Sebuah catatan harian : “E L E G Y“

EA. Inakawa – Kinshasa


Note Redaksi:

Seperti biasa, setiap weekend, artikel lama akan ditampilkan kembali. Giliran dari EA. Inakawa yang menemani kita di weekend ini…


Achirnya ….. dengan manisnya Ethiopian Airline mendarat tepat pada pukul 1.45 pagi waktu setempat, landing yang manis ini sebagaimana kebiasaan penumpang Ethiopia diriuhkan suara tepuk tangan sebagai rasa salut kepada sang Kapten Pilot.

Kali pertama yang kulakukan ketika sampai di International Airport Bole Addis Ababa sembari menunggu jemputan yang datang terlambat  adalah mencari tempat disudut kafe Bole Mini, kupesan kopi Makato khas Abyssinia yang harumnya luar biasa, kujumput dengan hirupan perlahan…..

Satu yang khas dari kenikmatan kopi ini disajikan dalam gelas cawan kecil seukuran 100 ml  menghirupnya harus dengan penuh perasaan, menariknya ke langit-langit dan merasakan lezatnya di tenggorokan dahaga, harganya relatif murah hanya 250 birr atau sama dengan Rp.2500, – nikmatnya tak bisa kusetarakan dengan nikmatnya kopi Luwak  & kopi Gayo yang juga tak kalah sedap populer nya.

Perjalanan 2 hari Jakarta – Addis setelah transit selama 8  jam via Dubai membuat pinggang ini terasa sangatlah penat, Aku ingin rehat sambil menikmati oksigen Addis Ababa yang disebut sebagai “NEGERI DI ATAS AWAN”  ini, merenung sejenak apa yang akan kukerjakan keesokan harinya.

Malam ini di beranda Airport Bole sempat kulirik mesin  suhu udara tercatat 10 derajat celcius….kunikmati tiupan lembut & hembusan angin bumi Queen Sheba yang terasa sangat dan membuat malam semakin dingin menembus pori pori jaket kulit made in Italy hadiah ulang tahun dari Patricya. Ethiopia tercatat berada di ketinggian 2500 meter di atas permukaan laut.

Di  perjalanan menuju mess perwakilan di pinggir kota Addis 20 km di bibir kota sudah terbayang lentera bilik dengan arsitektur kamar khas rumah Gojo Ethiopian, bagiku bilik gojo adalah rumahku & pelabuhan melepaskan segala kepenatan yang pernah kuhuni selama 912 hari (+ – 2, 5 tahun) selalu nyaman berada di sana.

Dalam pelukan malam ini akupun terlelap dalam letih & kerinduan………….sayangnya tak ada mimpi indah yang berkenan singgah di bilik gojo ini.

………Pagi yang ramah & tersenyum malu, di antara dingin yang tersisa dan semburat matahari pagi yang merangkak segan dan perlahan, akupun terbangun dalam sahaja yang letih. Tercium aroma tanah dengan wewangian dari pohon eucalyptus (pohon minyak kayu putih) yang merimbun dan masih berkabut di sekitar Mess di antara kicau burung kenari & selindit  yang populasinya cukup banyak di Ethiopia.

Kunikmati karunia Tuhan ini dengan rasa syukur bahwa aku sampai dengan selamat di tempat tujuanku memenuhi janjiku kepada Patricya.

Kedatanganku kali ini memenuhi undangan mantan pacarku Patricya perempuan Perancis yang bekerja di sebuah NGO yang kukenal di Rotary Club, kalau bukan karena dia tak terpikir olehku untuk kembali ke sini, kota yang merilis sekelumit diary dalam sejarah hidupku, sebuah dosa manis….sebuah naluri warisan Adam & Eva yang menjadi rekam jejak kebinalanku.

Entah berapa banyak aksara cinta yang pernah ter-ukir di sini…..ada hawa & raga yang membayang dalam ingatanku…..berkelebat & liar.

Sebulan lalu …..Patricya mengirim pesan singkat melalui emailnya memintaku hadir pada resepsi pernikahannya, melalui telepon yang bersambung iya memintaku dengan sangat untuk hadir mendampinginya.

Hadir di antara kedua orang tuanya, aku sebenarnya enggan untuk kembali, tapi nadanya yang memelas membuat aku meng iyakan dan tak sanggup mengecewakannya. Iya katakan ini adalah hari yang bersejarah yang diharapkannya sebagai pernikahan pertama & ter-achir baginya, kalaupun ada pesta perkawinan berikutnya belum tentu aku akan mengundang kamu lagi….dengan gaya canda Perancis nya yang selalu penuh kelakar & humoris tanpa beban.

Di hari pernikahan itu aku datang lebih awal, aku ingin melepas rindu memandang wajah perempuan baby face berbintang gemini ini, perempuan dengan jiwa klasik & romantis sebagaimana kebanyakan wanita Perancis pada umumnya.

Rasa hormatku & hormatnya masih sama seperti dulu, tak luntur oleh waktu & jarak sebuah sifat yang membuat iya jatuh cinta dengan Indonesia, sebuah negeri yang memiliki pejantan santun – baik & setia serta ber- adab dan romantis menurut Patricya.

Patricya memandangku dengan lembut…..dan menggamit tanganku. Ada hal yang membuat aku tertegun ketika iya mengenalkan calon suaminya Christian Robertus orang Indonesia ber-asal dari Kupang sesama NGO juga.

Di sudut beranda altar gereja Katholik ….. ia menangis dalam dekapanku sesungguhnya aku tak mencintainya sebagaimana aku menyayangimu, demikian katanya. Pilihanku karena Christian orang Indonesia sebagaimana kamu yang kukenal, aku berharap akan menemukan sosok yang sama seperti kamu dalam dirinya.

Tak bisa kupungkiri bahwa aku ingin menangis juga kala itu…..betapa tebal rasa kasih yang ia pendam terhadapku, ada rasa salah bersembunyi di hatiku, betapa ia tak mengerti tak semua orang Indonesia memiliki sifat & pribadi yang sama.

Aku anak Sumatera campuran perpaduan China & Minang, sementara Christian ber-asal dari Kupang belahan timur Indonesia yang berbeda adat & istiadat. Bagiku perilaku kasih sayang adalah identik dengan asal yang tidak bisa disamakan, aku adalah pribadi yang memukau baginya, aku mencintainya karena sebuah pesona, sebuah laku sederhana dari anak desa…..

Sempurnanya di mataku Patricya sebuah pribadi yang tulus, pintar & sederhana, tidak pamrih atau memandang hina ras yang berbeda, kelebihan yang melekat itu membuat aku jatuh cinta padanya.

Acara pernikahan sederhana ini berlangsung khidmat, walaupun mungkin hati Christian cemburu kepadaku, ada nuansa amarah di antara lorong para tetamu ketika tatapan kami bertaut Christian memandangku dengan aura yang kaku, kilat matanya seperti ujung badik yang ingin menikamku. Sementara dalam setiap kesempatan Patricya selalu meminta agar aku tak menjauh darinya, aku sendiri merasa serba salah juga di antara mereka, tak banyak tanya & sapa ku kepada Christian.

Akupun takut menilai seperti apa sosoknya, aku sadar aku juga bukan yang terbaik bagi Patricya, kami bertemu di waktu & tempat yang salah….walaupun ada sebersit keyakinanku pertemuanku dengannya pastilah juga atas seizin TUHAN jua.

Dulu aku pernah nekat ber angan untuk bersanding dengannya, perbedaan religius menjadi debat panjang yang tak terselesaikan dan meng-achiri perjalanan kami, namun semua harapan & mimpi yang cerdas ber-achir tanpa rekomendasi masa kadaluarsa. Kami saling tak mampu meng-eksekusi sebuah coba-coba dengan kata perpisahan.

Semuanya berjalan dalam bening dan putaran waktu yang tak bisa kami hentikan & jarak tugas yang berbeda negara membuat kami berkelana melalui dunia maya, sesekali sms juga…..sampai jatuhnya hari ia mengundangku untuk datang.

Di tengah suasana resepsi , hadir juga di antara undangan asing lainnya : Bapak  “Duta Besar RI Luar biasa dan berkuasa penuh untuk Ethiopia – Eryteria & Somalia yang ternyata hadir atas undangan Patricya (2, 5 tahun yang lalu aku memang sering mengajak Patricya bermain tennis di KBRI sehingga iya cukup akrab juga dengan komunitas Indonesia lainnya ) dan ternyata iya tak bisa melupakan kebaikan pak Dubes kita yang suka guyon & pandai menyanyi ini.

Satu persatu para tetamu mulai menghilang…..aku masih terpasung di sana dalam angan yang mengharu biru tidak karuan. Achirnya kupastikan saja, aku amat sebentar untuk berlama-lama disana, akupun pamit. …..

Patricya masih berharap untuk bertemu di tempat biasa kami melepas rindu di sebuah taman bunga sumbangan JICA Japan, di sebuah tepi anak sungai kecil di taman itulah kami biasa berdiskusi tentang semua & cinta kami.

Aku selalu menjadi konsultan baginya, selalu dengan sabar mendengarkan semua dongeng pekerjaan dan realita kehidupannya. Dahaga rindu kami pada temu jumpa kali ini  seakan akan menebus hutang janji lamanya kami tak bersua.

Dan entah sampai kapan aku & Patricya mampu saling melupakan semuanya….di sini kami sudah menyatu menikmati ruang dan waktu yang Tuhan berikan kepada kami.

Aku tak ingin menghitung hari tanpa rasa & lupa ….. tak akan pernah, aku tetap akan menyimpan rasa itu sejalan dengan waktu yang hilang, aku menjalani sebuah nikmat di jalan hidup yang Tuhan berikan sepanjang umur.

Confusius memberi wasiat kepada kita untuk melakukan apa yang baik sesuai kata hati kita, bertindak menurut benarnya sebuah keinginan yang bebas tentang hati kita tentang sebuah rasa yang luar biasa….CINTA.


Salam setepak sirih sejuta pesan : EA.Inakawa – Boulevard 23 Jun 2010 –  DR.Congo


After some time I’ve finally made up my mind

She is the girl and I really want to make her mine

I’m searching everywhere to find her again

To tell her I love her

And I’m sorry ’bout the things I’ve done

I find her standing in front of the church

The only place in town where I didn’t search

She looks so happy in her wedding dress

But she’s crying while she’s saying this

Chorus:

Boy I missed your kisses all the time but this is

Twenty five minutes too late

Though you travelled so far boy I’m sorry you are

Twenty five minutes too late

Against the wind I’m going home again

Wishing be back to the time when we were more than

Friends

Still I see her in front of the church

The only place in town where I didn’t search

She looks so happy in her wedding dress

But she’s cried while she’s saying this

Chorus

Out in the streets

Places where hungry hearts have nothing to eat

Inside my head

Still I can hear the words she said

I can still hear what she said


Ilustrasi: kenuzi50 wp

54 Comments to "Sebuah catatan harian : “E L E G Y“"

  1. ilham  11 October, 2011 at 03:57

    Good story Bung Inakawa, mengingatkan warung kopi yang harus dinikmati sambil duduk di bangku kecil di bandara ethiopia. Sayang saya belum berkesempatan berjalan-jalan di taman itu. Ok lanjut part #2. Salam dari pantai Tanganyika.

  2. Adhe  11 August, 2011 at 00:55

    walau telaaaat baca, teteeeup…..bersyukur bisa menikmati tulisan yang indah ini, makasih ya Pak EA, aku suka narasi indah yang bapak tulis, so touchy.

  3. EA.Inakawa  1 January, 2011 at 19:04

    Happy New Year Duaribu 11 buat para Motivator,Senior & semua rekan Baltyra,smg TUHAN senantiasa memberi kita yg terbaik ditahun ini,amin.

    Koko Josh,terima kasih atas kemunculan artikel ini kembali sbg yg tertpilih di Weekend,sungguh saya tersanjung. salam baik dari Kinsahsa.

  4. Djoko Paisan  1 January, 2011 at 18:40

    Saat sepintas baca….Dj. pikir ALERGY…..!!!
    Barusan baca komentar dimas J.Chen di artikel mas yunanto yang sampai ndlosor dan kepala seperti diduduki gajah…. yang katanya lebih baik dengan alasan alergi…..hahahahahaha….!!!
    Salam Damai dari Mainz….

  5. Linda Cheang  1 January, 2011 at 18:26

    siap dengan konsekuensi cintanya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.