Voyage

Alfred Tuname


Aku tak pernah tahu seberapa kuat untuk berjalan. Sampai di mana pun aku tidak pernah tahu. Aku hanya terus dan terus berjalan. Melangkah sekuat kakiku bergerak. Itu pun selagi mungkin kaki itu bergerak. Jika tidak, mungkin aku hanya duduk dan beku. Berjalan berarti memulai untuk bertolak lebih dalam (duc in altum)

Ayunan langkah dimulai dari perhentian pertama. Tempat di mana aku mengatur langkah dan mengambil nafas untuk bergerak. Langkah pertama akan menproduksi ribuan langkah. Dan perjalanan pun dimulai. Mata diarahkan untuk menuntun jalan. Melihat segenap raya yang perlu dilihat sebelum raga menjadi kaku, dingin dan layu. Semua menjadi indah dalam pandangan mata. Sejauh objek tertangkap indera. Indah dalam setiap perbedaannya dengan keindahan-keindahan lain. Jika ada yang mengatakan tidak indah itu berarti yang salah bukan penglihatannya. Ada kotak dalam pikiran yang menghambat apresiasi. Walaupun penghargaan terhadap selera meski ditempatkan pada ujung rasa (taste). De gustibus non est disputandum.

Lalu-lintas berseliweran. Lalu-lintas manusia dan materi. Tak ada yang tahu tujuannya. Mungkin seperti rantai semut yang berujung pada manisnya gula. Di sana ada indentitas dan kelas. Materi bergerak mau menunjukan siapa mereka. Siapa yang mengemudi mobil? Siapa yang menarik becak? Sebenarnya bukan siapa-siapa. Mereka tetap sebagai manusia. Manusia stoik yang berjalan pada takdirnya masing-masing. Lalu budaya memproduksi cara mereka bertindak dan bertutur (bersosialisasi). Mereka turut menulis pada “teks” dunia yang sedikit kompleks dan rumit. Ada manusia yang bekerja mengejar waktu yang diktator. Kecepatan adalah keharusan untuk mencapai tujuan. Di dalamnya ada efisiensi. Dunia seakan dilipat dalam kertas-kertas kecil. Sementara ada kaki-kaki berputar melambat. Mereka melawan arus waktu dibuat-dibuat semakin cepat. Ada kehangatan dan intimasi dalam roda kelambatan itu.

Langkahku semakin mantap menancap dataran jalan. Lalu berhenti pada kursi-kursi yang berbaris horisontal. Pandangan diapiti oleh bangunan sejarah. Gedung Agung, Benteng Vredeburg, Monumen Serangan Umum Satu Maret, Kantor Pos dan Gedung Bank Indonesia. Sejarah terletak di ujung jalan Malioboro. Situs-situs ini memberi memberi tanda pada zaman. Kemedekaan diraih dengan perjaungan. Kebebasan dirangkul dengan kesengsaraan. Di sini, sejarah tidak untuk dikenang tapi memberitahu bahwa jangan sampai kita kembali pada masa penjajahan kemanusiaan. Sebab jika “le histoire se repete” maka sesungguhnya kita tidak pernah merdeka. Sejak lama Soekarno sudah mengumandangkan “JASMERAH”. “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”. “who control the past, contol the future. who control the present, control the past”, kata George Orwell.

Mata-mata saling memandang. Manusia saling melempar senyum. Menikmati perbedaan dalam setiap pandangan. Ada yang tinggi dan pendek, hitam dan putih, kriting dan lurus, kaya dan miskin, pintar dan kurang pintar, timur dan barat. Semua bernyanyi lagu yang sama, kemanusiaan. Betapa indahnya dunia ini. Manusia hidup dalam kebersamaan dan penghormatan terhadap perbedaan.

Kemerdekaan memberi kesegaran pada mereka yang mau meminum anggur dari cawannya. Salah satunya adalah kreativitas. Kecerdasan selalu mendukung kreativitas. Artinya kecerdasan melahirkan kreativitas. Penghargaan terhadap kreasi sangat penting bagi keharmonisan dalam dinamika kehidupan. Atas dasar itu, langkah kaki mengarahkanku pada pameran lukisan “bambooisMe”. Lukisan realistik kontemporer syarat nilai terpajang manis pada dinding-dinding gedung Bentara Budaya. Karya Andi Ramdani dan Aa Nurjama seolah-olah memangil kita melihat kembali dunia kita, dunia dan lingkungannya. Bambu menjadi ikon perlawan terhadap arus produk leissure class. Profisiat kepada sang kreator. Dan maju terus seni lukis dan seni rupa Indonesia.

Kelelahan adalah titik kelemahan manusia. It is nature. Mungkin sebab itulah manusia menciptakan mesin dan robot. Sebab aku bukan robot maka aku lelah. Lelah melintas jalan. Aku ingin pulang. Sialnya, pulang selalu menyisakan perasaan untuk kembali. Dan kuputuskan untuk pulang dan beristirahat. Kugandeng tangan sahabatku dan mengajaknya pulang sebab aku tak sendirian saat itu. I am not walking alone. Aku bersama seorang perempuan yang baik dan cantik (menurutku). Gandengan tangannya memberi kekuatan pada langkah yang terakhir. Terima kasih untuk kebersamaan saat itu.

Djogja, 28 April 2010
Alfred Tuname


Ilustrasi: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Voyage_Voyage_Desireless_cover.jpg

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.