Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Sejenak Politik

Saturday, 3 July 2010

Viewed 1305 times, 1 times today | 18 Comments |

Alfred Tuname


Setiap orang punya hak politik. Hak politik tidak saja sekadar membicarakan persoalan politik tetapi juga terlibat dalam aktivitas politik. Dalam tingkatan diskursus, tema politik selalu menarik.

Ketertarikan politik ada karena politik merupakan ekspresi natural manusia (nature). Politik juga nurture sebab dipegaruhi oleh pangalaman sosialnya. Boleh jadi, politik adalah “belalang“ yang memilik waktak yang berbeda sesuai dengan  karakter ladangnya.

Berdasarkan antesenden-antesenden itu, maka makhluk politik, zoon politikon, mendefenisikan politik secara berbeda-beda. Machiavelli hidup di zaman renaissace yang penuh konflik dan kecurigaan. Hobbes dilahirkan secara prematur saat armada laut Spanyol siap menggempur London yang tidak jauh dari kota kelahirannya; hidup dalam ketakutan peristiwa berdarah.

Schmit hidup di masa akhir Republik Weimar dan era totalitarianisme NAZI Jerman. Habermars, Laclau, Mouffe, Arendt dan Rawls menyaksikan puing-puing peperangan (Perang Dunia II, Perang Vietnam) saat fajar demokrasi telah menyingsing dan jargon globalisasi telah kian akrab. Beberapa contoh curriculum intelektual politik di atas menyakinan kita akan akan perbedaan defenisi politik yang pernah mereka deskripsikan berdasarkan nurture mereka masing-masing.

Pendefinisian Politik tentu didasarakan atas proses kesadaran berpikir. Berpikir secara kritis. Jika poltik dilinearkan dengan kekuasaan maka proses berpikir menempati posisi yang urgen. Berpikir menjadi urgen  karena krisis kekuasaan itu terjadi karena krisis berpikir. Michael L. leGault (writer) menulis bahwa “Critical thinking is a cognitive skill that permits a person to logically investigate a situation, problem, question, or phenomenon in order to make a judgement or decision”. Lagi-lagi, politik tidak lepas dari kehidupan manusia.

Di sini, politik terkait dengan kecerdasan (intelektualitas) dan insting. Karena intelektualitasnya, orang ingin membicarakan politik dan karena instingnya (der wille zur macht, orang pun ingin menceburkan diri dalam realitas politik. Bahkan ketika seseorang tidak ingin menerima sakramen politik pun sebenarnya ia sedang berpolitik.

Kita pun yang  hidup di abad XXI dan anak emas teknologi atau lebih khusus lagi fecebookers dan bloggers mampu mendefensikan politik dan menceburkan diri dalam realitas politik an sich. Bukankah politik bergentayangan dimana-mana? Jika politik itu seni, maka kita pun mampu memainkannya. Seperti sebuah adagium “everyone can dance“. Defenisi politik pun melahirkan atribut moralitas. Politik yang berarti positif (baik) dan negatif (buruk).

Kembali lagi, penalaran melingkar, semua itu tergantung pada subjek yang bercerita tentang politik yakni subjek yang ingin menimba „die erloesende kraft des Erzaehlens“ (kekuatan emansipatoris dari bercerita).

Apa pun itu, politik harus dikembalikan pada rahimnya. Pada zaman Yunani, polis adalah negara kota. Martin Heidegger menulis, polis adalah sebuah tempat historis (historical place), sesuatu  yang ada di sana (the there) dan di sini (the here) yang di dalamnya sejarah terjadi.

Dalam polis (ruang publik) orang menjadi politis apabila menjalankan kewajibannya sesuai dengan profesi masing-masing secara sungguh-sungguh. Sebuah penyimpangan dianggap apolitis. Di sini, manusia hidup bersama-sama dalam komunikasi yang bebas kepentingan, koersi dan kekerasan. Dan lahirlah terminologi zoon politikon (manusia politis yang hidup dalam polis).

Dalam polis, manusia mewujudkan kemanusiaannya secara sungguh-sungguh. Ia menyingkapkan dan merealisasikan siapa dirinya dalam  komunikasi secara bebas dan ekual. Polis bebas dari private interest baik itu individu pun kelompok. Yang ada hanyalah kepentingan bersama pro bonum publicum.

Sebab itu, komunikasi selalu bersifat transparan dan semua berpartisipasi (public partisipation).  Dan menurut Jurgen Habermars, tindakan komunikatif adalah mendium di mana kehidupan bersama yang intersubjektif terjadi. Inilah politik.

Perjalanan politik menuju rahimnya masih berlangsung. Perjalanannya adalah sejarah. Sejarah yang diciptakan oleh aktor-aktor dalam polis (konsep Heideggerian). Dan demokrasi merupakan salah satu saluran yang minus malum menuju rahim politik. Dengan itu, kekuasaan dikembalikan kepada subjeknya, publicum. Vox populi vox Dei!!!


Djogja, 29 Maret 2010

Alfred Tuname

Share This Post

Posted by Saturday, 3 July 2010 on 06:08.

Categories: Ekonomi & Politik. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

18 Responses to “Sejenak Politik”

Pages: [2] 1 »

  1. 18
    bernadette Says:

    @Dewi aichi san –> oh..ya ga papa .. Trima kasih..

  2. 17
    Dewi Aichi Says:

    Nadette: maaf nih…ngga bisa bantu…ada teman, tapi ngga bisa online, karena ymku error,

  3. 16
    Edy Says:

    Inilah descripsi politikus menurut pink floyd dan fans2nya yg berjuta juta jumlahnya dalam lagunya brain damage. Politikus disebutnya sbg the lunatic.
    The lunatic is on the grass.
    The lunatic is on the grass.
    Remembering games and daisy chains and laughs.
    Got to keep the loonies on the path.

    The lunatic is in the hall.
    The lunatics are in my hall.
    The paper holds their folded faces to the floor
    And every day the paper boy brings more.

    And if the dam breaks open many years too soon
    And if there is no room upon the hill
    And if your head explodes with dark forebodings too
    I’ll see you on the dark side of the moon.

    The lunatic is in my head.
    The lunatic is in my head
    You raise the blade, you make the change
    You re-arrange me ’til I’m sane.
    You lock the door
    And throw away the key
    There’s someone in my head but it’s not me.

    And if the cloud bursts, thunder in your ear
    You shout and no one seems to hear.
    And if the band you’re in starts playing different tunes
    I’ll see you on the dark side of the moon.

  4. 15
    bernadette Says:

    Ada yang tau info toko bunga di Lombok? ^^;; hellp ~~~

  5. 14
    alfred tuname Says:

    sepakat dengan mba dewi terkait komen bang Edy. dan marilah juga kita berdoa untuk negeri politik dan negeri Indonesia. tujuannya adalah nilai dan etika bisa diamalkan dalam politik Indonesia….

  6. 13
    alfred tuname Says:

    bang Edy: masalahnya orang tidak bisa menghindar dari politik. utuk berubah kita mesti masuk dalam politik. berubah dalam artian politik yang membawa kesejateraan.. esensi politik adalah konflik. jika tak ada konflik maka politik pun tak perna ada. tetapi yang jusru peran kita sebagai insan politik adalah membaut semua telikung menjadi lurus dan win-win solution dalam konflik…

  7. 12
    Dewi Aichi Says:

    Alfred: benar tentang agama yang masuk ke ranah politik, seharusnya memang seperti itu. Tapi politik Indonesia sepertinya masih jauh untuk berdampingan keduanya.

    Pak Edy: kalau dunia politik sudah disetting seperti itu, sejak dulu, dan manusia sadar akan akibatnya, kenapa juga masih menjadi pilihan banyak manusia ya? Ini artinya, politik akan tetap seperti itu ya pak Edy, tidak akan berubah..

  8. 11
    Edy Says:

    Roger Water (pink floyd) mengajarkan kepada saya bahwa lebih baik jauh2 dari dunia politik karena setting nya sudah ketebak dari zaman purba dulu, yakni menelikung, menjebak, membohongi, agitasi, provokasi, dan membunuh.

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)