Tulisan Yang Membuat Pembaca Menangis

Nur Mursidi


Semalam, kala aku membaca novel Karnak Cafe (Najib Mahfudz) tiba-tiba ponsel-ku bergetar. Aku bergegas melipat novel, dan seketika menyambar ponsel bututku yang sejak dua jam sebelumnya teronggok tidak tersentuh. Padahal, aku termasuk orang yang tak bisa tergoyahkan saat serius membaca novel. Maka, tak jarang hp-ku kerapkali sia-sia karena sering kutelantarkan, tatkala aku sudah memeluk erat-erat sebuah buku.

Tapi malam itu entah kenapa seperti ada tangan gaib yang mampu menggerakkan tanganku untuk cepat-cepat meraih ponsel-ku yang tergeletak, tak terurus. Lantas, aku buka pesan singkat yang telah menelusup di dalamnya. Dan tak kusangka, ternyata pesan itu datang dari teman baru-ku yang kukenal empat bulan lalu. Aku tak mengenalnya akrab. Ia pun tak tahu banyak tentang riwayat hidupku (di masa lalu) meskipun kami sama-sama pernah kuliah di kota Jogja.

Mengundang Simpati?
Setelah kubaca pesan singkatnya, aku terhenyak, dan terpana. Lantaran dalam pesan singkatnya itu, dia menulis, “Aku kini di internet sedang membaca tulisan-tulisan di blog-mu. Aku sangat tersentuh dengan pengakuanmu yang kamu tuangkan dalam tulisan Honor Haram Sebuah Tulisan. This is very touching….”

Aku sebenarnya ingin membalas pesan singkatnya, dengan sebuah balasan yang mengatakan bahwa tulisanku itu aku tulis hanya untuk mengenang “kejadian tak biasa” sepanjang pengalamanku menjadi penulis cerita. Tak ada yang lebih, tak ada yang istimewa dan bahkan tak ada tendensi lain. Mungkin jika ada, aku hanya ingin menegaskan bahwa honor yang biasa aku dapatkan dengan cara “tidak halal” biasanya membuatku ditimpa ketidakberuntungan. Jadi, apa untungnya aku menerima honor haram itu jika kemudian aku harus dilanda sedih?

Tetapi aku “mengurungkan” niat untuk membalas pesan singkat tersebut. Aku merasa malu dengan diriku sendiri, dan kembali menekuri novel Karnak Cafe yang sempat terpenggal. Malam kian larut, dan aku kembali “disergap” alur dan rangkaian kisah yang “digemakan” pengarang asal Mesir yang pernah mendapatkan hadiah nobel sastra tahun 1988 tersebut.

Tapi belum sempat aku khusuk dalam pelukan kisah yang dituturkan oleh Najib Mahfudz hingga halaman akhir, tiba-tiba ponselku kembali bergetar. Agak malas, aku mengambil ponselku. Kubuka pesan singkat yang nelungsep di pesawat mungilku itu.

Sebuah pesan singkat dari temanku itu kembali membuatku terhentak dan bahkan nyaris menyentak ulu hatiku. Dia kembali menulis pesan singkat buatku, yang cukup mengiris-iris hatiku. “Tak tahu, kenapa saat membaca tulisanmu di blog tadi aku bisa menitikkan air mata. Aku lalu shalat tahajut, memanjatkan doa untukmu. Semoga hari minggu esok pagi, matahari bersinar cerah untukmu.”

Dalam hati, aku membatin. Benarkah tulisanku itu telah membuat lelaki yang sewaktu berkenalan denganku dahulu seperti tangguh dan tahan banting itu bisa menitikkan air mata gara-gara sentuhan dari sebuah tulisanku?

Hanya Meluapkan Emosi
Memang tak hanya sekali itu aku mendengar ungkapan dari seorang teman yang “menitikkan” air mata, setelah dia membaca tulisanku. Sekitar tiga tahun yang lalu saat cerpenku berjudul Perempuan yang Menjadi Ayah, dimuat di Sinar Harapan (Sabtu, 23 April 2005) dan teman sekamarku kemudian sembunyi-sembunyi membacanya ketika aku sedang pergi keluar kota, aku nyaris tak percaya ketika pulang dari bepergian itu, dia tiba-tiba mengaku sempat menangis saat membaca cerpenku itu.

Semula aku menganggapnya hanya berkelakar atau bersenda gurau. Tetapi setelah peristiwa itu, anehnya, tidak jarang aku mendapatkan sms atau kiriman email dari pembaca yang sempat membaca cerpenku, ternyata menuturkan hal yang sama. Kini aku sadar dan berpikir dengan jernih atas ungkapan jujur pembaca cerpenku itu. Benarkah cerpen-cerpenku telah mengundang mereka semua untuk menitikkan air mata atau menangis?

Jika benar bahwa cerpenku telah menyeretnya dalam kubangan kesedihan, dan mereka terperangkap dalam sebuah emosi yang telah kurangkai dalam cerita, rasanya aku merasa “bersalah dan berdusta”. Aku menulis, bukan untuk mengajak mereka supaya disergap kesedihan. Aku menulis hanya untuk mengenang sepenggal masa laluku yang kadang diliputi dengan sedih bahkan memilukan tetapi tak ada maksud untuk mengajak mereka dalam deraan sedih dan kepiluanku.

Malam semakin larut. Ketika aku hampir selesai merampungkan tulisanku ini, kulongokkan muka ke luar jendela. Sejenak kuregangkan otot dan syarafku. Dari balik jendela, kulihat gerimis turun menggigilkan malam. Kuraih sebatang rokok, lalu kusulut. Asap mengepul di kamarku, menjadikanku kembali merasakan panas tembako yang terbakar secara perlahan-lahan.

Dan, aku tidak pernah lupa dengan sebuah ungkapan bahwa pena itu bisa lebih tajam dari sebilah pedang. Tetapi, aku tak pernah yakin, jika tulisanku bisa menjelma menjadi sebilah pedang yang kemudian bisa menyanyat-nyanyat ulu hati siapa pun yang membacanya. Lantaran aku bukan penulis cerita yang handal dan mahir, melainkan hanya seorang pelamun yang tak bisa tidur, tatkala malam mulai merangkak sunyi, sepi dan telah menyergapku dalam kesendirian.
Aku menulis, lantaran aku tak bisa tidur. Aku lantas mengukir kisah-kisah di masa laluku, setelah aku mulai disergap sepi. ***

Ciputat, 16 Feb 08

About Nur Mursidi

Cerpenis kelahiran Lasem, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya telah dimuat di sejumlah media massa seperti Kompas, The Jakarta Post, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Republika, Jurnal Nasional, Suara Karya, Tabloid Nova, Majalah Femina, Majalah Anggun, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Tribun Jabar, Batam Pos, Radar Surabaya, Surabaya Post, Surya, Lampung Post, Bengawan Post, Solo Post, Inilah Koran, Suara Merdeka, dan Tabloid Cempaka. Dia bekerja sebagai wartawan sebuah majalah di Jakarta. Karya terbarunya: Tidur Berbantal Koran (Elex Media: 2013).

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.