Friday, 2 July 2010
EA. Inakawa – Kinshasa
Note Redaksi:
Seperti biasa, setiap weekend, artikel lama akan ditampilkan kembali. Giliran dari EA. Inakawa yang menemani kita di weekend ini…
Achirnya ….. dengan manisnya Ethiopian Airline mendarat tepat pada pukul 1.45 pagi waktu setempat, landing yang manis ini sebagaimana kebiasaan penumpang Ethiopia diriuhkan suara tepuk tangan sebagai rasa salut kepada sang Kapten Pilot.
Kali pertama yang kulakukan ketika sampai di International Airport Bole Addis Ababa sembari menunggu jemputan yang datang terlambat adalah mencari tempat disudut kafe Bole Mini, kupesan kopi Makato khas Abyssinia yang harumnya luar biasa, kujumput dengan hirupan perlahan…..
Satu yang khas dari kenikmatan kopi ini disajikan dalam gelas cawan kecil seukuran 100 ml menghirupnya harus dengan penuh perasaan, menariknya ke langit-langit dan merasakan lezatnya di tenggorokan dahaga, harganya relatif murah hanya 250 birr atau sama dengan Rp.2500, – nikmatnya tak bisa kusetarakan dengan nikmatnya kopi Luwak & kopi Gayo yang juga tak kalah sedap populer nya.
Perjalanan 2 hari Jakarta – Addis setelah transit selama 8 jam via Dubai membuat pinggang ini terasa sangatlah penat, Aku ingin rehat sambil menikmati oksigen Addis Ababa yang disebut sebagai “NEGERI DI ATAS AWAN” ini, merenung sejenak apa yang akan kukerjakan keesokan harinya.
Malam ini di beranda Airport Bole sempat kulirik mesin suhu udara tercatat 10 derajat celcius….kunikmati tiupan lembut & hembusan angin bumi Queen Sheba yang terasa sangat dan membuat malam semakin dingin menembus pori pori jaket kulit made in Italy hadiah ulang tahun dari Patricya. Ethiopia tercatat berada di ketinggian 2500 meter di atas permukaan laut.
Di perjalanan menuju mess perwakilan di pinggir kota Addis 20 km di bibir kota sudah terbayang lentera bilik dengan arsitektur kamar khas rumah Gojo Ethiopian, bagiku bilik gojo adalah rumahku & pelabuhan melepaskan segala kepenatan yang pernah kuhuni selama 912 hari (+ – 2, 5 tahun) selalu nyaman berada di sana.
Dalam pelukan malam ini akupun terlelap dalam letih & kerinduan………….sayangnya tak ada mimpi indah yang berkenan singgah di bilik gojo ini.
………Pagi yang ramah & tersenyum malu, di antara dingin yang tersisa dan semburat matahari pagi yang merangkak segan dan perlahan, akupun terbangun dalam sahaja yang letih. Tercium aroma tanah dengan wewangian dari pohon eucalyptus (pohon minyak kayu putih) yang merimbun dan masih berkabut di sekitar Mess di antara kicau burung kenari & selindit yang populasinya cukup banyak di Ethiopia.
Kunikmati karunia Tuhan ini dengan rasa syukur bahwa aku sampai dengan selamat di tempat tujuanku memenuhi janjiku kepada Patricya.
Kedatanganku kali ini memenuhi undangan mantan pacarku Patricya perempuan Perancis yang bekerja di sebuah NGO yang kukenal di Rotary Club, kalau bukan karena dia tak terpikir olehku untuk kembali ke sini, kota yang merilis sekelumit diary dalam sejarah hidupku, sebuah dosa manis….sebuah naluri warisan Adam & Eva yang menjadi rekam jejak kebinalanku.
Entah berapa banyak aksara cinta yang pernah ter-ukir di sini…..ada hawa & raga yang membayang dalam ingatanku…..berkelebat & liar.
Sebulan lalu …..Patricya mengirim pesan singkat melalui emailnya memintaku hadir pada resepsi pernikahannya, melalui telepon yang bersambung iya memintaku dengan sangat untuk hadir mendampinginya.
Hadir di antara kedua orang tuanya, aku sebenarnya enggan untuk kembali, tapi nadanya yang memelas membuat aku meng iyakan dan tak sanggup mengecewakannya. Iya katakan ini adalah hari yang bersejarah yang diharapkannya sebagai pernikahan pertama & ter-achir baginya, kalaupun ada pesta perkawinan berikutnya belum tentu aku akan mengundang kamu lagi….dengan gaya canda Perancis nya yang selalu penuh kelakar & humoris tanpa beban.
Di hari pernikahan itu aku datang lebih awal, aku ingin melepas rindu memandang wajah perempuan baby face berbintang gemini ini, perempuan dengan jiwa klasik & romantis sebagaimana kebanyakan wanita Perancis pada umumnya.
Rasa hormatku & hormatnya masih sama seperti dulu, tak luntur oleh waktu & jarak sebuah sifat yang membuat iya jatuh cinta dengan Indonesia, sebuah negeri yang memiliki pejantan santun – baik & setia serta ber- adab dan romantis menurut Patricya.
Patricya memandangku dengan lembut…..dan menggamit tanganku. Ada hal yang membuat aku tertegun ketika iya mengenalkan calon suaminya Christian Robertus orang Indonesia ber-asal dari Kupang sesama NGO juga.
Di sudut beranda altar gereja Katholik ….. ia menangis dalam dekapanku sesungguhnya aku tak mencintainya sebagaimana aku menyayangimu, demikian katanya. Pilihanku karena Christian orang Indonesia sebagaimana kamu yang kukenal, aku berharap akan menemukan sosok yang sama seperti kamu dalam dirinya.
Tak bisa kupungkiri bahwa aku ingin menangis juga kala itu…..betapa tebal rasa kasih yang ia pendam terhadapku, ada rasa salah bersembunyi di hatiku, betapa ia tak mengerti tak semua orang Indonesia memiliki sifat & pribadi yang sama.
Aku anak Sumatera campuran perpaduan China & Minang, sementara Christian ber-asal dari Kupang belahan timur Indonesia yang berbeda adat & istiadat. Bagiku perilaku kasih sayang adalah identik dengan asal yang tidak bisa disamakan, aku adalah pribadi yang memukau baginya, aku mencintainya karena sebuah pesona, sebuah laku sederhana dari anak desa…..
Sempurnanya di mataku Patricya sebuah pribadi yang tulus, pintar & sederhana, tidak pamrih atau memandang hina ras yang berbeda, kelebihan yang melekat itu membuat aku jatuh cinta padanya.
Acara pernikahan sederhana ini berlangsung khidmat, walaupun mungkin hati Christian cemburu kepadaku, ada nuansa amarah di antara lorong para tetamu ketika tatapan kami bertaut Christian memandangku dengan aura yang kaku, kilat matanya seperti ujung badik yang ingin menikamku. Sementara dalam setiap kesempatan Patricya selalu meminta agar aku tak menjauh darinya, aku sendiri merasa serba salah juga di antara mereka, tak banyak tanya & sapa ku kepada Christian.
Akupun takut menilai seperti apa sosoknya, aku sadar aku juga bukan yang terbaik bagi Patricya, kami bertemu di waktu & tempat yang salah….walaupun ada sebersit keyakinanku pertemuanku dengannya pastilah juga atas seizin TUHAN jua.
Dulu aku pernah nekat ber angan untuk bersanding dengannya, perbedaan religius menjadi debat panjang yang tak terselesaikan dan meng-achiri perjalanan kami, namun semua harapan & mimpi yang cerdas ber-achir tanpa rekomendasi masa kadaluarsa. Kami saling tak mampu meng-eksekusi sebuah coba-coba dengan kata perpisahan.
Semuanya berjalan dalam bening dan putaran waktu yang tak bisa kami hentikan & jarak tugas yang berbeda negara membuat kami berkelana melalui dunia maya, sesekali sms juga…..sampai jatuhnya hari ia mengundangku untuk datang.
Di tengah suasana resepsi , hadir juga di antara undangan asing lainnya : Bapak “Duta Besar RI Luar biasa dan berkuasa penuh untuk Ethiopia – Eryteria & Somalia yang ternyata hadir atas undangan Patricya (2, 5 tahun yang lalu aku memang sering mengajak Patricya bermain tennis di KBRI sehingga iya cukup akrab juga dengan komunitas Indonesia lainnya ) dan ternyata iya tak bisa melupakan kebaikan pak Dubes kita yang suka guyon & pandai menyanyi ini.
Satu persatu para tetamu mulai menghilang…..aku masih terpasung di sana dalam angan yang mengharu biru tidak karuan. Achirnya kupastikan saja, aku amat sebentar untuk berlama-lama disana, akupun pamit. …..
Patricya masih berharap untuk bertemu di tempat biasa kami melepas rindu di sebuah taman bunga sumbangan JICA Japan, di sebuah tepi anak sungai kecil di taman itulah kami biasa berdiskusi tentang semua & cinta kami.
Aku selalu menjadi konsultan baginya, selalu dengan sabar mendengarkan semua dongeng pekerjaan dan realita kehidupannya. Dahaga rindu kami pada temu jumpa kali ini seakan akan menebus hutang janji lamanya kami tak bersua.
Dan entah sampai kapan aku & Patricya mampu saling melupakan semuanya….di sini kami sudah menyatu menikmati ruang dan waktu yang Tuhan berikan kepada kami.
Aku tak ingin menghitung hari tanpa rasa & lupa ….. tak akan pernah, aku tetap akan menyimpan rasa itu sejalan dengan waktu yang hilang, aku menjalani sebuah nikmat di jalan hidup yang Tuhan berikan sepanjang umur.
Confusius memberi wasiat kepada kita untuk melakukan apa yang baik sesuai kata hati kita, bertindak menurut benarnya sebuah keinginan yang bebas tentang hati kita tentang sebuah rasa yang luar biasa….CINTA.
Salam setepak sirih sejuta pesan : EA.Inakawa – Boulevard 23 Jun 2010 – DR.Congo
After some time I’ve finally made up my mind
She is the girl and I really want to make her mine
I’m searching everywhere to find her again
To tell her I love her
And I’m sorry ’bout the things I’ve done
I find her standing in front of the church
The only place in town where I didn’t search
She looks so happy in her wedding dress
But she’s crying while she’s saying this
Chorus:
Boy I missed your kisses all the time but this is
Twenty five minutes too late
Though you travelled so far boy I’m sorry you are
Twenty five minutes too late
Against the wind I’m going home again
Wishing be back to the time when we were more than
Friends
Still I see her in front of the church
The only place in town where I didn’t search
She looks so happy in her wedding dress
But she’s cried while she’s saying this
Chorus
Out in the streets
Places where hungry hearts have nothing to eat
Inside my head
Still I can hear the words she said
I can still hear what she said
Ilustrasi: kenuzi50 wp
July 2nd, 2010 at 14:19
alfred… dari Mesra jadi Mesum…
July 2nd, 2010 at 12:20
Inakawa, kali ini artikelmu membuatku menangis. Aku mengerti benar perasaan Patricya. Sebuah kasih yang tak pernah hilang. Ketika aku bertengkar dengan pacarku, aku juga memutuskan untuk menjauh dan mencari gantinya, tapi seperti Patricya, selalu yang kucari adalah karakter dan pribadinya dalam diri orang lain. Sampai aku lelah, semakin menjauh, semakin tersiksa, dan Tuhan Maha Tahu kalau aku menderita, akhirnya pacarku yang kontak aku lagi dan menanyakan aku serius putus atau tidak. Akhirnya kami baikan lagi.
July 2nd, 2010 at 12:15
Pak Inakawa… keren bgt bertuturnya
July 2nd, 2010 at 11:28
Hallo bung Inikawa….
Selamat Pagi dari Mainz…
Terimakasih untuk cerita yang sangat romentis….
Jadi ingat pengalaman diri sendiri…..
Salam Sejahtera dari Mainz….
July 2nd, 2010 at 10:51
bang Ilhampst: ok bang sama-sama…trimakasi yang sama jga buat Inakawa…
July 2nd, 2010 at 10:40
Alfred, suka komenmu no 9. Komenku tadi gak masuk, mungkin gangguan di koneksi nih. Thanks ceritanya Pak Inakawa
July 2nd, 2010 at 10:04
komen no 8: semoga itu tidak berati TEMAN TAPI MESUM….heeheheh(maap)..
bang Iwan: waw….baru tahu aku….genealogy yang baik dan akurat…sip, bang…
July 2nd, 2010 at 09:52
Patricya mengapa kau melabuhkan hatimu pada Christian dan berharap cintanya akan seperti Inakawa?
Tidak sadarkah kamu, mereka dua pribadi yang berbeda?
Mengapa oh mengapa?
Patricya, semoga kamu berbahagia….
July 2nd, 2010 at 09:22
Inakawa, kopi itu berasal dari kata coffe yang asalnya dari nama Kaffa, daerah di Ethhiopia, tempat pertama kalinya kopi ditemukan. Jadi ngopi di Ethiopia sama seperti halnya ngopi di Tanah Suci Kopi…
Salam untuk Mobutu dan Kabila.
July 2nd, 2010 at 09:11
om EA,aku gemini juga doooh hihihi