus (istilahnya Golden Shakehand), disitu masih ada tenggang waktu 6 bulan sejak surat disetujui untuk meninggalkan perusahaan. Jadi selain ada pesangon yang bagus aku melihat masih ada waktu untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain.

Akupun segera melayangkan surat pengunduran diriku yang ditujukan kepada bossku dan atasan kami dengan tembusan kepala HRD. Dan karena kepala HRD merupakan teman kakak maka dia segera mengirimkan surat persetujuan berikut perhitungan jumlah pesangon yang aku peroleh. Kopi surat itu dikirimkan kepada bossku yang tak lama kemudian menelponku. Dia heran bagaimana mungkin kepala HRD sudah memberikan persetujuan sementara dia maupun atasan kami belum memberikan disposisi sehingga dia tidak punya pilihan lain.

Tapi yang lebih mengagetkan lagi adalah komentarnya kemudian yakni bagaimana dia heran dengan banyaknya pesangon yang aku terima dan dia menanyakan formulanya, setelah penjelasanku; bak petir di siang bolong dia mengatakan kalau begitu dia juga akan mengundurkan diri. Dan yang lebih mengagetkan lagi (jadi kagetku berepisode) ternyata  atasan kami berdua juga memutuskan mengundurkan diri.

Dalam masa penantian pensiun kami itu jadi terungkap bahwa sikap keras dan perfeksionis itu tidak lain karena ingin tampil cemerlang dimata owner baru dengan berusaha melampaui apa yang sudah merupakan standar. Akibat tindakan mereka tidak hanya bawahan yang tertekan, diri sendiripun tertekan.

————-

Sekaligus aku ingat saat Anggito Abimanyu mundur dari Departemen Keuangan secara gamblang dia bicara di Kontan Online bahwa mundurnya itu disebabkan karena sakit hati dengan Boss Besar…n off course tau donk siapa yang dimaksud.

Kesimpulannya; ternyata antara Anggito, aku dan sejuta karyawan serta 80.000 manager di Amrik itu sebenarnya memiliki alasan yang sama dalam kepindahannya yakni tidak tahan dengan atasannya. Dan jika disebutkan bahwa atasanku itu ternyata sebenarnya stress akibat tekanan Manajemen, membuat saya bertanya-tanya – apakah Boss besar Anggito itu juga sebenarnya stress karena mendapat tekanan dari koalisinya?

Sembari mikir…Boss Besar AA itu stress enggak yah secara dia masih bisa komentar soal video Ariel-Lunmay, masih sempet approve dana aspirin yang Rp. 15 M/ anggota DPR itu dan sekarang Menkeunya jadi bingung ngeluarin anggarannya darimana…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *