Kawan, Forgiven is not Forgotten

Linda Cheang – Bandung


“Mulai saat ini, aku hentikan relasi soulmate kita, Kawan. Maafkan aku atas hal yang berat ini, tetapi ini telah menjadi keputusanku, dan aku sudah mantap, “ kataku kepada Kawanku

“Sejak kini, Kau hanya sebatas kawanku biasa. Tentu berbeda situasinya antara seorang soulmate dengan hanya seorang kawan. Tiada pernah lagi aku kan ceritakan semua rahasia pribadiku kepadamu, apalagi apapun yang bersangkut dengan privasiku. karena Kau sendiri yang memilih untuk merusak kepercayaanku. Aku tidak dapat mempercayaimu lagi lebih daripada hanya percaya kepada seorang kawan biasa,” kataku lagi.

Lalu Kawanku bertanya, “Mengapa Kau lakukan ini terhadapku, Temanku? Aku minta maaf, telah memberimu nasehat yang tidak patut. Pada saat itu aku berpikir dengan caraku sendiri berpikir bahwa harus seperti itulah Engkau berlaku untuk mengatasi masalahmu, sebab kalau aku, ya, karena aku ini laki-laki, maka aku  akan berlaku seperti itu”.

Kawanku masih memintaku tuntuk tidak memutuskan relasi soulmate kami,  dan melupakan perihal nasehatnya yang sontoloyo itu, tetapi bagiku, ketegasan dan konsistensi adalah hal yang berbeda dengan memberi maaf. Aku memaafkannya. Aku mengampuni Kawanku atas hal-hal bodoh, kurang ajar sampai tak patut yang pernah dia bagikan dalam cerita-cerita kami, namun memaafkan bukan berarti aku akan melupakan kelakuan keterlaluannya.

Ketika Kawanku melihat bahwa sudah tidak mungkin lagi aku mengubah keputusanku, dia berkata “ Baiklah, Temanku. Ini terakhir kalinya aku menangis untukmu sebagai soulmate. Setelah ini aku tak akan pernah menangis lagi apapun karenamu, dan Kau bebas melakukan apapun kehendakmu. Aku menerima dan menghormati keputusanmu. Sekali lagi, maafkan aku,”

Sobat Baltyrans semua,

Sedikit ilustrasi di atas saya buat untuk memberi gambaran akan apa yang akan saya tuliskan berikut ini. Sebuah keputusan yang saya ambil dan saya mesti melakukannya dengan konsisten. Ilustrasi itu berdasarkan kisah nyata saya bersama seorang kawan yang tinggal di luar Indonesia. Seorang laki-laki. Seorang pemirsa dari satu grup milis yang saya ikuti.

Benar, sebelumnya kami sempat sepakat untuk menjadi teman sejiwa. Dalam arti kami bisa bebas saling menceritakan apapun topiknya tanpa harus merasa risih. Kami boleh saling memberi masukan yang membangun dan yang terpenting bagiku, tidak melawan kebenaran. Perjanjian kami adalah, kami akan terus menjaga kepercayaan dan utamanya menjaga betul rahasia-rahasia kami untuk kami bawa bahkan sampai saat maut menjemput kami.

Kami berbagi hal mulai dari musik,  makanan, kisah perjalanan, hidup, kisah masa muda Si Kawan dari yang lurus sampai yang miring-miring.  Heran juga mengingat yang saya tahu, Si Kawan ini menurut pengakuannya adalah pemeluk agama yang taat (hanya berbeda aliran dengan agama yang saya yakini)  dan taat juga menjalankan ritual agamanya, tapi masih bisa berlaku miring-miring tanpa merasa berdosa dengan alas an, tidak tahu karena tidak ada yang,mengajarinya? Bercerita , guyon sampai kisah yang ekstra gokil luar biasa juga kami saling berbagi. Sepertinya relasi sebagai teman sejiwa ini akan berlangsung dengan enak. Sampai ada terjadi beberapa peristiwa yang membuat saya untuk berpikir ulang dan akhirnya sebuah keputusan tegas mesti dieksekusi!

Satu kali ketika kami sedang membahas masalah saya memulai pekerjaan saya sebagai seorang pelaku usaha kecil mandiri, Si Kawan memintaku untuk berjanji bahwa aku tidak akan pernah melakukan hal tak patut yang dipikirkannya.  Menurut pikirannya, karena pekerjaanku yang sekarang berkaitan dengan melayani rombongan tamu yang jalan-jalan, maka besar kemungkinan aku juga menawarkan jasa plus-plus terutama terhadap tetamu lelaki.

Astaganaga asamalakata! Itulah reaksi langsung saya. Tentu saja saya merasa tersinggung, terhina. Apalagi Si Kawan dengan entengnya hanya menyatakan bahwa dia itu laki-laki, bahwa adalah lumrah jika laki-laki selalu berpikiran tak senonoh. Saya dengan tegas menolak permintaanya berjanji untuk hal yang tidak akan pernah saya lakukan, karena hal tak patut yang dicurigainya akan kulakukan, jelas bertentangan dengan Firman Tuhan. Di kemudian hari ternyata terbukti, Si Kawan kerap kali memintaku berjanji ini-itu, karena Si Kawan ini adalah seseorang yang hobi ingkari janjinya.

Si Kawan pada suatu hari berkisah bahwa dia sedang di pinggir bahaya. Dia meminta masukan dan dukungan doa. Saya berusaha semampu yang saya bisa. Saya berikan kepadanya ayat-ayat dari Kitab Suci yang adalah Firman Tuhan,  yang saya harapkan dapat menguatkannya. Saya menguatkannya dalam doa yang saya panjatkan setiap pagi untuk memberi dukungan dalam iman.

Satu kali, sekian kali, Si Kawan menyatakan dia berhasil menjauh dari pinggir bahaya. Tetapi, ketika tiba saatnya saya harus secara tegas memberinya peringatan sebagai teman sejiwa, agar Si Kawan tidak sampai terperosok dalam bahaya, Si Kawan koq, malah bisa merasa enteng menyampaikan kalau Si Kawan akan mampu menghadapi bahaya dan takkan sampai terperosok kedalamnya. Lagi dan lagi, saya peringatkan terus agar jangan menantang bahaya dan jangan melanggar apa yang sudah dituliskan oleh Firman Tuhan. Lagi, jangan mendekati bahaya, jangan bermain-main dengan dosa. Namun tetap Si Kawan sepertinya anggap peringatan saya adalah angin lalu karena pikirnya, dengan dukungan doa saja sudah cukup.

Pada akhirnya, apa yang sudah saya duga terjadilah. Apa yang diperlihatkan kepada saya melalui hikmat yang datang, terlaksana pula. Si Kawan terperosok juga dalam bahaya. Si Kawan TIDAK MAU mendengar peringatan teman sejiwanya yang hanya ingin Si Kawan tidak celaka. Si Kawan menangis. Mungkin di tempat tinggalnya tidak hanya menangis, hatinya juga meraung, menjerit, tetapi justru jeritannya adalah, “Oh, Tuhan, mengapa Kaubiarkan hambaMu ini jatuh ke dalam pencobaan ini?” Loh, koq, malah menyalahkan Tuhan? Si Kawan keterlaluan sekali!

Hari-hari berikutnya, Si Kawan membela diri. Menyalahkan para pemuka agamanya yang tidak pernah memberinya pendidikan agama yang benar apalagi mengajarkan untuk membaca Kitab Suci. Bahwa selama ini para pemuka agamanya berperilaku hipokrit. Bahwa  dia sudah merasa cukup melaksanakan setiap ritual ibadah agamanya dengan benar. Bahwa dan semua bahwa yang lain yang pada intinya Si Kawan selalu berlindung dibalik alasan, alih-alih mengakui kekurangannya apalagi memberbaikinya.  Setiap kali aku berusaha memberikan pengertian kepadanya, Si Kawan selalu saja menemukan alasan untuk membenarkan dirinya.

Suatu ketika, saya yakin sekali, saya tidak dapat lagi terus diperlakukan tak patut oleh Si Kawan tsb. Memang, Si Kawan adalah seorang yang sudah banyak makan asam garam dalam kehidupan. Tetapi itu belum bisa jadi jaminan seseorang akan menjadi bijaksana di masa tuanya. Yang terjadi adalah makin tua, makin parah. Dan itu terbukti pada Kawanku.

Si Kawan masih ada beberapa kali meminta saya berjanji untuk tidak melakukan hal-hal tak patut yang jelas tak akan pernah saya lakukan. Saya sudah pula tegaskan bahwa saya tidak akan pernah melakukan hal-hal yang menentang Firman Tuhan yang saya amat percayai. Jadi,. Untuk apa saya berjanji kalau hanya untuk memuaskan keinginannya?

Kalau hanya untuk membuat Si Kawan merasa aman, padahal dia sendiri hobi sekali melanggar janjinya? Si Kawan bahkan ketika terperosok dalam bahaya, sudah berlaku khianat terhadap istri yang telah dinikahinya sekian dekade, tetapi masih meminta saya untuk merahasiakan perbuatannya dari istrinya? Entahlah, saya bahkan heran sepertinya nyaris tiada penyesalan dari Si Kawan ketika dia telah jatuh dalam bahaya yang didekatinya sendiri.

Kawan, aku memang “hanya” seorang perempuan biasa, menurut pemahamanmu. Namun Kawan, Kau lupakan satu hal. Aku adalah seorang perempuan yang tegas, bukan yang goyah! Seorang perempuan yang menjaga konsistensi atas keputusan yang diambilnya. Seorang permepuan yang tiada goyah hanya karena rayuna memohonmu, dan janji-janjimu yang aku tahu benar, kau pasti akan mengingkarinya dengan berlindung di balik alasan.

Tiada yang salah dengan ketegasan ini Kawan. Sekali keputusan telah diambil, takkan aku mengubahnya kembali.  Aku lebih rela kehilanganmu, kawanku, sebagai teman sejiwa daripada aku harus menentang kebenaran Firman Tuhan yang Engkau ingkari kekuatannya dengan sikap dan pikiran tak patutmu itu. Kau akan tetap menjadi kawanku sepanjang masa tetapi maafkan aku, karena Kau sudah tak dapat lagi menjadi teman sejiwaku.

Kawan, Engkau kumaafkan. Engkau kuampuni. Namun camkan ini , forgiven is not forgotten!

Untuk eks soulmate-ku di suatu tempat.


Linda Cheang

Juni 2010


Ilustrasi: makesplash.com

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.