Loving From A Distance Far

Alfred Tuname


Jarak sudah menjadi rentang pisah yang membatasi sesuatu yang berjarak. Tiap sesuatu berdiri pada titik-titik pengujung sebuah garis. Jarak seperti spasi yang membentangkan spasial pada kata yang membututi kata atau gambar lain. Jarak sama dengan pisah dan mungkin tidak identik dengan tak lekat. Jika hidup adalah perjuangan maka perjuangan itu tertuju pada pencapaian kedekatan. Suatu perjuangan untuk menihilkan spasi. Orang berjuang untuk dekat dengan Sang Pencipta dalam teologi dan lekat pada tercinta.

Frederich Nietsche menulis bahwa hidup adalah “der wille zur macht”, hasrat untuk berkuasa. Syair ini memiliki nuansa politis. Tapi hidup tidak semata berkubang dalam kolam politik. Di sini, kuasa adalah objek. Sementara hasrat adalah hidup itu sendiri. Hasrat menjadi indetik dengan hidup. Seperti Chairil Anwar yang berhasrat untuk hidup seribu tahun lagi. Atau seperti Jenderal Douglas McArthur yang berhasrat menguasai Asia Pasifik dengan mengatakan “i shall return”.

Dari sanalah, budayawan Iwan Simatupang menutur: “hidupku adalah suatu denyut, rangsang, suatu idaman akan keheningan, suatu cemooh akan semua kekinian dan suatu hasrat yang keras akan keakanan”. Ia berhasrat untuk dekat dengan keheningan yang bukan kesepian pun keterasingan. Dan terlepelanting dalam dunia Kafkian (penyair Franz Kafka), dimana eksistensi fisik hanyalah sebuah cetakan bayangan di atas layar ilusi.

Dalam normalitas keseharian, luasnya bentang jarak membuat orang gelisah dan cemas pada soliteritas, keterasingan. Atas nama rasio, manusia pun merangkai factum-factum empiris menjadi data ilmiah. Tabulasi data ini menjadi ilmu pengetahuan yang menjadi sumber scientifik sehingga manusia mampu meciptakan medium untuk merekatkan kembali bongkahan-bongkahan kehidupan yang soliter.

Medium itulah tekhnologi hasil penyempuranaan dan purifikasi rasionalitas manusia. Rasio cemerlang dibangkitkan oleh masa renaissance. Saat rasio dikembalikan pada tuannya, manusia berkembang seperti ragi pada roti. Keranjingan rasio melahirkan revolusi industri Inggris dan sejak itulah ilmu pengetahuan dan tekhnologi berkembang pesat. Dan mulailah manusia berkenalan dengan medium yang melipat dunia yang luas. Manusia pun dihantar pada sisi-sisi yang saling berdekatan. Tekhnologi transportasi, komunikasi dan informasi menjamur dan bertebaran di seluruh belahan bumi. Manusia pun menjadi dekat dalam lintang keberjarakan.

Komunikasi menjadi amunisi dalam keberjarakan. Filsuf Jurgen Habermars mensyaratkan komunikasi dalam konekstisitas kebuntuan kehidupan sosial. Komunikasi menumbukah sambung rasa dan sambung pikir manusia. Dengan itu, manusia tidak lagi merasa soliter dalam dimensi spasial. Memang, banyak filsuf juga mengkritik bahwa tekhnologi sering mereduksi kandungan intimasi relasi manusia. Tetapi itu bisa terjadi dalam anomali penggunaan tekhnologi yang bias sementara keberjarakan adalah niscaya.

Dengan demikian, orang yang berusaha membatasi perjuangan manusia untuk semakin dengan dekat satu sama lain dalam penggunaan tekhnologi adalah kebiadaban dalam peradaban. Pembatasan itu adalah pengingkaran terhadap derajat kemanusiaan itu sendiri di samping pemandulan terhadap potensi kreatifitas orisinil manusia. Malpraktek menkominfo yang berusaha melakukan pem-breidel-an teknologi internet dan semua perkakasnya, meski terkait moral, adalah bagian dari persoalan ini. Moral adalah domain semua insan bukan urusaan penguasa yang sesungguhnya hanya intrik politik dan asap dapur. “urus saja moralmu”, kata Iwan Fals.

Perjuangan lepas dari keterasingan adalah bukti bahwa manusia itu hidup. Dengan itu, hidup menjadi layak dihidupi, dalam bahasa filsuf Plato. Artinya, hidup bukan lagi seperti keyakinan Antoine Roquentin dalam “La Nausee” bahwa hidup menghabiskan waktu dengan pengelandagan yang luntang-lantung, penuh iseng, benci dan mual, paling banter ‘berusaha’ dalam arti: mencari sesuatu yang diketahui pasti toh tak akan dapat. Mungkin Charil Anwar benar, “hidup adalah menunda kekalahan” tetapi dalam penundaan (differance, dalam bahasa filsuf Jaques Derrida) muncul kemenangan-kemenangan kecil (petit victoria). setiap kedekatan, perjumpaan itulah kemenangan-kemenangan kecil. Dan manusia pun pulang dari perang.

Victoria del hombre. Manusia mengawan ekstase. Ekstase seperti sepasang kekasih yang menggenapi harapan dan rindunya setelah membina asmara dalam keberjarakan (cinta jarak jauh).  Sebuah momen perjumpaan. Dan bersamaan dengan momen ini, Albert Einstein berteriak: “the best lovers are those capable of loving from a distance far enough to allow the person to grow but never to far to feel the love within your being”. Ekstese ini terjadi setelah aksi “baratayudha” melawan kilat yang mencabik-cabik perasaan dan kesetiaan.

Romantikanya adalah, dalam bahasa Einstein, “do not let the bitterness take away your strenght and weaken your faith; and never allow pain to disharten you; but rather let yourself grow with wisdom in bearing it”. Kemenangan itu pun dimulai sejak berteman dengan kebijaksanaan dan kebenaran. “Amicus Plato sed magis amicus veritas”, demikian kata Aristoteles pada sang guru. Kebenaran pun ada pada diri yang yakin. Dan yakinlah, cinta masih bersemayam dalam dia yang jauh. And let you cast eyes on the sweet smile from distance line.


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.