Night Tour @ Lawang Sewu

Hariatni Novitasari


Awalnya, aku berpikir, kalau pergi ke Lawang Sewu sangat mengerikan dan menyeramkan. Yah, memang awalnya agak menyeramkan, tapi kemudian berubah menjadi seru. Hanya Any dan aku yang setuju untuk masuk Lawang Sewu. Sofie dan Nadia tidak mau ikut masuk ke dalam dengan alasan takut. Mereka sepakat menunggu kami di Taman Tugu Muda. Any dan aku akhirnya masuk berdua ke dalam kompleks gedung ini. Lawang Sewu sedang dipugar. Di pintu gerbang, telah disambut oleh beberapa orang lelaki. Ditanya, apakah kami ingin mengikuti tour atau tidak. Kami jawab iya. Seorang guide mengantarkan kami.

Sebelum masuk ke dalam gedung, kami dibawa ke sebuah meja yang mirip dengan meja pendaftaran atau tempat pembelian tiket. Per orangnya membayar Rp. 5 ribu dan kami mengisi buku yang ada disana. Seorang perempuan yang duduk di meja dan mencatat data tamu: nama, asal, dan berapa jumlahnya. Lalu, kami bertanya kepada Pak Totok, guide kami, berapa tarif guide. Dia mengatakan kalau paling tidak, Rp. 25 ribu untuk sekali tur. Dan, siaplah kami untuk ikut tur malam ini.

Pertama masuk ke dalam ruangan, dadaku berdebar agak kencang. Ruangan gelap sekali. Apalagi teringat cerita-cerita hantu di Lawang Sewu. Pak Totok kemudian merapal doa di depan pintu. Dia kemudian menyalakan lampu senter. Dan mulai berjalan menuju lantai 2 dan 3.

Kompleks Lawang Sewu didirikan pada jaman Belanda. Luasnya sekitar 2,5 HA. Ada dua tahapan pembangunan. Yang pertama tahun 1904-1907 dan yang kedua adalah 1916-1918. Dinamakan Lawang Sewu karena gedung ini memiliki banyak sekali lawang (pintu). Jumlahnya lebih dari sewu (seribu). Gedung utama, dibangun pada fase awal. Sedangkan tahapan kedua adalah pembangunan tempat penampungan air di bawah gedung itu. Tempat penampungan air ini bertujuan untuk mengalirkan air melalui tembok-tembok di dalam ruangan sehingga gedung menjadi sejuk. Tapi sayangnya lembab dan gampang berjamur.

Dalam tur ini, kami memasuki ruangan-ruangan yang memiliki luasan yang hampir sama. Menurut Pak Totok, luas ruangan itu rata-rata 6 x 6 meter. Ketika kami memasuki ruangan-ruangan dengan luas hampir sama ini, sedikit demi sedikit rasa ngeri dan seram perlahan-lahan mulai menghilang. Di saat yang bersamaan, kami bisa melihat pemandangan di luar sana. Orang-orang yang bergerombol di taman Tugu Muda, dan sebagainya. Cahaya dari luar juga cukup ada.

Apalagi, setelah Pak Totok bercerita, apabila Lawang Sewu adalah tempat untuk shooting film Ayat-Ayat Cinta (AAC), rasa takut semakin menipis. Kami diajak masuk ke lokasi-lokasi shooting yang ada di dalam film. Kami diajak masuk ke dalam kamar Maria, rumah sakit tempat Maria dirawat, gedung pengadilan tempat Fahri disidang dan penjara tempat Fahri ditahan. Menurut Pak Totok, tempat ini juga dijadikan tempat shooting beberapa film lainnya. Seperti Merah Putih 2 dan film hantu Lawang Sewu.

Ketika menjelajahi gedung dalam sinar senter Pak Totok, aku merasakan bahwa gedung itu sangatlah indah dan kokoh. Rangka-rangka kayu juga masih asli dan terlihat sangat kuat. Mungkin, kayu jati asli. Begitu pula dengan rangka-rangka baja di sana. Kami diajak juga ke tempat tandon air. Di tempat inilah, tandon air masih persis sejak jaman Belanda. Termasuk juga anak tangga untuk naik ke atas. Setelah dari tempat air, kami diajak Pak Totok ke sebuah ruangan yang sangat luas. Sebelum masuk kesana, Pak Totok diam sebentar lagi di depan pintu. Wah, ruangan apa ini? Pak Totok cerita, kalau di ruangan yang luas itu, pada jaman Belanda pernah dijadikan tempat untuk menyiksa tanahan.

Sedangkan pada jaman Jepang digunakan untuk menyembelih tahanan. Mayat-mayat para tahanan Jepang itu kemudian dibuang ke sungai belakang gedung lewat sebuah anak tangga disana. Hiiiii….. Setelah keluar dari ruangan eks penjara itu, rasanya lega sekali. Karena setelah itu, tidak ada lagi ruangan tertutup seperti mantan penjara itu. Selebihnya adalah ruangan-ruangan terbuka yang mendapatkan sinar lampu dari luar.

Kami kemudian bertanya kepada Pak Totok tentang mitos Lawang Sewu yang terkenal angker itu. Lelaki yang telah menjadi guide di Lawang Sewu kurang lebih 15 tahun ini, menjawab, kalau hal-hal semacam itu memang ada. Apalagi kalau yang bersangkutan juga sedang mengalami ketakutan. Dicontohkan, para crew film Merah Putih 2, yang pada satu malam tiba-tiba mengosongkan Lawang Sewu (karena mereka biasanya malam tidur di sana). Awalnya Pak Totok heran, kemudian baru ingat kalau malam itu, adalah Malam Jum’at Kliwon. Karena itu, semua crew memutuskan untuk menginap di hotel.  “Kalau takut, ya mending tidak menginap di sini”.

Dikisahkan juga dua orang pengunjung dari Jakarta. Mereka awalnya ikut tur malam. Setelah banyak kali mencoba mengambil foto tidak pernah berhasil, mereka kembali pada keesokan harinya. Pak Totok sudah mengingatkan untuk berhenti saja memoto kalau memang sudah beberapa kali gagal. Tapi, agaknya turis itu tidak percaya dengan peringatan Pak Totok, dan kembali pada keesokan harinya. Eh, kameranya malah rusak.

Gedung ini sejak jaman Belanda difungsikan sebagai perkantoran. Juga pada masa setelah merdeka. Akan tetapi, pada saat ini, gedung ini merupakan milik PT Kereta Api Indonesia. Pada saat ini, juga sering disewakan untuk berbagai acara, seperti pameran hasil kerajinan dan sebagainya. Hanya saja, sekarang ini, Lawang Sewu sedang mengalami masalah dengan masuknya guide-guide tidak resmi dari kampung-kampung di belakang Lawang Sewu. Jadilah, persaingan antar guide. Entahlah…

Menurutku, gedung dioperasikan lagi, masihlah sangat bagus, sangat gagah dan indah sekali. Tapi, aku tidak bisa membayangkan, berapa biaya operasional dan maintainance yang dibutuhkan. Pasti, sangat besar sekali.


Note tambahan:

Foto-foto di atas adalah kontribusi Andri, salah seorang Silent Reader yang sudah Redaksi kenal sejak lama. terima kasih Andri. Maaf note ini ketinggalan tadi malam belum disertakan di sini…hehehe…

36 Comments to "Night Tour @ Lawang Sewu"

  1. RYANT  6 November, 2010 at 16:24

    Ada contact buat tour guide nya gag yah??

    katanya kalo nego dulu bisa dapet murah kalo rpmbongan..hehe

  2. anoew  14 July, 2010 at 20:07

    Mon, Lawang Sewu itu apa memang bener jumlah pintunya ada seribu

  3. J C  14 July, 2010 at 15:24

    Emon, Sop, Raras: lho, lho malah yang dibahas dasi kupu Buto…hahaha…ya gitu lah…tuh, Ras, Emon saksi mata, Buto tetep gak melembung n melentung ke mana-mana, tetep seperti itu, bahkan cenderung lebih singset dibanding tahun segitu…

  4. bernadette  14 July, 2010 at 07:17

    Yeah ! Nadette dah bisa buka baltyra lagi dari kantor ! ^^ horeee !!!

    Eh..ya..lawang sewu.. Meliat gedungnya kalo di maintenance dengan baik..sepertinya bisa kembali keren dan gagah seperti jaman dulu..hum~

  5. Edy  14 July, 2010 at 00:28

    Katanya ada wisata malamnya ya? siapa yg udah coba?

  6. HN  13 July, 2010 at 22:52

    Pak Handoko: akan jadilah nanti WC terpanjang di Semarang…

    ISK: kalau setan2 itu, pada menjejak tanah semua, kecuali waktu mengendarai mobil dinas mereka, Pak…. kalau setan2 pada umumnya bisa dimasukkan ke dalam botol, ini pada tidak bisa dimasukkan botol, karena kebanyakan botol, hehe.

    Nadette: hihihi…. Turut bersedih ya Nadette… Terima kasih sudah mampir yak…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current ye@r *

Image (JPEG, max 50KB, please)