Piala Dunia “Punya” Indonesia: Indonesia punya aroma Piala Dunia, tapi tak punya pialanya

PIALA DUNIA ‘PUNYA’ INDONESIA (4)

Indonesia punya aroma Piala Dunia, tapi tak punya pialanya

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


DIBANDING negara-negara lain yang pernah ikut Piala Dunia, Indonesia lebih unggul soal bagaimana memperlakukan pesta akbar sejagat itu. Tapi jangan dibandingkan dengan negara-negara Eropa atau Amerika Latin soal menikmati Piala Dunia.

Dari segi historis, orang dari Indonesia lebih dulu tampil di ajang Piala Dunia. Dulu sewaktu masih bernama Hindia Belanda dan menjadi bagian dari Kerajaan Belanda, orang-orang dari Indonesia sudah tampil dalam Piala Dunia 1938 di Prancis, sekaligus sebagai bangsa Asia pertama yang berlaga di Piala Dunia.

Inggris saja yang menjadi kiblat sepakbola dunia, baru pertama kali tampil pada Piala Dunia 1950 di Brasil. Korea Selatan baru pertama kali pada Piala Dunia 1954 di Swiss.  Jangan tanya negara-negara seperti Jepang, Cina atau Selandia Baru maupun Australia. Mereka baru tampil setelah 30 tahun, 40 tahun bahkan 50 tahun sejak orang dari Indonesia berlaga di arena olahraga paling digemari sejagat itu.

Kini banyak orang yang heran dan merasa seperti tidak masuk akal bila Indonesia tidak bisa tampil di Piala Dunia. “Masak milih 11 orang terbaik dari sekian ratus juta saja tidak bisa?”, tanya penggemar dan pecinta sepakbola Indonesia.

Lihat saja, negara Haiti dan Zaire (sekarang bernama Republik Demokrasi Congo)  yang super miskin dan jauh tertinggal dari Indonesia, bisa tampil di Piala Dunia 1974. Saat itu Indonesia sedang jaya raya kebanjiran duit dari jual minyak, karena negara-negara Arab melakukan embargo minyak ke dunia barat akibat ulah Israel yang dibela mati-matian oleh barat.

Iran yang sedang carut marut berevolusi Islam tahun 1978, masih bisa tampil di Piala Dunia 1978 di Argentina. Waktu mereka pergi ke Argentina, pemimpin mereka adalah Shah Iran, ketika pulang nasib mereka terkatung-katung dan berganti bos menjadi Ayatullah Khomeini. Juga El Salvador yang sedang berperang saudara tahun 1982 karena Uskup Agung mereka dibunuh bisa berlaga di Piala Dunia 1982 di Spanyol. Bareng mereka, tampil juga pertama kali Selandia Baru meski olahraga sepakbola dianggap asing di negeri rugby ini. Juga pemain-pemain Kuwait yang pertama kali tampil dalam Piala Dunia di Spanyol, rela bertanding sambil berpuasa Ramadan. Bayangkan betapa dehidrasinya mereka. Wajar kalau mereka kalah lawan Inggris dan Prancis serta bermain seri melawan Cekoslowakia dalam Grup 4 Piala Dunia 1982, yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan bagi umat Islam.

Bahkan Amerika Serikat yang tidak bisa menendang bola dan tak punya prestasi, bisa tampil di Piala Dunia 1990 setelah absen 40 tahun. Lebih gila lagi mereka dipilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 1994! Banyak penggemar sepakbola kecewa dengan keputusan ini. Seperti mengadakan pertunjukkan tari telanjang di depan para pemimpin agama. Kenapa Indonesia tidak pernah bisa? Mungkin saja kita lebih mengenal pengurus sepakbola daripada pemainnya. Sehingga prestasi sepakbola Indonesia lebih berprestasi di atas kertas daripada di atas rumput.


PEGANG TAPI TAK PUNYA

Meski Indonesia tak pernah tampil di Piala Dunia dan tak pernah berprestasi baik di laga internasional, dunia dan FIFA masih menganggap Indonesia sebagai satu mata rantai sepakbola dunia. Sepakbola hidup di Indonesia dan tak akan mati, meski prestasinya mati terus…

Di saat negara-negara Asia tak punya stadion sepakbola memadai, Indonesia membuat sebuah stadion megah dan menjadi satu dari stadion sepakbola terbesar di dunia tahun 1962, yaitu Stadion Gelora Bung Karno. Di banding Stadion Wembey (sebelum dipugar), Gelora Bung Karno jauh lebih bagus. Kalau kita menonton pertandingan di Gelora Bung Karno, tidak ada tiang penyangga atap stadion yang menghalangi pemandangan pertandingan, seperti di stadion-stadion sepakbola Eropa.

Stadion sepakbola Gelora Bung Karno pernah membuat kagum Ketua IOC Juan Antonio Samaranch, yang berkeliling stadion dan dibuat heran dengan  kemegahan bangunan hasil kerja orang Rusia itu. Mungkin dia bingung, stadionya bagus, kok prestasinya nggak bagus-bagus. Bandingkan stadion sepakbola di Kuala Lumpur ketika diadakan final pertandingan sepakbola pada penutupan SEA Games 1977, yang mirip sawah di Klaten. Becek, jelek, untuk gak ada ojek di dalamnya. Mirip kubangan sapi, kata harian Merdeka yang sudah mati.

Tidak heran banyak kesebelasan dunia dan klub sepakbola terkenal dunia, menyempatkan bertanding di Indonesia dan di Senayan, bila mereka melakukan wisata olahraga. Klub-klub terkenal dari Eropa Timur sering tampil selama awal 1960an dan 1970an, seperti dari Brno, Dnepr, Dynamo Zagreb, Santos dan banyak lagi.

Lev Yashin, penjaga gawang terkenal dunia dari Uni Soviet, pernah tampil di bawah gawang Gelora Bung Karno. Bintang Piala Dunia 1966 dari Portugal, Eusebio pernah main di sini. Saya ingat waktu saya masih TK di tahun 1972, diajak oleh ayah saya jauh-jauh dari Jatinegara naik bis umum Gamadi nonton ke Senayan (sebelum diganti kembali menjadi Gelora Bung Karno). Jarang-jarang ayah saya mau nonton ke Senayan. Perjalanan itu adalah pertama dan terakhir bagi saya pergi bersama ayah saya, sebelum meninggal dunia September 1972.

Saya masih ingat kemegahan stadion terbesar di Indonesia itu di malam hari dengan sorot lampu kuning yang mentereng. Saya menonton kesebelasan entah dari mana dan lawan apa, yang saya ingat adalah mereka memakai kostum berwarna kuning dan merah. Ternyata, setelah puluhan tahun kemudian, saya sadar dan saya tahu bahwa yang saya tonton bersama ayah saya itu adalah pemain-pemain Brasil, termasuk Pele yang datang ke Indonesia awal 1972. ”Wah, saya sudah nonton Pele, meski saya tak tahu bahwa saya menyaksikannya”, pikir saya bangga. Kalau tak salah klub Santos asal Sao Paolo (asal klub Pele) bertandang ke Jakarta waktu itu.

Dari saat itu saya mulai menyenangi sepakbola, khususnya Piala Dunia. Saya tak pernah absen menyambut dan menyaksikan Piala Dunia sejak saya masih kanak-kanak sejak Piala Dunia 1978 sampai sekarang. Bahkan waktu baru masuk SMP, saya berani nonton bersama teman-teman, jauh-jauh dari rumah saya di Jatinegera ke Senayan. Yang saya tonton tak tanggung-tanggung, klub Cosmos New York. Dan saya bangga bisa menyaksikan Franz Beckenbauer bermain bola di Senayan, diakhir karirnya bersama pemain dunia terkenal, seperti Giorgio Chinaglia asal Italia, Abdul Razak asal Ghana dan Johan Neeskens dari Belanda. Mereka semua bermain di klub Cosmos, milik Ahmet Ertegun, pendiri Atlantic Record yang juga sahabat senyawa semua personil The Rolling Stones. Klub Cosmos datang ke Senayan pada awal Oktober 1980.

Bahkan tahun 1981, pemain Belanda terkenal berwajah filsuf, Johan Cruyff datang bersama istrinya dan bermain di Senayan ikut klubnya, Washington Diplomat. Namun saya tak menonton kehebatan Mario Kempes bermain di Senayan tahun 1975, karena masih anak-anak, sebelum Kempes menjadi bintang dunia dan pahlawan Argentina waktu merebut Piala Dunia 1978 di rumahnya sendiri. Pendek kata untuk sepakbola dunia, Indonesia tak pernah dianggap enteng dan sepi oleh FIFA dan penggila sepakbola.


PIALA DUNIA MILIK INDONESIA

Meskipun Indonesia tak pernah memiliki Piala Dunia, FIFA pada bulan Maret 2006 pernah mendatangkan trofi asli itu ke Indonesia. Beruntunglah Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi orang Indonesia pertama yang memegang dan menyentuh trofi Piala Dunia, sejak Franz Backenbauer memegangnya pertama kali ketika negaranya menjadi juara Piala Dunia 1974 di stadion Muenchen. Tahun 2010, FIFA mendatangkan kembali trofi itu ke Indonesia dan kali ini diterima dan dipegang oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka. SBY kalah dengan Jusuf  Kalla soal Piala Dunia.

Sebelumnya trofi Piala Dunia disebut Piala Jules Rimet sejak pertama kali diadakan Piala Dunia tahun 1930 di Uruguay, hingga Piala Dunia 1970 di Meksiko ketika Brasil berhasil menjadi juara dunia ketiga kalinya dan berhak memiliki trofi itu selamanya, meski akhir hilang dicuri orang. Nah, sejak Piala Dunia 1974, FIFA membuat trofi baru yang dirancang Silvio Gazzaniga hingga diperebutkan sampai sekarang di Piala Dunia 2010.

Ada keanehan pada disain trofi Piala Dunia sepakbola itu, terutama bagi orang Indonesia yang jeli. Kalau diperhatikan dengan seksama, seolah-olah piala tersebut dibuat oleh orang Indonesia dan untuk menghormati bangsa Indonesia. Perhatikan disain bola dunia yang sedang diusung oleh seorang sambil mengangkat tangannya pada trofi tersebut.

Nah, di atas kepala si pembawa bola dunia itu, tepat sekali terhias peta Indonesia. Artinya, wajah depan trofi Piala Dunia sepakbola ini adalah peta Indonesia? Masalah ini sampai sekarang menjadi perdebatan penggemar sepakbola dunia. Mengapa peta Indonesia yang tergambar sehingga menjadi wajah utama trofi Piala Dunia? Mengapa bukan peta Brasil? Negara yang tak pernah absen ikut Piala Dunia sejak pertama kali diadakan hingga sekarang.

Mengapa juga bukan peta Italia, negara asal si perancang trofi Silvio Gazzaniga yang menjadi wajah utama piala paling bergengsi tersebut? Lalu mengapa juga buka peta Eropa atau peta negara Inggris di atas kepala sosok yang seolah memegang dan mengangkat globe. Lalu mengapa peta Indonesia yang menjadi wajah utama sang trofi?

Secara kebetulan juga, Indonesia pernah ”tampil” juga dalam final Piala Dunia 1974 di Stadion Olimpiade Muenchen, Jerman Barat. Apanya yang tampil? Padahal Indonesia sudah keok di saat penyisihan untuk mewakili satu negara Asia dan Oceania. Dan akhirnya, Australia yang mewakilinya pada Piala Dunia 1974.

”Tampilnya” Indonesia pada final Piala Dunia 1974, saya baca di majalah sepakbola tahun 1970an yang terkenal (dan sekarang sudah mati), namanya majalah ”OLYMPIC”. Dalam sebuah edisinya dimuat artikel tentang ”penampilan” Indonesia pada ajang Piala Dunia tahun 1974 melalui penggunanan koin Indonesia oleh wasit. Dalam majalah ”OLYMPIC” itu juga saya melihat gambar Pele tersenyum riang sambil menyerahkan kaosnya bernomor 10 kepada Presiden Soeharto di Bina Graha di akhir tahun 1974, yang kedatangannya diantara oleh Ketua PSSI saat itu, Bardosono. Bardosono, seorang prajurit militer, pernah melontarkan konsep Sepakbola Pancasila. (???? binguungggg)

Nah, pada saat akan dimulai pertandingan final antara Belanda dan Jerman Barat, wasit John Taylor dari Inggris memakai koin emas Indonesia. Ketika itu Bank Indonesia memang menerbitkan koin-koin khusus dalam denominasi besar. Misalnya koin emas bergambar komodo pecahan Rp 100.000,- dan juga bergambar burung cendrawasih pecahan Rp 50.000,-. Angka besaran itu tentu sangat besar pada tahun pertangahan 1970an. Namun koin-koin itu tidak dibuat sebagai alat pembayaran untuk masyarakat umum. Lalu entah mengapa, wasit John Taylor bisa memakai koin Indonesia untuk mengundi tempat antara kesebelasan Belanda dan Jerman Barat, beberapa menit sebelum final dimulai.

Pentingnya Indonesia dianggap satu mata rantai semangat sepakbola dunia, bisa dilihat dari protokoler Istana. Presiden Soeharto pernah menerima Pele di Bina Graha pada Desember 1974 sambil sang bintang memberi kaos bernomor 10 kepada bos Indonesia itu. Lalu Presiden Yudhoyono sempat bermain bola dengan bintang Piala Dunia 1998, Zineddine Zidane yang berpakaian batik dan jins di halaman Istana Merdeka. Saya rasa kalau Pele, Maradona atau bintang sepakbola lainnya datang ke Indonesia, pintu Istana Merdeka terbuka lebar untuk menerimanya.


CIUM BAU DUREN TAPI TAK PUNYA DUREN

Tanpa Piala Dunia saja, orang Indonesia selalu membincangkan hasil pertandingan sepakbola mingguan di klub-klub Eropa. Bayangkan kalau yang datang itu Piala Dunia, wah…sampai bosen lihatnya. Semua bentuk promosi dan kegiatan dihubungkan dengan Piala Dunia. Banyak pihak mengambil keuntungan secara komersial dengan pertandingan sepakbola sejagat ini. Mulai dari iklan susu bayi sampai mimbar agama, membicarakan Piala Dunia, dengan pujian, kritikan juga sindiran. ”Jangan sampai suami senangnya nonton bola doang, tetapi tak mau ’main bola’ sama istrinya”, sindir seorang penceramah.

Sejak Piala Dunia 1978, Indonesia sudah terjangkit demam Piala Dunia. Kita seolah seperti menjadi tuan rumah Piala Dunia, tanpa ada satupun pertandingan Piala Dunia di bumi Indonesia. Betapa sibuknya media massa mempersiapkannya. Lebih detail wartawan Indonesia melaporkan hiruk pikuk Piala Dunia dibanding meliput kegiatan haji atau kunjungan presiden ke luar negeri atau hajatan konperensi ekonomi tingkat dunia.

Di mana-mana Piala Dunia, ke mana-mana Piala Dunia, apa-apa Piala Dunia, siapa-siapa Piala Dunia, kenapa-kenapa Piala Dunia… Itulah orang Indonesia, seolah seperti menjadi tuan rumah hajatan itu. Itupun belum pernah merasakan Indonesia ikut dalam ajang tersebut. Bagaimana kalau Indonesia bisa ikut Piala Dunia, tak terbayang antusias masyarakat menyambutnya dan mendukungnya, meski di atas kertas akan jadi bulan-bulanan negara-negara jagonya sepakbola.

Sepertinya kita selalu mencium bau durian yang dibeli tetangga, tetapi kita tidak mampu merasakan rasa durian itu, apalagi membelinya. Antusias masyarakat bisa lebih gempita dibanding masyarakat Amerika Serikat, yang negaranya tak mengerti sepakbola dan mulai langganan ikut Piala Dunia meski selalu kalah di babak kedua, bahkan pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 1994. Sampai-sampai Presiden Bill Clinton dianggap sebagai presiden AS paling beruntung, karena bisa membuka Piala Dunia 1994 di negaranya dan Olimpiade 1996 di Atlanta. Dua peristiwa olahraga sejagat terbesar.

Mudah-mudahan anak cucu kita bisa merasakan kebanggaan kesebelasan Indonesia bisa berlaga di Piala Dunia. Atau bisa saja ikut asal jatah wakil Asia diperbanyak, meski hal ini sangat mustahil. FIFA masih menganggap Piala Dunia itu pestanya orang Eropa, karena benua itu paling rajin, rapih dan teratur mengadakan kompetisi sepanjang masa di abad modern ini. Hasilnya, pemain sepakbola berkualitas dari negara yang berkualitas pula yang enak ditonton dan disaksikan.

Keberpihakan FIFA kepada benua Eropa bisa dilihat dari waktu dan jadual diadakannya setiap pertandingan Piala Dunia. Jadual pertandingan Piala Dunia, sebisa mungkin dan harus ditonton orang Eropa melalui TV pada saat prime time mereka atau jam melek mereka. Jadi tidak pernah orang Eropa nonton pertandingan Piala Dunia dari benua lain, pada dini hari atau pagi hari saat orang sibuk bekerja. Ini menyangkut segi komersial dan hitung-hitungan bisnis juga.

Sebagai korbannya, pertandingan diatur waktunya sesuai prime time orang Eropa. Tidak peduli bangsa lain. Sudah diberi hak siar saja sudah bagus. Jangan menuntut macam-macam. Kalau Piala Dunia diadakan di Amerika Utara (AS, Kanada atau Meksiko), pasti pertandingan diadakan siang hari bolong saat terik matahari, agar orang Eropa menikmatinya di sore atau malam hari. Waktu yang paling nikmat untuk menonton TV. Bagaimana dengan orang Indonesia? Orang kita pasrah dan nrimo. Mau nonton pagi hari, OK. Mau siang hari, OK juga. Mau malam hari, lebih OK. Mau dini hari saat 200 juta orang lain sedang tertidur pulas… ya oke-oke saja. Resikonya pagi hari saat mencari rejeki, kondisi jadi tidak fit dan bergairah.

Kita di Indonesia tinggal terima saja siaran langsung Piala Dunia, kapan saja, oleh siapa saja. Asal jangan bayar, karena menonton pertandingan Piala Dunia adalah anugerah Tuhan. Coba saja ada stasiun TV yang punya ide menayangkan hak siar Piala Dunia yang dibelinya melalui TV kabel atau TV berbayar… Hmmm…dijamin bakal ada keresahan bahkan kerusuhan sosial. Tidak banyak orang Indonesia berlangganan TV berbayar.

Orang Indonesia tidak peduli yang juara siapa, pastinya yang senang kita. Yang tuan rumah siapa, yang senang kita juga. Yang kalah siapa, yang senang kita. Orang Indonesia paling senang melihat kebahagiaan dan juga penderitaan orang lain. (*)

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *