Pata Pata Waka Waka Abal Abal

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


PATA PATA

APA tuh Pata Pata? Yang kita kenal goyang patah-patah. Ada kesamaannya sih. Sama-sama nama jenis tarian. Cuma yang satu ini lebih hebat dan lebih mematah-matahkan penguasa kulit putih keturunan Eropa yang menindas kulit hitam warga asli Afrika Selatan serta keturunan Asia selama berabad-abad.

Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan tidak akan pernah terjadi kalau tidak ada Pata Pata. Pata Pata yang dijadikan judul sebuah lagu terkenal oleh seorang wanita tangguh asal Afrika Selatan tahun 1967. Namanya Miriam Makeba.

Begitu tangguhnya wanita ini melawan sistem perbedaan warna kulit di tanah kelahirannya, dia mengungsi dan melanglang dunia untuk melawannya. Bukan dengan senjata dan ayunan tangan. Tetapi melalui alunan suaranya. Orang kulit hitam se-Afrika menjulukinya dengan sebutan ‘Mama Afrika”.

“Saya akan pulang kalau sudah ada kebebasan di negara saya”, kata Miriam Makeba ketika datang dan menyanyi di Jakarta pada awal April 1985. Makeba pernah membawakan lagu Indonesia “Soleram” di depan forum PBB dan tampil pada HUT Presiden Amerika Serikat John Kennedy tahun 1962.

Beberapa saat setelah dibebaskan pada Februari 1990 dari dekaman penjara selama 27 tahun, Nelson Mandela menelepon Makeba untuk pulang kampung. Mandela mengagumi perjuangan Makeba melawan sistem apartheid (perbedaan warna kulit) melalui corong lagu bertahun-tahun.

Afrika mulai mengalami kebangkitan dan harga diri sebagai bangsa setelah berlangsungnya Konferensi Asia Afrika 55 tahun lalu di Bandung. Mereka para pemimpin dan pejuang Afrika jauh-jauh dari seantero benua untuk pertama kalinya bertemu dan duduk bersama dalam sejarah umat manusia. Setelah 1955, hampir tiap tahun ada saja negara Afrika menyatakan kemerdekaannya.

Anehnya mereka bukan bertemu di Addis Ababa, kota suci orang kulit hitam Afrika. Atau di Kairo, kota tertua di Afrika. Atau di Casablanca, Maroko yang indah. Atau di Monrovia, Liberia, sebuah kota kulit hitam tertua di Afrika. Merek berkumpul di tempat nan jauh dari rumah mereka. Di Bandung!!!

Kenapa Bandung dipilih untuk mereka bertemu? Karena pemimpin Indonesia waktu itu sangat terpandang di antara bangsa-bangsa terjajah dan paling dulu merdeka dibanding mereka di Afrika dan di Asia.  Juga karena kota Bandung sudah lengkap dan bagus prasarana untuk mengadakan perhelatan besar pertama dan terbesar bagi bangsa Asia Afrika.

Afrika Selatan waktu itu diharamkan datang ke Bandung untuk menghadiri konperensi AA oleh Indonesia, karena praktek perbedaan warna kulit yang dijalankannya. Namun ada beberapa wakil perlawanan kulit hitam yang datang ke Bandung. Mereka adalah sahabat sehidup semati Nelson Mandela, yaitu Walter Sisulu, Moses Kotane dan Maulvi Cachalia yang diterima ramah oleh tuan rumah.

Nelson Mandela memang tidak menghadiri KAA di Bandung tahun 1955, tetapi dia membayar hutang itu 37 tahun kemudian. Mandela datang ke Bandung tahun 1992, sebagai Wakil Ketua ANC (organisasi perjuangan Afrika yang melawan apartheid) menengok jejak-jejak perjuangan sahabatnya dahulu di Bandung.

Ketika Mandela bebas pada 11 Februari 1991, Presiden Soeharto mengirim ucapan selamat  beberapa minggu kemudian dan juga uang dalam jumlah besar untuk kas perjuangan ANC  serta medali kehormatan ketika Mandela datang pertama kali ke Indonesia tahun 1992. Mandela sempat heran waktu mengunjungi museum konferensi AA. “Kenapa tak ada foto Soekarno?”, tanya kepada tuan rumah.

Bagi Mandela, Soekarno adalah parfum bagi perjuangan bangsa Afrika. Makanya dia kecewa tak melihat foto tokoh yang menjadi dinamo konferensi itu justru di museum itu. Tapi kekecewaan itu terbalas, paling tidak dia datang ketiga kalinya ke Indonesia tahun 2004 sebagai mantan presiden menemui mencium putri Soekarno yang menjadi presiden saat itu.

Kini sudah 55 tahun berlalu semangat Bandung yang membakar perjuangan Afrika Selatan melawan penindasan dan bangsa Afrika meninggalkan keterbelakangan, sehingga melesat maju dan bisa mengadakan perhelatan semacam Piala Dunia. “Mandela yang membawa Piala Dunia ke Afrika, bukan FIFA”, puji bos nomor satu FIFA, Sepp Blater.

Banyak negara Afrika yang ketika Indonesia hebat-hebatnya punya prestasi sepakbola, mereka belum bisa main sepakbola. Tapi kini mereka berprestasi tidak memalukan di Piala Dunia. Justru Indonesia kini tertinggal jauh dan terpatah-patah dibanding negara-negara Afrika dalam prestasi sepak bola.


WAKA WAKA

APA tuh Waka Waka? Pasti semua tahu selama orang itu menyaksikan Piala Dunia 2010. Sama seperti Pata Pata, Waka Waka (This Time for Africa) adalah lagu tematik Piala Dunia 2010 yang dinyanyikan penyanyi berayah Arab dan beribu Italia kelahiran Kolombia, Shakira dan kelompok Freshlyground dari Afrika Selatan.

Memang tepat Piala Dunia saat ini, waktu yang tepat untuk Afrika. Sekalian merayakan 20 tahun kebebasan Nelson Mandela setelah dikurung 27 menjadi raksasa oleh penguasa iblis kulit putih yang menistakan manusia berdasarkan warna kulit. Bahkan final Piala Dunia 2010 hanya beberapa hari sebelum Nelson Mandela berulang tahun ke 92. Mudah-mudahan  Mandela bisa menyerahkan trofi Piala Dunia kepada pemenang.

Sebenarnya bukan kali ini Afrika ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia. Maroko yang letaknya di utara Afrika, kebelet ingin menjadi tuan rumah meski gagal terus. Bahkan banyak negara Afrika sudah berani melamar menjadi tuan rumah Piala Dunia dengan latar belakang fasilitas dan prestasi sepak bola yang menjadi modal.

Bagaimana dengan Indonesia? Yaaah..sama dengan lagu Pata Pata, yang melambangkan betapa patah-patahnya Indonesia dalam prestasi sepak bola. Nah, kalau dengan Waka Waka, sama saja. Indonesia yang tak punya prestasi baik sepak bola dan juga fasilitas memadai, berani-beraninya melamar menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 2022.

Memang waktunya masih lama dan bisa dikejar membangun banyak stadion dalam waktu 12 tahun. Namun bukan segampang itu. Bagaimana dengan korupsi yang menggurita? Jangan-jangan pembangunan stadion dikorupsi biayanya sehingga menguras kualitas kekuatan stadion. Bagaimana kalau ada pertandingan lalu stadion roboh?

Belum lagi permusuhan pengurus PSSI dengan FIFA tentang tata kelola sepak bola di Indonesia yang banyak dicela FIFA. Lalu bagaimana dengan mentalitas masyarakat pecinta sepak bola yang gemar membuat kerusuhan dan merusak? Nah, kalau mau menjadi tuan rumah Piala Dunia, memang Indonesia seperti judul lagu Waka Waka… wakakakakakakakakaka… ditertawakan dunia dan juga orang Indonesia sendiri.


ABAL ABAL

Dalam Piala Dunia, Indonesia sudah patah-patah dan wakakakaka ditertawakan boleh bangsa sendiri dan juga dunia. Patah-patah karena tidak pernah lurus menjalani dan mengukir prestasi sepak bola yang makin menurun. Wakakakaka…karena ingin menjadi tuan rumah Piala Dunia, sebuah hal yang aneh untuk kondisi sosial, ekonomi dan penampilan kinerja kepengurusan PSSI.

Indonesia memang patah-patah, wakakakaka dan abal abal dalam sepak bola. (*)


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.