Suatu Senja di Musim Kemarau

Anastasia Yuliantari


Angin sore bertiup kencang menerpa batang-batang bambu. Suara gesekannya laksana jeritan pilu, mengiris telinga orang yang mendengarnya. Daun-daunnya yang coklat kemerahan melayang jatuh membentuk gundukan-gundukan yang semakin lama semakin tebal.

Seorang anak asyik bermain guntingan gambar persegi empat kecil-kecil. Gambar-gambar itu masih baru. Tadi ia membelinya di halaman sekolah seharga lima ratus rupiah dari upah menimpa tiga ember air dari kran umum. Sekarang awal musim kemarau, mata air di desa menyusut dengan cepat dalam hitungan hari. Orang harus mengantri untuk mendapat satu atau dua jerigen kecil, sekedar untuk memasak dan mencuci muka setiap pagi. Mandi sehari sekali hanya milik beberapa pegawai yang kebetulan ditugaskan di daerah ini, dari merekalah ia mendapat uang menimba air. Sementara penduduk kampung hanya pergi ke ceruk-ceruk kecil di sungai yang berupa genangan-genangan coklat keruh. Genangan itu akan benar-benar menjadi kering di pertengahan musim kemarau nanti.

Bagi anak sekecil dirinya, mandi bukan sebuah keharusan. Guru-guru sekolahnya yang selalu tampak berwajah keras tak bisa membedakan apakah seorang anak mandi setiap hari atau hanya sekali seminggu. Para murid selalu datang ke sekolah bertelanjang kaki dan penuh debu. Belum terhitung leleran ingus yang membuat wajah coreng-moreng kemerahan.

Angin kencang kembali bertiup. Gambarnya meliuk-liuk terbawa angin saat dilemparkannya ke udara. Teman-temannya sungguh iri melihat gambar miliknya yang masih berwarna terang dan berpinggiran putih. Dibanding milik mereka yang telah kehitaman dan lepek, gambar yang baru dibelinya itu tampak bersinar-sinar. Mungkin mereka akan berusaha membujuknya untuk beradu gambar besok, tapi yang paling penting gambar itu harus tersembunyi di balik saku celananya sekarang. Mamanya akan naik pitam melihat gambar-gambar itu. Perempuan itu akan menuduhnya mencuri uang yang selalu disimpannya dalam bilah bambu di belakang kaleng minyak rambut. Lalu tubuhnya akan menjadi korban batang-batang pohon singkong yang ditumpuk pada para-para di atas tungku batu. Belum cukup bilur-bilur merah biru di punggung dan betis, ia tak akan mendapat sekeping ikan kering yang tergantung di langit-langit pojokan dapur.

Dia bersedia berkorban apa pun demi merasakan remah-remah harum ikan kering yang biasa disebut ikan cara. Tak setiap hari ibunya membeli ikan yang ditusuk kepingan bambu dan selalu digantung di langit-langit satu-satunya kios di kampung ini. Entah keajaiban apa yang membuatnya berani membeli serenceng seharga dua ribu lima ratus, padahal hanya ada selembar ribuan di tangan. Telah menjadi rahasia umum bila musim panen tiba, barang-barang bisa dibeli secara bon. Upah harian yang menjadi jaminannya. Tuan pemilik kios sudah tahu pada siapa pengebon kiosnya memburuh setiap harinya, termasuk berapa ongkos hariannya. Dari pengetahuan itulah Tuan kios akan meluluskan permintaan pelanggannya.

Kabut musim kemarau mulai merayap menuruni bukit. Gambar-gambar yang beterbangan dibawa angin telah dikumpulkannya dalam saku. Angin dingin mulai menggigiti tubuhnya yang hitam legam setengah telanjang. Kaki-kakinya yang kurus baru saja melangkah untuk menggapai kain songke kumal yang selalu digantungkannya di balik pintu ketika sebuah suara menghentikannya.

“Anak, Mamamu ada di rumah?” Tanya perempuan berambut putih itu sambil berlalu mendahuluinya masuk ke dalam rumah yang mulai gelap diterkam senja.

“Selamat, Mama Domi.” Salam perempuan itu bergaung dalam kegelapan.

Sunyi. Tak ada suara sahutan.

Perempuan tua itu melongok ke dapur yang hanya dibatasi oleh selembar kain merah muda kehitaman. Tak ada siapapun, hanya terdapat sebuah panci berisi irisan batang pisang untuk pakan babi. Kontan saja wajah penuh kerut itu semakin berkerut karena kecewa.

“Mama belum pulang, Mama Gina,” Ia memberikan informasi yang rupanya tak disukai tamunya. Ia melihat perempuan itu meludahkan cairan merah kental bercampur serpihan daun sirih sambil menggumam, “Mengapa tak kau katakan dari awal?”

“Mama Gina, kan tidak bertanya?” Ujarnya enteng.

Kepala berwarna keperakan itu menggeleng-geleng. Lalu setelah menghela napas sejenak dia menatap tajam. “Anak, tolong katakan pada Mamamu agar datang ke rumahku malam ini. Sudah saatnya membayar garam yang diambilnya bulan lalu.”

Bulir-bulir kasar berwarna putih kehitaman itu sangat diperlukan di tempat ini. Selain untuk mengasinkan makanan, mereka juga mencampurkannya dalam pakan babi sebagai penambah mineral dan menjauhkan hewan itu dari penyakit. Garam juga berguna untuk mengawetkan daging sehingga bisa bertahan lama. Daging kering ini berfungsi sebagai pengganti penyedap masakan. Setiap kali merebus sayur, sekerat kecil daging akan dimasukkan saat sayur mulai bergolak menuju kematangan. Tak ayal lagi, kaldu daging akan membuat masakan itu bertambah lezat.

Cetongka atau lima kilo garam, biasanya ditukar dengan roto ci’e atau dua kilo padi. Bila ditukar dengan biji kopi, cetongka garam berbanding dengan dua muk atau cangkir kecil kopi. Ukuran-ukuran itu telah diketahui dan disepakati oleh segenap warga kampung. Tak ada yang berusaha melebihi atau mengurangi nilai tukar tersebut.

Perempuan tua itu sekali lagi meludahkan cairan merah ke tanah. Tangannya yang kurus membenahi sarungnya sebelum berkata kesal, “Kau dengar perkataanku?”

Dia mengangguk sepintas lalu. Tangan kecilnya sibuk meraih kain songke yang digantungkan terlalu tinggi pada sebatang paku di ambang jendela.

“Jangan lupa!” Mama Gina melangkah setindak ke arahnya.

“Iya!”

Kabut yang meluncur deras mulai memasuki celah-celah bambu cacah yang menjadi dinding rumahnya. Kain songke itu akhirnya terlepas juga dari cantolannya. Saat tangannya sibuk menata kain itu agar dapat menyelimuti segenap tubuhnya, sebuah bayangan memasuki rumah dan hampir menyamproknya.

Ibunya melontarkan caci-maki dan siap menghantamnya dengan ember plastik yang tengah ditentengnya. Selincah kijang dia melompat dan membiarkan perempuan itu melangkah ke dapur dengan barang bawaannya. Sebuah bakul besar di punggung yang talinya disangkutkan ke kepala sarat berisi dedaunan liar yang bisa dijadikan sayur, alat-alat untuk bekerja di ladang, dan jerigen berisi air dari keran di ujung kampung. Sementara ember plastik merah yang kini telah diletakkan dekat tungku berisi piring kaleng, cangkir-cangkir plastik, kaleng bekas kue yang digunakan sebagai tempat nasi, dan cerek untuk menjerang kopi.

Di atas kepala perempuan itu, dengan dialasi handuk yang digulung melingkar, seikat kayu bakar hanya tampak seperti bayangan dalam gelap. Lenguh kelelahan menyertai berdebumnya batang-batang itu, terhempas ke tanah. Ibunya pasti telah mencabuti pagar kebun milik tetangga, karena tak banyak kayu bakar tersisa di hutan sekitar mereka. Pemilik kebun yang menjadi korban akan berkoar-koar esok pagi. Mengambil kayu-kayu yang sengaja ditanam Tuan kebun berarti menghancurkannya kebun itu. Bila kayu itu ditanam untuk terasering, memotongnya berarti melongsorkan teras-teras itu. Bila ditanam sebagai pagar, mencabutinya berarti memberi kesempatan bagi babi atau sapi yang tak dikandangkan untuk menyerbu kebun dan memporak-porandakan isinya.

Gemeretak kayu bakar menuntun langkahnya mendekati tungku batu berhias jelaga. Ibunya mengupas beberapa batang jagung kering, yang digantung di atas para-para untuk mencegah kutu menggerogotinya, lalu meletakkannya di sela kayu yang berderak mengobarkan api merah oranye. Tak berapa lama jagung-jagung itu telah menjadi kehitaman terpanggang. Tangan lincah perempuan itu mencomotnya dan menepuk-nepuk abu yang membalut jagung itu sebelum melemparkan sebuah ke arahnya.

Jagung memang pengganjal perut yang andal, namun dia menginginkan nasi putih yang harum bersama dengan sayur daun ubi, dan kalau perempuan ini berbaik hati, sekeping ikan cara kering. Telah tiga hari dirinya hanya makan talas, gaplek, dan jagung kering ini. Hanya kebetulan saja teman-temannya menemukan nangka di kebun tetangga sehingga mereka bisa menyikat habis buah  penuh getah itu sebagai pengganjal perut.

“Kamu sudah menimba air?” Suara kasar ibunya menyentuh telinga.

“He-eh.” Ia mengangguk sambil mendekatkan diri ke sumber kehangatan.

Perempuan itu bergerak seperti bayangan. Bakul yang dibawanya dibongkar tergesa. Bau padi yang terpanggang mentari menyengat hidung. Bau itu membawa angannya kembali pada nasi hangat bercampur kuah sayur daun ubi. Air liurnya hampir menitik membayangkan kelezatannya.

Ketika ibunya menuangkan serantang penuh padi ke dalam ember, ingatannya kembali pada tamu yang mengunjungi rumah mereka sore tadi. Setelah menggeret kainnya menyelubungi kepala dia berkata pelan, “Mama, tadi Mama Gina ke mari…,”

Kalimatnya tak pernah selesai. Seperti dilecut cemeti penari caci ibunya terlonjak dengan mata membelalak. Sejenak perempuan itu mematung sebelum bergegas memasukkan padi yang tadi dituangnya dalam ember ke karung. Diikatnya karung itu kuat-kuat dan dinaikkannya ke loteng kecil terbuat dari bilah-bilah papan di atas kamar.

“Mama?”

“Tutup mulutmu!”

Perempuan itu bergegas memperbaiki letak sarungnya. Dikorek-koreknya api di tungku hingga padam. Setelah menegakkan diri langkahnya berdebum menuju kamar.

“Mama?” Dibalikkannya tubuh menatap punggung ibunya.

Derit dipan bambu terdengar nyaring menjawab kata-katanya. Lalu kesenyapan perlahan melingkupi.

Dinding dapur menjadi hitam seiring padamnya bara di dalam tungku. Desau angin menerobos celah-celah bambu cacah mengirimkan dinginnya musim kemarau. Ketika songket kumal yang membungkus tubuhnya tak lagi mampu menghangatkan, ditegakkannya tubuh untuk melangkah ke dipan bambu di tengah beranda. Tak berapa lama kegelapan telah pula menenggelamkannya.


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.