Cincin Yang Terlepas

Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel


Pendakian Merapi, 1984

Titik triangulasi di seputar Pasar Setan masih sepandangan lagi. Pagi telah tinggi. Pendakian pertama bersama dua adik kandung, seorang gadis yang menganggap saya sebagai masnya yang justru  saya harapkan sebagai yayang dan sekelompok muda-mudi seumuran adik saya. Mereka seperguruan di salah satu lembaga beladiri dari negeri Timur Jauh. Ini acara latih phisik-mental mereka. Saya hanya nunut, menumpang. Ikut mengawal. Juga mencari peluang meningkatkan status menjadi lebih daripada sekedar mas. Namanya juga usaha.

Tadi malam, di rumah seorang kepala dusun di Desa Cepogo, pos terakhir sebelum mendaki, lebih dari 15 muda-mudi meluruskan pinggang, sekedar istirahat 3 jam sebelum tengah malam nanti mulai start mendaki Gunung Merapi. Saat rebah ramai-ramai sengaja dia mendekat posisi saya yang memang di tepi. “Peluk, Mas!”, pintanya beberapa saat setelah rebah di samping saya dan obrolan ringan mulai senyap diganti dengus napas tidur teratur satu per satu seluruh rombongan.

Dengan mendapat punggungnya pada posisi menyamping, sayapun memeluknya. Saya berharap kehangatan yang dicarinya dapat saya berikan menembus jaket parasut kami masing-masing. Kebaikan dan keberuntungan memang tampak selalu menyertai yang berolah rasa. Tapi, adakah ini suatu kenyataan? Waktu akan membuktikan. Sesekali saya usap-usap halus daun telinganya. Tak ada aroma harum di rambutnya, bukan berarti apek keringat yang saya hendus. Kalaulah ada aroma keringat, bagi saya itu lebih dari sekedar parfum, yang terharum sekalipun!. Haaa, asmara tak pernah kenal logika, nyanyi seorang penyanyi kondang saat itu.

Saya gak mampu dan gak akan menolaknya. Napas tidurnya yang teratur, gak seirama dengan detak jantung saya yang berdegup berlompatan frekuensi. Bisikan saya, entah akan didengarnya entah tidak. Nyatanya bisikan itu tak jadi terucap….. Hanya pelukan, degup jantung dan harapan saja yang saya lambungkan ke angkasa, menemani mata saya yang gak juga mau terpejam……

“Mana cincinnya, Mas?!”, tanyanya saat mendekati guna sarapan pagi sambil melihat jemari kanan saya. Ya?! Mana cincin itu?! Cincin platina putih miliknya?! Yang tadi malam diberikannya untuk saya pakai?! Cincin pemberian tantenya yang wong Jerman itu?! Cincin itu gak ada lagi di jari manis saya. Gak tahu saya, apa yang mesti saya ucapkan.

Seluruh perasaan gak enak mendesak rongga dada, memukul kepala dan mengunci mulut saya. Teringat saya pendakian tadi malam. Berkali-kali kami memotong jalur, mem-by pass jalur tradisional rutin. Sambil saling menyemangati, jika dilihat pada terang hari, perbuatan dan tingkah memotong jalur pendakian itu sebetulnya perbuatan yang teramat sembrono. Jalur tradisional semata rintisan jalan kaki, sementara jalur by pass adalah jalur suka-suka dengan menggunakan seluruh anggota badan: mendaki, menggapai, memanjat, meraih, mencakar dan menyepak. Butuh tenaga lebih ekstra dan resiko lebih besar. Resiko terburuk telah saya terima: cincin itu lepas. Terlepas. Hilang. Entah di mana, entah bagaimana…….


Kandis-Riau- Bandung, 1986-1988

Surat-menyurat deras mengalir. Juga selembar photonya di atas televisi di kamar tidur mess menemani keseharian saya di perantauan. Kandis sangatlah sepi. Juga makin sepi lokasi kami yang menyuruk di tengah hutan yang segera dikonversi menjadi kebun sawit. Dengan menyebut saya sebagai masnya, susah bagi saya untuk sekedar merayunya melalui surat.

Sayapun gak faham sepenuhnya bagaimana rayuan surat itu?! Tapi pada akhirnya saya juga menyadari, saya memang punya nyali yang terbatas. Tanggal dan bulan kelahiran kami yang sama persis, mestinya bisa saya gunakan sebagai satu penunjang perayuan. Nyatanya, saat cuti tahun 1988 dan mau ke Bandung untuk melihatnya di tempat kuliahnya di Akademi Bahasa Asing, saya dilarangnya.

Saya sadar. Peluang saya memang hanyalah sekedar sebagai Mas. Itulah sosok yang diharapkannya dari saya. Sebagai keturunan dan blasteran pula, yang berarti kaum minoritas dalam minoritas, sejak semula dia sebutkan mencari sosok mas, kakak atau abang yang gak pernah didapatnya di lingkungan keluarganya. Saya gak mau menelisik gerangan bagaimana kondisi sosial keluarganya di pelosok Temanggung. Status hubungan 4 tahun jelas sudah.


Solo, 1993

Sendirian saya menunggunya di ruang tamu keluarganya di Solo. Sekali ini saya datang dan memang berperan sebagai masnya. Waktu telah mengubah segalanya. Penampilannya semakin mommy, tapi garis kecantikan blasteran londo Jerman dan oriental itu tetaplah tinggal cantik.

Kulitnya tetap kuning keputihan menawan. Rambut semu merahnya tetap dipotong pendek. Lesung pipitnya tetap. Jerawatnya yang dulu suka menyembul satu dua, sudah tidak ada lagi di pipi mulusnya. Jabatnya erat hangat. Saya gak diberinya kesempatan untuk sekedar jumpa suami dan anak cowoknya. Saya gak mau menanyakan alasannya dan memang diapun gak mau cerita banyak soal anak dan suaminya. Tidak ada reaksinya yang berlebih saat saya ceritakan bahwa kami sampai saat itu belum pula diberi momongan. Dia nanya posisi saya saat ini. Percakapan kaku. Percakapan yang seharusnya gak kami lakukan dalam pertemuan itu. Atau memang hanya itulah topik yang mau dibahasnya.

“Masih ingat cincin putih dulu?”,  akhirnya saya tanyakan juga pertanyaan konyol itu.

Dia diam saja.  Tatapannya tajam namun semakin melemah. Ada kemilau titik air di matanya. Senyumnya dipaksakan. Dia menggelengkan kepalanya. “Saya tak mau menjawabnya”, itulah jawabannya. Sayapun gak mau juga mengusiknya lagi…..


Solo, 2009

Jumpa mas kandungnya. Tubuh atletisnya sebagai mantan taekwondoin masih nampak walau lipatan lemak sudah mulai nyembul. Semua hal berubah. Tapi ada juga yang tinggal tetap. Sedikitpun gak disinggungnya adiknya. Betapa waktu gak mampu mencairkan kebekuan itu.


Sampunnnnnnn. Suwunnnnnn…

BGJ 052010


Ilustrasi: candipangkuan blogspot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.