Tukang Mie Ayam

Endah Sulwesi – Jakarta


Sudah hampir tengah malam. Aku lapar sekali. Tadi siang tak makan dengan benar karena diburu-buru jadwal meeting. Sampai di rumah, tak ada makanan. Ibuku hanya menanak nasi saja, tanpa sayur dan lauk-pauk. Di lemari es, ada dua butir telur ayam, seikat sawi yang hampir layu, dan beberapa cabe rawit. Mestinya kalau tak malas bisa kubuat telur dadar atau mi instan (di kotak persediaan tadi kulihat masih ada tiga bungkus rasa soto mi). Aku ingin langsung makan tanpa harus mengolahnya dulu. Akhirnya, harapan terakhirku cuma pada tukang nasi goreng yang biasa lewat.

Namun, hampir satu jam belum terdengar juga suara kentongannya yang duk duk tek itu. Lalu aku berbaring berusaha tidur untuk melupakan laparku. Tetapi, kantuk tak kunjung menyergap dan telingaku masih terus berjaga siapa tahu si tukang nasi goreng masih akan lewat.

Tiba-tiba, seperti tanpa peringatan terlebih dahulu, terdengarlah suara kentongan. Tetapi tidak duk duk tek melainkan tok tok tok. Ah, tak peduli. Apa pun jadilah sepanjang bisa menangkal rasa laparku. Maka, aku bergegas ke pintu. Di depan rumahku, sebuah gerobak tanpa lampu, hanya cahaya samar dari sebatang lilin yang sudah pendek, berhenti. Ah, aku mengenali gerobak dan penjualnya. Itu kan si Alek, tukang mi ayam langganan adikku. Rasanya sudah agak lama dia tidak melintas di gang kami.

Cepat-cepat kupesan satu porsi mi ayam tanpa baso. Alek langsung mengerjakan pesananku tanpa berkata-kata. Kepalanya menunduk serius menekuni pekerjaannya. Sebetulnya, aku tak terlalu suka mi ayam. Namun, sekali ini bolehlah daripada menunggu nasi goreng keburu pingsan.

Tidak sampai sepuluh menit, pesananku selesai. Alek menyerahkannya masih dengan diam dan langsung berlalu. Suara kentongannya kembali terdengar. Tok tok tok. Sementara itu, kusikat habis mi ayamnya. Ternyata cukup lezat untuk satu porsi mi ayam seharga tujuh ribu rupiah. Atau karena aku amat kelaparan, ya? Setelah itu, barulah aku bisa terlelap dengan mimpi makan mi ayam paling lezat sedunia.

Esok paginya, seperti biasa aku berangkat kerja jam enam pagi. Sewaktu hendak berangkat, aku sempat berpapasan dengan adikku di ruang tamu. Tiba-tiba aku teringat mi ayam semalam.
“Hey, mi ayam Alek ternyata memang enak, ya. Semalam aku habis semangkok,” kataku kepada adikku yang sedang sibuk dengan motornya.

“Mi ayam Alek? Tadi malam?” Adikku menatap kaget sampai-sampai menghentikan kegiatannya. “Memangnya kau tidak tahu? Alek meninggal dua minggu yang lalu karena tertabrak kereta.”
Aku langsung terduduk lemas.***


Ilustrasi: revolusibudaya wordpress

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.