Selamat Jalan, Zeverina

Note Redaksi:

Bagi sebagian pembaca mungkin bingung, ada apa dan siapa Zeverina? Zeverina, atau sering dipanggil Zev atau Z adalah salah satu pelopor Citizen Journalism di Indonesia. Beberapa dari kita di Baltyra adalah murid-muridnya yang pernah di satu masa berkumpul di satu tempat citizen journalism di bawah kompas.com

Kemarin, Z berpulang menghadap Sang Pencipta. Banyak dari kami kaget dan shocked mendengarnya. Kebetulan 4 orang dari Baltyra mendapat kesempatan untuk melayat ke rumah duka kemarin malam. Berikut adalah kiriman dari 3 orang yang ingin menyampaikan penghormatan terakhirnya dan mengucapkan selamat jalan kepadanya. Mereka adalah Iwan Satyanegara Kamah, Sekar dan Prabu, yang berupa tulisan dan foto-foto.

Semoga dari 3 sahabat Baltyra ini bisa dan cukup mewakili semuanya yang merasa kehilangan.


Dan Kepergian Itu Mendekatkan Kita

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


Di wajahnya tertutup remang

Kain tembus pandang

Tanda kabung yang merundung


Memang ia terbaring membujur diam

Tapi ada banyak orang tak mengerti –

mengapa dia terdiam


Waktu perpisah

Jarak merentangkan banyak kisah

Pada kita semua yang pernah dan selalu serumah

Dengannya. Dengan Zeverina


Ada kesedihan pada wajah

Ada kesepian pada hati

Ada kedukaan pada rasa


Semua ingin memandang seakan mau berkata

Tentang kenangan indah

Tentang sapaan tawanya

Tentang kebersamaan yang senyawa

Selama bersamanya. Bersama Zeverina


Di ujung harapan yang penuh badai

Dia membangun rumah bersama

Untuk kita bersuara dengan hati

Bercanda tawa dengan nurani


Di tempat itu kita bermain bersama

Bergurau penuh tawa

Menggunakan hati sebagai pena


Kami bisa bersuara ke banyak dunia

Ke banyak telinga dengan kata

Ke banyak mata dengan hati

Dengan penamu. Pena Zeverina


Tuhan Maha Tahu Segalanya

Tapi Ia tak mau menulis dan bersuara

Ia pun ciptakan manusia untuk itu


Kami pun ingin bebas menulis dan bersuara

Tapi kami tak punya rumah dan pena

Tuhan pun menghadirkanmu untuk kami

Kau Zeverina. Selalu ada di hati kami


Zev, waktunya kamu harus pergi

Kamu ada janji dengan Tuhan

Kami pun ada janji

Yang harus ditepati

Menjaga api yang kau nyalakan


Terima kasih Zeverina

Untuk segalanya.


Kenapa Harus Menangis

EQ – di mana saja

Malam pekat, meskipun langit cerah dan gerah. Aku berada di tempat yang gelap, dalam sebuah kotak besi berjalan yang di sebut mobil, bikinan Jepang tentu saja, dalam perjalanan menuju kota Bandung, dari Jogjakarta. Perjalanan lancar dan cukup nyaman, karena tidak ada penumpang lain selain kami berempat.

Sms masuk membuatku terkejut. Kabar bahwa Zev meninggal dunia. Duuuhhh…….gosip apa pula ini. Masih teringat dengan kabar meninggalnya Ocha duluuuuuu itu, jadi agak-agak tidak percaya menerima berita semacam ini. Aku forward sms itu ke Lby, Yanzu, JC dan beberapa teman lain. Kemudian telpon berdering, mengabari kalau berita itu benar. Beberapa sms bertubi-tubi, masuk memberikan kabar yang sama. Tiba-tiba aku jadi sibuk.

Hmmmmmm………

Siang ini aku membuka Facebook dan menemukan banyak status, komen, beberapa link yang berhubungan dengan berita meninggalnya Zev. Aku sendiri bahkan juga memasang status yang sama, tapi dengan isi yang berbeda: “ZEV TELAH BERPULANG, KENAPA HARUS BERSEDIH DAN MENGURAS AIR MATA, SEHARUSNYA KITA BERSYUKUR, SEBAB TUHAN MEMBERIKAN YANG TERBAIK BAGI ZEV, SEHARUSNYA KITA BERTERIMA KASIH PADA TUHAN, SEBAB ZEV SUDAH TERBEBAS DARI PENDERITAANNYA. SAMPAI BERTEMU LAGI ZEV, WE LOVE YOU…….♥♥♥♥”

Ya, sudah lama aku dengar berita tentang sakitnya Zev. Katanya kanker hati dan sedang dalam penantian menunggu transplantasi di sebuah rumah sakit di Singapore. Itu yang saya dengar beberapa minggu atau bulan yang lalu, aku lupa. Yang jelas, yang aku tahu adalah bahwa Zev memang sudah lama menderita sakit.

Sedih memang, kehilangan seorang teman seperti Zev, meskipun aku tidak akrab dengannya. Tidak pernah kontak secara pribadi dengannya, bahkan kemudian aku juga meninggalkan rumah lama yang pernah kami huni bersama. Tapi itu tidak berarti aku melupakannya. Sama sekali tidak. Bagaimana mungkin aku melupakan Zev. Aku pernah menulis sebuah cerita tentang dia, bersama Lembayung dan Night, jaman dulu kala, Parodi Kolam Kita. Aku pernah mengalami masa-masa senang dan ricuh bersama-sama dengannya. Aku pernah mengalami badai dan merasakan angin semilir bertiup, bersamanya. Bahkan pernah bertemu dengannya secara nyata, di dunia nyata. Berfoto-foto, bergirang-girang, bertukar cerita. Aku ingat sosoknya yang mungil tapi enerjik, mudah panik dan sangat piawai mengucapkan kalimat “pisuhan” yang khas, terutama jika sedang kumat latahnya.

Aku ingat, ketika pada suatu hari dia memasang fotoku dengan tattoo pertamaku yang kontroversial itu, sebesar papan baliho di jalan raya. Tidak ada yang terlupa.

Dari Zev pula aku menemukan saudara-saudaraku yang tersebar di mana-mana, seperti Lby dan yu Gendhuk, aku juga bertemu dengan teman-teman baik seperti mbak Arita ( duh, kangen ), mbak Ria, mas Plux ( di mana ya dia ? ), JC, JL, Yanzzu, mbak Dewi Meong, Bejan ( hallloooo…), cie Linda, cie Juwita, Aimee, mbak Ninik Strout, Lily-ku tersayang, Abeh, Phie, Mbak Marni, mbak Reef, PDD ( di mana ya ? ), Mea, Kang Awwal, Ilhampst,  duuuuhh..banyak sekali untuk bisa disebut satu persatu, belum lagi tokoh-tokoh sepuh yang bijak dan saya sayangi seperti Ki Ageng, om DJ, Ibu Hindah Muaris dan tentu saja sahabat kesayanganku Night. Aku mengenal Zev sejak pertengahan tahun 2005, ketika aku terdampar di Korea Selatan sebagai mahasiswa. Tulisan pertamaku adalah tentang kisah cinta jarak jauh.

Ah, ini memang menjadi sepert sebuah tulisan kenangan. Saya yakin, banyak yang lain akan melakukannya. Mengenang Zev, menuliskannya adan membicarakannya.

Zev yang lengkap dengan segala kebaikan dan kekurangannya telah pergi dari dunia kita saat ini. Aku tidak mau mengatakan dia sudah meninggal atau apa. Zev hanya berpindah ke dunia lain dan akan menjalani karmanya, sperti yang terjadi pada setiap orang.

Ya, sudah banyak orang yang pergi dalam duniaku. Orang-orang tersayang dalam hidupku. Sahabat, teman, saudara, bahkan juga mamahku dan kakek nenekku tercinta.

Dan kita akan selalu menangisi kepergiannya.

Tapi benarkah kita pantas menangisi kepergian mereka yang kita sayangi ?

Dulu, ketika mamahku dan kedua eyangku meninggal dunia, aku nyaris tidak bisa menangis, karena kesedihan yang tidak bisa di tukar dengan air mata. Tapi sekarang aku berpikir, alangkah egoisnya aku, ketika aku merasa begitu bersedih dan menumpahkan air mata bagi mereka yang pergi.

Tuhan memberikan yang terbaik bagi mereka. Tuhan memindahkan mereka ke dunia yang lain, melepaskan dari segala penderitaan yang mereka alami di dunia kita saat ini. Tuhan memberikan mereka kebahagiaan lain bagi mereka. Jadi mengapa kita harus menangisi karunia yang mereka terima itu…..

Ah, tentu saja, karena kita egois. Kita tidak sedang menangisi mereka, tapi kita tengah menangisi diri kita sendiri. Kita bersedih untuk diri kita sendiri. Kita bersedih, karena kita memikirkan diri kita yang ditinggalkan. Kita menangisi nasib kita sendiri. Alangkah kejamnya kita !!!

Dan alangkah lebih kejamnya orang-orang yang menganggap kita aneh ketika kita tidak menangisi sebuah kepergian. Tapi, itu memang sebuah fenomena alami, manusiawi, ketika manusia di ciptakan dengan kondisi ego yang besar, melengkapi akal pikiran dan akal budinya. Barangkali justru orang-orang seperti aku yang sedikit menyimpang dari gejala manusiawi ini, mungkin karena aku terlampau egois, beyond the egoism.

Ah, sebenarnya aku cuma belajar dari sebuah pengalaman saja, ketika mamahku sakit dan sangat menderita, ketika Joko Kewer temanku tiap hari mabuk dan tidak bisa lagi memperbaiki hidupnya untuk menjadi lebih baik, ketika itulah Tuhan memberikan sebuah jalan keluar dan karunia yang terbaik. Karena itulah, Tuhan membebaskan mereka dari rasa sakit, dari penderitaan yang mungkin akan di alami lebih jauh, jika mereka tetap berada di dunia ini.

Jadi kenapa kita harus menangisi mereka yang mendapat berkah Tuhan ??

Sungguh, aku tidak bisa lagi menulis lebih panjang dari ini.


Salam buat semuanya

Bandung, 2010-07-08

“Hujan turun menyapa alam

Membagi kesejukan, menyebar  udara dingin

Bagi hati yang sedang gerah, gundah, gelisah, resah

Alam tahu

Maka bicaralah pada semesta.”




86 Comments to "Selamat Jalan, Zeverina"

  1. YM Enief Adhara  8 July, 2013 at 11:08

    Turut berduka cita atas meninggalnya Mbak Z
    semoga Allah memberikan tempat yang terbaik

    we love u

  2. LeoS  8 July, 2013 at 09:04

    Damai di sana …

  3. IWAN SATYANEGARA KAMAH  5 July, 2011 at 23:54

    SELAMAT MALAM ZEVERINA…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.