Musim Bukan-bukan dan Keran Impor Bahan Pangan

Cinde Laras


Sudah disebutkan dalam tulisan terdahulu tentang Musim Bukan-Bukan di Indonesia saat ini. Untuk sekedar mengingatkan, Musim Bukan-Bukan adalah musim yang terjadi jauh dari perkiraan kapan awal dan akhir kejadiannya. Bila dulu musim kemarau dimulai dari pertengahan bulan April hingga pertengahan bulan Oktober, dan musim hujan dimulai dari pertengahan bulan Oktober hingga pertengahan bulan April. Maka Musim Bukan-Bukan diawali nun mundur jauh dari bulan April untuk masa kemaraunya, dan nun mundur jauh dari Oktober untuk masa hujannya.

Patahlah sudah pengertian orang-orang jaman dulu yang mengatakan “Musim hujan itu biasanya ada bunyi BER-BERnya…. Oktober, Nopember, Desember, Peberuari….”. Bagaimana tidak patah wong ternyata hingga awal bulan Nopember 2009 kemarin musim kemaraunya masih terasa. Setelah itu, hujan baru terjadi di beberapa tempat dengan kuantitas beragam, dari yang cuma rintik-rintik sampai yang deras bukan kepalang hingga menyebabkan banjir.

Lalu yang terjadi sekarang adalah juga kemunduran jadual kedatangan musim kemarau. Yang seharusnya sudah mampir sejak bulan April, tahu-tahu sampai akhir bulan Juni seperti sekarang masih juga belum terlihat. Padahal awal kemarau akan disambut dengan suka cita oleh para petani padi (Oriza sativa) yang sawahnya beririgasi. Karena di musim kemaraulah biasanya tanaman padi mereka akan berbuah lebih banyak. Mengapa begitu? Bunga padi adalah bunga yang secara umum terbuka di waktu pagi hari antara jam 10-11 pagi. Kelopak bunganya akan maksimal terbuka di jam-jam itu, selebihnya akan tertutup lagi.

Masa subur yang dipunyainya memang sampai beberapa hari, tapi yang paling berpengaruh adalah saat serbuk sari yang dilontarkan bunga jantannya dapat mencapai kepala putik bunga betina di saat yang tepat. Bisa saja penyerbukan itu terjadi di hari berikutnya, tapi kesegaran dan jumlah serbuk sari yang akan mendekati kepala putik tanaman padi tidak lagi sesehat dan sebanyak di hari-hari sebelumnya. Dan itu hanya akan terjadi dengan sukses bila tidak ada hambatan, terlebih lagi rintangan cuaca yang berupa turunnya hujan yang akan mengacaukan proses penyerbukan.

Sangat mungkin terjadi, serbuk sari bunga jantan akan terbawa butiran air hingga tak bisa mengenai kepala putik bunga betina. Alhasil, kepala putik tak akan terbuahi, dan kemudian hanya akan menghasilkan gabah gabug tak berisi. Dengan banyaknya modal tanam yang harus dipikul petani, tentunya kejadian ini akan membuat petani semakin terpuruk. Apalagi kalau sampai petani meminjam modal lewat bank yang mengharuskan mereka memberikan agunan senilai 200% dari harga pinjaman yang mereka ambil. Bisa-bisa petani dan keluarganya tak akan lagi punya tempat tinggal.

Itu untuk hujan yang muncul di pagi hari, lalu bagaimana dengan hujan yang datang di malam hari ? Mari kita lihat tanaman jagung yang sedari dulu sudah menjadi tanaman palawija, yang biasanya ditanam saat musim kemarau, yang juga dijadikan sebagai penghasil makanan pokok di daerah-daerah tertentu di negara kita. Tanaman jagung (Zea mays) adalah jenis tanaman yang bunganya hanya akan terbuka di malam hari. Bila setiap kali kita membeli jagung lalu kita mendapati ada tongkol jagung yang ompong tanpa biji, itulah hasil dari kegagalan penyerbukan bunga jantan dan bunga betina.

Mengapa ompong? Sebagaimana gabugnya gabah padi, serbuk sari bunga jantan pada Zea mays juga sangat mungkin gagal karena terkena siraman hujan. Serbuk sari tidak bisa lagi mencapai kepala putik yang ada pada bunga betinanya yang terletak di ketiak daun tanaman jagung. Kalaupun ada, jumlahnya cuma sedikit. Dengan teknologi pembibitan yang belum sebagus negara lain (yang dengan sukses telah dapat menumbuhkan pohon jagung bertongkol delapan), kita cuma bisa menjadikan diri kita konsumen produk bibit mereka. Sedangkan bibit yang bagus tak akan berarti banyak bila sudah berhadapan dengan rintangan cuaca. Sementara jumlah kepala yang harus diberi makan di negara ini kian banyak saja, dan kita masih juga terhadang cuaca untuk bisa mengatur sawah dan kebun kita.

Kegagalan panen hasil bumi karena pengaruh cuaca yang makin lama makin sering terjadi, memaksa kita untuk lagi-lagi mengimport bahan pangan. Maksud hati ingin segera lepas dari belenggu melulu menjadi konsumen, tapi apa daya cuaca tak memungkinkan kita menjadi petani yang jaya.

“Kalau menurut penanggalan Jawa, musimnya masih benar…”, celetuk seorang kenalan yang petani kentang. Hmm…, kalau itu memang sebuah solusi, barangkali ada baiknya bila mulai sekarang kita kembali memakai almanak Tahun Jawa.


Ilustrasi: budidayaagrokomplek

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.