Piala Dunia “Punya” Indonesia: Brasil Negara Kejawen, Bukan Indonesia!

PIALA DUNIA ‘PUNYA’ INDONESIA (5 – SELESAI)

Brasil negara kejawen. Bukan Indonesia!

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


SATU hal yang paling tidak disukai oleh dunia sepakbola internasional dari Indonesia adalah ketidakbecusan mengurus persepakbolaan. Soal antusias masyarakat, jangan ditanya lagi. Selama pertandingan sepakbola itu cantik dan menarik, orang rela merogoh ratusan ribu rupiah untuk menyaksikannya. Lihat sendiri bagaimana animo masyarakat berniat menyaksikan Manchester United ingin bermain di Jakarta, meski gagal karena ada bom meledak di tempat bakal mereka bermalam?

Kita telah menyaksikan perselisihan antara FIFA dengan pengurus PSSI, badan yang paling bertanggungjawab atas kemajuan dan kemunduran persepakbolaan Indonesia. Miskinnya prestasi sepakbola Indonesia bukan hal yang memalukan dalam dunia sepakbola. Namun sportivitas justru yang paling dijunjung dalam olahraga, bukan menang atau kalah. Itu hal biasa dalam pertandingan atau perlombaan. Semua negara atau siapa saja juara dunia olahraga, pernah merasakan kalah dan menang. Tetapi kalau soal sportifitas, Indonesia lebih sangat miskin lagi.

Lihat sendiri, kalau ada pertandingan sepakbola di kota Anda tinggal, pasti yang ada dalam benak pikiran adalah kebengisan dan rusuh. Bukan lagi siapa yang menang atau siapa yang kalah. Mau cari untung dari sepakbola, malah timbul antipati dengan sepakbola Indonesia.

Menang pasti rusuh, apalagi kalah… Wah..siap-siap menangis darah kalau mobil kita melintasi pertandingan sepakbola di sekitar kawasan Senayan. Bisa-bisa kaca hancur atau tubuh kita terkena lembaran batu atau botol, padahal kita tak tahu sama sekali tentang pertandingan siapa lawan siapa. Soal kemacetan, jangan ditanya bila ada pertandingan sepakbola. Nah, negara macam bergini mau melamar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022? Bisa kebayang betapa mudahnya FIFA mengacuhkan pencalonan ini dengan tidak mendukungnya sama sekali atas bidding tersebut.

Padahal orang Indonesia mengaku-aku bangsa yang ramah dan santun. Namun ketika ada pertandingan sepakbola menjadi beringas dan jahat. Orang Indonesia sulit menerima kekalahan pertandingan sepakbola dengan cara jantan dan terhormat. Kalah saja sering berikap pongah dan sombong, bagaimana menjadi juara? Mungkin Tuhan sudah mengutuk bangsa ini soal prestasi sepakbola. Tidak maju-maju. It’s iron law.


KESEBELASAN KEJAWEN

Ketika Piala Dunia 1958 di Swedia, dunia sepakbola dikejutkan oleh kepiawaian seorang pemuda berusia 18 tahun. Nama singkatnya Pele dari Brasil. Dalam final melawan tuan rumah Swedia, Brasil merebut gelar juara dunia untuk pertama kalinya dan Pele memiliki andil besar dalam kemenangan yang cantik itu. Raja Swedia Gustaf VI Adolf pun memuji langsung Pele, ”saya raja Swedia, tetapi Anda adalah raja sepakbola”, kata sang raja. Padahal 8 tahun silam ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia 1950, rakyat Brasil menangisi kekalahan timnya yang tak bisa menjuarai gelar agung itu rumah mereka sendiri.

Ketika menang telak mengalahkan tuan rumah di hadapan publiknya sendiri dalam final Piala Dunia 1958 di Stadion Ratunda, Stockholm pada 29 Juni 1958, Brasil memperlihatkan permainan yang cantik dan menawan dan selalu dikenang para pencinta sepakbola. Ketika selesai menang dan meraih Piala Jules Rimet pertama kali, trofi Piala Dunia sepakbola, pemain Brasil melakukan sebuah tindakan sangat mengagumkan dalam dunia olahraga. Entah siapa yang punya gagasan sangat indah ini.

Mereka melakukan victory lap merayakan kemenangan itu sambil mengerek dan membawa bendera Swedia, bukan Brasil! Sebuah kehormatan dan penghargaan yang diberikan kepada tuan rumah dan juga kepada pihak yang kalah.

Hal serupa mereka lakukan kembali 4 tahun kemudian ketika menjuarai Piala Dunia 1962 di Chili dan gelar ini kedua kalinya mereka raih secara berturut-turut. Setelah mengalahkan lawannya Cekoslowakia di final. Sekali lagi mereka melakukan victory lap sambil berlari membawa Piala Jules Rimet dan bendera tuan rumah Chili, seolah yang menang itu yang kalah.

Dalam falsafah budaya Jawa, ada ungkapan bahwa menang tanpa ngesorake. Bahwa pihak yang menang tidak membuat pihak yang dikalahkan seperti kalah dan tersingkir. Bagaimana pihak yang kalah bisa merasakan seperti yang menang merasakannya. Falsafah ini sangat sederhana menyebutnya, tetapi sangat sulit menerapkannya. Bagaimana mungkin ketika kita menang memikirkan pihak yang kalah? Kalau bisa menepuk dada dan sesumbar bahwa kita bisa menghancurkan yang kalah?

Yang dilakukan Brasil adalah kejadian unik dalam sejarah Piala Dunia. Coba kalau Indonesia keluar sebagai juara dunia sepakbola, pasti yang dikerek sambil berlari adalah Sang Saka Merah Putih. Buat apa membawa bendera tuan rumah, apalagi bendera yang kita kalahkan, urusannya apa? Meski bendera itu cuma sehelai kain? Dan ini wajar sekali.

Dan yang lebih mengagumkan, Brasil juara dunia lima kali Piala Dunia, tidak pernah menjuarai supremasi itu di kandangnya sendiri. Ini membuktikan memang mereka hebat segala-galanya, meski tidak setiap Piala Dunia bisa mereka raih sebagai juara. Ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia 1950, mereka kalah oleh sang tamu, Uruguay. Tetapi justru di negara orang dan di benua orang, mereka menunjukkan kehebatan dan meraih juara dunia lima kali, yaitu  Dunia 1958 di Swedia, Piala Dunia 1962 di Chili, Piala Dunia 1970 di Meksiko, Piala Dunia 1994 di AS dan Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea.

Siapapun yang pernah bermain dengan Brasil, apalagi menang, akan mengenang kejadian pertandingan itu dengan indah. Meski mereka dikalahkan Brasil dengan telak. Penjaga gawang nasional, Ronny Paslah, begitu bangga dan mengenang pertandingan persahabatan Indonesia melawan para pemain Brasil. Ronny membukukan kenangannya ketika dia berhasil menepis tendangan raja sepakbola Pele, ketika bermain di Jakarta pada Februari 1972.


HEXA CAMPIONE

Di benua Eropa, Brasil menunjukkan kehebatan sambil menghargai pihak yang dikalahkan saat Piala Dunia 1958 di Swedia. Di negara lain sebenua dengannya, Brasil memperlihatkan kehebatannya ketika menjuarai Piala Dunia 1962 di Chili, Piala Dunia 1970 di Meksiko dan Piala Dunia 1994 di AS. Di benua Asia, Brasil memamerkan keperkasaannya sebagai juara Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea. Bagaimana dengan di benua hitam Afrika, benua tempat asal nenek moyang dari banyak pemain hebat Brasil?

Afrika Selatan mendapat kehormatan untuk mengharumkan nama benua tertinggal itu, yang belum pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia sekalipun. Dan yang terpenting, Piala Dunia 2010 diadakan bertepatan mempertingati 10 tahun kebebasan pemimpin anti perbedaan warna kulit, Nelson Mandela. Sekaligus membuktikan bahwa di dalam sepakbola tidak ada perbedaan warna kulit.

Lihat saja bagaimana komposisi peman Prancis saat menjuarai Piala Dunia 1998? Hampir semuanya berkulit hitam. Kali ini pada Piala Dunia 2010 kesebelasan Jerman, negara yang pernah memiliki catatan hitam dalam rasisme terburuk umat manusia,  banyak memiliki pemain kelahiran asing dan berorangtua bukan warga Jerman.

Ketika Afrika Selatan diputuskan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, saat Kongres FIFA di Zurich pada Mei 2004, Mandela mendapat kehornatan mengangkat dan memegang trofi Piala Dunia. Ada

Lalu mungkinkah Brasil menjuarai Piala Dunia keenam kalinya dalam Piala Dunia 2010 ini, atau terkenal dengan sebutan hexa campione? Brasil tidak perduli dengan hal itu. Pihak yang kalah saja, merasa tidak dikalahkan oleh Brasil. Karena Brasil mempunyai prinsip bahwa yang kalah tidak harus dibuat merasa kalah. Mereka sudah membuktikannya. Brasil memang asalnya sepakbola kejawen. Bukan Indonesia! (*)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.