Melacak Old Shatterhand di Padang

Pandu Ganesha


Hotel Atjeh, Padang, tahun 1899. Pikiran novelis berkaki bengkok, berumur 57 tahun itu dibayang-bayangi terus suasana Mesir, Palestina, Sri Lanka. Dari Kolombo, dengan kapal uap Vindobona, ia mendarat di Penang. Berganti kapal Coen, menyusuri Selat Malaka sampai ke Sigli, terus jalan darat ke Padang. Di hotel tempatnya menginap itulah tapi ia seolah didera perasaan bersalah.

Setelah merenungi pengalamannya di Timur Tengah dan Asia, ia mengaku fantasinya tentang Timur yang selama ini ia tulis meleset. Di Kota Gadang ia pun membikin sebuah draf novel. Semacam “penebusan kekeliruannya”. “Turis” pincang itu tak menarik-seandainya ia bukan Karl May, seorang pendongeng kesohor tentang the wild, wild West, yang di Indonesia buku-bukunya jauh lebih populer ketimbang di kawasan Asia Tenggara mana pun. Emil Salim, bekas Menteri Lingkungan Hidup, misalnya, mengenang semasa sekolah dasar di Lahat, Sumatra Selatan, gurunya kerap bercerita tentang petualangan Winnetou di hutan-hutan, hingga kini ia begitu mencintai lingkungan.

Pekan lalu Pandu Ganesa, seorang kolektor dan penelaah buku Karl May, berceramah di TUK dan menunjukkan bahwa hubungan antara pengarang Jerman abad ke-19 itu dan Indonesia bukan hanya karena ia dibaca. Pandu Ganesha
menceritakan sebuah fakta yang tak banyak diketahui: kunjungan Karl May di Aceh dan Padang itu. Informasi ini tentu berharga bagi telaah kesusastraan di sini. Sebab, pengkaji khazanah Indische belletries (kesusastraan eksotis Hindia Belanda) selama ini semacam Subagio Sastrowardoyo, Rob Niewenhuys, atau sejarawan Denys de Lombard (ketiganya almarhum) sama sekali tak menyebut Karl May.

Buku Lombard mencatat pengarang non-Belanda, Joseph Conrad, novelis terkenal itu, yang pernah membuat novel berlatar Muntok Pulau Bangka (1883), atau Emilo Salgari, sastrawan Italia, yang dua buah romannya berlatar Kalimantan Utara (1884). Tapi nama besar “bapak Old Shatterhand dan Winnetou” luput. “Indonesia adalah titik perubahan penting dalam hidup Karl May,” kata Pandu Ganesha. Semua penggemarnya tahu bahwa Amerika adalah prairi yang paling diidam-idamkan Karl May, namun tak pernah dijejaknya.

Tapi sejatinya jauh sebelum angan-angannya ke Amerika, menurut Pandu, ternyata Karl May muda telah mengkhayalkan Indonesia (tentu saja Karl menyebutnya Melajoe). Ia telah bermimpi menjadi bajak Laut Teluk Sibolga. Novel pertamanya, Robert Surcouf (1882) berkisah tentang seorang perwira Napoleon yang membebaskan sahabatnya yang ditawan suku Dayak, di Borneo. Pada bagian akhir novel keduanya, Am Stilen Ocean (Di Lautan Pasifik, 1884) yang berjudul An der Tigerbrucke (Di Jembatan Macan), dilukiskan sang tokoh menjelajah Tjelatjap (Cilacap), Pulo Musala, Tapanuli-Bai (Teluk Tapanuli). Sang tokoh yang syahdan bisa berbahasa Sunda itu menyebut dirinya Charley. Sebutan ini kemudian, di seri petualangan Amerika, menjadi “Scharliech”, nama panggilan akrab Winnetou (dalam logat Apache) untuk Old Shatterhand.

Perjalanan ke Aceh dan Padang sendiri tampaknya begitu membekas dalam hati pengarang yang dijuluki “pembohong nomor satu di dunia” ini. Sepupunya adalah pemilik Hotel Rosenberg di Kotaraja, Aceh (beberapa bulan lalu hotel ini tebakar). Di Padang ia terkesan dengan kereta kecil ditarik kuda poni yang lincah. Ia seharian penuh mengendarai delman itu, keliling kota. “Betapa sayangnya orang Melayu terhadap kuda,” tulisnya, 12 November 1899. Tatkala
meninggalkan Padang dengan kapal Bromo menuju Port Said, Afrika, ia masih mengirim kawat kepada istrinya agar kelak suatu kali bisa kembali diajak ke Padang. “Aku ingin menjemput, menunjukkan taman firdaus ini,” tulis Karl May. Draf novel yang dimulai dari Padang inilah yang kemudian tahun 1904 diterbitkan sebagai buku berjudul Un Friede auf Erden (Dan Damai di Bumi). Inilah satu-satunya buku Karl May yang tidak berangkat dari imajinasi. Buku ini berbeda jauh dengan seri Winnetou dan Old Shatterhand, atau seri Kara Ben Nemsi yang penuh dar-der-dor. “Lebih filosofis, lebih arif.

Indonesia menjadi titik tolak yang sangat pokok untuk kecenderungan pasifis ini,” kata Pandu Ganesha. Memang ada satu bab khusus buku itu tentang Aceh. Di situ ia mengkritik peperangan yang begitu menyedot ongkos sampai 45 juta gulden. Ia menyarankan lebih baik dana sebesar itu dibelikan tanah yang per hektarenya saat itu 1.140 gulden, hingga Belanda punya kawasan sah sekitar 40 ribu hektare. Karl May juga tertarik pada perbedaan bahasa ngoko dan kromo dalam bahasa Jawa, dan bagaimana kehalusan bahasa kromo diekspresikan orang Jawa untuk syair-syair “tinggi”.

“Mereka memiliki karya-karya agung syair Bidasari, Pandawa Lima, Ken-Tambunan, Indra Laksana, Kalila Dimnah,
Panschatantra, Ardjuna-Sasrabahu, Bharata yuddha, Wiwaha, Manik-Maya, Padjadjaran, Kartasura, Mataram, Demak, Tan Djawi, Giyanti, Adji Saka, Damar Wulan, Djaja Lenkara, Menak Radja, Pirangon, Pandji, Lampahlahanippun,” tulisnya. Sayangnya, simposium di Jerman, tentang Karl May, yang dihadiri pakar-pakar Karl May setahun silam, tak membahas soal ini.

Sebuah tulisan di majalah The Economist, April lalu, daripada menyebut Karl May seorang pasifis, tetap menilai ia cenderung rasis. Banyak ulasan sepakat bahwa Karl May memberi saham besar bagi watak rasialis Adolf Hitler. Pada saat kanak-kanak, ke mana pun si calon Fuhrer pergi, selalu dikepitnya buku Karl May. Ia terus-menerus mengulang kata-kata Old Shatterhand, agar laki-laki berotot besi dan berurat baja. Tapi pengaruh pengarang ini tak cuma di sana. Ketika tentara Amerika masuk Jerman pada 1945, mereka terkesima melihat di seantero Jerman banyak anak kecil bermain bak orang Indian (dengan nama yang tak dikenal orang Amerika sendiri, misalnya “Winnetou”). Dengan tesis Pandu Ganesha, bahwa setelah perjalanan ke Indonesia, Karl May sadar akan kekeliruan fantasi-fantasinya dan ia kemudian menjadi pencinta damai, tentunya perdebatan tentang apa dan siapa Karl May makin mengasyikkan.

Howgh!


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Pandu Ganesha! Make yourself at home. Semoga kerasan di sini ya. Terima kasih Edy yang memperkenalkan Pandu Ganesha kepada Baltyra.

13 Comments to "Melacak Old Shatterhand di Padang"

  1. Dwi Haryanto  27 October, 2013 at 10:07

    Album crt itu sy pernah punya. Tp ktk pindah domisili tercecer dan di mkn rayap. Ada yg bs beri saran dmn saya bs kmbli membelinya? Trmksh

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.