Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Musim Bukan-bukan dan Keran Impor Bahan Pangan

Tuesday, 6 July 2010

Viewed 2842 times, 6 times today | 47 Comments |

Cinde Laras


Sudah disebutkan dalam tulisan terdahulu tentang Musim Bukan-Bukan di Indonesia saat ini. Untuk sekedar mengingatkan, Musim Bukan-Bukan adalah musim yang terjadi jauh dari perkiraan kapan awal dan akhir kejadiannya. Bila dulu musim kemarau dimulai dari pertengahan bulan April hingga pertengahan bulan Oktober, dan musim hujan dimulai dari pertengahan bulan Oktober hingga pertengahan bulan April. Maka Musim Bukan-Bukan diawali nun mundur jauh dari bulan April untuk masa kemaraunya, dan nun mundur jauh dari Oktober untuk masa hujannya.

Patahlah sudah pengertian orang-orang jaman dulu yang mengatakan “Musim hujan itu biasanya ada bunyi BER-BERnya…. Oktober, Nopember, Desember, Peberuari….”. Bagaimana tidak patah wong ternyata hingga awal bulan Nopember 2009 kemarin musim kemaraunya masih terasa. Setelah itu, hujan baru terjadi di beberapa tempat dengan kuantitas beragam, dari yang cuma rintik-rintik sampai yang deras bukan kepalang hingga menyebabkan banjir.

Lalu yang terjadi sekarang adalah juga kemunduran jadual kedatangan musim kemarau. Yang seharusnya sudah mampir sejak bulan April, tahu-tahu sampai akhir bulan Juni seperti sekarang masih juga belum terlihat. Padahal awal kemarau akan disambut dengan suka cita oleh para petani padi (Oriza sativa) yang sawahnya beririgasi. Karena di musim kemaraulah biasanya tanaman padi mereka akan berbuah lebih banyak. Mengapa begitu? Bunga padi adalah bunga yang secara umum terbuka di waktu pagi hari antara jam 10-11 pagi. Kelopak bunganya akan maksimal terbuka di jam-jam itu, selebihnya akan tertutup lagi.

Masa subur yang dipunyainya memang sampai beberapa hari, tapi yang paling berpengaruh adalah saat serbuk sari yang dilontarkan bunga jantannya dapat mencapai kepala putik bunga betina di saat yang tepat. Bisa saja penyerbukan itu terjadi di hari berikutnya, tapi kesegaran dan jumlah serbuk sari yang akan mendekati kepala putik tanaman padi tidak lagi sesehat dan sebanyak di hari-hari sebelumnya. Dan itu hanya akan terjadi dengan sukses bila tidak ada hambatan, terlebih lagi rintangan cuaca yang berupa turunnya hujan yang akan mengacaukan proses penyerbukan.

Sangat mungkin terjadi, serbuk sari bunga jantan akan terbawa butiran air hingga tak bisa mengenai kepala putik bunga betina. Alhasil, kepala putik tak akan terbuahi, dan kemudian hanya akan menghasilkan gabah gabug tak berisi. Dengan banyaknya modal tanam yang harus dipikul petani, tentunya kejadian ini akan membuat petani semakin terpuruk. Apalagi kalau sampai petani meminjam modal lewat bank yang mengharuskan mereka memberikan agunan senilai 200% dari harga pinjaman yang mereka ambil. Bisa-bisa petani dan keluarganya tak akan lagi punya tempat tinggal.

Itu untuk hujan yang muncul di pagi hari, lalu bagaimana dengan hujan yang datang di malam hari ? Mari kita lihat tanaman jagung yang sedari dulu sudah menjadi tanaman palawija, yang biasanya ditanam saat musim kemarau, yang juga dijadikan sebagai penghasil makanan pokok di daerah-daerah tertentu di negara kita. Tanaman jagung (Zea mays) adalah jenis tanaman yang bunganya hanya akan terbuka di malam hari. Bila setiap kali kita membeli jagung lalu kita mendapati ada tongkol jagung yang ompong tanpa biji, itulah hasil dari kegagalan penyerbukan bunga jantan dan bunga betina.

Mengapa ompong? Sebagaimana gabugnya gabah padi, serbuk sari bunga jantan pada Zea mays juga sangat mungkin gagal karena terkena siraman hujan. Serbuk sari tidak bisa lagi mencapai kepala putik yang ada pada bunga betinanya yang terletak di ketiak daun tanaman jagung. Kalaupun ada, jumlahnya cuma sedikit. Dengan teknologi pembibitan yang belum sebagus negara lain (yang dengan sukses telah dapat menumbuhkan pohon jagung bertongkol delapan), kita cuma bisa menjadikan diri kita konsumen produk bibit mereka. Sedangkan bibit yang bagus tak akan berarti banyak bila sudah berhadapan dengan rintangan cuaca. Sementara jumlah kepala yang harus diberi makan di negara ini kian banyak saja, dan kita masih juga terhadang cuaca untuk bisa mengatur sawah dan kebun kita.

Kegagalan panen hasil bumi karena pengaruh cuaca yang makin lama makin sering terjadi, memaksa kita untuk lagi-lagi mengimport bahan pangan. Maksud hati ingin segera lepas dari belenggu melulu menjadi konsumen, tapi apa daya cuaca tak memungkinkan kita menjadi petani yang jaya.

“Kalau menurut penanggalan Jawa, musimnya masih benar…”, celetuk seorang kenalan yang petani kentang. Hmm…, kalau itu memang sebuah solusi, barangkali ada baiknya bila mulai sekarang kita kembali memakai almanak Tahun Jawa.


Ilustrasi: budidayaagrokomplek

Share This Post

Posted by Tuesday, 6 July 2010 on 02:58.

Categories: Opini. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

47 Responses to “Musim Bukan-bukan dan Keran Impor Bahan Pangan”

Pages: [5] 4 3 2 1 »

  1. 47
    Lani Says:

    CINDE : ooo, jd mrk semua yg urus, dirimu cm menyediakan tempat/kandangnya saja……enak gak melu ruwet bin bundet……krn ora melu2 tetek bengeknya……
    trs usaha pembibitan ikan juga? la kolamnya dimana? ikan apa? dan dijual kemana? wes nek bilang ikan…..mataku meh mencolot soale cinta abis sama ikan, tp bukan ikan hias…….ikan sing iso dipangan hehehhee………..nek ikan hias aku gak mau duwe aquarium dewe ribetlah………cukup menikmati ditempat lain aja…….

  2. 46
    Cindelaras Says:

    @Mbak Lani : Sudah gak tau soal suntik-suntikan, kita cuma sewakan kandang dan menjamin perawatan harian. Bibit dan pasar mereka yang tanggung, termasuk supervisi pegawe. Ya, itu kepanjangan dari perusahaan dari Thailand. Di Indonesia dipakai untuk supply ke KFC, McDonalds, So Good, Fiesta, dll. Kalau aku lebih suka konsumsi bebek aja, tanpa obat dan hormon, serba organik lah. Bebek silangan dengan entok bisa besar di usia 2 bulan, dagingnya lembut dan rasanya seperti ayam kampung. Rencananya juga akan bikin pembibitan bebek silangan. Tapi tanam ikan juga akan tetap dilakukan, eman2 kolamnya

  3. 45
    Lani Says:

    CINDE : ngingu pitik sampai 5,000 ekor?????? itu join sm org Thai ya? trs kandange nang endi??????? butuh luassssss banget dunk……..apakah iki pitik farm yg disuntik hormon? apa pitik buras????? soale nek ayam lehorn…….uh, apalagi disuntik wuiiiiiiiiih…….sejak kapan ngingu pitik??????

  4. 44
    Cindelaras Says:

    @Mea : Betul, yang penting bahagia. Kalau utang mah aku gak pernah mau, cuma untuk usaha memang kami masih mengandalkan bantuan bank untuk tambahan modal. Yang penting usaha.
    Hidup miskin ? Gak malu tuh. Yang penting semua ini kami dapat dengan halal. Orang kan cuma bisa menjalani apa yang Tuhan gariskan. Kalau sekarang gak punya, belum tentu besok tidak kaya : )

    @nevergiveupyo : Suamiku sejak kelas 5 SD di tahun ’70-an akhir sudah berinisiatif berkebun cengkeh sendiri di tanah pekarangan bapaknya. Uang hasil panen bisa buat bayar sekolah sampai kuliah. Sisanya buat bantu-bantu orangtua untuk bayar ini-itu. Lucu ya ?, sementara teman lainnya main bola, suamiku malah sibuk mengurus kebunnya. Sayang sekarang cengkehnya sudah habis dibabat, habis harganya menyedihkan…..

  5. 43
    nevergiveupyo Says:

    anoew : sampean itu ga hutan ga di kota maunya ngebor mulu deh….

    CL : hahaha, jadi inget. ada tmn pernah cerita, ada tetangganya udah kakek2. sakit keras.. lalu suatu hari kyai-nya jenguk. trus kyai bilang : mbah..nyebut mbah… (maksutnya nyebut Nama Yang Maha Kuasa gitu) si mbah-nya juga reaksinya gitu : but…butt…but…. hehehehe
    tante, saya jadi ngeri denger cerita tante.. tapi hampir senada dan seirama, beberapa tmn juga mengalami hal itu (termasuk kiprah tmn pengusaha mebel yang..ya crita bahwa yang bisa dpt “kayu jati kualitas 1″ hanya kalau dekat… -dekat siapa ya?? jelas bukan dekat tungku lah…. itu mah hangat…hehehe)

    meazza : beruntunglah saya, sekalipun buku berganti tiap tahun, saya masih ngeyel ga mau beli (cukup minjem LKS tmn hehehehehe… untunglah saya masih lulus ya..)
    saya juga ngalami jadi pemetik hasil ladang yang tak berharga. bagaimana berharga, cengkih harganya sekilo 2rb.. padahal metik seharian di ladang paling banter dapat 30kg (kadang yang lebih lama masang bambu buat penahan batang pohon cengkih..krn cengkih ada di pucuk2 pohon. kalau tidak dipasangi bambu rusak semua tuh pohon) … sementara itu panen setahun sekali. alhasil pohon ga pernah dipupuk-lah… kalau ngupah orang, ga ada yang mau. rata2 juga cengkih di ladang mereka dibiarin. krn harga terlalu murah… kalaupun ada, upahnya minta sepertiga dr hasil petik harian…hahaha. habislah sudah…. dapet capek

  6. 42
    Mea Says:

    CINDE: Pikiran Tante dan suami sama persis seperti pikiran ortu, ga mau ngambil uang haram karena takut anak2nya bodoh. Tapi itulah konsekuensinya, kami melarat, namun hati tenang… Yah asal tak berhutang ke mana2, hidup masih boleh dibilang BAHAGIA, hehehe….

    Mengenai pisau palsu, mungkin, wah, ternyata lbh ruwet dari yg aku kira!

  7. 41
    Cindelaras Says:

    @Oom DJ : Whuaaa…….. Lagunya asyik banget Dinyanyiin pake keroncong dong, Om……

    @Lani : Pitiknya gak bakalan habis dimakan sendiri wong jumlahnya 5000 ekor, hehehehe…….. Aku kerjasama sama Charoen Phokphan.

Pages: [5] 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)