Surat Pembaca Kompas

45 TAHUN KOMPAS

Surat Pembaca Kompas

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


SUDAH 45 tahun harian umum Kompas menyatu dengan pembacanya dengan menyajikan berita sebaik mungkin dan seimbang. Kalau tidak begitu, mana bisa sebuah koran di Indonesia bertahan hampir setengah abad. Selama itu kita semua menyaksikan bangun jatuh juga mati hidup berbagai media cetak, khususnya surat kabar lain pesaingnhya. Lalu mengapa Kompas bisa bertahan begitu lama?

Saya mencoba mengingat dan memahami Kompas, surat kabar yang telah menyatu dengan hidup saya sekian lama. Siapa tahu Anda bisa terwakili dengan penilaian saya atau mungkin tidak suka dengan apa yang saya tahu tentang harian terbesar di Indonesia ini.

Kapan saya pertama kali membaca Kompas? Waduh… ini pekerjaan yang tidak penting untuk diingat-ingat. Apalagi saya bukan pembaca penting harian itu, seperti layaknya professor, akademsi, cendikiawan, politikus, selebritis, yang sering diajak diskusi dan diberi ruang untuk memberi opini mereka. Saya siapa?

Yang jelas saya mengenal Kompas sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Sepupu saya yang tinggal serumah, setiap pagi membeli Kompas. Sedangkan orang tua saya senangnya baca mingguan Buana Minggu, koran berisi klenik dan per-kejawen-an.  “Koran apaan tuh?”, ejek sepupu saya yang fanatik baca Kompas.

Saya ingat betul pertama kali lihat dan baca Kompas, karena gambar depannya foto Bung Karno sedang baca naskah proklamasi karya Frans Mendur. Kalau tak salah edisi 16 Agustus 1975 hari Sabtu, setelah saya mencoba rekonstruksi memori saya.

Sejak hari itu nyaris tiada hari dalam hidup saya tanpa Kompas, yang sering menjadi tamu pertama di rumah saya. Kadang beli eceran bila newspaper boy tidak datang. Hingga kini saya membayangkan sudah berapa ton harian Kompas bekas yang jual kiloan setelah sebulan saya baca. “Bisa buat nutupin Jakarta tuh, kalau Kompas sejak kamu langganan digelar di tanah”, kata rekan saya.


DEKAT TAPI JAUH

Meskipun saya begitu dekat secara emosional dengan harian ini, namun juga terasa jauh. Dibilang dekat karena Kompas dan gangnya (Bobo, Bola, Album Cerita Ternama), “grow with me”. Saya tumbuh bersama mereka. Saya pernah mengalami banyak status dengan Kompas. Pertama sebagai pembaca setia, kedua pernah sebagai pekerja magang dan ketiga, Kompas pernah menjadi client dari tempat saya bekerja pernah sebagai advertising agency-nya. Saya sempat presentasi materi kreatif dengan Pak Agung Adiprasetyo saat itu, yang sekarang menjadi pemimpin redaksi Kompas.

Waktu kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI, saya pilih magang di harian ini untuk membuat berita sendiri agar lulus dalam mata kuliah jurnalistik. Saya sempat magang di Kompas selama 3 bulan di awal 1988. Beruntung saya bisa bekerja sama dengan beberapa redaktur senior, seperti Pak Robby Sugiantoro dan Pak Sularto, meski untuk waktu singkat.

“Kamu harus liput penyerahan bis kampus hasil sumbangan Pak Sudwikatmono di Rektorat UI”, perintah Pak Robby, Biasanya tugas-tugas jurnalistik yang tak begitu penting, diserahkan kepada tenaga magang, Betapa lugunya dan kaget ketika saya diberi amplop saat meliput penyerahan itu. “Busyet? Duit? Kirain press release”, tanya saya dalam hati. Akhirnya uang itu saya kembalikan dan ditertawakan oleh wartawan lain yang terbiasa dengan amplop waktu itu. Kompas terkenal keras mengharamkan terima apapun dari sumber berita.

Ketika selesai meliput dan pulang ke rumah, ibu saya dengan lugunya kadang bertanya ke saya, “kau ketemu August Parengkuan?”. Wah, mana saya tahu nama itu. “Emang kenapa?”, jawab saya. “Dia dulu sering main ke rumah kita di Makassar dulu waktu kau belum lahir dan suka pinjem perabotan kue mama untuk untuk ibunya bikin kue Natal”, kata ibu saya.  Pak August adalah wakil pemimpin redaksi waktu itu. “Wah, nggak level saya ketemu beliau”, dalam hati. Emangnya siapa saya?

Kenyataan seperti itu membuat saya makin yakin bahwa Kompas memang tepat dan dekat dengan saya. Apalagi selama magang, saya sering makan di warung pinggir jalan depan kantornya. “Oh ini toh Pak Max Margono… oh, ini dia Pak A, Pak B”, ungkap saya dalam hati saat membaca tag name mereka kalau kepergok sedang makan bersama di warung. Selama ini saya kenal nama-nama wartawan mereka, tetapi tak pernah lihat visualnya. Di tambah lagi seorang anak didik ayah saya semasa di Makassar dulu (saya belum lahir), Fahmi Myala, menjadi koresponden Kompas di Sulawesi Selatan di Makassar.

Namun selama magang itu, saya juga merasakan susahnya cari mushollah kalau mau sembahyang di kawasan kompleks perkantoran kelompok Kompas. Setelah terjadi tragedi pembredelan tabloid Monitor tahun 1990, karena membuat polling menyangkut popularitas Nabi Muhammad, sudah tidak sulit mencari tempat ibadah bagi yang ingin sembahyang di kawasan itu.


CINTA KASIH

Mengapa ya berita Kompas tak pernah menggebu dan provokatif? “Ah, Kompas kayak banci”, kata rekan saya yang mungkin mewakili banyak pendapat banyak orang.  Berita di Kompas tak akan ditemui hal-hal yang provokatif, apalagi agitatif dan tif-tif lainnya. Pantas beritanya adem ayem dan lebih melihat aspek human interest.

Saya pernah mewawancarai cukup lama sosok wanita pendiam yang tak punya latar belakang jurnalistik, tetapi perkasa membesarkan majalah Intisari dan turut membidani kelahiran Kompas 45 tahun lalu. Namanya Zus Wat atau Ibu Irawati Suwandhi. Beliau adalah satu dari “rasulnya Pak Ojong” yang membesarkan Kompas, selain Pak Jakob Oetama, Pak Khoe Woen Sioe dan Pak Adisubrata. Pak P.K. Ojong adalah pendiri harian Kompas bersama Pak Jakob Oetama.

Selama berbincang dengan wanita asal Kudus ini, saya banyak menangkap pesan. Suaranya yang lembut nyaris tak terdengar, Zus Fat menceritakan bagaimana berdarah-darahnya saat awal majalah Intisari berdiri taun 1963 hingga membidani kelahiran harian Kompas tahun 1965.

Dari cerita Zus Fat, saya jadi tahu bagaimana sederhananya Pak Ojong dengan idealisme maha tinggi untuk membangun sebuah harian yang kelak menjadi harian terbesar di Indonesia. Zus Fat dan Pak Ojong masih ada pertalian hubungan keluarga.

Kekerasan hati Zus Fat yang tak punya latar belakang jurnalitik itu, bagi saya adalah simbol, bahwa idealisme untuk menyajikan berita dengan baik, tidak bisa dikalahkan oleh apapun. Meskipun orang itu tak punya modal keahlian teknis.

“Yang kau tulis ini bukan bahasa Indonesia, tapi bahasa Belanda”, kata Pak Jakob yang waktu itu mengerjakan bagian editing, ketika mengoreksi setiap tulisan Zus Fat untuk Intisari di awal berdirinya. Zus Fat banyak menguasai bahasa asing terkadang terbawa dalam tulisannya, yang selalu memakai kalimat aktif. “Seharus kalimat pasif yang kau gunakan”, kenang Zus Fat pada perkataan Pak Jakob kepadanya.

Memang kalau kita bertemu dengan orang-orang Kompas, terutama yang dulu, terasa mereka begitu lemah lembut. Entah orang-orang yang sekarang saya tak tahu. Ini karena sudah didisain cetakannya oleh Pak Ojong, sehingga semua orang Kompas terkesan ramah yang terbawa ketika mereka mengelola Kompas.  Kalau saya mengantarkan istri menghadiri misa di Gereja Santa, Kebayoran Baru, sering duduk berdekatan dengan Pak Jakob Oetama yang kadang menyebar senyum kepada siapa saja dengan rambutnya yang makin memutih.

Dan lucunya juga, waktu itu, saya banyak menemukan kenyatan bahwa wartawan Kompas berasal dari etnis Jawa Tengah atau Nusa Tenggara Timur yang memiliki latar belakang pemahaman Katolik. Mereka umumnya kalau bertutur sangat sopan dan ramah. Meski ada seorang wartawan Kompas seperti Pak Azkarmin Zaini menulis buku super lucu tentang orang Jawa naik haji.

Dari pengalaman itu, saya sadar mengapa berita Kompas tidak pernah meledak-ledak. Ya, bagaimana mau meledak, yang mengelola dan menulis berita hampir semua karakternya sama. Yaitu mengedepankan rasa hati, bukan amarah. Walaupun protes mereka menulisnya dengan cara mereka sendiri yang menyentuh hati nurani.

Saya masih ingat, kalau tak salah tahun 1976, Kompas menuliskan sebuah features sangat menarik yang sulit saya lupakan. Artikel itu di halaman depan bagian kanan bawah tentang tukang cukur Presiden Soeharto lengkap dengan fotonya. Entah bagaimana Kompas bisa menembus sumber beritanya. Sampai saat ini kita tidak tahu dimana dan siapa yang mencukur rambut kepala Presiden Habibie, Abdurrahman Wahid dan Susilo Yudhoyono.


MEMORI BANGSA

Saya berani bilang, tidak ada sebuah institusi di negeri yang begitu rapih menyimpan data dan dokumentasi hasil jurnalistiknya dengan rapih dan baik, selain Kompas dan kelompoknya.  Soal ini Kompas nomor satu dan hanya bisa disaingi oleh media sejenis di Amerika.

Ketika  bekas PM Italia Aldo Moro diculik sekian lama di tahun 1978 yang menggegerkan dunia dan akhirnya ditemukan tewas dalam mobil, Kompas menampilkan berita kematian tragis itu dengan foto Aldo Moro bersama Presiden Soeharto saat berkunjung ke Indonesia tahun 1971. Hal yang sama dilakukan ketika pelawak terkenal asal AS Danny Kaye wafat, Kompas memasang foto Kaye bersama Pak Harto. Semua tentu hasil jepretan wartawan Kompas.

Sewaktu Argentina menjadi juara dunia sepak bola di negaranya sendiri pada Piala Dunia 1978, berita itu kemudian dilengkapi foto bintang sepak bola yang membawa Argentina juara, yaitu Mario Kempes. Namun foto Kempes yang dipasang adalah saat dia masih belum gondrong bermain di Stadion Senayan, Jakarta tahun 1975.

Banyak hasil karya foto wartawan Kompas dipakai pemerintah menjadi ikon nasional. Suatu sore tahun 1983 di lapangan rumput Stadion Gelora Bung Karno, atlit Jerman Barat terkenal dan pemegang banyak rekor dunia, Ulrike Meyfarth, sedang asyik berlatih bersama atlit-atlit lain. Tiba-tiba tanpa ada protokol, Presiden Soeharto datang mengunjungi Ulrike sedang latihan dan mendatangi ke tengah lapangan. Mereka berbincang dan Pak Harto yang mengenakan sweater tebal putih sempat melemparkan senyum, sambil bertepuk tangan menyaksikan kehebatan Ulrike si atlit jangkung kelas dunia.

Momen Pak Harto itu dijepret dengan indah oleh wartawan Kompas, yang akhirnya dipakai sebagai visual resmi kampanye Hari Olahraga Nasional di setiap billboard se Indonesia, yang dicetuskan bulan September 1984. Saya tak paham apakah Kompas dibayar hak ciptannya untuk ini. Mungkn tidak.

Kompas juga berani menampilkan visual unik yang tak mungkin didapatkan di media cetak lain. Misalnya ketika Wakil Presiden Adam Malik sedang mau tidur malam di hotelnya di Havana tahun 1979 untuk menghadiri KTT Non Blok, tiba-tiba pemimpin Kuba Fidel Castro menyelinap masuk kamar Adam Malik ingin bertemu tanpa direncanakan. Fotonya dipasang di halaman depan dan terlihat lucu keadaan Pak Adam Malik yang berpakaian seadanya.

Atau ketika Presiden Megawati Soekarnoputri menganugrahkan penghargaan kepada perintis kemerdekaan dan tokoh wanita Ibu S.K. Trimurti pada Hari Ibu 2003. Foto Ibu Trimurti sedang memegang ubun-ubun kepala Megawati dijadikan fokus oleh Kompas di halaman depan. Mungkin ini pertama kali di dunia ada foto seorang rakyat memegang kepala pemimpinnya secara resmi dan legal tanpa direncanakan.

Terkadang visual ditampilkan Kompas lebih kuat daripada berita yang mereka sajikan, seperti dalam karikatur goresan GM Sudarta yang bernama Om Pasikom. Bahkan sempat difilmkan ke layar lebar tentang tokoh si Om ini yang nyeleneh dan kritis. Saya ingat Kompas menampilkan karikatur putih bersih, karena sudah bingung mau bilang apa lagi dengan situasi negara yang tidak bisa terurus sampai menyinggung logika orang.

Banyak data dan dokumen tersimpan di Kompas yang mencerminkan perjalanan bangsa ini selama lebih setengah abad. Mereka menyimpannya dengan rapih dan dapat dinikmati siapa saja asal berbayar melalui jasa internet. Saya agak kaget menemukan berita yang ditulis ayah saya di Kompas tentang tertangkapnya  Gerungan (tokoh pemberontak Permesta) pada edisi 24 Juli 1965. Atau berita tentang trasfer pemain sepak bola di Eropa yang sangat nahal untuk ukuran saat itu, hasil tulisan ayah saya pada edisi 20 Oktober 1970.

Bahkan saya menemukan tulisan surat pembaca saya di Kompas saat saya mahasiswa pelajar SMP pada kolom “Redaksi Yth” pada edisi 23 Juni 1982. Wah senengnya saat itu baru bisa nulis surat pembaca saja di harian Kompas. Meski sampai sekarang saya tak punya kualifikasi apapun untuk bisa menulis di Kompas. Di harian ini lebih dilihat siapa yang menulis dan bukan apa tulisannya. Makanya penulis Kompas keren-keren. Ada bekas menteri luar negeri AS dan ada yang menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia.


PIALA OSCAR

Dalam usianya yang masih “muda”muntuk ukuran sebuah media cetak, Kompas kini berkembang menjadi raksasa yang membanggakan bagi sebagian orang dan juga menakutkan banyak pihak, karena khawatir akan ada monopoli informasi. Kehebatan Kompas membuat banyak orang merasa senang bila sudah dimuat atau dibahas Kompas. Bila itu terjadi orang akan bisa mempercayai informasi itu sebagai berita yang penub kredibilitas. “Udah ada di Kompas kok beritanya”, itulah kalimat sakti penghilang rasa keraguan orang tentang informasi yang dicari.

Kini setiap presiden atau calon presiden, pasti menyempatkan mengunjungi kantor redaksi Kompas untuk sekedar beramahtamah dengan redaksi Kompas. Kebiasaan ini tak pernah ada semasa Pak Ojong masih hidup.

Ada sedikit keterkaitan bila saya perhatikan antara Kompas dengan keluarga Presiden Soekarno. Mungkin untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada pendiri bangsa ini yang berperan secara moril atas kelahiran Kompas. Lihatlah bila ada berita tentang keluarga Presiden Soekarno selalu di tempatkan di halaman depan. Saya masih ingat tahun 1985 ketika Taufan, putra Soekarno bersama Hartini, wafat karena sakit. Beritanya besar di halaman depan lengkap dengan foto Taufan masih kecil bersama ayahnya, lengkap dengan goresan Soekarno, “Taufan, engkau anak Soekarno”.

Atau ketika tahun 1986 diberitakan oleh kantor berita asing tentang pertunangan Kartika, putri Soekarno dengan seorang pewaris pemilik kerajaan baja dari Jerman, Thyssen. Berita itu diletakkan di halaman depan kiri atas. Wow..berita pertunangan di halaman depan Kompas!

Kini saya tetap banggsa menjadi bagian perjalanan selama 45 tahun Kompas yang hadir setiap pagi di rumah saya. Hampir semua orang menganggap Kompas seperti Piala Oscar yang membanggakan. Bila sudah masuk berita di Kompas, pasti hebat dan keren.

Mungkin karena Piala Oscar yang berbentuk mahluk tidak berkelamin itu, membuat Kompas beritanya samar tidak memihak? Mungkin saja, karena bicara soal hati nurani yang diamanatkan Kompas, memang tidak memerlukan jenis kelamin. (*)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.