Kenduri Cinta

Alfred Tuname


Aku merasa kepalaku akan bengkak ketika aku berusaha menahan untuk tidak mengartikulasikan kepergiaanmu dalam tinta.  Bagiku kepergianmu adalah lepas jejak yang dulu hampir permanen dalam hidupku.

Kini kau terlepas. Bukan karena tak sengaja tetapi akulah yang membuka gerbang hingga kau boleh terbang kemana pun kau mau. Mungkin itu lebih baik. Tak mampu aku bertahan untuk menjaga sangkar itu.  Dulu kuberharap cinta yang ilusi itu siap menjadi riil.  Sekarang ia semakin maya, sureal dalam bingkainya yang blur.

Kepergianmu singkat bersama lambaian tanganku. Lambaian tangan mengantarmu hingga ke gebang yang tak lagi bisa kusentuh. Dan perpisahan menjadi indah dengannya. Bukan karena aku bahagia ketika melihatmu menjauh dan menghilang. Itu kulakukan dengan menyertakan penyangkalan atas cintaku sendiri.

Rasa itu kusalip untuk bisa menyelamatkan segenap rindu yang dialamatkan kepadamu. Jalan kenangan yang dulu pernah terbentuk sudah menjadi tapak-tapak berduri yang enggan untuk kulalui. Tetapi, aku yakin suatu saat jalan itu akan dibakar oleh petani yang hendak menggarap di lahan yang sama.

Jangan datang lagi pun titip salam. Aroma tubuhmu akan mengangu sensor sarafku. Boleh jadi, itu membuatku semakin derita. Sudah kutanggalkan semua jubah kenangan yang dulu kau hadiahkan padaku. Memang potrait wajahmu masih menempel lekat di beberapa titik sudut kota ini. Tersenyum menyambut memori yang sekadar lewat. Tapi kota ini pun siap jadi kenangan. Kota kenangan yang siap bermetamorf menggusur lukisanmu.

Dunia tidak selebar daun kelor, begitu kata sahabatku. Itu benar. Ternyata dunia tidak hanya selingkaran globe. Ia lebih luas dari pikiranku sendiri. Jika de facto, Vasco da Gama, Amerigo ves Pucci mengarungi samudera lalu kembali pada daratan di mana mereka mulai, aku berharap itu tidak padaku.

Aku mengamini the world is flat. Dengannya ketika aku bertolak, aku bertolak lebih jauh. Menjauh dari titik dimana kita mulai. Jauh darimu. Aku yakin suatu saat nanti aku akan tiba pada suatu suatu tempat, terra incognita. Tempat itu akan kujadikan tempat yang terindah untuk sebuah semenanjung harapan. Itulah cabo del boa desperanza, tanjung harapan baik.

Namun, aku tak pernah menyesali perkenalan denganmu atau ada bersamamu dulu. Denganmu adalah kisah yang lama. Kau pernah menambahi titik-titikku yang kosong pada garis hidupku.

Terima kasih untuk itu. Itulah hidup. Ces’t la vie. Hidup seperti koin yang berdimensi dualitas. Lama sekaligus baru. Sementara hidup baruku mulai meretas di atas gradasi cerita-cerita lama. Saat itu kuyakin hidup adalah proses silaturahim atas mereka yang datang dan pergi dalam hidup kita. Kau telah mengambil peran dalam proses ini. Kau menjadi figur yang lepas. Lalu aku menanti yang datang meski diantaranya aku berada dalam turbulensi.

Dalam pada itu, “aku tak mau seorang kan merayu hingga tiba waktuku”, seperti  Chairil Anwar. Tiba di suatu saat aku merasakan cinta seperti berenang di lepas danau. Aku merasakan sensasinya, magisnya, misterinya, euforianya sebelum kumenyentuh dasarnya, esensi sejati dari Dia yang memberi cinta.


Ilustrasi: mediasauna multiply

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.