Piala Dunia “Punya” Indonesia: Di Indonesia Haram Nonton Siaran Piala Dunia

PIALA DUNIA ‘PUNYA’ INDONESIA (3)

Di Indonesia haram nonton siaran Piala Dunia!

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


MESKIPUN Indonesia tidak pernah ikut berlaga di Piala Dunia, bukan berarti orang Indonesia tak menyukainya menonton pertandingan sepakbola dunia itu. Pemerintah Presiden Soeharto mengerti bahwa rakyatnya gila bola. Daripada macam-macam mengurusi pemerintahannya, lebih baik diberi hiburan menyenangkan nonton Piala Dunia melalui pesawat TVRI, satu-satu stasiun TV di Indonesia milik pemerintah.

TVRI punya jasa baik bagi rakyat Indonesia penggemar sepakbola. Saya tak ingat kapan TVRI menyiarkan siaran langsung Piala Dunia. Pengalaman pribadi saya ketika masih kecil di bangku SD, saya ikut-ikutan kakak saya nonton Piala Dunia 1978 melalui TV pada tengah malam dini hari. Mungkin Piala Dunia 1978 itulah TVRI membeli hak siar Piala Dunia. Sedangkan Piala Dunia 1974 atau 1970, TVRI hanya membahas dan menyiarkankan ulang pertandingan-pertandingannya, ketika demam sepakbola tidak separah sekarang.

Selama Piala Dunia 1978 sampai Piala Dunia 1986, hanya dari TVRI orang Indonesia dapat menyaksikan pertandingan bermutu. Pemerintah berbaik hati membeli hak siaran Piala Dunia untuk disaksikan secara gratis kepada rakyat. Tidak seperti sekarang, hak siaran yang dibeli stasiun TV swasta yang penuh hitung-hitungan duit untuk menyiarkan Piala Dunia, agar bisa dinikmati rakyat banyak.

Jaman TVRI, mau nonton sendiri, berdua, bertiga, sekeluarga, se-RT, semarga atau seribu orang, tidak jadi masalah. Tak ada razia dan tuntutan dari pemegang hak siar Piala Dunia, yang tak rela orang nonton secara gratis. Semua ada bayarannya, karena mereka harus merogoh duit milyaran untuk bisa mendapat hak siar dari FIFA. Jadi jangan sembarangan mengadakan nonton bareng siaran Piala Dunia 2010. Bisa dituntut oleh pemegang hank siar kalau tak ada diijin. Bahkan, kalau kita nonton bareng 50 orang sebuah pertandingan Piala Dunia di hutan Gunung Lawu tanpa ijin pemegang hak siar, kalau ketahuan bisa dituntut secara hukum dan dipenjara.

Tradisi nonton bareng telah menjadi trend selama beberapa kali Piala Dunia sejak 1990an. Seingat saya, nonton bareng Piala Dunia pertama kali diadakan di Hotel Sari Pacific ketika berlangsung Piala Dunia 1978 di Argentina. Belum banyak yang mau mengadakan acara tersebut saat itu.

Pemerintah punya uang banyak untuk membeli hak siar pertandingan Piala Dunia melalui TVRI selama puluhan tahun menyiarkan kejuaraan sepakbola dunia itu. Namun lama kelamaan, habis juga duit negara hanya untuk nonton bola saja. Dari iklan sangat tidak mungkin, karena siaran iklan diharamkan di TVRI sejak 1981, karena alasan konsumerisme.

Untunglah ada yang namanya undian Porkas yang kemudian menjelma menjadi SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), yang aktivitasnya dinilai seperti judi atau lotre atau lotto di dunia barat. SDSB dikelola oleh seorang putra Presiden Soeharto, seperti ditulis majalah TIME yang menghebohkan itu. Hasil sumbangan itu, antara lain untuk membantu TVRI membayar dan membeli hak siar Piala Dunia 1990. Porkas atau SDSB diciptakan untuk membiayai kegiatan olahraga di Indonesia, yang oleh banyak kalangan (apalagi oleh tokoh-tokoh Islam) dinilai sebagai bentuk judi baru. Padahal Presiden Soeharto pada tahun 1981 melarang iklan di TVRI dan juga bentuk perjudian di tanah air.

Untunglah SDSB yang banyak membawa polemik itu dan muatan kepentingan banyak pejabat, dilarang oleh Menteri Sosial Inten Soeweno saat Presiden Soeharto sedang berada di Iran pada November 1993.

Untuk hak siar Piala Dunia 1978, 1982, 1986 atau mungkin membeli siaran tunda atau lansung Piala Dunia 1974 dan 1970, murni dibayar oleh TVRI. Namun ketika muncul stasiun swasta, TVRI mulai tersingkirkan. Stasiun TV swasta yang banyak dimiliki oleh keluarga Presiden Soeharto tertarik membeli hak siar itu karena alasan komersial, yang berbeda misinya dengan TVRI.

Pertama kali orang Indonesia menyaksikan Piala Dunia tanpa TVRI adalah Piala Dunia 1990 di Italia. Hak siarnya dipegang oleh stasiun TV swasta yang biaya pembeliannya dibantu dari SDSB itu. Bukankan SDSB dibuat pemerintah untuk mengembangkan dunia olahraga nasional? Termasuk juga nonton sepakbola Piala Dunia?

Jadi waktu masyarakat Indonesia  menonton siaran Piala Dunia 1990 melalui TV, akan terbaca pesan ”Siaran in berlangsung atas biaya SDSB”. Artinya, setiap siaran yang ditonton orang Indonesia, dibiayai oleh aktivitas yang banyak dinilai sebagai bentuk perjudian, yaitu SDSB. Muncullah polemik di masyarakat terutama dari kalangan Islam, yang sejak kelahiran Porkas hingga menjelma menjadi SDSB, menilainya sebagai judi.

Sedang asyik-asyiknya membicarakan ketrampilan Salvatore Schilacci, Roberto Baggio, Diego Maradona dan akal-akalan Jurgen Klinsmann agar selalu mendapat tendangan penalty, mulailah muncul suara-suara dari kalangan Islam, terutama sebagian dari Nahdlatul Ulama, bahwa menonton siaran Piala Dunia melalui TV hukumnya haram.

Alasannya sederhana sekali, karena siaran itu dibiayai oleh kegiatan yang dinilai sebagian orang sebagai bentuk perjudian, yaitu SDSB. Kebanyakan suara-suara itu berasal dari ulama-ulama di Jawa Timur. Lalu apa reaksi masyarakat terutama kalangan Islam atau nahdliyyin (pengikut Nahdlatul Ulama)? Biasa-biasa aja dan acuh dengan teriakan bagai di tengah padang pasir itu.

Kaum kalangan bawah pengikut NU di Jawa Timur punya jawaban jitu dan juga lugu bahkan terkesan lucu seperti lawakan Srimulat, terutama dari kalangan etnis Madura. Mereka keberatan dianggap haram menonton siaran Piala Dunia 1990 itu. “Buktinya habib-habib pada nonton pertandingan Piala Duniua 1990, kenapa kita dianggap haram?”, kilah mereka. Habib saja, panutan mereka, boleh nonton. Kenapa pengikutnya tidak boleh? Habib adalah sebutan terhormat untuk ulama dan guru agama yang berilmu dan berwibawa. Biasanya habib-habib di Indonesia adalah keturunan Arab dan selalu memakai pakaian panjang yang putih khas orang Arab, lengkap dengan penutup kepalanya (kaffiyeh) dengan kain berwarna putih.

Bagaimana mereka di Jawa Timur bisa tahu kalau habib nonton Piala Dunia 1990? Ternyata jawaban ini berasal dari keluguan mereka. Dari 24 negara yang ikut Piala Dunia 1990 di Italia itu, ada dua negara wakil benua Asia, yaitu Korea Selatan dan Persatuan Emirat Arab. Nah, ternyata selama menyaksikan pertandingan-pertandingan Piala Dunia 1990, disiarkan juga pertandingan antara Persatuan Emirat Arab dengan lawan-lawannya.

Dalam siaran itu, lensa kamera TV sering menampilkan ulah dan atraksi penonton serta pendukung kesebelasan negara penghasil minyak super kaya itu. Mereka umumnya dan semuanya memakai pakaian Arab, putih-putih, mirip dan sama yang dipakai oleh para habib-habib di tanah air. ”Tuh, lihat…habib aja pada nonton Piala Dunia, masak kita nggak boleh dan dibilang haram. Yang bener aja!”, kata seorang pengikut NU dari Jawa Timur. Hahahahaha…. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.