Kabar Burung

Anoew – SumSel


“Om Anu… Om Anu…”

Celutuk seekor burung kakaktua dari iklan sebuah produk operator seluler terbesar di Indonesia  itu menarik perhatian saya pas saat jeda iklan ketika menikmati pertandingan sepak bola antara Jerman vs Inggris. Iklan itu memang nggak cuma keluar pas tayangan Piala Dunia saja, tapi juga kadang-kadang muncul di tayangan regular. Waaaah…, nggak nyangka kalau nama saya bisa sepopuler itu hahah.. meski itu cuma diucapkan oleh seekor burung kakaktua. Yang menarik saya selain celutukannya tadi adalah ucapan naratornya yang bilang,

yaaaaa… kabar burung dipercaya..!

Tersenyum geli, saya jadi lebih sering memelototi layar tv setiap jeda iklan sekedar untuk memastikan apakah bener si burung kakaktua itu ngomong kayak gitu, atau pendengaran saya yang salah?

“Aaaaah…., ge-er loe..!”, protes rekan di sebelah saya sambil menyeruput kopinya.

“Simak lagi deh.. dia emang ngomong gitu, kok..” saya bersikeras.

Akhirnya setelah iklan itu muncul lagi saya tersenyum lebar ke arahnya sambil menepuk dada (duileee), “tuh kan beneeeer…!”

“Huh..!”, teman saya tadi cuma mendengus sambil menyalakan rokoknya.

Iseng-iseng saya jadi berpikir, kenapa ya kok si burung kakaktua itu nggak bilang,

Om Buto.. Om Buto..”? Atau, “Om Ilham…Om Ilham…”? Atau…, “Nevergiveup… Nevergiveup”?

Entahlah…, yang jelas menurut pendengaran saya si burung kakaktua itu bilang “Om Anu.. Om Anu..

Ngomong-ngomong tentang kabar burung , ternyata asal mula dari kata “kabar burung” itu sendiri juga nggak jelas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  kabar burung adalah desas-desus, kabar angin, atau percakapan orang banyak yang belum tentu benar dan tak jelas pula sumbernya. Jadi kesimpulannya, yang disebut kabar burung adalah suatu berita yang belum tentu benar, atau malah kadang juga dipakai sebagai olok-olok.

Sedangkan mengapa disebut “kabar burung” dan bukan “kabar semut” atau “kabar siput”, mungkin karena ada anggapan bahwa keberadaan seekor burung yang susah didekati dan suka berpindah-pindah tempat, sehingga begitu cepat suatu kabar sedap atau busuk itu akan segera tersebar.

Coba bandingkan dengan semut atau bekicot…, pasti suatu kabar baik atau buruk tentu akan lama tersebarnya.  Hal itu juga menjelaskan mengapa di amplop surat, di kantong surat pak pos dan bahkan simbol kantor pos pun berlambangkan burung dan bukan binatang lain. Ide ini mungkin berasal dari burung merpati yang dulunya dikenal handal dalam menyampaikan berita. Tapi heran juga ya, kenapa harus burung merpati, bukan burung bangau atau burung hantu? Heheh… kalau burung hantu sih cuma dipakai Harry Potter di film-nya dan juga sebagai sahabat pak Hand untuk berburu tikus di artikel beliau..

Nah, tentang kabar burung yang beredar belum lama ini, lagi santer-santernya diberitakan bahwa Ariel meninggal dunia di penjara dikarenakan overdosis. Desas-desus yang belum tentu benar ini  menyebar dan terus mendapat tanggapan dari pengguna  komunitas online meskipun sudah ada bantahan resmi dari pengacara maupun kepolisian. Hm.., namanya juga desas-desus yang nggak jelas keabsahannya, berita ini sungguh sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya kecuali  jika  ada pertanyaan, “gimana kabarnya burung Ariel?” Nah itu baru betul, karena memang yang bersangkutan belum lama ini masuk penjara gara-gara burung hehehe..  Aaah.., gara-gara burung yang dihembuskan oleh kabar burung inilah, burung-nya Ariel jadi semakin terkenal..

Jadi pengen iseng, kalau dikutak-katik tata bahasanya malah jadi aneh. Coba simak yang berikut ini:

Menurut kabar burung, Ariel sakit. Artinya sudah jelas, bahwa Ariel sakit.

Menurut kabar, burung Ariel sakit. Artinya juga jelas, bahwa burungnya Ariel sakit.

Susah juga ya ternyata, hanya gara-gara burung..


Dear Baltyrans,

Kabar burung ternyata nggak selalu berkonotasi negatif. Seperti misalnya waktu itu di beberapa kota besar dibuka outlet donat, antrian pembeli yang ingin merasakan kelezatan donat tersebut rela mengantri berlama-lama untuk sekedar memuaskan rasa penasarannya. Apalagi menurut kabar burung, pemilik outlet ini adalah juga merupakan pemilik salon terkenal. Lagi-lagi sumber dari kabar burung yang belum tentu kebenarannya itu menyebutkan, bahwa histeria massa itu adalah sesuatu yang palsu dan tak masuk akal karena sesungguhnyalah hanya sekedar taktik dari penjual donat tersebut. Kabar burung itu juga menyebutkan bahwa sebenarnya si pedagang donat membayar orang-orang dan sebagian karyawannya  untuk berpura-pura antri.  Wah.., benar-benar kabar burung yang kejam…!

Masa ada sih orang yang begitu bodoh antre berjam-jam sampai pagi hanya untuk membeli donat?” cetus si pembawa kabar burung tersebut.  “Mending kalau ada hadiahnya mobil atau duit jutaan..!”

Walaaah..,  komentarnya negatif sekali… Sangat mungkin kalau dia itu sebenarnya ingin ikut beli tapi nggak punya duit hahah…  Sekali lagi ingat, ini kabar burung lho..

Lagipula, kabar burung dipercaya..!

~ Salam Desas Desus  ~

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.