Beasiswa untuk anak sang buruh (Catatan Seputar SGC)

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung


Bangunannya SMA SGC berkonsep minimalis

Notes ini aku tulis untuk melengkapi tulisan yang pernah aku buat sebelumnya bisa click link berikut ini:

Sekolah Bertaraf Internasional di Tengah Perkebunan Tebu

Minggu lalu aku harus bangun lebih pagi walau mata masih rada sepet gara-gara maksa nonton bola, aura Piala Dunia memang punya efek magis tersendiri. Aku yang hanya sekali dua nonton bola, tersihir untuk ikutan heboh. Padahal sudah tau ada partai tanding yang tengah malam akan berpotensi bikin jadwal tidur jadi terganggu, tetapi selalu ada ‘Excuse’ buat acara ini, toh 4 tahun sekali ini, hehehehe……

Pagi itu aku ada jadwal kunjungan ke SMA Sugar Group Company, pihak sekolah akan mengadakan penandatanganan MOU (Memorandum of Understanding) beasiswa dengan siswa-siswa yang berprestasi dari sekolah mereka untuk masuk ke 4 Perguruan Tinggi Negeri ternama, yaitu UI, ITB, IPB dan UGM.

Program beasiswa ini diberikan sejak tahun 2008, khusus buat para siswa yang berprestasi yang semuanya anak-anak para karyawan dan buruh Perusahaan Sugar Group. Tidak ada pembedaan apakah itu anak Staf Manager atau hanya anak seorang buruh harian, yang menyamakan mereka adalah “Prestasi belajar”, sungguh suatu kebahagiaan buat para pekerja yang sudah mengabdikan hidupnya buat Perusahaan Gula yang terbesar di Tanah Air ini, dengan mendapat Reward yang setimpal pada anak-anak mereka, yaitu Beasiswa dan jaminan bekerja yang berbentuk ‘Ikatan Dinas’ jika telah menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi pada perusahaan SGC.

Aku dan salah satu pegawaiku dijemput oleh mobil SGC pukul 8 Pagi, kami melaju ke lokasi SGC yang berada di area perkebunan tebu, terletak di Kampung Mataram Udik, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, yang luasnya sampai ribuan hektar, perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 2,5 jam. Maklum jalan banyak yang bolong, jadi agak lama mencapai lokasi sekolah. Untuk mencapai ke sekolah SGC setidaknya kita akan melalui 5 Kabupaten dan 1 Kotamadya, Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Tengah, Kodya Metro, Lampung Timur dan Tulang Bawang . Karena perjalanan cukup lama, ada waktu buat zzzzz…..di mobil. Cuaca di medio bulan Juni ini masih sering disirami hujan dengan intensitas cukup deras. Jalan di perkebunan yang semuanya tanah merah, bener-bener dalam keadaan becek dan bonyok, kalau nggak apik bawa mobilnya bisa melintir ke sana kemari.

Gerbang masuk ke lokasi perkebunan dan perusahaan SGC, dijaga security 24 jam penuh

Pukul 10.30 pagi, kami sudah memasuki areal perkebunan tebu milik SGC, ada Logo ‘Gulaku’ yang terpampang di pintu gerbang masuk area perkebunan. Pak sopir mengendalikan mobil yang kami tumpangi dengan trampil, di jalanan yang becek dan licin, “kalau saya yang bawa mobil bisa kepater nih pak!” kataku sambil melihat ke arah jalan yang kami lalui. “Mobil ini double gardan nggak?” tanyaku, “Nggak bu, mobil jenis ini nggak ada yang double gardan” jawab pak supir. “Tapi bapak bisa ya…melalui jalan yang becek dan licin ini, apa nggak kuatir ke pater?” lagi-lagi aku masih penasaran sama cara pak supir mengendalikan mobilnya. “Cara agar bisa melalui jalan seperti ini, tekanan angin dalam ban mobil buat dikisaran 21-23 aja, agar ban mobil bisa menapak dengan pas di jalan. Kalau dibuat dengan tekanan 30 an bisa melintir mobilnya, karena ban nggak menapak dengan pas. Konsekuensi tekanan angin yang rendah pada ban mobil, memang membuat pemakaian ban jadi lebih boros karena cepat aus” jelas pak supir agak detail.

Kolam-kolam penampungan air hujan di sekitar perkebunan

Tapi memang kondisi jalan di perkebunan menuntut kehandalan dalam mengendalikan mobil. Yang pasti mobil-mobil milik perusahaan banyak yang double gardan, hanya beberapa mobil kecil buat menjemput tamu perusahaan yang nggak double gardan. Setelah melalui jalan yang agak berliku ditengah perkebunan tebu (menurutku seperti jalan di dalam labirin). Kami tiba juga di depan bangunan sekolah yang megah. Aku langsung di antar oleh seorang guru menuju aula sekolah, dimana sudah menunggu puluhan siswa yang beruntung itu dengan orang tuanya masing-masing.

Pak Agus, salah seorang staff SGC mempersilahkan aku duduk, sambil berbisik “Bu maaf ruangannya agak berantakan dikit, semalam aula ini disulap jadi ruang wisuda, padahal tenda wisuda sudah disiapkan di luar, tapi curah hujan yang cukup deras, membuat acara langsung dipindahkan ke aula ini, jadi saat pagi tadi baru diberesin semuanya”’. “Nggak apa-apa pak Agus, tidak terlihat berantakan koq”, kataku.

Aula serbaguna dimana kami bertemu dengan siswa beserta orang tuanya, ada 2 LCD TV yang tergantung di atas, dan dibagian belakang ada Dapur dan Cafetaria untuk mengambil makan siang

Acara penanda tanganan MOU di mulai dari pukul 11 – 14 Siang. Karena cukup banyak siswa yang menerima beasiswa, mereka didampingi oleh para orang tua dan para wali bila orang tuanya berhalangan hadir. Aku menjelaskan secara singkat isi dari MOU tersebut sebelum mereka menandatanganinya. Tampak wajah-wajah yang bahagia bercampur serius, mendengarkan syarat yang harus dipenuhi oleh sang anak penerima beasiswa. Walaupun syarat beasiswa itu tergolong agak ketat, tetapi para orang tua dan siswa tersebut tetap sangat bersyukur, karena jaminan uang sekolah beserta semua akomodasi selama mereka menempuh ilmu dalam rentang waktu yang diperjanjikan, menjadi tanggungan 100% pihak perusahaan dimana orang tua siswa bekerja.

“Selamat ya Ananda sudah berhasil memperoleh beasiswa ini, gunakan kesempatan emas ini dengan sebaik-baiknya, apalagi biaya pendidikan di Negeri ini tidaklah murah, Ananda juga beruntung bisa menimba ilmu di Universitas ternama di Negeri ini. Semoga Ananda belajar dengan sebaik mungkin dan selalu berdo’a kepada-NYA, agar senantiasa mendapat kelancaran dalam melalui masa pendidikan ini”, kata-kata itu rasanya selalu aku ulangi terhadap semua siswa yang aku temui, bahagia rasanya aku melihat raut penuh harapan dari semua siswa-siswa yang memiliki prestasi ini. Mereka jauuuuh lebih beruntung dari anak-anak pandai dan berprestasi di negeri ini yang tersebar di seantero pulau-pulau yang jauh terpencil tetapi tidak memiliki ‘cukup dana’ atau ‘para orang tua asuh’ yang bisa mendanai ‘jenjang pendidikan’ yang harus mereka tempuh.

Ada seorang bapak yang menyapaku ramah “Ibu ingat nggak saat saya antar ibu kemari beberapa bulan yang lalu?” aku mengamati bapak itu sekilas, “Oh ya…saya ingat, wah…selamat ya pak, putrinya telah mendapat beasiswa ini”, “Trimakasih, semoga anak saya bisa belajar dengan sungguh-sungguh dan tepat waktu,” katanya sambil memandang ke arah putri tertuanya, yang telah diterima di UGM. Aku ikut tersenyum melihat kebahagiaan sang bapak yang hanya berprofesi sebagai supir perusahaan. Bahkan ada juga siswa jenius yang bapaknya hanya buruh harian perusahaan, yang level pekerjaannya bisa dibilang buruh kasar untuk perusahaan, tapi karena anaknya memiliki otak yang jenius maka pihak perusahaan memberikan beasiswa ini dengan jaminan dari pihak paman siswa tersebut yang bekerja sebagai pekerja tetap bukan buruh harian.

Setelah para siswa ini lulus, maka mereka akan langsung bekerja di perusahaan SGC yang banyak memiliki anak perusahaan yang tersebar di seantero negeri, dalam masa ‘Ikatan Dinas’ tertentu. Hmmmm…..sudah dijamin sekolahnya dijamin juga pekerjaannya, senangnya…. tapi ini khusus berlaku untuk semua anak-anak pekerja dari perusahaan SGC, jadi nggak buat pihak luar, ibarat kata dari SGC untuk SGC.

Mau anak pejabat atau siapa aja, kalau bukan anak pekerja SGC nggak akan bisa masuk ke sekolah milik SGC, yang semuanya serba gratis..tis…dari uang sekolah, buku, seragam sampai makan siang dan snack pagi-sore di jamin oleh pihak sekolah yang dana sepenuhnya di back up pihak perusahaan SGC. Intinya para siswa ini hanya perlu belajar dan belajar saja, walau terletak di daerah yang bisa dibilang terpencil di tengah bentangan ribuan hektar ladang tebu, jangan pikir mereka tertinggal teknologi, akses hot spot internet dijamin lancar wuss…wuss…. begitu juga dengan fasilitas kesehatan, pihak perusahaan membuat klinik 24 jam dengan dokter-dokter yang direkrut untuk bekerja secara full time untuk perusahaan. Bagi yang hobby berolah raga, jangan kuatir ada beberapa lapangan olahraga di sini, dari lapangan bola, tenis, bulu tangkis, basket ball dan kolam renang.

Kolam Renang, cuma Rp.700,- tiket masuknya

Khusus kolam renang, jika para siswa ada eskul berenang dan berenang untuk mendapat nilai olahraga dari sekolah, fasilitas kolam renang ini gratis buat mereka. Di luar jam sekolah, tiket masuk ke kolam renang ini hanya Rp. 700,- saja, Jadwal buka kolam renang ini dari pk,8.00 pagi – 12 siang. trus di tutup, baru buka lagi dari pukul 16 – 18 sore. Sehari hanya buka 6 jam saja. Paling ramai hari minggu pengunjungnya, itu juga para keluarga pekerja perusahaan, tidak ada pihak luar. Semua fasilitas disiapkan oleh pihak perusahaan semata-mata untuk kenyamanan dan kesejahteraan pekerja. Info ini aku dapat dari pak supir yang mengantarku.

Kue-kue buatan chef SGC, rasanya yummie…

Setelah beres urusan pekerjaan, aku dan pegawaiku, diberi makan siang berikut kue-kue bakery yang disiapkan oleh pihak sekolah, rasanya nggak jauh dari roti atau kue yang dijual di Holland Bakery, enak dan gratis siapa pula yang nolak? hehe… sebelum pulang, aku menyempatkan sholat di musholla yang disiapkan oleh pihak sekolah, seperti yang pernah aku tulis sebelumnya tentang sekolah ini, Mushollanya full AC trus toilet dan tempat wudhunya, bersih seperti toilet di hotel berbintang, lha iyaaa….aku nggak berlebihan, kering dan wangi, ada sabun cair serta mesin pengering selepas cuci tangan. Tim cleaning service yang menyapu dan mengepel selalu stand by ditempat, coba…gimana nggak bersih bin kinclong tuh!

Toilet kelas hotel berbintang

Akhirnya aku harus pulang kembali, sebelum meninggalkan sekolah ini aku kembali memotret bangunan sekolah ini, Alhamdulillah….masih ada para pengusaha yang begitu peduli dengan para pekerjanya, insyaAllah do’a-do’a yang dikirim oleh semua anak dan istri para pekerja, akan mendatangkan keberkahan buat perusahaan agar terhindar dari krisis ekonomi yang siap mengancam kapan saja.

Foto sejenak di depan gerbang SGC.
Sekolah SGC yang bertaraf internasional

“Berilah kami kesempatan maka kami juga akan membalas dengan kesungguhan, berilah kami kepercayaan maka kami akan membalas dengan kerja keras, tiada perbuatan baik kecuali akan kembali kepada dirimu sendiri” (buat Sugar Group Company, reward kepada pekerjamu akan semakin membesarkanmu).

AMH, 200610

Tampak depan sekolah SGC, asri sekali


About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

37 Comments to "Beasiswa untuk anak sang buruh (Catatan Seputar SGC)"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 November, 2013 at 13:28

    Terima kasih Kak Adhe. Tulisan sangat-sangat membantu pekerjaan saya.

  2. Panglima 6  24 March, 2012 at 03:41

    sayang tidak semua anak buruh bisa mendapatkannya. perlu diingat juga, ketika saat ini kita hanya memikirkan ego kita masing-masing maka terasa indah bagi anak-anak yang bisa masuk dan menikmati pendidikan disana, terkait orang tua mereka bekerja sebagai karyawan di perusahaan tersebut. namun, bagi anak-anak yang orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh mingguan, mungkin hanya bisa bermimpi dan gigit jari untuk bisa mengenyam pendidikan di sekolah tersebut.
    hari ini banyak anak bangsa ini yang belum bisa mendapatkan hak mereka untuk bisa menambah kompetensi mereka dan hanya beberapa saja yang sudah bisa menikmatinya. tak diragukan lagi jika sejarah telah berulang, dimana para pribumi tidak bisa benar-benar mendapatkan hak mereka sepenuhnya. yang lebih penting lagi, pribumi sudah terpisahkan dengan tanah mereka.

  3. yoyo  23 March, 2012 at 19:10

    Jadi teringat saat lulus disana tahun lalu.
    kenangan terindah

  4. probo  1 January, 2012 at 10:56

    waduh……pasti bikin ngiri banyak orang……
    mau ah ngajar nari di sana hehehe

  5. endang_batubara  12 October, 2011 at 12:15

    ngiri banget liatnya….gimana cara ngelamar ke sgc ya?? hahahahha….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.